Ads

Monday, March 21, 2022

Pendekar Darah Pajajaran 015

SEJAK PAGI buta di Kota Senopaten Maja Agung nampak adanya kesibukan yang lain dari pada hari biasanya. Para Tamtama dengan pakaian seragam kebesaran yang serba indah, kelihatan hilir mudik mondar mandir. Ada yang berkelompok seakan merupakan barisan2 kecil dan ada pula yang berjalan secara bebas sendiri2. Juga para tamtama yang berkuda tak mau ketinggalan dalam kesibukan itu.

Derap langkah kaki kuda terdengar tak ada putusnya, di jalan2 besar yang silang menyilang melintasi kota itu. Namun mereka kesemuanya mengenakan pakaian seragam kebesaran serta indah dengan warna dan tanda lambangnya masing2 menurut keseragaman kesatuannya.

Ada yang mengenakan pakaian seragam berwarna merah, ada pula yang berwarna hijau dengan berseretkan putih ataupun kuning. Seutas pita dari kain sutra selebar tiga jari melingkari kepala masing2 dengan warna putih ataupun kuning menurut golongan tingkatannya. Para tamtama bawahan mengenakan pita berwarna putih, sedangkan para perwira mengenakan pita sutra berwarna kuning keemasan.

Tanpa terkecuali, semua menyandang pedang dipinggang kirinya. Bahkan diantaranya disamping bersenjatakan pedang, masih juga mengenakan keris pusaka dipinggang kanan ataupun terselip menonjol kedepan dengan wrangka daun tangkai ukiran yang indah.

Maja Agung memang merupakan kota tamtama Kerajaan, yang terkenal dengan kebersihan dan candi2nya yang megah. Alun2nya pun sangat luas. Dari kejauhan nampak sebuah patung lambang kebesaran “ALAP-ALAP ING AYUDHA", berujudkan burung garuda yang sedang mementangkan sayap diatas pura pintu gerbang Istana Senapaten tempat kediaman Manggala Yudha Kerajaan Agung Majapahit Gusti Senapati Adityawardhana. Patung dan pura pintu gerbang itu terbuat dari batu alam yang terpahat halus, sedangkan pintu gerbang itu terbuat keseluruhannya dari besi yang kokoh kuat, Sungguh indah dan megah dipandang.

Dipura pintu gerbang Istana Senapaten itu, nampak adanya barisan tamtama pengawal kehormatan yang berdiri tegak berjajar rapat dengan masing2 memegang pedang terhunus. Kereta2 kebesaran para Manggala kelihatan berderet-deret dialun-alun sebelah timur dengan penjagaan tamtama yang kuat. Sedangkan disebelah selatan dekat pintu gerbang yang menuju lstana Senapaten, berdiri sebuah bangunan mimbar yang cukup besar serta kokoh, beratapkan tenda hijau beseretkan kuning tanpa hiasan2 lain.

Lebih dari seratus orang tamtama mengelilingi bangunan mimbar yang berdiri dengan megah dan terbuat dari papan setinggi kira2 segalah panjang. Para tamtama berdiri tegak diatas tanah dengan bersenjatakan pedang terhunus. Kiranya pintu2 gerbang ditiga penjuru yang menuju ke alun2 Senapaten itu, dijaga kuat pula oleh para tamtama pengawal dan tertutup lalu-lintas umum.

Bukan hanya jalan yang menuju ke alun2 saja yang tertutup untuk lalu-lintas umum, tetapi pintu2 gerbang di perbatasan kotapun sejak tiga hari yang lalu terjaga kuat oleh pasukan tamtama dan tertutup pula bagi umum. Terkecuali bagi mereka yang dianggap penting.

Hari itu Senapati Manggala Yudha Gusti Adityawardhana berkenan mengadakan pemilihan calon perwira tamtama baru yang akan di angkat sebagai pimpinan pasukan Kerajaan yang khusus untuk dikirim ke Negara Kerajaan Tanah Melayu sebagai pasukan bantuan. guna memenuhi permintaan Sri Baginda Maharaja Adityawarman yang waktu itu bertahta dikerajaan Tanah Melayu.

