Ads

Friday, March 25, 2022

Pendekar Darah Pajajaran 018

Segala dugaannya itu ternyata memang benar adanya. Kini pertempuran berlangsung seru dalam dua kalangan, Yoga Kumala melawan orang tinggi besar bertopeng dan bersenjatakan pedang, sedangkan Sontani melawan orang bersenjatakan pedang dan dua orang Iainnya masing2 bersenjatakan tombak pendek.

Ternyata orang tinggi besar itu memiliki ilmu pedang yang mentakjubkan serta sangat berbahaya. Pedang pusakanya yang bersinar semburat biru hitam berkelebatan mengarah bagian tubuh Yoga Kumala yang berbahaya serta amat tangkas dan lincah gerakkannya.

Dengan langkah wurushakti Yoga Kumala menghindari serangan lawan yang bertubi2 dengan ter-huyung2 kebelakang ataupun kedepan untuk kemudian melompat tinggi kesamping kanan dan kiri sambil melancarkan serangan balasan dengan totokan jari2 tangan yang telah mengembang tegang, sedangkan pedang pusaka ditangan kanannya bergerak cepat menangkis senjata lawan ataupun mengikuti gerakan berkelebatnya pedang lawan. Sepintas lalu pertempuran dua orang shakti itu kelihatan seimbang. karena masing2 memiliki kepandaian yang mentakjubkan.

Sontani yang menghadapi tiga orang lawan ternyata tidak terdesak. Pedang tamtamanya ditangan bergerak cepat bagaikan kupu2 yang menari2, hingga menyilaukan pandangan lawannya. Ketiga orang pengeroyoknya tak mampu menerobos ciptaan perisai pedang tamtamanya. Namun belum juga Sontani dapat merobohkan salah seorang lawannya.

Sedangkan Sontani meloncat kesamping kanan menghindari serangan serentak dari tiga orang lawan pengeroyoknya, tiba2 sinar merah berkelebat bagaikan kilat. Dan salah seorang pengeroyoknya terpelanting di tanah, sambil berseru mengaduh dengan tombak terlepas dari genggamannya dan kemudian bergulingan menjauhi tempat pertempuran.

Tanpa menghiraukan pesan kakaknya, Indah Kumala Wardhani telah melompat maju menerjang seorang lawan yang mengeroyok Sontani, dengan sabetan kain angkinnya. Ia tak sampai hati melihat Sontani seorang diri dikeroyok tiga orang. Rasa kasih sayang kepada Sontani, memaksa ia mengabaikan pesan kakaknya.

Hanya Ratnasari yang masih taat mematuhi pesan Yoga Kumala, karena takut akan kemarahan kakaknya. Ia hanya berdiri terpaku sambil mengikuti pertempuran yang tengah berlangsung sengit dengan pandang matanya. Sesungguhnya walaupun tak setingkat dengan Indah Kumala Wardhani, ia sebagai tamtama merasakan pula sedikit kepandaian berkat ajaran Gusti Cakrawirja. Akan tetapi perasaan tak ingin mengecewakan Yoga Kumala dapat mengendalikan dirinya.

Sesaat Sontani terperanjat melihat terpelantingnya salah seorang lawan, akan tetapi setelah mengetahui bahwa kini Indah Kumala Wardhani yang membantunya, ia tersenyum sambil mengutarakan terima kasihnya. Sedikitpun tak menduga, bahwa Indah Kumala Wardhani yang selalu menjadi idaman hatinya ternyata memiliki kepandaian bertempur yang demikian hebat dan aneh.

Ia kini lebih bersemangat lagi dan bertempur berdampingan melawan dua orang yang makin lama makin nampak berada diatas angin. Kedua orang lawannya kian sibuk mengelakkan serangan dan terdesak mundur.

Pedang Sontani berkelebatan dalam gerak sabetan dan tebangan serta bacokan mengarah lawan. Sedang angkin menyambar2 dengan dahsatnya mendampingi berkelebatnya pedang, bagaikan sepasang naga yang berebut mengejar mangsa, seorang bersenjatakan tombak pendek yang tak dapat sempat menghindar dari rangkaian serangan, terlibat samberan kain merah dan jatuh terjungkal, serta terbebas lehernya, hingga berlumuran darah dan mati seketika.

