Ads

Thursday, March 10, 2022

Pendekar Darah Pajajaran 011

“Heh.. heh.. hehh.. Betul juga pertanyaan itu. Hampir aku lupa menjelaskan keadaan gua itu. Begini, cucuku manis! Gua itu sebenarnya tak terendam air laut seIuruhnya. Yang tertutup air hanyalah mulut gua itu saja, sedangkan liangnya menanjak keatas hingga dengan demikian didalam gua kering sama sekali. Masuk dan keluarnya Mbah Duwung tentu saja menunggu jika air laut sedang surut, jadi tak sembarangan waktu. Saya sendiri sewaktu belum menyatakan dengan mata kepala sendiri juga tak akan percaya adanya gua aneh itu. Sedangkan benar dan tidaknya mengenai istana didasar lautan selatan, aku sendiri tidak mengetahui dengan pasti. Karena itu sepanjang masa hanya merupakan dongengan belaka dan tak pernah ada orang yang berani menyatakan dengan mata kepala sendiri!”.

Bahwa Ajengan Cahayabuana berkata tak percaya sebelum menyatakan sendiri, jelas mengandung arti bahwa ia pernah menjelajah dan memasuki gua rongkob - pikir Indra Sambada.

Cahayabuana berhenti bicara sesaat untuk membasahi tenggorokkannya dengan teh hangat yang berada dihadapannya, sambil mempersilahkan pada tamunya Indra Sambada.

“Marilah, nakmas Gustiku Senapati! Kita nikmati dahulu hidangan hangat yang disuguhkan Mang Jajang!”.

Mereka berempat segera mulai merahapi makanan yang dihidangkan oleh Mang Jajang dengan nikmatnya.

“Nah, aku lanjutkan. Mbah Duwung orangnya gagah perkasa. Ia memiliki watak yang angkuh sekali dan senang menolong sesama demi memamerkan kesaktiannya. Jadi jelas, bahwa pertolongannya itu bukan murni karena perasaan kemanusiaannya, akan tetapi karena senang dipuji orang sebagai orang shakti tanpa tanding. Memang ia memiliki ilmu golok panjang yang sangat mentakjubkan. Jurus-jurus gerakannya menyerupai ilmu pedang tamtama Kerajaan. Karena ia selalu memakai perisai baja dilengan kirinya, maka iapun digelari dengan si tangan besi.

Ia adalah pemuja Nyi Loro Kidul Raja putri lautan. Sayang, bahwa orang shakti yang demikian tinggi kurang mengenal akan kebesaran Dewata Hyang Maha Agung Penciptanya. Ia mempunyai seorang murid yang dididiknya sejak kecil bernama Talang Pati. Sifat dan wataknyapun tidak menyimpang dari gurunya. Anehnya Mbah Duwung pembenci kaum wanita.

Sedangkan orang shakti yang kelima yang aku kenal ialah seorang wanita tua yang amat jahat, penganut ilmu hitam. Ia mempunyai dua orang murid laki-laki yang umurnya tak banyak selisihnya dengan dia sendiri. Yaaa... kedua muridnya itu juga merupakan suaminya. Dengan ilmu kesaktiannya yang beraliran hitam, ia dapat menyulap tongkat ataupun ranting pohon menjadi ular dan lebih dari pada itu ia dapat membuat orang menjadi buta seketika hanya dengan seruan kata2nya saja.

Kuku-kuku jarinya dan jari-hari kakinya semua mengandung racun yang sangat berbahaya. Kejahatan dan kekejamannya sangat mempengaruhi setiap otang, hingga orang2 memberi gelar padanya ”jin beracun wanita” dan namanya terkenal dengan Nyai Pudak Muncar, sungguhpun raut mukanya seram dan menakutkan. Orang2 yang takut padanya memanggil dengan sebutan Raden Ayu Pudak Muncar. Akan tetapi orang itu pada waktu lima belas tahun yang lalu telah mati terbunuh oleh seorang priyagung dari Pajajaran yang namanya tak perlu di sebutkan.

