Ads

Friday, March 4, 2022

Pendekar Darah Pajajaran 010

“Semoga aji “Panggendaman Rajawana" yang kuwejangkan ini dapat berguna untuk nakmas Gustiku Junjunganku Senapati Indra sebagai penambah ilmu”.

“Aji shakti yang baru saja saya terima dari Bapak Ajengan Cahayabuana sangat besar artinya bagi pengabdianku, demi kejajaan Kerajaan. Tak dapat saya mengutarakan betapa terima kasihku akan kemurahan hati Bapak Ajengan Cahayabuana yang dilunturkan padaku”.

Dalam sebuah gua tempat pertapaan dilereng Gulung Targkuban Perahu terdengar dua orang yang sedang asyik berbicara. Mereka berdua duduk bersila berhadap-hadapan diatas batu putih yang bersih mengkilap, disudut sebuah ruangan yang agak luas.

Disudut sebelah mereka terdapat meja batu alam dengan sebuah kitab kuno diatasnya dan sebuah pelita minyak yang tak menyala. Akan tetapi walaupun tanpa penerangan nyala api, ternyata dalam ruangan itu cukup terang karena mendapat pancaran cahaya dari dinding-dinding batu putih alam yang mengkilap mengelilinginya. Atap batu air alam yang runcing2 menjorok bergantungan dan tak teratur itu, menambah terangnya ruangan. Senapati Muda Manggala Pengawal Raja Indra Sambada sedang menerima wejangan dari Pertapa shakti Ajengan Cahayabuana, dengan penuh perhatian.

“Janganlah nakmas Gustiku menyanjung diriku berkelebihan. Ilmu yang kuwejangkan hendaknya diterima sebagai tanda bukti pengabdianku !” Cahayabuana menyahut merendah. Setelah sejenak ia melanjutkan kata katanya. “Kesudian nakmas Gusti Junjunganku untuk menerima pengabdian dua cucuku kelak, membuat aku lebih tenang untuk sewaktu-waktu memenuhi panggilan Dewata Hyang Maha Agung. Harapanku, semoga kedua cucuku dalam bimbingan Gusti Junjunganku dapat menyambung nyala pelita yang telah padam”.

“Doa restu Bapak Ajengan Cahayabuana semoga selalu menyertaiku agar harapan Bapak menjadi kenyataan. Dan hendaknya Bapak Ajengan Cahayabuana kelak dapat menyaksikan serta turut pula mengenyam kebahagiaan hasil jerih payah cucu2 keturunan Bapak”.. Kata2 ini diucapkan oleh Indra Sambada untuk mengelakkan secara langsung akan ucapan Cahayabuana yang menyatakan seakan-akan dalam waktu dekat akan segera meninggalkan dunia fana.

Akan tetapi tak diduganya bahwa Ajengan Cahayabuana bahkan menambah penjelasan tentang alam keabadian yang memang menjadi tujuan utama daripada pengabdian sepanjang masa hidupnya.

“Ketahuilah, nakmas Gusti Junjunganku! Dunia dengan seluruh isinya tidak ada yang kekal. Semua akan mengalami gerang, untuk kemudian menjadi musnah, kembali kepada Pencipta-Nya. Demikian pula kita semua sebagai ummat manusia. Akan tetapi kemusnaan itulah justru merupakan permulaan dari kehidupan abadi. Siapapun yang selalu ingat akan amal kebajikan sepanjang masa hidupnya didunia serta menunjukkan dharma bhaktinya dan selalu bersujud pada Dewata Hyang Maha Agung, merekalah yang kelak berhak akan mengenyam kebahagian abadi. Seorang pujangga kuno dari Pajajaran pernah menulis syair yang memuat suatu petunjuk tentang tempat kebahagiaan abadi sebagai berikut;

Bukan dilembah dalam yang sunyi,
Bukan dipuncak gunung yang tinggi,
Bukan dimahligai batu pualam,
Dan Bukan ditempat indah semayam,

Jangan dicari digelap malam,
Diangkasa yang berawan,
Jangan pula cari dilautan,
Ditengah gelombang nan bergulungan,

Lama dinanti tak kunjung tiba
Kan dikejar aral merintang,
Bagai bayang tak terpegang,

Och, Dewata Hyang Maha Kuasa,
Hanya disisi Mu bahagia abadi adanya,
Bimbinglah hamba menuju kesana.