Sedangkan seorang lagi yang berkedok kain dan bersenjatakan pedang meloncat surut kebelakang tiga langkah untuk kemudian lari meninggalkan gelanggang disusul seorang lagi yang tadi bergulingan di tanah.

Bersamaan dengan kaburnya dua orang lawan, suara terkekeh-kekeh menyeramkan dari Yoga Kumala terdengar nyaring, dan orang tinggi besar yang bertopeng, melompat tinggi serta melesat jauh melarikan diri dengan terluka dibahu kirinya. Sontani dan Indah Kumala Wardhani yang hendak serentak mengejar lawan, segera dicegah oleh Yoga KumaIa.

“Tak guna kita mengejarnya. Lebih baik melanjutkan perjalanan!”. Serunya.

Sebenarnya apabila dikehendaki, Yogapun dapat mengejar lawan akan tetapi karena pertimbangan lain ia segera membatalkan niatnya. Waktu itu hari telah mulai gelap remang2 dan mereka berempat kini berkuda berdampingan menuju desa Kasiman yang tak berapa jauh lagi letaknya.

Esok harinya setelah semalam istirahat dikediaman Lurah desa Kasiman, mereka melanjutkan perjalanan menuju ke hutan Blora. Dalam perjalanan berkuda, mereka tidak lagi banyak bercakap2. Yoga Kumala tampaknya tak demikian gembira seperti biasanya. Perasaannya selalu diliputi ketegangan. Berbagai pertanyaan berkecamuk dalam hatinya. Siapakah orang shakti bertopeng dan menghadangnya kemarin sore ?. Dan apakah kehendak mereka sebenarnya?. Menurut perhitungannya, lawan kemarin hanya terluka ringan, akan tetapi mengapa ia lalu cepat2 meninggalkan gelanggang? Sedangkan jika pertempuran dilanjutkan terus, belum tenlu ia dapat merobohkan orang tinggi besar itu.

Pun terlukanya orang yang bertopeng itu bukan semata-mata karena kalah tangkas. Hal itu menurut dugaannya, karena lawannya terpaksa mengarahkan perhatiannya pada temannya yang terdesak dan pada salah seorang temannya yang roboh. Jadi jelas bukan dikarenakan kedangkalan ilmunya sendiri. Demikianlah pertanyaan2 yang selalu menyelimuti Yoga Kumala. Namun pertanyaan2 itu, tak dapat ia menjawabnya. Dan kiranya Sontanipun sedang berfikir demikian.

“Kakek guruuuu!”. Seru Yoga Kumala memanggil, setelah mereka memasuki hutan dan menambatkan kuda2 mereka dipepohonan dipinggir hutan itu. Namun tetap sunyi tak ada jawaban.

Waktu itu hari masih siang dan belum lewat tengah hari. Karena dalam hutan itu pohon2 liar bertumbuh lebat dan rindang, maka merekapun tak merasakan panas teriknya matahari. Ratnasari dan Indah Kumala Wardhani berlari2 kecil, menikmati sejuknya udara sambil sibuk mencari bunga2 liar yang banyak menarik perhatiannya, hingga berulang kali Yoga Kumala dan Sontani harus memanggil2nya. Mereka kuatir, jika kedua adiknya kehilangan jejak dalam hutan belantara Blora.

“Kakek Guru…!” Kembali suara Yoga Kumala menggema ditengah hutan, akan tetapi masih saja sunyi seperti tadi, tanpa ada jawaban.

Hanya suara burung2 berterbangan meninggalkan pepohonan dimana mereka sedang hinggap dengan riangnya itulah yang terdengar. Mungkin burung2 itu terperanjat oleh suara teriakan Yoga Kumala yang amat nyaring. Berulang kali pula Yoga Kumala memanggil-manggil kakek Dadung Ngawuk gurunya, tetap saja tak ada jawaban.

“Aneh”. pikirnya.