Dengan meninggalnya Pudak Muncar, dua orang muridnya menggantikan kedudukkannya yang terkutuk itu. Mereka dengan bekal warisan kesaktiannya, keduanya menjadi kepala rampok yang memiliki pengaruh luas didaerahnya masing-masing. Sifat2 kejam dengan tanpa batas2 perikemanusiaan masih merajai dirinya. Kuku jari-jarinya merupakan senjata yang paling ampuh, karena mengandung racun yang amat berbahaya bagi lawan. Sedikit saja tergores kuku2 mereka dapat mengakibatkan kematian.

Murid yang tertua bernama Tambakraga dan menetap di sebuah gua ditengah hutan Wonogiri, jauh diseberang timur sana, sedangkan seorang murid lainnya bernama Tadah Waja yang tinggal dilereng gunung Slamet. Keduanya memiliki kesaktian dan kekebalan terhadap segala racun. Sedangkan laskar dan murid2nya sangat banyak serta tersebar luas.

Yaaaahh.....! Sebenarnya masih banyak lagi orang2 shakti lainnya, akan tetapi mereka pada umumnya tenang2 saja ditempat masing2 sehingga tidak menjadi buah tutur orang. Kebanyakan dari orang2 yang memiliki kesaktian itu, umumnya turut pula membantu menjaga ketenteraman daerah masing2 dengan mendirikan perguruan ilmu kanuragan ataupun membantu para priyagung Kerajaan dalam menunaikan tugasnya, Dan ini semua belum terhitung orang-orang shakti yang memangku jabatan tinggi sebagai priyagung tamtama Kerajaan yang tidak dapat dikatakan sedikit jumlahnya. Hal ini tentu nakmas Gustiku Senapati lebih mengetahui dari pada aku yang hanya selalu tinggal digunung yang terpencil ini.

Adapun kelima orang shakti yang telah kuceritakan itu tadi adalah orang2 shakti yang memiliki sifat2 aneh serta gemar mengembara. Dan kelima orang itu walaupun tidak bersamaan waktunya secara kebetulan pernah berkunjung kemari. Maka jika cucuku Yoga Kumala ataupun Gustiku Senapati kelak dalam perjalanan berjumpa dengan salah seorang dari mereka, aku mengharap kesudiannya untuk menyampaikan salamku”.

Cahayabuana tiba2 memutus ceritanya. Suasana menjadi hening sejenak kembali setelah Cahayabuana berhenti dengan kisah yang diceritakan. Masing2 turut pula terdiam, karena terbawa lamunannya sendiri2, akan tetapi suasana demikian hanya berlalu dalam sekilas pandang saja, karena Yoga Kumala kiranya masih juga merasa kurang puas akan kisah yang telah diuraikan Eyangnya. Terutama mengenai kisah yang diceritakan menyangkut gurunya Dadung Ngawuk. Segera ia menggeser duduknya mendesak lebih maju untuk menanyakan apa yang terkandung dalam hati.

“Maafkan, Eyang! Tadi yang mula2 menceritakan tentang kedatangan kakek Dadung Ngawuk ditempat ini pada kira2 sepuluh tahun yang lalu. Tetapi belum juga cerita itu dilanjutkan. Eyang hanya terus menceritakan tentang sifat2 dari pada kelima orang shakti itu saja. Jika sekiranya Eyang tidak berkeberatan, cucunda ingin sekali mengetahui tentang maksud kedatangan kakek Dadung Ngawuk kemari secara keseluruhan, Eyang”.

Mendapat desakan dari cucunya, Cahayabuana segera menatap pandang sesaat, serta kemudian mengangguk2kan kepala sambil bersenyum, dijawabnya dengan pelan:

"Heh… Heh… heh… Cucuku Yoga Kumala!… Aku gembira dengan pertanyaanmu itu. Sudah sepantasnya apabila kau ingin mengetahui… Baiklah akan kusambung lagi ceritaku yang sudah sejenak kuhentikan ini…”

Ia kembali diam lagi sesaat, dengan mengerutkan keningnya sehingga tiga deretan garis2 kerut keningnya nampak jelas, seakan2 ada yang sedang diingat2nya kembali. Kemudian mulailah ia bicara memecah kesunyian, sementara Yoga Kumala, Indra Sambada dan Indah Kumala Wardhani telah memasang telinganya dengan sepenuh perhatiannya.