Dengan demikian jelaslah bahwa kebahagiaan yang abadi tidak berada didunia yang ramai ini. Dan hanya dengan bimbingan Dewata Hyang Maha Agung kita dapat, menemukannya”. Cahayabuana melanjutkan wejangannya.

Senapati Indra Sambada dengan khidmad mendengarkan wejangan Cahayabuana. Ia dapat meraba, bahwa ilmu pertapa shakti darah Pajajaran ini tinggi sekali hingga mendekati sempurna. Kiranya sukar untuk dicarikan bandingannya. Kini ia diam sejenak dengan tertunduk. Tak dapat ia mengejar lebih jauh akan wejangan-wejangannya. Sesaat kemudian Ajengan Cahayahuana melanjutkan bicara.

“Nakmas Gusti Junjunganku Senapati Indra! Aku percaya bahwa Gustiku dapat menangkap semua isi maksud wejanganku. Dan hanya ini yang dapat kupersembahkan”.

“Duhai, Bapak Ajengan Cahayabuana. Semoga aku kelak pada saatnya dapat mengikuti jejak Bapak Ajengan Cahayabuana, walaupun hanya dengan bekalku yang sangat dangkal ini”.

“Dewata Hyang Maha Agung akan selalu menyertaimu”. Ajengan Cahayabuana menjawab pelan sambil tersenyum puas.

Baru saja dua orang shakti itu selesai berwawancara, tiba-tiba Indah Kumala Wardhani berlari-lari mendatangi.

“Eyang. Aku terpaksa mengganggu Eyang!” Ia berkata tersengal-sengal.

“Yaaa… ada apa cucuku manis?!”.

“Akang Yoga digigit dan dibelit ular besar dan panjang sekali. Lekaslah Eyang, tolong akang Yoga Kumala”, serunya.

Tanpa menjawab seruan cucunya Indah Kumala Wardhani, Ajengan Cahayabuana cepat melangkah meninggalkan ruang semadhinya diikuti Indra Sambada menuju ketempat dimana Yoga Kumala berada. Kala itu waktu menjelang siang tengah hari. Namun demikian pancaran cahaya matahari masih saja nampak suram tidak bersinar.

SEJAK HARI PAGI tadi sang surya masih tetap bersembunyi dibalik awan tebal yang menyelimuti angkasa. Kemegahan puncak gunung Tangkuban perahu menjadi pudar pula, tertutup awan hitam, laksana raksasa yang sedang berduka menanggung derita, karena tak mampu melemparkan beban berat berupa mendung hitam yang melekat di atas kepalanya. Akan tetapi hujanpun tak turun pula. Angin menghembus dengan sangat pelan dan lemah.

Pohon2 besar berdiri tegak tidak bergerak. Hanya daun2 kecil nampak sekali-kali bergoyang bergerak lirih. Alam sekitarnya sunyi sepi dalam suasana penuh ketenangan. Kicau burung2 pun tidak terdengar ramai seperti biasanya. Seakan-akan alam sekitar lereng puncak gunung Tangkuban Perahu pada hari itu turut pula mendengarkan wejangan2 pertapa shakti Ajengan Cahayabuana.



Telah tiga malam, Senapati Muda Manggala Tamtama Pengawal Raja Indra Sambada yang bergelar Pendekar Majapahit, menginap di pertapaan dimana Cahayabuana bersemayam. Ia datang untuk menepati janji mengantarkan Yoga Kumala dan Indah Kumala Wardhani ketempat Eyangnya. Para tamtama pengiring yang dipimpin Lurah tamtama Jaka Wulung dan Jaka Rimang diperintahkan menunggu di sebuah desa yang berada agak jauh di bawah tempat pertapaan.

