Ads

Wednesday, March 30, 2022

Pendekar Darah Pajajaran 023

Dengan perlahan-lahan orang itu diletakkan di pembaringan dengan badan tengkurep, karena anak panah yang tertancap dipunggungnya belum dicabut oleh Yoga Kumala. Sesaat ketiganya terperanjat, dan bahkan Sontani hampir menjerit setelah mengetahui, bahwa orang yang terluka parah itu adalah lurah tamtama Jaka Gumarang adanya.

Setelah air panas dan ramuan obat-obatan disiapkan, Yoga. Kumala segera mencabut anak panah yang menancap dipunggung Gumarang, dan suara rintihan pendek terdengar keluar dari mulutnya.

Lukanya amat dalam dan disekitarnya telah menghitam, karena mata tajamnya anak panah itu ternyata beracun sebagaimana diduga oleh Yoga. Setelah diurut nadi jalan darahnya dan kemudian dihisap dengan mulut darah hitam mulai mengucur keluar dari tempat luka dipunggung Jaka Gumarang. Obat luka yang telah tersedia segera ditaburkan, dan kemudian ia dibaringkan terlentang.

Akan tetapi Jaka Gumarang belum sadarkan diri. Raut mukanya pucat pasi dengan sepasang telapuk matanya setengah tertutup. Mulutnya terkatub rapat dan ludahnya keluar membusa bercampur darah. Nafasnya tersengal-sengal tak teratur serta terdengar amat lemah sekali. Telapak kakinya mulai dingin membeku, sedangkan kedua belah tangannya terkulai lemah. Melihat keadaan Jaka Gumarang demikian, Yoga Kumala menghela nafas panjang sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Apakah ia masih dapat ditolong?”. Bintang Minang bertanya tak sabar, sambil berjongkok disampingnya.

“Saya akan berusaha sebanyak mungkin, Gusti. Akan tetapi saya kira pertolongan ini telah terlambat. Racun anak panah merangsang memasuki semua jalan darah dalam tubuhnya. Yaaaaaahhh… samoga Dewata Yang Maha Agung memberi ampunan serta kekuatan padanya”. Yoga Kumala menjawab perlahan, sambil membuka kancing baju serta ikat pinggang Jaka Gumarang.

Sejenak Yoga Kumala duduk bersila menyilangkan kedua tangan diatas dadanya untuk bersemadi guna mengumpulkan dan memusatkan seluruh tenaga dalamnya. Setelah itu ia membungkuk lebih dekat lagi. Mulutnya ditempelkan pada mulut Jaka Gumarang, serta meniupnya dengan amat perlahan, mengikuti jalan pernafasannya sendiri. Tenaga dalam yang telah dikerahkan dan terpusat itu, kini disalurkan melalui hembusan tiupannya kedalam tubuh Gumarang lewat mulutnya.

Ia melakukan demikian itu berulang kali, hingga ia sendiri merasa kehabisan tenaga serta seluruh badannya menjadi basah bermandikan peluh dingin. Kini wajah Jaka Gumarang berangsur-angsur menjadi merah, namun masih juga ia belum sadar kembali. Terdengar suara nafasnya tersengal-sengal, tetapi tak selemah tadi, dan mulutnyapun kini mulai membuka sedikit.

Masakan obat ramuan yang telah tersedia dipinggan, sedikit demi sedikit dituang kedalam mulutnya oleh Yoga Kumala. Tiba-tiba Jaka Gumarang mulai membuka matanya perlahan-lahan sambil mengeluarkan suara keluhan tertahan dan hampir-hampir tak terdengar karena sangat lemahnya. Setelah itu ia menutupkan matanya kembali. Cepat Yoga Kumala membungkuk lagi, serta membisikkan sesuatu ke telinganya Gumarang.

Kini Jaka Gumarang membuka lagi matanya, dari bibirnya bergerak-gerak. Kemudian ia mulai bicara dengan suara yang terdengar amat lirih dan terputus-putus.