“Pada waktu itu, adikmu Indah Kumala Wardhani masih kecil, baru berusia kira2 empat tahunan. Selagi aku menidurkan adikmu ditempat ini”. Berkata demikian Cahayabuana menunjuk ke lantai yang kini diduduki Indra Sambada. “Si Kumbang yang biasanya mendekam dengan tenang dimulut gua, tiba tiba mengaum panjang dan melesat di kegelapan. Waktu itu memang sudah mulai gelap malam. Baru saja adikmu kutidurkan diatas lantai, tiba2 Mang Jajang datang dengan tergopoh-gopoh serta menggigil ketakutan sambil berkata pelan dan terputus-putus: ‘Juragan sepuh…. Diluar…. ada…. orang diserang… oleh Kumbang!’

Sesungguhnya akupun mendengar sendiri, maka dengan berhati-hati aku manjenguk keluar, sedangkan Mang Jajang kuperintahkan menunggu adikmu Indah. Betapa terperanjatku setelah aku melihat diluar dalam kegelapan malam dengan jelas, bahwa si kumbang telah bergelimpangan sambil mengaum2 pendek, seakan-akan merupakan jeritan meminta pertolonganku karena tidak mampu berdiri diatas keempat kakinya lagi.



Selagi aku mengamat-amati sekali lagi dari jarak yang lebih dekat agar lebih jelas, tiba2 sesosok tubuh seperti bayangan hitam telah berdiri dimukaku dengan mengeluarkan suara tawanya yang terkekeh-kekeh menyeramkan dan segera berseru lantang. ‘Hai, pertapa tua yang durhaka! Jangan sembunyi terus dalam gua, berpura-pura suci! Biarpun kau ada didalam kawah gunung ini, niscaya aku akan dapat menemukan. Akuilah, sebelum kau mampus ditanganku, bahwa tanganmu telah berleprotan darah yang harus pula kau pertanggung jawabkan dengan jiwamu! Heh . ..heh!’.

Demi mendengar kata2 ancamannya itu, aku menjadi bingung lagi. Menurut ingatanku orang gundul yang berdiri dihadapanku dengan tiba-tiba itu, belum pernah aku mengenalnya, apalagi berurusan. Kini tanpa bertanya terlebih dahulu, ia melontarkan makian dan ancaman yang sedemikian kejamnya, hingga hampir saja aku tak dapat mengendalikan nafsu kemurkaanku. Tetapi untunglah bahwa Dewata Hyang Maha Agung selalu melimpahkan kemurahan-Nya padaku, hingga cepat aku dapat menguasai lagi ketenangan dalam diriku”.

Cahayabuana berhenti bicara sambil memejamkan matanya sesaat serta menarik nafas panjang dan dalam, kemudian menyambung ceritanya.

“Maka pesanku, dalam keadaan bagaimana pun cucuku harus dapat tetap bersikap tenang. Karena ketenangan merupakan pangkal kejernihan berfikir. Dengan kesopanan yang layak sebagaimana orang yang melayani tamu, aku bertanya padanya dengan tanpa menghiraukan akan kemarahannya yang sedang meluap luap itu. ‘Kita belum pernah saling mengenal, jika kedatangan saudara memang ada urusan dengan diriku, sudilah singgah sebentar di gua pondokku ini, agar dapat dibicarakan dengan terang tentang segala urusan saudara. Maafkan aku Cahayabuana jika ada kekhilafan sampai-sampai tidak mengenal saudara’.

Akan tetapi tamu yang sangat asing bagiku ternyata tidak mau mendengarkan kata2ku, bahkan sebaliknya. Ia mencaci maki diriku dengan kata2 yang lebih keji dan tak bisa diterima telinga. Puncak kemarahannya akhirnya menantang diriku untuk bertempur. Dalam pengakuannya ia mengaku bernama Ki Dadung Ngawuk. Nama Dadung Ngawuk memang telah lama aku mendengarnya sebagai seorang shakti yang cukup menggetarkan daerah Pajajaran sini, akan tetapi baru saat itulah aku mengenal orangnya.