Kesempatan baik dalam pertemuan itu, oleh Indra Sambada dipergunakan juga untuk menambah ilmu kesaktiannya. Sejak pertemuan pertama kali di Linggarjati kira2 dua tahun yang lalu, Indra Sambada tergerak hatinya ingin berguru pada Ajengan Cahayabuana (Baca Indra Sambada “Pendekar Majapahit”).

Pada waktu itu ia tidak menduga sama sekali, bahwa hubungan akan terjalin demikian eratnya, karena ternyata Sujud adik angkatnya adalah cucu Ajengan Cahayabuana yang bernama Yoga Kumala. Bahwa dalam pertemuan sekarang ini, selama tiga hari tiga malam telah mendapat wejangan ilmu yang demikian besar artinya, ia sangat bersyukur kepada Dewata Hyang Maha Agung.

Walaupun wawancara mereka sudah selesai, akan tetapi suara Indah Kumala Warthani yang sangat tiba2 itu membuat mereka terperanjat sesaat diliputi rasa cemas, mereka berdua segera pergi dengan cepat menjenguk Yoga Kumala. Ternyata apa yang mereka kuatirkan tidak beralasan sama sekali.

Dengan berjongkok sambil ketawa terkekeh-kekeh, Yoga Kumala memegang kepala ular dengan tangan kanannya, sedang tangan kiri dengan jari2nya yang dikembangkan, setiap kali menotok berulang2 ke badan ular yang tengah berkelejotan meronta-ronta ingin lepas dari genggaman tangan kanannya.

Ekornya yang sangat panjang menggeliat-geliat dengan sangat lemah tak mampu membelit tubuh Yoga Kumala kembali. Dengan perlahan lepaslah semua belitan dan kini ular itu jatuh di tanah berkelejotan dengan kepala masih digenggam Yoga Kumala. Ular itu besarnya kurang lebih hampir sebetis dan panjangnya lebih dari tiga depa, akan tetapi kepalanya hanya segenggaman.

Ular itu sebangsa ular dumung jantan yang ganas dan berbisa. Warnanya berkembang hitam campur kuning merah jambu. Ular semacam itu memang jarang adanya. Ia.sangat berbahaya apabila sedang lapar. Apapun yang dijumpainya langsung diserangnya dengan desisan yang berbisa, untuk kemudian digigit dan dibelit untuk membuat mangsanya tidak berdaya sama sekali.

Dengan kepalanya yang nampak kecil ia dapat menelan bulat2 seekor ayam alas ataupun kelinci besar atau sebangsanya. Dengan mengeluarkan desisannya yang berbisa pula, Yoga Kumala langsung diserangnya, dimana ia sedang asyik bermain2 dengan Indah Kumala Wardhani adiknya.

Dari atas sebuah pohon yang rindang ular itu meluncur dengan pesatnya dan langsung menyerang dan menggigit leher Yoga Kumala sambil ekornya membelit tubuh Yoga Kumala. Demi melihat kejadian yang mengerikan itu, Indah Kumata Wardhani cepat2 berlari meminta pertolongan Eyangnya.

Akan tetapi Yoga Kumala adalah murid Kyai Dadung Ngawuk yang pernah diberi makan buah pemunah racun shakti "tulak tuju" atau yang dinamakan pula "Daru seketi”. Ia jatuh bergulingan di tanah sesaat, karena terperanjat bercampur rasa pedih akan serangan gigitan dilehernya yang secara tiba2 itu. Racun yang merangsang masuk melalui luka gigitan dilehernya, segera punah kembali oleh tulak tuju.

Sedangkan baginya sewaktu masih mengikuti Kyai Dadung Ngawuk daging ular merupakan santapan yang lezat. Terdorong oleh rasa keinginan untuk menikmati kembali daging ular, yang olehnya telah lama dilupakan, kini cepat ia bangkit kembali serta melawannya penuh semangat. Ular yang sangat ganas itu kiranya tidak berdaya melawan totokan jari2 Yoga Kumala. Tulang ular yang berruas2 menjadi terpisah sambungannya karena totokan shaktinya Yoga Kumala.