“Gus… ti… Yoga Ku… mala! Kobar… peng… khi… a… nat pasukan… sen… diri… ditum… pasnya… seca… ra… ke… jam… dan… banyak… yang… di… tawan”. Hanya kata2 itulah yang dapat keluar dari mulutnya. Setelah itu matanya tertutup lagi dan mulutnya menjadi terkatub kembali.

“Gumarang!!! Gumarang!” Bisik Yoga Kumala, namun Gumarang tak dapat mendengar bisikannya. Matanya tertutup untuk selama-lamanya. Sukmanya telah meninggalkan raga dan menghadap Dewata Yang Maha Kuasa. Penciptanya. Detak nadinya telah lenyap dan badannyapun mulai membeku.

Semua yang menyaksikan diam terpaku. Suasana sunyi seketika. Mereka kini mengheningkan cipta, mohon pada Dewata Agung, agar arwah Jaka Gumarang yang gugur sebagai pahlawan mendapat kebahagiaan abadi disisinya. Para tamtama yang sedang mendapat giliran berjaga diperintahkan oleh Bintang Minang untuk merawat dan memakamkan jenazah Jaka Gumarang sebaik2-nya.

“Sayang, bahwa Lurah tamtama Jaka Gumarang tak dapat tertolong lagi. Ia seorang tamtama yang setia dan pantas mendapat anugerah bintang!”. kata Bintang Minang setelah pemakaman selesai.

“Sayapun sangat berduka dengan gugurnya seorang sahabat yang berbudi luhur seperti Gumarang Gusti!!”. sahut Yoga Kumala dengan matanya yang berkaca.

Sontani tertunduk tak berkata, namun air matanya ber-linang2 meleleh membasahi kedua pipinya.

Kebaikan budi Jaka Gumarang dan tingkah lakunya yang senantiasa bersahabat dengan siapapun, membayang kembali didepan matanya.

“Yaaaahh… Jangan hendaknya kita menyesali berlarut larut atas segala apa yang telah terjadi. Ingatlah bahwa semua adalah atas Kehendak Dewata Yang Maha Agung. Kita semua manusia berada dalam Kekuasaan-Nya. Dan kita harus berterima kasih pula padanya, bahwa gugurnya pahlawan Lurah tamtama penatus Jaka Gumarang berada di tempat perkemahan kita yang berarti menyelamatkan seluruh sisa pasukan yang masih ada. Demikianlah petuah Bintang Minang.

Semuanya masih diam tak ada yang menjawab, walaupun mereka membenarkan serta menjunjung tinggi petuahnya itu dalam hati masing-masing. Kiranya kedukaan yang baru saja berlalu masih dalam lubuk hati mereka.

“Mari kita segera bicarakan bersama, untuk memecahkan persoalan yang sangat rumit ini”, perintah Bintang Minang kemudian pada Yoga Kumala, Sontani dan para perwira-perwira tamtama lainnya yang memegang tapuk pimpinan dalam pasukan.

Pertemuan para priyagung tamtama Kerajaan Negeri Tanah Melayu yang dipimpin Bintang Malang dalam perkemahan itu berlangsung amat singkat. Setelah menerima saran-saran serta pendapat-pendapat dari para perwira tamtama yang hadir sebagai bahan pertimbangannya. Kini Bintang Minang berkenan memutuskan untuk mengubah perang gelar yang tengah berlangsung menjadi sandi Yudha.

Seluruh sisa pasukan dipecah dalam beratus-ratus kelompok kecil, dan diperintahkan untuk menyebar keseluruh wilayah Kerajaan Musuh. Disamping bantu membantu satu sama lain kelompok yang berdekatan dalam melakukan serangan-serangan secara tiba-tiba, mereka diharuskan pula untuk merebut hati rakyat jelata yang berada dilingkungannya. Karena menurut pendapat Bintang Minang peperangan hanya dapat dimenangkan apabila mendapat dukungan dan bantuan dari rakyat sepenuhnya.

Dan menurut perhitungan, hal itu kiranya mudah dilaksanakan, mengingat pada saat itu banyak rakyat yang mempunyai perasaan benci pada sebagian besar para priyagung Nara praja yang selalu bertindak semena-mena untuk kepentingan diri pribadi. Dalam pasewakan darurat yang amat singkat itu, Bintang Minang berkenan pula menyerahkan wewenangnya sebagai Manggala Yudha kepada Yoga Kumala untuk sementara waktu.