Pimpinan penyelenggara pemilihan calon perwira tamtama oleh beliau diserahkan kepada Senapati Muda Manggala Tamtama Pengawal Raja Gusti lndra Sambada yang terkenal dengan gelarnya “Pendekar Majapahit”. (Baca Seri Pendekar Majapahit),

Waktu itu masih pagi. Sang surya kelihatan berada disebelah timur dan belum ada setengah galah panjang tingginya. Namun sinarnya yang memancar memadangi bumi raya dengan cahayanya yang terang benderang. Langit biru membentang bersih. Awan tipis yang seputih kapas berpencaran menghias angkasa dengan masing2 bentuknya yang berubah-rubah.

Tiba2 terdengar suara tiupan seruling mengalun diiringi dengan suara genderang yang bertalu-talu, dan sebentar kemudian nampak barisan tamtama dari empat penjuru memasuki alun2.

Dengan amat tertibnya dan rapih barisan2 itu menghentikan gerak langkahnya dan para tamtama berdiri tegak berjajar rapat dalam empat lapisan mengelilingi alun2. Sementara suara seruling dan genderang masih terdengar mengalun dan bertatu-talu dengan iramanya yang garang dan perkasa. Suara aba2 terdengar lantang dan semua tamtama tak terkecuali, memalingkan kepalanya kearah pintu gerbang besar depan Istana Senapaten, sambil memberikan hormat dengan khikmadnya.

Barisan pengawal kehormatan yang sejak tadi telah berdiri berjajar didepan pintu gerbang, masing2 mengangkat pedang tamtamanya tinggi2, hingga bertemu ujung dengan pedang2 tamtama dari barisan yang berada dihadapannya, bagaikan jembatan kurung berpelengkung pedang.

Dan sesaat kemudian, nampak Sang Senapati Manggala Yudha Gusti Adityawardhana berjalan berjajar dengan Gusti Senapati Harya Banendra Penasehat Agung Maharaja (Rakriyan Katrini) melalui tengah2 barisan pengawal kehormatan menuju mirnbar. Menyusul berjalan dibelakangnya empat priyagung Senapati Muda, masing2 Manggala Tamtama .Pengawal Raja Gusti lndra Sambada, Manggala Tamtama Gusti Suwendar, Manggala Tamtama Samudra Gusti Bhatatarajasa dan terakhir manggala Narapraja Gusti Pangeran Pekik.

Tak larna kemudian menyusul dibelakangnya 118 para peserta calon perwira tamtama yang telah lulus dalam ujian babak pertama. Mereka para peserta semuanya rnengenakan pakaian seragam warna hitam dengan berseretan putih dengan memakai tandanya huruf angka tersulam didada masing2 berwarna putih pula. Semua lebih dari tigaratus orang yang mengikuti dalarn pemilihan calon perwira tamtama. Akan tetapi dalam ujian babak pertama ternyata hanya tinggal kurang dari jumlah separohnya. Syarat utama untuk dapat mengikuti pemilihan calon perwira tamtama, selain dari pada mahir dalam krida kanuragan harus pula mahir dalarn ilmu krida yudha serta sastra. Dan kecuali kedua syarat pokok, usia para peserta calon perwira tamtama ditentukan pula tak boleh lebih dari pada 40 tahun.

Dalam hari pertama dan kedua yang telah berselang, ternyata hanya tinggal 148 orang yang telah dinyatakan lulus dalam menempuh ujian ilmu sastra dan ilmu yudha. Dan kini mereka masih harus menempuh ujian babak kedua yaitu mengenai krida kanuragan tamtama, yang terbagi dalam tiga acara.

Pertama-tama berkuda melewati rintangan, dan kedua berkuda sambil melontarkan tombak. Sedangkan acara terakhir ialah, panahan. Dan setelah nanti babak kedua ini selesai, mereka masih harus menempuh ujian babak ketiga ataupun babak terakhir. Dalam babak ketiga itu terbagi pula dalam dua mata acara.