“Ha… haaa... haaaaa..! Belum kenalkah kau bahwa aku adalah Dadung Ngawuk kecil?! Sudah lama aku tidak merasakan lezatnya daging ular sebangsamu... haaa... haaa!!” Ia bicara sambil ketawa terkekeh-kekeh menyeramkan. “Ayooooh….. bergeraklah sepuas hatimu…. sebelum kukupas dan kupotong-potong dagingmu!” Serunya sambil ketawa terkekeh2 dengan masih berjongkok memegang erat2 dalam tangan kanannya kepala ular itu yang semakin lemah gerakannya.

Ia girang bukan main, seperti lagaknya anak kecil yang mendapat makanan kesukaannya sehingga tidak mengetahui bahwa Eyangnya Ajengan Cahayabuana dan lndra Sambada kakak angkatnya telah berdiri dengan ternganga dibelakangnya.

“Yoga!” Cahayabuana berseru: “Ular itu sangat berbahaya cepat2lah kau bunuh!”

Walaupun suara itu sangat pelan didengarnya, akan tetapi membuat ia terperanjat juga. Cepat ia memalingkan kepalanya kearah Eyangnya, dengan masih menggenggam erat2 kepala ular ditangan kanannya.

“Semua ular tak ada yang berbahaya, Eyang! Dan memang ular ini akan segera aku bunuh, untuk dimasak dagingnya! Jika Eyang belum pernah mencoba, tentu tak akan percaya, bahwa daging ular itu sangat lezat rasanya!” Yoga Kumala menjawab dengan sungguh2.

Demi mendengar jawaban cucunya kini Cahayabuana menatap dengan penuh rasa heran. Indra Sambada turut pula tercengang demi mendengar jawaban dari adik angkatnya.

“Bukan demikian maksud Eyangmu, Yoga!” Indra memotong pembicaraan untuk menjelaskan, sambil ikut berjongkok mendekat: “Yang berbahaya adalah racunnya! Jika ular itu sampai menggigitmu sukar untuk mencari obat pemunah racunnya!”

“Ach Kangmas Indra juga tidak percaya akan kata2 ku. Tadi ular ini menggigit leherku, tetapi tidak apa2?! Lihat…. ini .. bekas gigitannya!” Yoga Kumala menunjukkan luka bekas gigitan ular dilehernya dengan telunjuk tangan kirinya.

“Hah?! Betulkah kau digigitnya?!” Cahayabuana dan Indra Sambada bertanya serentak sambil saling pandang dengan penuh tanda tanya dan perasaan was2.

“Betul Eyang! Tadi akang Yoga jatuh bergulingan waktu digigit dan dibelit badannya oleh ular itu!” Indah Kumala Wardhani menyahut tak sabar.

Akan tetapi karena ia merasa jijik, maka tak berani mendekati kakaknya yang masih juga memegangi ular itu. la berdiri dibelakang Eyangnya sambil berpegangan jubahnya karena takut kalau2 ular itu terlepas dan menggeliat kearahnya.

Tiba2 ular itu berkelejot sekali dan sesaat kemudian terkulai tak bergerak lagi. Kiranya ibu jari tangan kanan Yoga Kumala menekan lebih keras lagi kepala ular yang digenggamnya sehingga hancur dan mati seketika. Ular itu kini baru dilepaskan dari genggamannya serta jatuh terkulai di tanah tak bergerak. Bahwa hanya dengan tekanan ibu jari tangan kanan, kepala ular itu dapat dihancurkan. Cahayabuana dan Indra Sambada tidak dapat menyembunyikan rasa kagumnya.

“Yoga Kumala! Coba perlihatkan jari2mu padaku!” Cahayabuana berkata sambil ikut serta berjongkok dihadapan cucunya dan memegang tangan kanan Yoga Kumala.

Sebagai seorang pertapa shakti, cepat ia dapat mengetahui bahwa jari2 tangan Yoga Kumala rnemang memiliki daya kekuatan luar biasa. Hal itu tidak menjadikan heran, karena dengan cara latihan2 yang tekun kekuatan demikian memang dapat dicapai.