Serah terima wewenang itu dilakukan, karena Bintang Minang bermaksud kembali ke Kota Raja lama untuk menyusun kembali kekuatan baru, serta memperkokoh pertahanan perbatasan Kerajaan. Setelah nanti, kekuatan pasukan baru tersusun, dan keadaan wilayah kerajaan lawan menjadi makin lemah karena berkobarnya Sandi Yudha, maka Bintang Minang akan menyerang kembali langsung diarahkan ke Kota Raja lawan dengan siasat "gadha'', penyerangan yang bersitat menentukan.

“Pun untuk mendapat kepastian tentang berita pengkhianatan yang dilakukan Tumenggung Anom Tamtama Kobar. Serta pidana yang harus dijatuhkan padanya, kupercayakan penuh padamu, Tumenggung Yoga!”. Pesan Bintang Minang pada Yoga Kumala, dan katanya kemudian : “Junjunglah titahku atas nama Sri Baginda Maharaja dengan baik-baik, dan semoga Dewa Kemenangan selalu menyertai kita semua”.



Berkata demikian Bintang Minang menyerahkan cincin tanda kebesarannya sebagai manggala Judha dan berkenan pula mengenakan di jari manis kanan Yoga Kumala.

“Doa restu Gustiku Bintang Minang selalu saya harapkan agar dapat mengemban titah Gustiku dengan hasil gemilang !”. Jawab Yoga Kumala singkat sambil memberikan sembah.

Ingin ia berkata lebih panjang, namun hatinya penuh rasa keraguan, hingga ia membatalkan maksudnya. Benarkah Bintang mencurahkan kepercayaan penuh padanya? Ataukah hanya siasat belaka yang maksudnya menguji kesetiaannya? Kini ia merasa dirinya dalam kedudukan yang serba salah.

Berita bahwa kegagalan penyerangan besar adalah akibat dari pada pengkhianatan Bupati Anom Kobar, untuknya cukup pedih bagaikan kena tamparan langsung dimukanya. Ia tak tahu lagi kemana ia harus menyembunjikan mukanya, karena merasa sangat malu.

Bagaimanapun juga, Kobar adalah teman sepasukan dari tamtama Kerajaan Majapahit. Dan lebih dari pada itu. Kobar adalah wakilnya langsung dalam memimpin pasukan sebagai pasukan bantuan dari Kerajaan Majapabit. Andaikan benar-benar Kobar mengkhianati peperangan besar ini, bukankah Bintang Minang seharusnya curiga padanya? Akan tetapi mengapa kini bahkan menyerahkan wewenang sebagai Manggala Yudha padanya walaupun hanya sementara .

Atau mungkin penyerahan tadi hanya untuk mencoba dirinya. Tetapi menurut anggapannya tidak mungkin Bintang Minang hanya mencobanya, sebab sedikitpun tidak kelihatan pada wajahnya yang sungguh sungguh dan sedikitpun tidak ada tanda-tanda mencurigainya. Tetapi Yoga Kumala dalam hati berjanji tidak akan menyia-nyiakan tugas yang begitu agung.

Sejak lama Yoga Kumala tak senang melihat tingkah laku Kobar yang congkak dan selalu haus akan kekuasaan akan tetapi untuk berbuat demikian jauh sebagai pengkhianat, ia tak menduga sebelumnya sama sekali. Bahkan belum pula ia percaya sepenuhnya pada berita yang dibawa Gumarang. Akan tetapi apa daya untuk bertanya lebih lanjut pada sipembawa berita Jaka Gumarang, tak mungkin. Dan sampai dimanakah pengkhianatan Kohar, iapun belum dapat mengira-ngirakan.