Pertama lomba pengerahan pemusatan tenaga atau disebut juga lornba kesaktian. Sedangkan acara terakhir disebut babak penyisihan untuk menentukan seorang perwira tamtama pertama dengan secara aduan tata kelahi bertangan kosong dan bersenjata tajam.

Sebagian besar dari para peserta pemilihan calon perwira tamtama itu, adalah para anggauta tarntama Kerajaan yang telah terpilih oleh pimpinan mereka masing2, sedangkan sebagian lainnya terdiri dari rakyat biasa ataupun para murid-murid orang shakti yang merasa dirinya telah mampu untuk dipilih menjadi calon perwira. Oleh karena diantaranya terdapat para murid2 orang shakti, maka demi menjaga ketertiban dan keamanan, kota Senapaten Maja Agung sejak tiga hari yang lalu dijaga kuat oleh pasukan Kerajaan.

Setelah para Senapati dan segenap priyagung Kerajaan duduk diatas mimbar yang beralaskan permadani, dan para peserta calon perwira tamtama berdiri tegak berjajar dalam bentuk barisan di bawah mimbar, tiba2 gong dipukul tiga kali oleh seorang tamtama, suatu tanda bahwa lomba krida kanuragan tamtama akan dimulai. Suara gong mengalun mengaung berkumandang memenuhi alun2 dan suasana menjadi hening sunyi seketika.



Sesaat kemudian Senapati Muda Manggala Tamtama Pengawal Raja Gusti Indra Sambada yang bergelar Pendekar Majapahit, menyembah kehadapan Senapati Manggala Yudha dan Senapati Penasehat Agung Raja Gusti Harya Banendra untuk mohon izin melaksanakan tugas sebagai pimpinan penyelenggara pemilihan perwira2 tamtama.

Setelah memberikan sembah, ia segera turun dari mimbar dan langsung memeriksa barisan para peserta calon perwira tamtama, yang oleh mereka disambut dengan sikap penghormatan secara tamtama dengan khidmad. la berkenan memberi petunjuk secara singkat tentang acara lomba krida kanuragan tamtama babak kedua yang harus mereka tempuh. Kepada mereka, ia berkenan pula memberikan restunya agar semua dapat lulus dengan baik.

Sementara itu para tamtama yang bertugas memasang rintangan-rintangan, segera sibuk sesuai dengan petunjuk2 yang telah ditentukan sebelumnya. Gawang2 rintangan ber macam2 ukuran dipasang malang melintang serta julur menjulur di alun2 yang luas itu.

Kesemuanya ada lima macam rintangan. Ada yang rendah akan tetapi panjang membujur sekira empat sampai delapan langkah dan ada pula yang tinggi hampir setinggi manusia berdiri. Tiap2 gawang rintangan dijaga empat orang tamtama yang bertugas mengawasi jalannya lomba acara pertama serta mencatat hasilnya.

Senapati Muda Indra Sambada sendiri berkenan pula mengawasi jalannya lomba krida kanuragan tamtama itu dari jarak dekat didampingi Tumenggung Cakrawirya. Kini para peserta calon perwira telah berada di alun2 sebelah timur dengan rnenunggang kuda masing2 yang sejak tadi telah disiapkan oleh para tamtama. Mereka berjajar semuanya rapih diatas pelana kuda masing-masing yang tinggi2. Ringkikan kuda2 mulai terdengar riuh nyaring.

“Aku kuatir, jangan2 kau nanti terpelanting dan mati terkapar di tanah, Yoga!”. Kata seorang peserta yang bertubuh tinggi besar disebelah Yoga Kumala dengan nada suara mengejek.