Akan tetapi yang lebih mengherankan, ialah Yoga Kumala dapat memunahkan racun ular yang sangat berbahaya. Terang bahwa dilehernya masih nampak jelas adanya bekas gigitan ular, akan tetapi sedikitpun tak menampakkan bahwa ia menderita karena keracunan.

“Apakah Gustiku pernah memberikan ilmu pemunah racun ular yang sangat mentakjubkan ini?!” Cahayabuana bertanya kepada Indra Sambada.

“Tidak! Saya sendiripun tidak memiliki ilmu kesaktian demikian”. jawab Indra dengan wajah masih diliputi rasa heran akan kejadian ajaib kesaktian Yoga Kumala.

“Cucuku Yoga! Dimanakah kau mendapat ilmu aneh serta mentakjubkan ini?!”.

Mendapat pertanyaan dari Eyangnya, Yoga Kumala diam dan menundukkan kepala, yang kini mukanya bersemu dadu sampai di ujung telinganya. Sinar pandangannya yang tadi berseri2 penuh kegirangan kini lenyap seketika dan berobah menjadi sedih penuh rasa penyesalan.

Ia teringat akan pesan kakek Dadung Ngawuk gurunya agar namanya tak usah disebut-sebut. Untuk membohong pada Eyangnya dan kakak angkatnya ia takut dan perasaannya tak mengijinkan. Sedang untuk menjawab dengan sebenarnya ia merasa salah karena tak mematuhi akan pesan gurunya.

Demi melihat cucunya tertunduk dan tak mau menjawab sepatah katapun Cahayabuana segera dapat menerka, bahwa pertanyaannyalah yang menjadikan sebab kesedihan cucunya. Dengan penuh kasih sayang, Cahayabuana memegang dagu Yoga Kumala dengan tangan kanan untuk didongakkan sedikit keatas, sedang tangan kirinya diletakkan diatas pundak Yoga Kumala cucunya, sambil berkata lembut:

“Cucuku sayang Yoga Kumala! Tak usah kau bersedih hati, jika memang kau tidak dapat menjawab pertanyaanku memang banyak orang2 shakti yang tak mau di kenal namanya. Hal demikian adalah wajar. Aku sebagai Eyangmu merasa turut bahagia, bahwa cucuku memiliki ilmu yang tidak dapat dipandang rendah. Dan sebagai Eyangmu akupun ingin pula menyampaikan rasa terima kasihku yang tak terhingga pada gurumu yang telah sudi memberikan ilmu kesaktian padamu!”.

Berkata demikian Cahayabuana sambil menatap pandang ke arah wajah cucunya dengan diiringi senyurn yang mengandung kasih sayang. Merahlah wajah cucunya, air mata berlinang linang mengalir pelan membasahi pipi Yoga Kumala.

“Marilah cucuku! Kita pulang dan bercakap-cakap diruang tempat semadhiku. Nanti akan kuceritakan tentang orang2 shakti yang memiliki sifat keanehan pada diri mereka masing2. Biarlah Mang Jajang memasak ular yang kau tangkap itu. Akupun ingin turut mencicipi daging ular yang menurut katamu sangat lezat!” katanya menghibur.

Dengan membawa bangkai ular, Yoga Kumala mengikuti Eyang dan kakak angkatnya kembali memasuki goa, sedangkan Indah Kumala Wardhani telah mendahului berlari untuk memanggil Mang Jajang yang sedang berada di dapur.

Setelah Yoga Kumala mencuci tangan dan mukanya, serta menyerahkan bangkai ular pada Mang Jajang dengan pesan untuk memasaknya, Kumala Wardhani baru mau mendekati kakaknya dengan lagak yang sangat manja dengan memegang lengan kakaknya sambil menyanjung mengagumi.

Kini empat orang duduk bercakap-cakap diruang semadhi sambil menikmati hidangan makanan kecil yang telah disediakan Mang Jajang dengan minuman teh harum yang masih hangat. Diluarpun mulai turun hujan rintik-rintik.