Maka begitu aku tahu bahwa yang berdiri di depanku itu Dadung Ngawuk adanya, segera aku berlaku merendah demi untuk mencegah terjadinya perkelahian yang tanpa alasan. Tetapi ia tetap saja pada pendiriannya dan berkepala batu tidak mau menyambut ajakanku dengan tata susila, dan suara tawanya terdengar terkekeh-kekeh bergelak-gelak menyeramkan. Pada saat itu aku mengira bahwa Dadung Ngawuk menderita penyakit ingatan. Maka aku pikir tak ada gunanya melayani lebih lanjut. Tanpa menghiraukan akan kata caciannya yang menjadi jadi itu aku melangkah maju hendak menolong si kumbang terlebih dahulu.

Siapa tahu tiba2 ia bergerak menghadang langkahku dengan serangan totokan jari-jari mautnya yang terkenal sangat berbahaya. Dengan demikian aku terpaksa harus menghindar demi untuk mencari selamat. Akan tetapi ia tidak berhenti sampai disitu saja. Dengan gerakan2 yang amat tangkas serta berbahaya ia merangsang terus dengan jurus2nya yang sangat dahsyat.

Cambuk ular ditangan kanan menyambar-nyambar dan menggeliat liat menyerang seluruh bagian tubuhku dan masih diiringi dengan sambaran jari-jari tangan kirinya yang mengembang bagai baja merupakan totokan dan remasan shakti. Kedua kakinya pun turut pula bergerak dengan cepat merupakan serangan rangkaian yang sangat berbahaya bagi diriku. Menghadapi serangan yang dahsyat dan bertubi-tubi, aku menjadi sangat repot dibuatnya. Dengan demikian aku terpaksa harus menghadapi dengan segala kemampuan yang ada pada diriku.

Pertempuran tak dapat dihindarkan. Dari pertempuran yang berlangsung itu, aku dapat mengetahui bahwa ilmu kanuragan yang dimilikinya cukup tinggi. Serangan totokan dan remasan jari tangan kirinya mendatangkan angin sambaran yang dahsyat hingga aku terkesiap sesaat sewaktu merasakan angin sambarannya. Dengan tidak merasa sungkan lagi, aku mulai membalas serangan yang dilancarkan, Akan tetapi kembali aku tercengang sendiri, karena ternyata seranganku selalu menemui tempat kosong, gerakan2nya yang sangat aneh seperti layaknya orang mabok, ia selalu dapat terhindar dari serangan2ku. Ternyata Dadung Ngawuk yang otaknya tidak waras itu benar2 mumpuni dalam segala bidang ilmu kanuragan”.

Cahayabuana menghentikan lagi ceritanya, sambil menelan ludah dan batuk2 kecil. Kemudian meraih mangkok yang masih berisi teh dan meneguknya untuk membasahi kerongkongannya yang dirasakan kering.

“Lalu bagaimana akhir dari pertempuran itu, Eyang?” Indah Kumala Wardhani mendesak tak sabar.

“Indah! Biarlah Eyang bercerita dahulu, dan jangan kau potong2 dengan pertanyaan! Yoga Kumala menegur adiknya diiringi pandang mencegah keceriwisannya.

Ditegur demikian oleh kakaknya, indah Kumala Wardhani cemberut asam mukanya seketika. Dengan nada ejekan ia menyambut teguran kakaknya.

“Ach... coba saja gurumu yang gila itu sekarang suruh kemari yang tidak mengenal sopan itu, tentu kuhajar dengan tamparanku!”.

Karena Yoga Kumala telah mengenal watak adiknya yang selalu tidak mau kalah, ia menjadi geli sendiri sehingga tak dapat menahan ketawanya:

“Haa haaa... haaaah. Aku menegurmu agar tidak mengganggu Eyang yang sedang bercerita, manis! Kenapa kau malah menjadi marah kepadaku yang tanpa alasan? Haaa… haaaa…!”.

Mendengar percakapan kedua anak yang masih remaja itu, Cahayabuana serta Indra Sambada turut pula tersenyum geli.