Orang itu kelihatan tegap dan perkasa. Otot2nya melingkar-lingkar dikedua belah tangannya dan lehernya. Ia berusia kira2 25 tahun. Sepasang alisnya yang tebal dan bertemu pangkal. Matanya juling. Hidungnya besar dan ber kumis lebat. Ia adalah seorang tamtama Kerajaan yang disegani seluruh kawan setingkatnya. Namanya cukup dikenal sebagai tamtama yang memiliki kesaktian. Ia telah lama menjadi tamtama Kerajaan, akan tetapi tak pernah dinaikkan pangkatnya. Hal ini bukan dikarenakan kurang tangkas ataupun kurang shakti. Bukan! Sama sekali bukan karena itu.

Kesaktiannya jelas melampaui diatas tingkat teman2nya. Bahkan melebihi salah seorang diantara para pemimpinnya. Akan tetapi karena kelakuannya yang selalu menyalahi tertib tamtama, dan berwatak congkak dan tindakan semena-mena terhadap rakyat jelata, maka ia tak pernah mendapat kesempatan naik tingkat. Namanya "Kobar". Kali ini Kobar tak mau menyia-nyiakan kesempatan yang baik. Ia percaja penuh, bahwa kesaktiannya tak mungkin ada yang dapat menandinginya diantara perwira tamtama.

Dengan diiringi senyuman sambil berpaling padanya, Yoga Kumala mejawab tenang. “Kakang Kobar!. Sebaiknya kau kuatirkan dirimu sendiri, dan tak usah menghawatirkan orang lain!”.

Sebagai seorang yang mudah naik darah, demi mendengar jawaban Yoga Kumala demikian, Kobar menyahut dengan suara lantang.

“Hai Yoga !!! Tutup mulutmu! Anak masih ingusan, berani berlagak didepanku?”.

“Aku tak bermaksud berlagak! Bukankah jawabanku itu wajar? Buat apa kau, susah2 memikirkan orang lain seperti aku ini?”.

“Ha! Masih juga kau berani mejawab! Ingat! Dalam lomba kanuragan seperti sekarang ini, kau tak dapat bersandar pada Senapati kakak angkatmu! Tahu!? Dan apa yang kau andalkan, jika beliau tak menolongmu? Daripada kau mati terpelanting, sebaiknya mengundurkan diri saja!”.

“Kakang Kobar! Jangan kau menyebut-nyebut kakak angkatku! Dan sekali lagi, hendaknya kau jangan memusingkan urusanku!”.

“Apa katamu? Hahaha… ! Persetan dengan kakak ataupun bapak monyongmu! Jika telah selesai nanti, akan kuhajar mulutmu yang lancang itu! Tahu !”.

“Haiii! Kobar!”. Tiba2 Braja Semandang yang berada dibelakang kedua orang barseru menegur:

“Jangan kau bikin ribut disini! Suaramu mengganggu pemusatan perhatian kita!”.

“Yaa, Kakang Kobar memang selalu bikin ribut dimana-mana”. Sontani turut menyahut dari arah sebelah Kobar sambil menunjuk kearah tamtama yang berdiri didepan barisan: “Itu, dengarkan! Lombanya telah dimulai!”.

Peserta yang bernama Sontani itu masih muda remaja, sebaya dengan Yoga Kumala. Kira2 berumur 20 tahun. Ia bertubuh sedang dan tegap dengan wajahnya yang tampan bersih serta periang. Ia adalah pemuda kelahiran dari tanah Melayu dan masih merupakan anggauta keluarga dari Gusti Adityawardhana Manggala Yudha.

Mendengar teguran dari kedua peserta lainnya ini, Kobar menjadi bertambah marah. Mukanya merah padam sampai diujung telinganya, dan sepasang matanya kelihatan menyala-nyala, sambil berseru lantang:

“Tunggu nanti! Kalian bertiga boleh mengeroyokku!”.

Belum juga ada yang mejawab akan seruan Kobar, tiba2 terdengar suara aba2 dari seorang Lurah penatus tamtama.

“Peserta satu sampai dengan sepuluh, siap kedepan!”.