Namun sebagai perwira tamtama, baginya tak ada lain pilihan kecuali melaksanakan sebaik-baiknya semua perintah atasan. Dan atas pertimbangan yang terakhir inilah, Yoga Kumala tak dapat berbicara lebih banyak. Ia hanya ingin menunjukkan kesetiaannya dengan membuktikan melaksanakan tugas sebaik baiknya. Dan sebelum ia dapat membuktikannya, tak berani ia bertanya lebih banyak pada Bintang Minang. Jangankan bertanya, menatap pandang pada Bintang Minangpun ia tak mampu.

Ia duduk dengan muka tertunduk kembali, dan menunggu kata2 terakhir dari Bintang Minang. Tiba-tiba saja dirasakan jatuhnya tepukan telapak tangan yang pelan pada bahu kirinya. Suatu tepukan yang penuh arti.

“Tumenggung Yoga !”. kata Bintang Minang sambil meletakkan telapak tangan kanannya diatas bahu Yoga. : “Jangan kau ragu-ragu hanya kaulah yang kupandang cakap untuk menggantikan sementara kedudukanku selaku Manggala Yudha! Laksanakanlah perintahku demi kejayaan Kerajaan Negeri Tanah Melaju dan kejayaan Kerajaan Agung Majapahit”. Perlahan-lahan Bintang Minang bangkit berdiri diikuti Yoga Kumala.

Kedua orang sakti berpandangan sejenak serta saling memegang lengan kanan erat-erat sebagai tanda keakraban hubungan. Dan sejenak kemudian persewakan darurat segera bubar.

SEMUA pasukan turut serta bubar dan masing-masing berpisah jalan menjadi kelompok2 kecil mengikuti perintah Tumenggung Yoga Kumala. Dengan didampingi Sontani, Braja Semandang serta Dirham si penunjuk jalan dan dikawal sepuluh tamtama berkuda Yoga Kumala bergerak ke arah selatan mengikuti mengalirnya Sungai Lawas. Ia bermaksud menghubungi pasukan yang berada disebelah Selatan dibawah pimpinan Senapati Damar Kerinci dengan melintasi hutan belukar.

Hari itu masih pagi buta tatkala Yoga Kumala dengan rombongan menempuh perjalanan di hutan belukar mengikuti tebing-tebing sungai Lawas yang berliku-liku dan curam serta licin. Kabut tipis yang semua mengaburkan pemandangan pelan-pelan membumbung ke angkasa, dan mataharipun terbit dengan riahnya di ufuk timur memandikan daerah hutan belantara. Dan sungai itu dalam cahaya yang redup, sehingga air sungai layaknya serasa berkilauan bagaikan kaca cermin.

Kiri kanan sungai tumbuh pohon-pohon raksasa liar yang berumur puluhan tahun mewujudkan hutan belantara yang tak pernah dijamah tangan manusia. Air embun masih membasahi daun2 sehingga nampak berkilat karena tertimpa cahaya matahari. Lumut hijau tumbuh subur di-batang2 pohon raksasa yang telah tumbang dan jatuh melintasi tebing2 sungai, dan ditanah-tanah basah serta batu-batu alam bagaikan permadani tebal.

Berhari-hari mereka menyusup hutan belukar dan walaupun tak pernah menghadapi rintangan yang berbahaya, namun perjalanan itu cukup membuat mereka sangat letih. Kadang-kadang mereka harus berjalan mengitari rawa ataupun berlompatan diatas batang-batang pohon yang tumbang melintang. Tidak jarang pula mereka harus berjalan satu demi seorang dengan saling berpegangan karena gelap dan licinnya jalan yang dilalui.

Kini mereka tiba di Sungai Musi, disitulah Sungai Lawas memuntahkan airnya, kemudian bergabung mengalir menjadi Musi besar. Karena Sungai Lawas hanya merupakan salah satu diantara anak cabang Sungai Musi. Dengan Sampan rakit dari bambu, rombongan Yoga Kumala kemudian menyeberangi Sungai Musi yang lebar.

Walaupun permukaan airnya nampak tenang, tetapi dibawah permukaan yang tenang itu, sebenarnya airnya deras mengalir. Apapun yang tercebur akan segera lenyap dan hanyut terbawa derasnya arus. Dan karena amat lebar dan derasnya arus lebih cepat kiranya bila dinamakan "Bengawan".