“Yoga Kumala!” Suara Cahayabuana terdengar membuka percakapan. “Jika aku tak salah dengar tadi kau mengaku sebagai Dadung Ngawuk kecil. Adakah si-kakek gundul gila Dadung Ngawuk yang shakti itu pernah menjadi gurumu?”.

Pertanyaan Ejangnya yang tidak diduga itu membuat Yoga Kumala tercengang heran. Kenalkah Eyangnya dengan kakek Dadung Ngawuk gurunya? Jika seandainya tidak pernah mengenal dari mana Eyangnya dapat memberi gelar pada gurunya "sikakek gila” yang shakti. Suatu teka-teki yang ia sendiri tidak dapat menebaknya. Akan tetapi otaknya yang cerdas cepat bekerja. Ia ingin bertanya lebih dulu sebelum memberikan jawaban pada Eyangnya.

“Apakah Eyang pernah kenal dengan orang yang bernama kakek Dadung Ngawuk? Ingin saya mengetahui lebih banyak tentang kisah kakek Dadung Ngawuk, Eyang?”. Yoga Kumala pura2 bertanya.

Secepat otak Yoga bekerja, secepat itu pula Cahayabuana dapat meraba, bahwa cucunya benar-benar murid kakek Dadung Ngawuk. Dari perobahan air muka dan pertanyaan cucunya, ia dapat menarik kesimpulan dengan pasti, bahwa kakek Dadung Ngawuk adalah guru cucunya. Dan tingkah laku Yoga Kumala sewaktu membunuh ular itu, menambah keyakinannya. Untuk tidak mengecewakan cucunya ia mulai bercerita.

“Pada kira-kira sepuluh tahun yang lalu, aku pernah kenal dengan si kakek gundul aneh yang shakti itu. Waktu itu, ia memang sengaja datang kemari ingin bertemu dengan diriku”. Sampai disini Cahayabuana berhenti sesaat, seakan-akan ada sesuatu yang sedang di ingat2nya.

Dengan duduk bersila serta membuka telinga lebar2, Yoga Kumala mendengarkan Eyangnya yang sedang bercerita dengan penuh perhatian, Senapati Indra Sambada dan lndah Kumala Wardhani, walaupun tidak mengenal nama Dadung Ngawuk, ingin pula mengetahui kisahnya tentang orang shakti yang aneh itu. Bagi Indra Sambada cerita2 semacam itu sangat digemari, karena dengan demikian ia akan lebih banyak mengetahui orang2 shakti yang kemungkinan besar akan banyak manfaatnya dalam arti menunaikan tugasnya.

Sejenak kemudian, Cahayabuana mulai lagi dengan ceritanya.

“Yaaa... kira-kira dua puluhan tahun yang lalu. pada jaman itu aku mengenal lima orang shakti yang masing-masing memiliki sifatnya sendiri2. Watak dan tingkah lakunya sangat berlainan satu sama lain. Lima orang itu tergolong orang-orang shakti terkemuka didaerah masing-masing, Hanya ada juga persamaan mereka berlima orang shakti itu. yalah…… umur mereka hampir sebaya. Orang pertama bernama Sidik Pamungkas dan terkenal dengan gelarnya Yamadipati. Namanya harum, karena orang itu memiliki sifat-sifat ksatria. Ia senang menolong sesama yang lemah, dan pengaruhnyapun di daerah Mataram sangat luas. Semula ia terkenal sebagai pendekar pedang yang sangat ulung dan sukar mencari tandingannya, akan tetapi kemudian ia menjadi lebih terkenal dengan senjata tongkat penjalinnya.