Bersamaan dengan lenyapnya suara aba2 itu, sepuluh orang peserta berkuda serentak maju kedepan, berjajar rapih pada batas tali yang terpancang. Mereka adalah para peserta telah mendapat perintah sesuai dengan aba2 tadi, untuk mempersiapkan diri menempuh ujian krida kanuragan tamtama.

Lurah penatus tamtama yang memberi aba2 tadi, kini mengangkat cambuk panjangnya tinggi2. Sesaat kemudian suara cambuk terdengar mengampar diudara, tiga kali

“taarr taarr taarr...”

Bersamaan dengan suara cambuk itu tali batas yang terpancang telah ditarik lenyap oleh dua tamtama yang bertugas. Sepuluh, orang peserta memacu kudanya masing2, dan sorak sorai para tamtama yang menonton mengelilingi alun2pun mulai menggema dengan riuhnya.

Dengan tangkasnya sepuluh orang calon perwira itu menggerakkan tali les kudanya masing2 serta memacunya dengan tumitnya, untuk dapat melalui rintangan2 yang berserakan dihadapannya.

Namun kesepuluh peserta calon perwira yang berkuda itu, ternyata semuanya gagal sewaktu melompati dua rintangan terakhir. Ada yang jatuh bergulingan, sewaktu kudanya jatuh terpelosok karena tak dapat melompati tingginya rintangan yang terakhir ataupun pada rintangan yang panjang membujur.

Ada pula yang gagal sebelum melompati, karena kuda mereka tak mau mengikuti perintah si penunggangnya. Sorak sorai bercampur cacian para tamtama yang menonton terdengar semakin gemuruh, demi melihat kegagalan para peserta calon perwira tamtama itu.

Sepuluh orang demi sepuluh orang mendapat giliran menunjukkan ketangkasannya dalam berkuda melalui rintangan2, dan ternyata lebih dari dua pertiga bagian dari calon2 yang mengikuti mengalami kegagalan, tak lulus dalam ujian babak kedua acara permulaan ini. Dari 148 orang, kini hanya tinggal 42 orang yang telah dinyatakan lulus dalam ujian ketangkasan berkuda. Bagi mereka yang dinyatakan lulus dapat mengikuti lomba krida kanuragan tamtama selanjutnya, sedangkan mereka yang telah gagal hanya menjadi penonton biasa.

Kini acara kedua dimulai. Sambil berkuda mereka harus dapat melontarkan tombak pada sasaran yang telah ditentukan. Tombak itu harus dilontarkan dari jarak kira2 duapuluh langkah dan mengarah sekaligus pada dua sasaran. Sasaran yang pertama ialah, menerobos didalam sebuah gelang yang tergantung dan selanjutnya harus tepat mengenai sebuah pohon pinang yang berdiri tertanam dalam jarak lima langkah antara gelang2 itu.

Juga sewaktu melontarkan tumbaknya, mereka masing2 harus memacu kudanya. Dalam lomba acara kedua ini, dua puluh empat orang telah tersisihkan. Dan kini hanya tinggal delapan belas orang yang terpilih untuk dapat ikut serta dalam lomba2 berikutnya.

Setelah acara terakhir dalam lomba panahan, ternyata hanya tinggal delapan orang yang dianggap lulus dalam ujian babak kedua termasuk Kobar, Yoga Kumala, Braja Semandang, Sontani, Berhala, Nyoman Ragil, Jala Mantra dan Jaka Gumarang.

Tepuk tangan dan sorak sorai gemuruh memekakkan telinga setelah ujian babak kedua untuk para pesetta calon perwira itu selesai. Seruling dan genderang tamtama terdengar bertalu-talu menyambut delapan orang peserta yang kini telah dinyatakan lulus dalam ujian babak kedua. Sang Senapati Muda Manggala Mataram Pengawal Raja Indra Sambada berkenan menjabat tangan mereka sebagai sambutan kehormatan.

Yaaa... betapa tidak. Mereka kedelapan orang itu kini telah dinyatakan sebagai tamtama pilihan. Walaupun dalam babak terakhir nanti diantaranya ada yang tersisihkan, akan tetapi bagi mereka yang tersisihkan Itu berhak pula mendapatkan hadiah pangkat sebagai Lurah anom penatus tamtama.