“Sudahlah, cucuku manis….. jangan bertengkar terus…. nanti ditertawakan kakakmu Gustiku Indra… Dengarlah… Eyang akan melanjutkan cerita yang belum habis ini”,

Cahayabuana berkata menyapih sambil tersenyum, dan sejenak kemudian melanjutkan lagi ceritanya:

“Pertempuran itu setelah berlangsung agak lama, aku baru ingat bahwa gerakan langkahnya yang aneh seperti orang setengah gila itu ternyata langkah2 yang dinamakan “Wuru Shakti” sebagaimana aku pernah pula membaca dalam kitab kuno yang berasal dari Hindu dan diturunkan seorang prijagung tamtama shakti pada zaman Keraton Mantaram sewaktu Sanjaya Raka I bertahta. Priyagung shakti yang membuat turunan kitab berisikan ilmu “Wuru Shakti” itu bernama SAKYA ABINRA. Kitab kuno itu kemudian menjadi rebutan para orang2 shakti dizaman ini, dan akhirnya kitab itu menjadi berantakan, terlepas dari ikat penjilidannya. Diantara orang2 shakti yang memperebutkan kitab itu tidak ada yang dapat menguasai seluruhnya.

Ada yang hanya berhasil mendapatkan lembaran bagian pertamanya dan ada pula yang berhasil mendapatkan lembaran2 bagian tengah. Sedangkan saya sendiri pernah membaca pula tapi pada bagian terachir saja. Namun hingga sekarang ini lembaran2 lapisan dari kitab kuno itu tetap menjadikan incaran para orang2 shakti, hingga mendatangkan banyak bencana. Entah karena apa, pada waktu akhir2 ini tidak nampak iagi kegiatan para orang shakti untuk menguasai kitab kuno itu lagi. Mudah2an saja perebutan kitab kuno itu berakhir sampai disini”. Cahayabuana berhenti sejenak untuk menghela nafas dalam.

“Bapak Ajengan Cahayabuana! Maafkan saya memotong bertanya. Apakah lembaran2 terachir dari kitab kuno itu masih ada pada Bapak Ajengan Cahayabuana?!” Senapati Indra bertanya dengan memperlihatkan kesungguhan hatin. Kiranya ia sangat tertarik sekali akan isi tulisan-tulisan dari pada kitab kuno buah karya SAKYA ABINDRA itu.

“Sabarlah, nakmas Gusti Junjunganku! Nanti juga akan kuterangkan dimana lembaran2 bagian dari kitab kuno itu!”. Jawab Cahayabuana dengan tenang, kemudian melanjutkan ceritanya lagi. “Dengan mengingat-ingat apa yang telah pernah aku baca dalam lembaran kitab kuno yang telah lama kulupakan, akhirnya aku dapat menundukkan Dadung Ngawuk. Ternyata orang shakti yang kuanggap setengah gila itu memiliki pula sifat2 ksatryanya yang tulus. Belum juga ia terluka berat karena seranganku, telah keburu menyerah kalah. Hal ini tentu saja membuat aku tercengang dengan penuh rasa heran. Tanpa kuminta ia berjanji sendiri akan mematuhi semua petunjuk2ku.

Waktu itu telah fajar pagi. Jadi pertempuran berlangsung agak lama juga. Setelah pertempuran selesai cepat aku dengan diikuti Dadung Ngawuk menghampiri si kumbang yang masih bergelimpangan ditanah samhil mengerang2 kesakitan. Ternyata kedua tulang kaki depannya hancur terkena remasan jari2 tangannya. Dengan dibantu Dadung Ngawuk si kumbang akhirnya aku gotong masuk kedalam gua diruang dapur”.

Selanjutnya oleh Cahayabuana diceritakan pula tentang kesaktian dalam ilmu usadha yang dimiliki Dadung Ngawuk. Kedua kaki si kumbang yang tulang2nya telah patah hancur oleh remasan dapat dipulihkan kembali hanya dalam tempo sepekan.

“Suatu ilmu usadha ‘sangkal putung’ yang sangat tinggi dan mentakjubkan”. Cahayabuana memuji ketinggian ilmu usadhanya.

Akhirnya ia menceritakan tentang nasib malang yang dialaminya. Menurut cerita yang diutarakan padaku, bahwa istrinya dibunuh orang yang ia sendiri tidak mengetahui siapa pembunuhnya, karena pada saat itu ia baru pergi meninggalkan Demak, untuk mengembara tanpa tujuan.

Menurut dugaannya pembunuh itu tentu orang shakti yang menginginkan lembaran bagian kitab kuno yang ada padanya. Enam tahun lamanya ia menjelajah dengan dendam kesumat yang tersimpan dalam rongga dadanya, mencari tahu siapa pembunuh isterinya, yang tak pernah dapat ditemukan.