Hanya sayang ia memiliki watak yang sangat kejam tidak mengenal ampun. Setiap orang yang dianggap musuhnya tentu binasa ditangannya, maka oleh orang-orang digelari dengan nama Yamadipati yang artinya pencabut nyawa. Cara hidupnyapun mencontoh seorang bangsawan. Segala teratur rapih dan serba ada. Namun belakangan ini nama Sidik Pamungkas tak terdengar lagi sekarang. Ada sebagian yang mengatakan bahwa ia kini telah menjadi Wiku atau pendeta dan bersemayam dilereng Gunung Sumbing. Benar tidaknya aku sendiri belum mengetahui dengan pasti. Dan orang itu yang juga mempunyai aji shakti "Panggendaman Rajawana",

Orang kedua Jaka Pandan yang kemudian bergelar Kyai Pandan Gede. Ia saudara muda seperguruan dengan sidik Pamungkas. Akan tetapi merupakan saudara seperguruan sifatnya sangat berlainan. Jaka Pandan atau Kyai Pandan Gede orangnya sangat sederhana, dapat dikatakan hidup dalam kemelaratan, dimana ia berada disitulah tempat tinggalnya. Ia tak pernah mempunyai tempat tinggal yang tetap. Sedangkan ia adalah orang yang senang mengembara. Lawan ataupun kawan sukar untuk dapat menemuinya.

Orangnya senang berkelakar dan selalu bermurah hati. Tapi jelas bahwa orang seperti dia memiliki jiwa besar, sepi ing pamrih. Harta benda baginya sama sekali tak ada artinya. Sayang ia tak mempunyai keturunan. Menurut cerita orang, dulu ia pernah mencintai seorang gadis anak bangsawan. Akan tetapi karena orang tua gadis idamannya tidak memperbolehkan untuk diperisterikan oleh Jaka Pandan, maka Jaka Pandan bersumpah tak akan mempunyai istri untuk selama-lamanya. Ia mengikuti gerak hatinya sendiri dalam hidupnya, artinya tak mau mendengarkan kata2 orang lain. Karena munculnyapun selalu tiba-tiba karena menuruti kehendak sendiri maka ia mendapat gelar "Siluman shakti" Pengaruhnyapun amat luas didaerah seberang timur sepanjang Bengawan.

Orang yang ketiga adalah yang tadi namanya telah kusebut ialah Dadung Ngawuk. Orang itu menurut ceritanya berasal dari daerah Demak. Sejak kecil ia terlunta2, karena ia adalah anak yatim piatu. Akan tetapi setelah dewasa ia amat shakti. Ia pernah mengembara sampai daerah Kerajaan Pajajaran ini. Dengan kesaktiannya ia malang melintang, sukar untuk mencari lawannya. Pengaruhnyapun sangat amat luas hingga sampai di perbatasan Banyumas.

Akan tetapi sifat2nya hampir menyerupai orang yang tak waras. Hal ini mungkin disebabkan karena penderitaannya waktu kecil atau karena ilmu yang dianutnya. Aku sendiri kurang mengetahui dengan pasti. Hanya sayang, orang itu hanya mengenal dirinya sendiri tanpa mengerti kegunaan akan kesaktiannya. Demikian ia dimabokkan oleh kesaktiannya sendiri, hingga tak pernah berhenti mengejar kemajuan ilmunya saja. Waktu itu semua orang yang pernah dikenalnya diajak bertempur, hanya untuk meyakinkan kesaktiannya sendiri. la tak pernah memperdulikan orang lain, asalkan tak menyinggung pribadinya ataupun menyinggung ilmunya.

Pendek kata sifat2nya tepat jika dinamakan setengah gila. Ia tak pernah mau campur tangan urusan kenegaraan ataupun membina ketenteraman seperti orang-orang shakti lainnya. Diwaktu kosong, ia banyak menyendiri ditempat-tempat sepi untuk melatih kasaktiannya, yang selalu dirahasiakan. Orang yang demikian sungguh sukar untuk diselami arah tujuan dan kehendaknya. Ia dapat menghancurkan batu hanya dengan remasan jari-jarinya. Yang mengherankan iapun memiliki ilmu usadha yang tinggi sekali.

Akan tetapi tak pernah dipergunakan untuk menolong sesama, jika tidak ada urusan dengan pribadinya. Darimana ilmu itu didapat aku sendiri pun tak mengetahui. Karena ia dulu pernah malang melintang disini, maka akupun mengenalnya. Ciri ciri aslinya pada orang itu kepalanya gundul sejak kecil. Apakah ia kini masih hidup ataupun mati aku tak mengetahuinya”.