Tibalah kini saatnya di mulai lomba krida kanuragan babak ketiga ataupun babak terakhir dalam acara pertama, ialah lomba kesaktian, atau disebut lomba kanuragan pengerahan pemusatan indrya. Sebuah bola perunggu yang beratnya lebih dari 100 kati diletakkan. didepan barisan para peserta.

Suara panggilan terdengar nyaring, dan Braja Semandang tampil kedepan. Ia berjongkok sejenak sambil raba-raba dengan kedua belah telapak tangannya pada bola perunggu yang berada dihadapannya. Kemudian berdiri tegak kembali. Matanya dipejamkan, kedua belah tangannya bersilang didadanya. Dan sesaat kemudian kedua kakinya dipentang lebar, lututnya ditekuk hingga setengah berjongkok. Kedua telapak tangannya erat2 ditempelkan pada bola perunggu yang amat berat itu. Dan bersamaan dengan seruan nyaring yang keluar dari mulutnya, bola perunggu diangkatnya tinggi diatas kepalanya, untuk kemudian dilemparkan kedepan sejauh lima belas langkah.

Tepuk tangan dan sorak sorai gemuruh gegap-gempita, menyambut pameran kesaktian yang mentakjubkan itu. Kini Jaka Gumarang mendapat giliran. Seperti halnya dengan Braja Semandang, iapun bersamadhi sambil berdiri terlebih dahulu. Akan tetapi, ternyata ia hanya berhasil mengangkat bola perunggu itu setinggi dadanya sendiri. Lemparannyapun hanya sejauh kurang dari dua belas langkah. Dengan muka yang merah padam karena malu tak dapat mengimbangai kesaktian Braja Semandang, ia kembali ketempatma semula.

Demikian pula Nyoman Ragil dan Berhala, sewaktu mendapatkan gilirannya untuk melemparkan bola perunggu itu, keduanya juga tak berhasil mengangkat lebih tinggi dari dada mereka.

Terdengar lagi panggilan nyaring, dan Kobar kini tampil ke depan sambil bersenyum simpul. Tangannya dilambai lambaikan kearah kawan2nya yang menonton, dan sorak sorai gemuruh menyambut lambaian tangannya. Seakan akan tanpa bersemadhi terlebih dahulu sebagaimana lain peserta, ia telah bergerak dengan tangkasnya mengangkat bola perunggu itu dengan kedua belah tangannya tinggi2 diatas kepala sambil masih bersenyum. Kaki kirinya diangkat sedikit dan diatas kaki kanan itu ia berdiri sambil memutar tubuhnya untuk kemudian melemparkan bola perunggu yang berada diatas kepalanya jauh2 kedepan sambil melangkahkan kembali kakinya yang kiri yang tadi terangkat.

Bersama dengan jatuhnya bola perunggu yang sebesar dua kepala kerbau itu, tepuk tangan dan sorak sorai terdengar gemuruh menggelegar kembali. Semua kagum demi melihat kesaktian Kobar yang luar biasa. Ternyata bola perunggu yang beratnya lebih dari 200 kati dapat terlempar jauh sejauh tujuh belas langkah dengan disertai gaya yang indah pula.

Para Senapati dan segenap priyagung yang menyaksikan turut serta menggelengkan kepala, suatu tanda bahwa merekapun kagum akan kesaktian Kobar. Sambil tersenyum-senyum lebar dan membusungkan dadanya Kobar kembali ketempatnya semula, dengan masih diiringi suara tepuk tangan dari kawan2nya yang tak putus2.

Tibalah kini pada giliran Yoga Kumala. Dengan muka tertunduk ia melangkah tampil kedepan. Ia berdiri lemah tanpa gaya sedikitpun. Mukanya masih juga tertunduk seakan-akan mengamat-amati benda bola perunggu yang kini berada dihadapannya.