ANEHNYA DALAM WAKTU yang hampir bersamaan, ibu Mbah Duwung, seorang nenek yang telah lanjut usia yang tinggal disebuah desa di daerah pantai selatan dekat dengan gua Rongkob itu, juga terbunuh secara kejam, dengan tidak diketahui siapa pembunuhnya. Si Duwungpun pernah juga berkunjung kemari sebelum Dadung Ngawuk datang, untuk minta pendapatku. Dengan merendah, aku hanya dapat memberikan jawaban bahwa aku tidak mengetahui sama sekali tentang hal itu.

Kiranya datang kemari bukan semata-mata hanya minta pendapatku, akan tetapi sebenernya iapun menaruh curiga terhadap diriku. Setelah yakin bahwa aku bukan pembunuh orang tuanya, ia berlalu meninggalkan tempat pertapaan ini. Hal itu juga saya ceritakan pada Dadung Ngawuk. Tidak kuduga sama sekali, bahwa ceritaku tentang kedatangan si Duwung itu dianggapnya sebagai petunjuk jalan untuk dapat menemukan pembunuh isterinya.

Dengan penuh penyesalan, Dadung Ngawuk kunasehati agar ia berlaku hati hati dengan pertimbangan2 yang wajar, jangan sampai salah terka. Karena mungkin ada orang ketiga yang memang sengaja hendak memancing untuk mengadu domba antara Dadung Ngawuk dengan Mbah Duwung, demi keuntungannya. Sejak itu, aku tidak pernah jumpa lagi dengan mereka. Dalam perpisahan dulu, masih juga Dadung Ngawuk sempat mengatakan penyesalannya dan berjanji tak akan mengganggu keturunanku. Siapa tahu sekarang cucuku Yoga Kumala, malah menjadi muridnya”. Cahayabuana mengakhiri ceritanya. Ia menatap pandang kearah Indra Sambada sambil berkata pelan.

“Ooo… Yaaaa… tentang pertanyaan nak-mas Gustiku tadi belum kujawab. Maafkan nakmas Gustiku. Bukan aku lupa, tetapi memang sengaja aku hendak menutup ceritaku tentang Dadung Ngawuk lebih dahulu, agar cucuku Yoga Kumala puas. Nah… sekarang akan kujawab sedapatku tentang pertanyaan Gustiku”. Cahayabuana menggeser duduknya sambil membetulkan letak kaki bersilanya, “Lembaran kitab bagian akhir itu… masih ada… dan kini kusimpan campur dengan benda2 kuno lainnya dalam gudangku… Jika Gustiku menginginkan, baiklah besok saya bongkar gudang. Besok setelah dipelajari bersama, nanti akan kujelaskan bagian2 yang sekiranya penting bagi nakmas Gustiku dan aku rasa, untuk cucuku Yogapun ada pula bagian2 yang penting yang harus dipelajari”.

“Saya mengucapkan banyak terima kasih akan kemurahan hati Bapak Ajengan Cahayabuana yang selalu dilunturkan padaku”, jawab Indra Sambacia dengan perasaan puas, walaupun ia harus menunggu dan bersabar sampai esok hari lagi.

Hanya yang sangat mengherankan bagi ketiganya ialah gudang tempat penyimpanan barang2 kuno yang di sebut tadi oleh Cahayabuana. Jelas bahwa selain dari pada ruangan kosong seperti dapur, ruangan semadhi dimana mereka sekarang sedang berada dan ruangan dekat mulut gua yang hanya sempit dan gelap itu, tak ada lagi ruangan lain. Tetapi mengapa Cahayabuana menyebutkan gudang tempat penyimpanan. Dimana lagi ada ruangan untuk gudang pikir mereka.

Namun untuk bertanya lebih lanjut mengenai hal itu yang dianggap kurang penting, mereka tak berani mengemukakannya. Maka ketiganyapun hanya diam dengan masih meraba-raba akan tebakan dari teka-tekinya itu.

Sementara itu Mang Jajang telah siap dengan masakan hidangannya untuk makan siang. Juga daging utar yang tadi diterima dari Yoga Kumala telah selesai juga dimasak. Si Kumbang kiranya telah bangun dan mengaum panjang minta diisi perutnya. Dan Mang Jajangpun mengerti akan kewajibannya mengurus binatang piaraan yang setia itu.