Pada tiap hari diwaktu pagi hingga gelap malam, banyaklah sampan2 nelayan hilir mudik di Sungai Musi itu. Selain para nelayan yang mencari ikan banyak pula perahu-perahu pedagang yang hilir mudik menuju Kota Raja atau-pun sbaliknya. Pendek kata Sungai Musi selain pemberi nafkah abadi bagi para pencari ikan, merupakan jalan raya yang menghubungkan antara desa-desa dan kota-kota sekitarnya.

Bahkan lebih dari pada itu semua Sungai Musi adalah lambang kejayaan Kerajaan Sriwijaja. Muara Sungai Musi adalah pintu gerbang Kota Raja Kerajaan Sriwijaya, dan merupakan banjir besar yang selalu dikunjungi perahu-perahu layar dari pedagang-pedagang besar negeri-negeri asing serta utusan raja2 negeri asing sekitarnya.

Akan tetapi waktu rombongan Yoga Kumala menyeberangi Sungai Musi, ternyata suasananya lain dari pada hari2 biasa. Tak sebuah perahu nelayan tampak dipermukaan air. Sekelilingnya sunyi sepi. Walaupun ditempat dimana ia menyeberang sangat jauh dari Muara Bandar Musi, namun keadaan biasanya tak demikian.

Hari itu matahari telah condong kebarat mendekati senja. Sebentar lagi bertukar dengan sang malam. Perlahan mereka mendarat diseberang sambil mengawasi kanan kiri, lalu berjalan mendaki tanggul tebing sungai yang tak seberapa tingginya. Semua kelihatan letih jalannyapun sempoyongan hanya Yoga Kumala dan Sontanilah yang masih tampak tegap dan bersemangat. Akan tetapi jika melihat wajahnya, kedua perwira ini diliputi rasa muram serta selalu tegang. Mereka saling membungkam dan jarang sekali bercakap-cakap. Tiba-tiba Dirham mulai bicara memecah kesunyian sambil berjalan disamping Yoga Komala.

“Gusti Yoga! Keadaan disini biasanya tak sesepi ini !”.

“Ya! Aku sendiri agak curiga pula demi melihat suasana yang sepi ini. Tetapi apa gerangan yang terjadi?”. Jawab Yoga sambil mengawasi kanan kiri.

“Untuk dapat melihat lebih jelas sekitarnya, sebaiknya kita mendaki tanggul sebelah barat sana yang agak tinggi, Gusti!”. Kata Dirham sambil menunjuk kearah yang dimaksud .

“Ayoooh!”. potong Yoga Kumala singkat sambil mempercepat langkahnya. Dan semua segera turut berlari-larian mengikuti dibelakang Yoga Kumala.

Semakin ke barat tanggul sungai itu memang semakin menanjak, dan dataran sekitarnya pun mulai berbukit-bukit dengan pepohonan yang rindang dan lebat merupakan hutan. Jauh disebelah barat selatan nampak remang-remang biru semburat merah. Gunung Kaba yang tegak berdiri bagaikan raksasa Kumba Karna yang sedang menelan Surya. Dan dari lereng-lereng Gunung Kaba sebelah barat utara itulah Sungai Musi bersumber.

“Lihatlah Gusti! Kampung jauh disana itu nampak adanya kebakaran!”. Sontani tiba-tiba berkata sambil terengah-engah dan sambil menunjuk ke arah timur pada sebuah desa dilembah bawah yang nampak jelas adanya api menyala-nyala di ketinggian. Dan semua cepat berpaling mengarahkan pandangan pada sebuah desa yang ditunjuk Sontani dengan penuh perhatian.

“Benar apa katamu Sontani! mari kita segera menuruni tanggul ini dan langsung menuju kedesa bawah sana. Mungkin mereka memerlukan bantuan”. Sahut Yoga setelah mengawasi sejenak dengan tajam.