Semua orang menahan nafas dengan penuh rasa sangsi, akan tetapi tiba2 tanpa diketahui cara pengerahan tenaga dalamnya, bola perunggu yang amat berat itu kini telah terangkat tinggi diatas kepala Yoga Kumala. Tangan kirinya dilepaskan dan terpentang sejajar pundak, sedangkan bola perunggu yang sebesar kepala kerbau itu hanya tersanggah pada telapak kanannya saja. Kemudian dengan tangan kanan itu ia melemparkan bola perunggu yang amat berat jauh2 kedepan, dan jatuh tepat diatas tanda hasil lemparan Kobar.

Sorak sorai kembali gemuruh mengumandang dan memekakkan telinga. Tak terduga sama sekali, bahwa Yoga Kumala dengan gerakannya yang amat lemah itu, ternyata dapat menyamai hasil lemparan Kobar.

Para Senapati yang telah tinggi ilmunya segera dapat mengetahui bahwa sesungguhnya kesaktian Yoga Kumala berada setingkat diatas kesaktian Kobar. Namun bagi mereka yang hanya menyaksikan dengan kewajaran, menganggap bahwa kesaktian kedua peserta itu seimbang.

Yang mendapat giliran selanjutnya ialah, Jala Mantra, akan tetapi iapun gagal seperti halnya dengan Jaka Gumarang dan dua orang peserta lainnya. Kini giliran terakhir ataupun kunci acara lomba kanuragan kesaktian jatuh pada Sontani. Tanpa menghiraukan sekitarnya ia langsung tampil kedepan duduk bersila menghadapi bola perunggu yang besar dan berat itu.

Kedua belah tangannya diletakkan diatas kepalanya, sedangkan matanya dipejamkan. Sesaat kemudian ia bangkit dan berdiri tegak dengan pandangan mata lurus kedepan. Kini badannya membungkuk dan dengan kedua tangannya ia mengangkat bola perunggu itu tinggi2 diatas kepala sambil diiringi dengan suara bentakan.

“haaiiitt!”.Bola perunggu dilemparkan dengan kedua tangannya dan

“blug” Ternyata bola perunggu yang amat berat itu terlempar kedepan sejauh enam belas langkah lebih dan hampir segaris dengan lemparan Yoga Kumala dan Kobar.

Sorak sorai gemuruh mengumandang diangkasa dan disusul kemudian dengan mengaungnya bunyi gong dipukul tiga kali Suatu tanda bahwa lomba kanuragan tamtama untuk hari ini ditutup.

Seruling dan genderang berbunyi bertalu-talu. Para Senapati dan segenap priyagung Kerajaan turun mimbar, menuju ke Istana Senapaten Alap2 ing Ayudha. Delapan peserta berbaris dibelakangnya dan menyuul kemudian para peserta yang gagal. Iring2an itu ditutup dengan barisan tamtama pengawal kehormatan yang berpakaian seragam kebesaran, sedangkan para tamtarna lainnya bubar menuju keasrama masing2. Waktu itu sang surya telah berada diketinggian condong kesebelah barat. Dan waktu telah lewat siang tengah hari.

Atas keputusan Sang Senapati Manggala Yudha Gusti Adityawardhana acara terakhir babak penyisihan merebutkan pangkat perwira tamtama pertama yang akan dilangsungkan pada esok harinya. Dengan demikian, maka acara lomba pertandingan tata kelahi bertangan kosong yang akan diselenggarakan pada esok hari hanya tinggal sebuah pertandingan saja, ialah Yoga Kumala melawan Kobar. Dan apabila nanti dalam pertandingan itu dinyatakan tetap seimbang, maka pertandingan akan dilanjutkan dengan pameran ketangkasan bersenjatakan pedang.

Pemenang dalam pertandingan ini akan diangkat sebagai Bupati tamtama dengan sebutan Tumenggung, sedangkan yang kalah diangkat sebagai Adipati Anom tamtama dengan sebutan Tumenggung pula.