Kemana kakek guruku pergi? Bukankah nanti malam adalah bulan purnama yang pertama kali. Sebagaimana pesannya waktu satu setengah tahun berselang?. Sambil mengingat2 pesan gurunya waktu ia masih dengan Eyangnya Cahayabuana dipertapaan Tangkubanperahu pada waktu satu setengah yang lalu.



Ia berjalan pelan2 ke arah gubug kakek Dadung Ngawuk yang berada ditepi sendang, dengan diikuti Sontani, Indah Kumala Wardhani dan Ratnasari. Tiba2 saja Yoga Kumala terhenti sejenak sambil mengamat2-i sebatang pohon yang telah tumbang dan lapuk. Tangannya bergerak dan meraba2 pada batang pohon yang lapuk dan melintang itu, sambil berjongkok. Mukanya menunduk.

Dan per-lahan2 air mata meleleh membasahi kedua pipinya. Ia jatuh berlutut sambil merangkul batang pohon itu, dengan menangis terisak2. Sontani, Indah Kumala Wardhani dan Ratnasari berdiri terpaku di belakang Yoga Kumala dengan diam membisu dan saling berpandangan. Sedikitpun mereka tak mengerti, mengapa tiba2 Yoga Kumala menangis ter-isak2 dengan tingkah laku yang aneh ?.

Mungkinkah gurunya telah mati dan terkubur dibawah batang pohon yang lapuk itu ? Tetapi mengapa tak ada gundukkan tanah ataupun tanda lain sebagaimana lazimnya kuburan ? Dan bilamana benar gurunya terkubur di situ, bagaimana Yoga Kumala dapat mengetahui? Atau Yoga Kumala kini dengan tiba2 mendapat serangan sakit jiwa ? Untuk mendekat atau menghibur dan menanyakan langsung pada Yoga Kumala, mereka tidak berani. Jangankan Sontani ataupun Ratnasari sedangkan Indah Kumala Wardhani adik kandungnya sendiri kini diam membisu tak bergerak.

Tiba2 sebuah pohon jambu hutan yang berada dibelakang mereka bergetar, hingga semuanya terperanjat sesaat dan serentak berpaling ke arah dahan pohon jambu yang bergetar iru. Cepat Indah Kumala Wardhani melolos kain angkin meralinya, akan tetapi Yoga Kumala telah mendahuluinya melompat di depan mereka dan langsung memanjat dengan tangkas kedahan pohon jambu itu bagaikan kera. Ia berlompatan dari dahan ke dahan yang lain, mendekati seekor kera besar yang sedang duduk diatas sebatang dahan yang agak tinggi, sambil berseru girang :

“Jamang !! Jamang !!. Aku yang datang !”.

Dan seperti mengerti akan kata2 bahasanya, kera besar itu, kini melonjak2 girang, hingga dahan dimana ia berpijak bergetar lebih keras lagi. Setelah dekat, kera itu dirangkulnya dan dibelainya serta kemudian dipondong turun, Sontani, Ratnasari dan Indah Kumala Wardhani, kini menjadi semakin heran melihat tingkah laku Yoga Kumala.

Semula mereka bertiga ragu2 diliputi rasa cemas, akan tetapi setelah menyaksikan sendiri betapa jinak kera besar itu dalam pondongannya, rasa cemasnya segera lenyap.

“Jamang !!. Mari kukenalkan dengan adik2-ku!!”. Seru Yoga Kumala sambil memondong kera itu dan menghampiri Sontani, Ratnasari dan Indah Kumala Wardhani. “Indah!!. Sontani ?! Ratnasari !!”. Serunya kemudian sambil mengangsurkan si Jamang yang berada dipondongannya. “Ini Jamang temanku berlatih dahulu!!”.

Dengan serentak mereka bertiga mendekat dan membelai punggung si Jamang yang diam jinak itu, akan tetapi masih juga mereka bertiga tak mengerti maksud pembicaraan Yoga Kumala. Dan kera itupun hanya diam memandang dengan matanya yang kecil cekung pada tiga orang yang belum dikenalnya.

“Teman berlatihmu !?”. Tanya Indah Kumala Wardhani tak sabar.