Hujan diluar turun semakin deras. Suara guntur gemuruh mengumandang susul-menyusul, dan sebentar-bentar diselingi suara samberan halifintar yang mengampar diudara. Hawapun menjadi lebih dingin dan sejuk karenanya.

Pada esok harinya yang cerah, Cahayabuana diikuti Indra Sambada, Yoga Kumala dan Indah Kumala Wardhani menunjukkan letak gudang tempat penyimpanan barang2 kuno, yang berada disebelah dalam mulut gua tembusan yang mengarah ke timur. Dinding gua di dekat mulut yang kelihatan rata dan licin tertutup batu alam itu ternyata dapat dibuka dengan mengungkap sebuah batu besar yang berukuran kira2 selangkah persegi.

Dengan dibukanya batu yang merupakan penutup lobang, Cahayabuana merangkak memasuki lorong gelap, diikuti Indra Sambada, Yoga Kumala dan Indah Kumala Wardhani. Kira2 selang 50 tindak lorong itu menanjak terjal, untuk kemudian tiba disebuah ruangan yang luasnya kurang lebih 20 langkah persegi. Seperti halnya dengan ruangan tempat semadhi Cahayabuana, ruangan itupun berdinding dan berlantai batu alam putih yang mengeluarkan cahaya, hingga ruangan itu menjadi terang remang2.

Kini Cahayabuana menyalakan pelita yang tersedia diatas meja batu alam yang berada didalam ruangan itu. Ruangan menjadi terang benderang karena dinding sekitarnya memantulkan kembali cahaya penerang nyala api pelita. Namun dalam ruangan itu kelihatan tak nampak sebuah benda ataupun selembar kitab, kecuali meja batu alam dan pelita yang telah dinyalakan. Akan tetapi selama mengikuti langkah Cahayabuana, mereka bertiga sepatah katapun tidak berani mendahului bertanya. Mereka hanya diam sambil rnengamat-amati dinding2 batu alam yang mengelilingi ruangan itu.

“Nah… inilah gudang tempat penyimpan barang2 kuno. yang kuceritakan kemaren”. tiba2 Cahayabuana bicara memecah kesunyian: “Bagus, bukan?!” tanyanya kemudian, yang oleh mereka hanya dijawab dengan anggukan kepala serentak. Sambil turut mengangguk2kan kepala Cahayabuana melanjutkan bicaranya. “Gudang inilah kurencanakan pula untuk kelak pada saatnya yang dikehendaki oleh Dewata Hyang Maha Agung tiba, sebagai tempat penyimpanan tubuh kerangkaku. Karena nakmas Gustiku Indra telah sudi menganggap sebagai keluarga sendiri, maka tak ada jeleknya mengetahui seluk beluk gua ini dan maksud rencanaku mendatang”.

Demi menclengar penjelasan dari Ajengan Cahayabuana, bahwa ruangan itu hendak akan dipergunakan tempat peristirahatan terakhir, bulu kuduk mereka serasa berdiri dan perasaan sedih menyusul bergolak meliputi lubuk hati mereka bertiga. Seakan-akan mereka berdiri diambang pintu ruang kedukaan. Semua terdiam dengan menelan rasa duka yang tak terhingga. Tak mampu mereka menanyakan lebih lanjut. Suasanapun menjadi lebih sunyi. Namun seakan-akan Cahayabuana dapat membaca isi hati mereka, dan dengan tersenyum ia berkata:

“Apa yang kalian susahkan?!. Tadi yang aku katakan adalah wajar belaka. Cobalah pikirkan dengan tenang. bukankah semua orang akan mati? Demikian pula aku yang sudah tua begini. Hanya kapan kita semua tidak mengetahui dengan pasti, karena semua itu telah ada yang mengatur-Nya. Kita serahkan penuh pada Dewata Hyang Maha Agung yang menguasai kehidupan kita semua. Maka janganlah bersedih hati, hanya karena mendengar uraianku tadi.

Aku hanya sekedar mengemukakan rencanaku dan semoga Dewata Hyang Maha Agung mengabulkan permohonanku. Aku kira persiapan untuk menyambut akan datangnya Panggilan Dewata Hyang Maha Agung seperti aku ini adalah wajar. Nah….. mari sekarang kutunjukkan barang2 kuno yang kusimpan”, berkata demikian, Cahayabuana melangkah menuju ke sudut belakang.