Sampai disini Cahayabuana berhenti sejenak sambil menghela nafas panjang serta menatap pandang kearah Yoga Kumala yang duduk dihadapannya, seakan-akan ia ingin menyelami pendapat cucunya. Sewaktu Indra Sambada sedang duduk terpaku mendengarkan cerita Cahayabuana sambil mengagumi akan pengalaman dan pengetahuannya yang sangat luas itu, tiba tiba Yoga Kumala memotong bicara memecah kesunyian.

“Ketiga orang shakti yang Eyang ceritakan itu kini masih hidup semua, Eyang?. Dan ketiganya saya pernah mengenal bersama-sama kangmas Indra Sambada. Bukankah demikian kangmas?!”.

“Ya.... memang demikian, akan tetapi orang shakti yang ketiga tadi aku terus terang belum pernah mengenalnya. Bahkan mendengar namanya saja baru sekarang”. Indra Sambada menyahut, “Jika kau telah mengenal orang yang ketiga tadi, berarti kau lebih banyak mengetahui tentang orang shakti dari pada aku Yoga!?” Indra Sambada sengaja menyanjung adik angkatnya, agar ia mengetahui dengan pasti, apakah kesaktian yang dimiliki Yoga Kumala memang berasal dari Dadung Ngawuk.

Tanpa ditanya lebih lanjut, Yoga Kumala menceritakan tentang pertemuannya dengan kakek Dadung Ngawuk, hingga ia mendapat ilmu "Wuru shakti" dari padanya. Hanya mengenai buah “daru seketi” ataupun yang disebut “tulak tuju" ia sengaja merahasiakan.

“Pantasan akang Yoga sekarang seringkali bertingkah aneh seperti orang gila, jika sedang berlatih dengan aku, Eyang? Kiranya akang Yoga murid dari kakek Dadung Ngawuk si gila yang shakti itu”. Indah Kumala Wardhani turut memotong percakapan sambil mencibirkan bibirnya menggoda Yoga Kumala.

“Indah, kau jangan mencemoh kakakmu! Bahwa Dadung Ngawuk mau memberikan ilmunya pada kakakmu adalah suatu kurnia yang luar biasa anehnya. Ilmunyapun sangat tinggi. Kau harus turut bangga karenanya”. Cahayabuana cepat menegur cucunya yang selalu gemar menggoda orang lain,

“Eyang, cobalah teruskan cerita orang2 shakti tadi, saya ingin mengetahui kelima orang shakti yang telah dikenal Eyang itu!” tanpa menghiraukan ejekan adiknya Yoga Kumala mendesak untuk melanjutkan cerita.

“Baiklah akan aku teruskan dongenganku tentang lima orang shakti yang memiliki sifat2 aneh yang telah kukenal”. Cahayabuana mulai dengan ceritanya.

“Orang yang keempat tinggal menetap di gua Rongkob daerah pantai selatan. Tidak sembarang orang dapat memasuki guanya, karena gua itu tertutup air laut yang terkenal angker. Pantai laut selatan sangat berlainan dengan pantai Iaut tengah. Tebing2nya sangat terjal dan gelombangnyapun sangat besar bergulung-gulung tak ada hentinya. Konon cerita orang2 penduduk sekitar pantai, jauh sebelah selatan dari gua Rongkob yang angker itu, ditengah2 lautan ada istana besar dari Nyi Loro Kidul. Ia adalah raja putri lautan. Yang akan saya ceritakan ini bukan raja putri itu, tetapi orang shakti aneh penghuni gua Rongkob. Ia terkenal dengan nama Mbah Duwung”.

Belum juga Cahayabuana selesai dengan ceritanya, tiba2 Indah Kumala Wardhani yang sedari tadi diam mendengarkan memotong bicara.

“Eyang, bagaimana Mbah Duwung itu dapat masuk keguanya, jika mulut gua itu tertutup air laut? Apakah istana dalam lautan itu benar2 ada. Eyang?”.





OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

===============================




Air Terjun Victoria Afrika

No comments:

Post a Comment