“Biarlah saya dengan Braja Semandang yang mendahului ke sana, Gusti. Dan sebaiknya Gustiku Yoga beserta pengawal dan Dirham menunggu dari kejauhan”. Bukankah demikian baiknya. Lurah Braja Semandang?”. Sahut Sontani sambil berpaling ke arah Braja Semandang yang tengah berdiri memandang ke arah desa itu dengan menghela nafas panjang. Dalam hatinya ia merasa amat kasihan pada penduduk desa yang kini tengah menderita akibat kebakaran.

“Ya… ijinkan saya mengawal Panewu Sontani, Gusti!”. potong Braja Semandang.

“Baik, bawalah prajurit-prajurit pengawal ini dan aku dengan Dirham mengikuti dibelakang!”. Jawab Yoga dengan singkat serta mengerutkan keningnya.

Entah karena apa, tetapi ia merasa was-was. Perasaan nalurinya bekerja cepat dan dalam semadhi yang singkat sambil berjalan menuruni tebing, perasaan cemas menyelubungi dirinya. Seakan-akan ia tahu bahwa bahaya menghadang didepan. Demi perasaan cemas yang terkandung itu, ia berseru sambil berlari mengikuti Sontani :

“Sontaniiii… jangan kau meninggalkan kewaspadaan !”.

Kini hari telah mulai gelap. Dan mereka hanya kelihatan seperti bayangan-bayangan saja yang sedang melayang cepat menuruni tebing yang berliku liku. Semakin dekat dengan desa yang terbakar itu, semakin terdengar jelas suara jeritan perempuan dan tangis anak-anak kecil bercampur seruan minta tolong yang menyayat hati. Suara titir kentongan sahut menyahut tak ada hentinya dan disambut pula oleh penduduk desa-desa yang berada disekitarnya.

Akan tetapi belum juga api kebakaran didesa yang didatangi itu padam, menyusul kini desa di sebelah timur kebakar. Asap hitam mengepul bergulung2 menjulang tinggi dan api men-jilat2 di tengah kepulan asap.

Lari Sontani bersama kawan-kawannya bagai lepasnya anak panah. Tiba-tiba saja lima orang bajak laut menghadang dengan kelewang terhunus dihadapannya, hingga ia terpaksa menghentikan langkalnya.

“Aaiiii! Apa yang terjadi didesa ini ?”. Tanya Sontani dan Braja Semandang hampir bersamaan.

Akan tetapi lima orang bersenjata itu tanpa menjawab pertanyaan, langsung menyerang dengan senjata masing-masing. Kiranya pertempuran tak dapat lagi dihindarkan dan sekejap kemudian terjadilah pertempuran sengit. Dengan bantuan prajurit pengawal Sontani mengamuk, hingga sebentar saja lima orang terdesak mundur dan lari terbirit-birit. Belum juga lima orang itu lenyap dari pandangan, kini menyusul datang tiga orang berkuda dan menyerang dengan serentak serta tiba2.

Seorang diantaranya bersenjatakan tombak bercabang. Bentuk tubuhnya kurus tinggi dengan roman muka yang bengis menyeramkan. Dua orang lainnya masih muda kira-kira sebaya dengan Sontani, bersenjatakan klewang. Sambil menyerang dengan jurus-jurus maut yang berbahaya orang pertama tadi berseru lantang sambil tertawa mengejek.

“Haiii! Bedebah anak muda! Siapa kau, berani turut campur urusanku?!”.

“Perampok hina ! Menyerahlah kalian ! Aku Panewu Tamtama Sontani dari Pagaruyung datang kemari untuk membasmi kalian!”.

“HaHaHa…!! Jangan berlagak kesatria disini. Menyerahlah untuk kubelenggu tangan kalian! Rupa2nya kalian adalah musuh Kerajaan”. serunya dengan bengis sambil terus menyerang dengan senjata tombaknya.

Serangan amat ganas dengan jurus2 yang berbahaya serta sukar diketahui akan perobahannya. Ternyata gerakannya sangat tangkas dan cepat. Dan diantara lawan ke tiga2nya, ialah yang paling tangguh.