“Ya, memang teman berlatihku, sewaktu aku tinggal di hutan ini”. Jawab Yoga Kumala.

“Aiiiii !!. Aneh benar !!”, potong Indah Kumala ketawa geli.

“Kangmas Yoga, apakah kera itu piaraan mendiang gurumu?”. Sontani mulai turut bicara.

“Benar dugaanmu, Sontani !!. Tetapi guruku belum wafat. Hanya saja sedang pergi keluar hutan!!”. Jawab Yoga menjelaskan.

“Maafkan kangmas, akan kekeliruanku. Tetapi mengapa tadi kangmas berlutut dipohon yang lapuk itu dan menangis terisak2 ? Apakah kangmas tak berkeberatan memberikan penjelasan pada kami ??”.

“Och, itukah yang kalian maksudkan. Baiklah akan aku jelaskan tetapi jangan bertanya lagi lebih jauh”. Yoga. Kumala berkata sambil menghela nafas panjang. la diam sesaat dan melanjutkan bicaranya. “Pohon yang telah tumbang dan kini lapuk itu, adalah pohon kemboja merah yang dahulu berjasa besar padaku, bahkan lebih dari itu. Dapat dikatakan… pohon itulah guruku yang per-tama disamping kakek guru Dadung Ngawuk yang kini tengah kita cari”.

Sampai disini Yoga Kumala berhenti bicara. Seakan-akan ada yang sedang dikenangnya, Dan kemudian ia menjingkat bicaranya sendiri sambil menggersah :

“Ach… sudahlah… tak ada lagi yang harus kuceritakan mengenai pohon itu”.

Dan semua yang mendengarnya, walaupun merasa tak puas, akan tetapi bungkam tak bertanya lebih lanjut. Si Jamang yang tadi hanya diam ber-kedip2 turut mendengarkan, tiba2 ia meronta dan turun dari pundak Yoga Kumala serta mendahului berjalan sambil sebentar2 berpaling kearah Yoga Kumala dan menyeringai memperlihatkan deretan gigi2nya yang serempak putih keciI2 itu.

Kiranya Yoga Kumala mengerti akan maksud ajakannya. Ia mengikuti si Jamang beserta Sontani, Indah Kumala Wardhani dan Ratnasari. Selang kira2 lima belas langkah si Jamang berhenti dan diam berjongkok sambil menggaruk2 tanah di tepi sendang dengan mengeluarkan suara cecowetan.

Cepat Yoga Kumala menghampiri, dan tahulah ia sekarang, bahwa ditempat itu kitab usadha sastra yang dahulu pernah dipesan oleh Dadung Ngawuk agar ia mengambil dan disimpannya. Dengan pedang pusakanya tanah itu digali dan apa yang dikatakan gurunya satu setengah tahun berselang, ternyata benar adanya. Dengan hati2 ia mengeluarkan sebuah peti kayu jati sebesar dua jengkal pesegi dari lobang yang digalinya. Peti yang masih terkunci rapat itu setelah di bersihkan, segera diberikan pada Sontani agar dibawanya baik2.

“Peti itu, apa isinya, Akang Yoga? Dan mengapa tak dibuka saja dahulu? Apakah saya tak boleh melihatnya?”. lndah Kumala Wardhani mendesak.

“Ach… isinya hanya kitab. Nanti saja setelah kita bertemu kakek guruku, kitab itu kita lihat bersama”. Jawabnya singkat sambil tersenyum.

“Tetapi kitab apakah itu?”, desak Indah Kumala lagi.

“Sabarlah dulu, manis. Aku sendiripun belum tahu isinya. Bagaimana aku harus menjelaskan!”. la menjawab dengan kata2 lemah lembut, agar adiknya menjadi lega hatinya. Dan kiranya rayuannya kali ini berhasil menyabarkan adiknya.

Kini si Jamang berjalan mendahului lagi dengan tingkah laku seperti tadi, dan Yoga Kumala, Sontani, Indah Kumala Wardhani dan Ratnasari mengikuti dibelakangnya. Namun berbeda dengan tadi, si Jamang kali ini berjalan lebih cepat sambil berlompatan menuju ke arah utara menuju gunung Butak yang kian lama makin menanjak terjal lewat lereng2nya. Dan jalan yang ditempuhnya itu masih saja merupakan hutan pegunungan yang tak nampak adanya pedesaan.