Braja Semandang dan Sontani telah dapat ditentukan untuk diangkat sebagai Panewu tamtama, sedangkan empat orang lainnya berhak pula mendapat pangkat Lurah penatus tamtama.

Kini mereka diberikan waktu untuk istirahat beracara bebas. Akan tetapi dengan ketentuan sebelum tengah halam mereka diharuskan sudah kembali ke Ksatryan di Istana Senapaten, dimana mereka disediakan tempat untuk mengaso sampai selesai pelantikan.

“Yoga!!”. Kobar berseru memanggil Yoga Kumala sambil mengenakan pakaian gantinya.

“Apa kehendakmu, kang Kobar!!”. Jawab Yoga Kumala sambil melangkah mendekat.

“Jangan kau besar kepala dan merasa dapat mengimbangi kesaktianku! Jika tadi aku kehendaki lemparanku tentu dapat dua kali lebih jauh!” Seru Kobar sambil memalingkan kepala kearah Yoga Kumala dengan pandangan bermusuhan.

“Tetapi mengapa tadi kau tak berbuat demikian?”. sahut Yoga Kumala dengan tenang sambil bersenyum.

“Aku sengaja, biar besok aku dapat bertanding dengan kamu. Tahu! Atau aku menghendaki pertandingan kita langsungkan sekarang saja??”.

“Apa maksudmu?”. Yoga bertanya dengan tenang, akan tetapi nampak jelas mukanya kian menjadi merah.

“Tolol!! Akan kuhajar hingga kau merengek-rengek dan berlutut dihadapanku sekarang! Nah, bukalah mulutmu sekali lagi jika kau ingin merasakan tinjuku!!”. Berkata demiklan ia telah selesai mengenakan pakaiannya, sambil membalikkan badan menghadapi Yoga Kumala dengan tatapan pandang yang liar dan menyala.

Mendapat tantangan yang tajam dari Kobar itu, kiranya Yoga Kumala yang masih berdarah muda, habis batas kesabarannya. Ia mundur selangkah dan ketawa terkekeh-kekeh menyeramkan sambil berkata.

“Heheheee…! Kobar!! Jangan berlagak menang sendiri heheheee... Aku bukan benda mati!!!”.

Mendengar suara tawanya yang menyeramkan dan seruannya yang lantang, semua teman2nya para peserta calon perwira yang berada dalam satu ruangan menjadi terkesiap. Belum pernah mereka menyaksikan Yoga Kumala bertingkah laku demikian. Sesaat mereka semua terdiam karena terkena perbawa suara tawanya.

Akan tetapi karena kemarahan Kobarpun telah sampai pada puncaknya, maka tanpa menjawab seruan Yoga Kumala, ia tiba2 menyerang langsung dengan tinjunya kearah pelipis kiri Yoga Kumala. Namun Yoga Kumalapun kiranya telah menduga akan datangnya serangan yang tiba2 itu. Dengan hanya merendahkan badannya dan rnenundukkan kepala, ia bebas dari serangan tinju Kobar yang dahsyat.

Akan tetapi serangan bukaan dari Kobar tidak hanya berhenti sekian saja. Tinjunya yang jatuh ketempat kosong cepat dirangkaikan dengan susulan tendangan kaki kanan, hingga Yoga Kumala sesaat menjadi sibuk. Kiranya ilmu Wuru Shakti dan ilmu Cahaya Tangkubanperahu telah menjadi satu dengan jiwa Yoga Kumala. Serangan tendangan yang dahsyat bagaikan geledek kearah lambungnya, bukan dielakkan secara surut kebelakang, akan tetapi malah langsung dipapakinya dengan telapak tangan kanannya dengan badan yang membungkuk rendah. sedangkan tangan kirinya dengan jari2 mengembang tegang menjangkau kearah punggung lawan. Benturan tendangan kaki dengan tebakan telapak tangan tak dapat dihindarkan, dan

“plak”.





OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

===============================




Air Terjun Victoria Afrika

No comments:

Post a Comment