Para pengawal yang kurang cepat menghindari serangan sebentar saja terkulai roboh di tanah. Melihat banyak pengawalnya menjadi korban keganasan musuh, Sontani dan Braja Semandang mengamuk punggung bagaikan banteng terluka, akan tetapi ternyata lawannya amat tangguh. Segenap tenaganya telah diperas, namun orang kurus tinggi bersenjatakan tombak bercabang itu belum juga dapat dirobohkan.

Sekali lagi Sontani melompat tinggi samhil memekik dengan nada tinggi melengking hingga memekakkan telinga. Pedang tamtama ditangan kanannya meluncur cepat dalam gaya tusukan langsung menyerang Iawan. Akan tetapi sekali lagi lawannya menunjukkan kemahiran yang sangat menakjubkan.

Ia memacu kudanya untuk menghindari serangan2 sambil meloncat tinggi lepas dari pelana. Tombak cabangnya berputar sesaat untuk kemudiam diubah menjadi serangan dahsyat kearah lambung Sontani, selagi ia diudara menghadapi balasan serangan yang tak diduga itu. Sontani sesaat terperanjat dan peluh dingin keluar dari jidatnya. Andaikan ia bukan Sontani panewu Tamtama yang shakti tentulah terobek lambungnya.

Untunglah ia masih sempat berjungkir balik di udara sehingga terhindar dari serangan maut. Pedang tamtamanya cepat berputar selagi ia berjungkir balik dan membentuk sebuah lingkaran bagaikan perisai baja. Dua senjata beradu dan masing-masing terkesiap jatuh bergulingan surut ke belakang beberapa langkah, sedang kuda tunggangan lawan lari jauh sambil meringkik, meninggalkan tuannya.

Sementara Braja Semandang sibuk menghadapi dua orang lawan tangguh pula. namun dalam pertempuran melawan dua orang itu ia tak merasa terdesak. bahkan kini Braja Semandang berhasil merobohkan dua ekor kuda lawan, hingga mereka terpaksa bertempur di atas tanah.

Tiba tiba terdengar derap langkah kuda di-celah2 suara jeritan perempuan-perempuan dan anak-anak disekitar tempat kebakaran. Semakin lama semakin jelas, dan nampaknya bukan hanya seorang penunggang kuda tetapi kiranya lebih dari lima belas orang.

Sambil bertempur menghadapi dua orang lawan, Braja Semandang berpaling sesaat untuk mengetahui para pendatang yang berkuda. Ia melihat jelas adanya dua orang berkuda mengenakan pakaian kebesaran sebagai priyagung tamtama musuh. Dan alangkah terperanjatnya, setelah mengetahui dengan jelas, bahwa kedua orang itu tak lain dari pada Kobar dan Berhala.

Belum juga Braja Semandang sempat menyambut kedatangan Kobar dan Berhala, saat ia sedang berpaling, tiba-tiba punggungnya dirasakan panas bagaikan tersengat dan pandangan matanya menjadi kian kabur remang. Ia jatuh terkulai di tanah dan tak sadarkan diri sebilah pisau belati bersarang tepat di punggungnya. Itulah lemparan pisau dari Tumenggung Anom tamtama Kobar yang terkenal shakti.

“Jangan dibunuh!”. Seru Kobar sambil turun dari kudanya. Suaranya lantang dan berwibawa. “Ikat! Dan bawalah ke pesanggrahan di Muara”.

Tiga orang pengawalnya segera turun dari peIana kuda dan kemudian membelenggu kedua belah tangan Braja Semandang yang jatuh terkulai tak sadarkan diri, serta mengangkatnya keatas pelana kuda. sepuluh orang berkata diperintahnya oleh Kobar untuk mengawal Braja Semandang yang masih terkulai diatas pelana kuda dengan tangan terbelenggu. Dan sekejap kemudian Braja Semandang telah dibawa kabur dalam gelap malam yang kelam itu kearah Timur.