“Jamang. Kemana kita akan pergi ?”. Seru Yoga Kumala sambil berjalan mengikuti kera itu.

Si Jamang berhenti sejenak dan berpaling serta memandang Yoga sebentar, kemudian berlari2 lagi. Seakan-akan ia bilang “Ikutilah aku!”. Dan mereka semua berjalan terus, tanpa berhenti.

Hutan itu kian lama makin menipis, karena tanah pegunungan yang semakin meninggi itu makin tandus. Hanya ilalang dan lantara saja yang menggerombol lebat berserakkan, dengan beberapa pepohonan besar dan rindang yang tumbuh liar dan jarang2, seperti pohon munggur, asam ataupun jati. Batu2 besarpun berserakan dimana-mana.

Gunung Butak itu sebenarnya tak seberapa tingginya, dan hanya merupakan gundukkan besar belaka, tak berkawah. Bagian atasnya amat tandus dan gundul tak ada pepohonan. Hanya dilereng bawah, terutama dilembah sekitar tebing2 kali Kening itu tanahnya subur. Kali Kening memang bersumber dari gunung Butak dan mengalir keselatan untuk kemudian bertemu dan menjadi satu dengan kali Bengawan.

Akan tetapi karena tak ada manusia yang menghuni di gunung Butak itu, maka tanah2 yang subur itu hanya merupakan hutan dengan pepohonan dan tanam2an liar. Setelah mereka berjalan mengitari lereng pegunungan, kini mereka tiba di dataran terbuka yang hanya ditumbuhi rumput dan ilalang saja. Sedang mereka berjaIan menyusupi ilalang yang lebat, tiba2 terdengar suara parau yang menggema.

“Anak gila…!”

Suara itu demikian jelas dan keras sehingga seakan2 diucapkan orang yang berada didekat mereka. Akan tetapi setelah mereka mengawasi kesekeliling dataran itu, ternyata tak nampak adanya manusia lain. Dengan mengerahkan tenaga dalamnya, Yoga Kumala menjawab seruan kakek gurunya Dadung Ngawuk.

“Saya dating... kakek guru…!”. Suara itupun kemudian memantul kembali dan menggema bagaikan gelombang.

Dan sesaat kemudian terdengarlah suara tawa terkekeh2 mengumandang jauh. Si Jamang berlari berlompatan semakin cepat tanpa berpaling lagi, diikuti Yoga Kumala, Sontani Indah Kumala Wardharti dan Ratnasari. Demikian cepatnya si Jamang berlari, hingga Ratnasari dan Indah Kumala Wardhani terpaksa pontang panting dan terengah2.

Tanah datar yang merunakan lapangan itu telah dilaluinya dan kini mereka memasuki hutan dipinggir kali Kening yang tak demikian lebatnya. Tiba2. tanpa menghiraukan Sontani, Indah Kumala dan Ratnasari yang berlari di belakangnya, Yoga Kumala melompat dan menjatuhkan diri berlutut didepan kakek gurunya Dadung Ngawuk yang sedang duduk diatas tanah bersandar pada batang pohon dengan berlumuran darah. Ternyata sebuah kaki kiri dari kakek Dadung Ngawuk telah buntung sampai batas pahanya. Namun ia masih juga dapat duduk dengan tenangnya.

“Kenapa, kakimu kakek guru ? Dan siapa orangnya yang berani berbuat demikian kejam terhadapmu. Maafkan terlambatkah kedatanganku ini ?”. Kata Yoga Kumala terputus2 sambil menangis terisak2.

“Anak gila !!!. Hahaha…!. Tak usah bersedih dan jangan menangis seperti anak perempuan !! Datangmu terlalu pagi dan bukan terlambat anak gila !!”. Jawabnya sambil masih ketawa terkekeh2 serta menepuk2 bahu Yoga Kumala.