Sedangkan mereka bertiga dengan masih terdiam mengikuti dibelakangnya. Setelah sampai disudut ruangan. Cahayabuana mengamat-amati dengan saksama sesaat pada dinding2 batu putih alam itu, dan kemudian ia berdiri mendekati dinding, serta menaruh telapak tangan kanannya dan mendorong dengan pelan pada dinding yang berada dihadapannya.

Tiba2 dinding yang didorongnya mulai bergerak dan membungkah retak selebar selangkah persegi, dan kini batu itu bergeser perlahan menyerupai daun pintu yang sedang membuka kedalam. Dengan hati2 Cahayabuana mengambil dua buah peti dari dalam almari batu alam, kemudian diangsurkan pada Yoga Kumala cucunya, sambil berkata.

“Coba kau terimalah ini peti dengan hati2. Kiraku barang2 lainnya lagi yang masih tersimpan tidak demikian penting bagi kalian”.

Peti itu terbuat dari jati yang berukir halus. Sebuah peti berbentuk segi panjang yang lebarnya hanya sejengkal, sedangkan panjangnya kira2 hampir setengah depa. Sebuah peti lagi berbentuk bujur sangkar yang sisinya selebar dua jengkal. Dengan menekan kembali dengan ujung telapak tangan pada ujung daun pintu batu itu, almari batu alam tertutup kembali rapat. Semua tertegun heran demi melihat tempat penyimpanan Ajengan Cahayabuana. Dengan membawa dua peti kayu, mereka kini kembali keruangan samadhi.

Nafsu masing2 untuk ingin mengetahui isi peti yang dibawanya, kiranya telah melonjak-lonjak, namun terpaksa mereka bersabar menunggu, tidak berani mendahului membuka tanpa seijin Ajengan Cahayabuana. Sambil duduk bersila Cahayabuana menarik sebuah peti panjang dihadapannya, serta mengamat-amati sambil meraba2 dengan jari2 tangannya. Seakan-akan mengagumi keindahan ukiran yang terpahat diatas tutupnya yang menonjol.

Sedangkan mereka bertiga dengan berdebar-debar mengikuti gerakan jari Cahayabuana dengan pandangan mata yang tak berkedip. Tiba2 jari telundiuk Cahayahuana menekan pada benda logam yang kecil menonjol, dan peti panjang terbuka dengan sendirinya. Bau harum semerbak memenuhi ruangan.

Kini mereka bertiga menggeser duduk bersila untuk lebih mendekat lagi, agar dapat melihat isinya dengan jelas. Perlahan-lahan Cahayabuana mengeluarkan sebilah pedang yang masih rapat terselubung dalam sarungnya. Tangkai pedang itu berlapis mas murni dan bertatahkan permata berlian dan batu merah.

Bentuk dari pada tangkai pedang itu menyerupai orang yang sedang berdiri dengan kedua belah tangannya bersilang didada. Sedangkan sarung pedangnya berlapiskan perak yang terukir halus berlukiskan kembang2 yang sangat indah. Sambil tersenyum dikulum Cahayabuana berkata pelan:

“Cucuku Yoga Kumala ! Kini telah tiba saatnya pedang pusaka ini menjadi milikmu. Telah lama pedang ini kusimpan, menanti kedatanganmu maka terimalah pedang pusaka ini sebagai bekalmu dalarn mengabdi pada Ibu Pertiwi, Aku percaya bahwa dalam bimbingan Gustiku Indra Sambada, kau tentu akan mendapat kesempatan untuk menunjukkan dharma baktimu, maka patuhilah semua perintah dan petunjuk2nya dengan ketulusan hatimu. Harapanku, semoga kau kelak dapat menjunjung martabat nama para leluhurmu”,

Berkata demikian Cahayabuana menghunus pedang pusaka itu dengan perlahan dari sarungnya. Pedang pusaka yang amat tajam itu mengeluarkan sinar cahaja putih semburat biru kemilauan. Semua terpesona demi melihat pedang pusaka yang demikian indahnya, menyerupai pusaka Kerajaan.





OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

===============================




Air Terjun Victoria Afrika

No comments:

Post a Comment