Bersamaan dengan robohnya Braja Semandang, Sontani yang sedang bertempur dengan sengit tiba2 tubulmja tersentak oleh seutas tali yang melingkar erat dibadannya, hingga ia jatuh bergulingan di tanah. Semakin ia berusaha melepaskan diri dari jeratan, semakin erat tali itu menjeratnya. Hampir ia lupa, bahwa tangan kanannya masih menggenggam pedang tamtamanya, cepat tangan kanannya bergerak dan sekali tebas putuslah tali yang menjerat badannya. Ia bergulingan di tanah beberapa langkah ke samping menghindari datangnya serangan yang tiba-tiba dari lawan yang masih dihadapi serta serangan gelap dari belakang.

Kini Sontani berdiri tegak dengan kuda-kuda yang kokoh kuat, siap menunggu datangnya serangan dari semua lawan. Alangkah terkejutnya setelah mengetahui dengan jelas bahwa dua orang pendatang baru yang kini berada dihadapannya adalah Kobar dan Berhala. Mimpikah ia? Hampir-hampir ia tak percaya pada penglihatannya sendiri. la terkejut dan sangsi bukan karena takut. Bukan! sekali-kali bukan. Seratus Kobar, Sontani tak akan gentar menghadapi. Kalah atau menang, baginya bukan soal.

Sekalipun Dewa Maut akan merenggut jiwanya, ia tak akan lari terbirit-birit. Ia benci pada sifat-sifat pengecut dan pengkhianatan. Tak salah lagi bahwa yang tengah kuhadapi ini adalah pengkhianatan2 Kobar dan Berhala, pikirnya. Darah mudanya tersirap hingga wajahnya menjadi merah matanya seakan-akan menyala, memandang tajam ke arah Kobar dan Berhala.

“Pengkhianat2!!!” desisnya. Ingin ia melontarkan kata2 lebih banyak lagi, namun bibirnya hanya bergerak2 menelan kemarahan yang meluap2.

“Haiiii!! Budak Sontani!! Lebih baik kau menyerah dan menjadi budakku daripada menjadi budak Perwira-perwira tamtama Kerajaan. HaHaHa…” Sahut Kobar tertawa ter-bahak2. Bukankah kawan-kawan pasukanmu hancur berantakan dan bercerai berai, dan kini, kau tersesat sampai di sini? Dimana Yoga Kumala yang kau andalkan? Suruh keluar dari persembunyiannya. Ataukah sengaja ia tak mau keluar, dan kaulah yang dijadikan korban demi keselamatan jiwanya HaHaHa…!!!!!!.

“Pengkhianat berlancang mulut. Kembalikan Braja Semandang dan bersiaplah untuk kubelenggu kedua belah tanganmu dan kuhadapkan pada Gustiku Yoga Kumala”. Berseru demikian Sontani sambil menyerang langsung ke arah Kobar. Kiranya ia tak dapat menahan kemurkaannya lebih lama lagi.

Sebagai tamtama yang berpengalaman luas dan memiliki kesaktian, Kobar telah dapat menduga akan datangnya serangan tiba-tiba. Ia bergeser selangkah kesamping kanan sambil menghunus pedang pusakanya dengan tangan kanan. Gerakannya amat cepat dan tangkas, sehingga sukar diikuti pandangan mata. Dua senjata beradu dengan dahsyatnya hingga mengeluarkan percikan api berpijaran.

Keduanya melompat surut kebelakang satu langkah dan masing-masing merasakan pedih di telapak tangan. Peluh dingin keluar dari dahi Sontani setelah ia mengetahui bahwa pedang tamtama yang masih erat digenggam ditangan kanannya ternyata terbabat patah diujungnya.

“HaHaHa…!! Sontani budak kecil! masihkah kau hendak melawan dengan pedangmu yang tumpul itu?! Ayoooh! panggilah segera Yoga Kumala majikanmu. Agar kalian dapat ku ikat jadi satu dengan Braja Semandang”.

“Bedebah pengkhianat. Tak usah kau menyebut-nyebut Gustiku Yoga Kumala! Sambutlah ujung pedangku yang tumpul ini!!”.

Bersamaan dengan seruannya yang terakhir, Sontani melompat sambil menyerang kembali dengan tebangan dan tusukan berangkai. Serangannya sangat berbahaya dan dahsyat.





OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

===============================




Air Terjun Victoria Afrika

No comments:

Post a Comment