Sedikitpun, seakan2 Dadung Ngawuk tidak merasakan sakit, pada hal melihat darah yang berhamburan di tanah serta dibadannya itu jelas bahwa ia belum lama kehilangan kaki kirinya. Bahkan paha kirinya masih mengeluarkan darah segar walaupun tak deras.

Sementara itu Sontani, Ratnasari dan Indah Kumala Wardhani bersujud pada kakek Dadung Ngawuk dengan perasaan terharu dan kemudian duduk bersila dibelakang Yoga Kumala. Sedangkan si Jamang, kera yang setia itu duduk menempel pada punggung Dadung Ngawuk. Mereka tak sampai hati melihat luka yang diderita guru Yoga Kumala.

“Tenangkan dulu, anak gila !!!. Dan katakan dulu, siapa kedua anak yang belum aku kenal itu !!”.

Kini Yoga Kumala telah tenang kembali. Ia duduk bersila dekat didepan kakek Gurunya sambil menempelkan telapak tangan yang kanannya pada paha gurunya yang buntung dan berlumuran darah itu. Dengan jari2nya ia menotok berulang2 pada pembuluh2 darah dipaha yang buntung itu, agar darah tak mengalir keluar.

“Kedua orang yang kakek guru maksudkan itu adalah sahabatku Panewu tamtama Sontani dan adiknya Ratnasari, sedangkan yang satunya itu adalah adikku Indah”. Jawab Yoga Kumala dengan tertunduk, dan kemudian mengulang pertanyaannya lagi. “Tetapi… tetapi… kakimu sebelah ini kenapa kakek guru ??”.

Seperti tak mendengar pertanyaan Yoga Kumala, Kakek Dadung Ngawuk ketawa terkekeh2 lagi hingga badannya bergoyang2, sambil bicara :

“Anak gila yang baik !! Adikmu yang nakal itu, aku kenal. Hehehe… Sama2 gila, seperti kau, tapi lebih pintar !! Sayang… ia perempuan !!”. Katanya sambil memandang Indah Kumala Wardhani dengan matanya yang sayu dan cekung.

“Kakek aneh !!. Aku tidak gila dan Akang Yogapun tidak gila!!”. Sahut Indah Kumala tersenyum geli. Namun jelas bahwa dalam hatinya ia menaruh kasihan pada kakek Dadung Ngawuk yang kini terluka parah.

“Hahaha…l. Pintar! Pintar! Tetapi benar2 gila yaaa… semua gila. Sahabat2mu itu juga gila!! sayapun gila!!” Suaranya terdengar semakin lemah dan sesaat kemudian ia memejamkan mata dengan kepala yang gundul bersandar pada pohon dibelakangnya.

Yoga Kumala yang sudah tahu akan tabiat kakek gurunya yang sinting, segera mengetahui, bahwa Dadung Ngawuk sedang bersamadhi untuk memulihkan kembali tenaganya.

Sontani dan Ratnasari yang sedari tadi diam tak berkata sepatah katapun, dalam hati sangat kagum akan kesaktian dan ketabahan Kakek Dadung Ngawuk. Terluka demikian hebatnya, masih dapat ketawa dan bersendau-gurau. Seorang biasa tentu akan jatuh pingsan atau mati kehabisan darah. Suasana kini menjadi sunyi. Semua terdiam dengan lamunannya masing2. Si Jamangpun seakan2 turut bersedih.

Sebentar kemudian Dadung Ngawuk telah duduk tegak kembali, sambil batuk2 kecil serta membuka mata, diiringi tawanya yang terkekeh2 lembut.

“Nah… adikmu dan sahabat2-mu yang gila dan baik hati itu supaya menggeser maju sedikit, agar aku dapat melihat mukanya yang bagus dan ayu itu lebih jelas. Tetapi hendaknya jangan sampai kena bekas darahku yang berceceran. Mari, mari !!, Dekat disampingku dan coba berikan peti kitab itu !!” Katanya kemudian dengan nada lemah lembut.

“Apakah tidak sebaiknya aku mencari air untuk mencuci darah yang berlumuran ditangan dan badanmu itu, kakek?” Indah Kumala memotong bicara.

“Biarlah aku yang mengambil air dikali seberang itu!!”. Sahut Sontani sambil bangkit berdiri, setelah ia menyerahkan peti kitab yang tadi dibawanya.

Akan tetapi cepat kakek Dadung Ngawuk menggeleng2-kan kepala sambil berkata: “Jangan !!. Jangan !! Tak usah sekarang!!. Itu gampang dikerjakan nanti. Sebelum hari gelap malam isi kitab ini akan aku jelaskan tentang bagian2 yang penting !!”.

Dengan mudahnya peti itu dibuka oleh kakek Dadung Ngawuk, sedang Sontani duduk bersila kembali. Peti itu berisikan kitab yang terdiri dari lembaran kulit domba kuno. Lembaran2 yang telah lepas dari jilidnya itu ternyata masih tersusun menurut urutan halamannya dan masih lengkap, merupakan sebuah kitab tebal. Seperti telah lupa pada luka yang sedang dideritanya, kakek Dadung Ngawuk mulai membalik2kan lembaran kitab kuno itu, dan kemudian mengambil tiga lembar yang berada di-tengah2.

Kini Dadung Ngawuk tak lagi seperti orang sinting. Wajah dan tingkah lakunya menjadi wajar dan bersungguh2. Sinar matanya berkilat bening dan berpengaruh. Suaranya tenang mengandung wibawa.

“Yoga muridku! Cepatlah pelajari cara usadha yang termuat dalam tiga lembar ini. Aku percaya dengan bekal yang ada padamu serta kecerdasan otakmu, pasti kau dapat memahami dan menghafal dalam waktu yang singkat. Ini penting sekali, karena ada hubungannya dengan kakiku yang buntung!!”.

Berkata demikian Dadung Ngawuk sambil memberikan tiga lembar bagian kitab kuno, kitab Usadha Sastra yang dipegangnya, yang mana segera disambut oleh Yoga Kumala. Dari lembar pertama hingga lembar ketiga dibacanya dengan saksama. Ternyata lembaran kulit domba kuno itu memuat pelajaran2 cara mengobati orang yang terluka berat didalam rongga dadanya serta patah tulang iganya dan pecah pembuluh darahnya yang mengalir kebagian tangannya.

Juga dalam lembaran2 itu termuat pula ramuan2 obat yang harus diminumkan pada si penderita, setelah mendapat pertolongan dengan menggunakan pengerahan tenaga dalam dan pijatan ataupun totokan jari2. Setelah dipahami benar2 hingga ia sendiri percaya dapat melakukan dengan sempurna, maka ia lalu menghafal nama rempah2 yang perlu digunakan untuk membuat ramuan obat itu, hingga dapat menghafal diluar kepala. Sedang Sontani, Ratnasari dan Indah Kumala Wardhani hanya turut membaca sepintas lalu, tetapi tak mengerti isi maksud keseluruhannya.

“Tetapi… kakek guru!!, Untuk apa sesungguhnya, hingga aku diharuskan mempelajari sekarang ? Apakah kakek guru juga terluka berat dalam rongga dada?”. Tanya Yoga Kumala setelah selesai membaca dan memahaminya.

“Bukan. bukan aku yang sakit dada… tetapi musuhku dan juga sahabatku. Nah… bukankah itu ada hubungannya dengan kakiku yang kini telah buntung ?”. Jawab Dadung Ngawuk sambil memandang tajam pada muridnya.

Yoga Kumala semakin heran mendengar jawaban kakek gurunya. Ia belum mengerti apa yang dikehendaki gurunya yang aneh itu.

Demi melihat muridnya hanya ter-longong2 tak berkata sepatah katapun, Dadung Ngawuk lalu menceritakan riwayat buntung kakinya yang sebelah. Ia menceritakan bahwa semalam ia habis bertempur dengan Mbah Duwung dan berakhir dengan masing2 menderita luka berat. Ia sendiri tertebas kakinya sebelah kiri hingga buntung, sedangkan Mbah Duwung terluka berat dalam rongga dadanya, terkena totokkan maut jari2 tangan kiri Dadung Ngawuk.

Menurut Mbah Duwung tak mungkin dapat hidup lebih dari tiga hari, jika tak cepat mendapat pertolongan dengan pengobatan secara yang termuat dalam kitab. Akan tetapi walaupun dapat tertolong jiwanya, si penderita akan mengalami cacad seumur hidup, karena tangan kirinya menjadi lumpuh dan punggungnya bongkok tak bertenaga lagi. Ia mengakui pula akan kehebatan ilmu golok panjang dari Mbah Duwung yang mendapat julukan bertangan besi itu akan tetapi ia masih bangga, bahwa ilmu wurushaktinya tidak kalah dengannya.

Walaupun ia kini kehilangan sebelah kakinya, akan tetapi sedikitpun ia tak menyesal, karena telah dapat membuktikan bahwa ilmu wurushakti dapat mengalahkan Mbah Duwung yang terkenal dengan julukkan sitangan besi yang shakti.

Oleh Dadung Ngawuk juga diceritakan, bahwa semula pertempuran itu adalah segitiga dan menurut undian ia terlebih dahulu bertempur melawan Tadah Waja. Akan tetapi karena Tadah Waja berlaku curang, ialah membawa anak buahnya ikut serta bartempur, maka Mbah Duwung lalu membantunya, hingga akhirnya Tadah Waja menemui ajal. Mayat Tadah Waja diangkut anak buahnya pergi turun gunung, sedangkan Mbah Duwung dipondong muridnya yang bernama Talang Pati, pergi ke arah barat. Dan katanya kemudian:

“Tentang luka dipahaku, aku sendiri dapat mengobatinya, setelah aku tiba kembali dipondokku. Maka dukunglah aku sekarang, untuk berjalan sampai dipondokku, Yogal”.

Walaupun Yoga Kumala belum demikian jelas tentang maksud dan tujuan dari keharusan mempelajari pengobatan yang serba kilat tadi, akan tetapi tanpa menunggu di ulang lagi perintah kakek gurunya, ia segera bangkit dan momondong kakek gurunya, sambil berkata pelan:

“Kakek tak usah susah2 jalan dengan didukung, lebih baik jika kupondong saja!”.

Berkata demikian, ia berjalan kehutan Blora kembali, yang tak berapa jauh letaknya. Sontani membawa peti kitab yang dimasukkan lagi dalam peti, mengikuti dibelakangnya berserta Indah Kumala Wardhani dan Ratnasari. Sedangkan si Jamang telah mendahului, seakan-akan sebagai petunjuk jalan.

“Turunkanlah aku diluar gubug sini saja!”. Kata kakek Dadung Ngawuk setelah sampai didepan pondoknya ditengah hutan Blora dekat sendang.

“Nach, disini aku tak usah kuatir akan terlantar, pasukanku masih lengkap!”. Katanya kemudian setelah turun dari pondongan Yoga Kumala.

“Pasukan mana yang dimaksudkan kakek gundul itu?”. pikir Sontani, Indah Kumala Wardhani dan Ratnasari. Mereka tak melihat seorang manusiapun di hutan ini.

“Tetapi sewaktu aku tadi siang dihutan ini selain si Jamang, aku tak melihat mereka, kakek guru!. Dimanakah mereka sembunyi?”.. Tanya Indah Kumala Wardhani.

“Hahaha...!. Tentu saja kau tak bertemu dengan mereka. Tanpa kupanggil, tak mungkin mereka berani keluar dari persembunyiannya. Hahaha…!”.

Sontani, Indah Kumala Wardlraai dan Ratnasari menjadi lebih heran lagi. Mengapa tadi Yoga Kumala tak mengatakan bahwa kakek gundul mempunyai laskar yang tersebar dihutan itu?. Jika tadi dikatakan demikian, tentu mereka akan berusaha mencarinya untuk mudah mendapatkan keterangan kemana kakek gundul pergi. Dan tentulah akan lebih jelas, dari pada bertanya pada si Jamang.





OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

===============================




Air Terjun Victoria Afrika

No comments:

Post a Comment