Ads

Thursday, March 3, 2022

Pendekar Darah Pajajaran 007

Tendangan kaki dan gerakan sampokannya selalu diiringi tepukan kendang dan bunyinya gong. Bila dua orang melontarkan serangan, maka dua orang lainnya menghadapi dengan tangkisan ataupun mengelak dengan gerakan yang penuh gaya. Tiba2 suara tepukan kendang terdengar lantang dan cepat.

Dan bersamaan dengan irama gamelan yang lebih cepat itu, dua bilah klewang meluncur ke arah mereka yang sedang bersilat. Dengan tangkas dan penuh gaya, meluncurnya klewang disambut dengan tangkapan tangan kanan masing2 dari dua pemuda yang sedang bersilat itu, dan tepat tertangkap pada gagangnya.

Tepuk tangan dan sorak sorai pujian dari para penonton terdengar riuh ramai. Dan dua pemuda itupun segera tersenyum menyambut pujian yang tertuju padanya, Ternyata dua bilah klewang itu dilemparkan oleh dua orang temannya yang duduk dideretan terdepan, atas perintah gurunya.

Kini pertunjukan pertarungan dengan jurus kembang2 masih terus berlangsung, dengan dua orang bersenjatakan klewang menghadapi dua orang bertangan kosong. Tak lama kemudian dua klewang serentak dapat terampas oleh yang bertangan kosong dan kini bergantian yang bersenjatakan klewang.

Suara gamelan bertalu talu dan tepukan kendangpun terdengar cepat dan nyaring, mengiringi gerakan jurus2 serangan klewang yang bertubi-tubi dengan cepatnya. Serangan klewang yang berobah-robah gerakannya, merupakan sinar putih yang bergulung-gulung menyelubungi tubuh lawan yang dihadapinya. Tusukan, sabetan dan babatan klewang yang cepat itu, diikuti oleh lawannya dengan gerakan yang indah dan tangkas untuk menghindari serangan. Dan kembali lagi kedua belah klewang dengan cepatnya berpindah ditangan lawan yang tadinya bertangan kosong. Dan orang2 yang menyaksikan bersorak sorai memuji ketangkasannya. Tetapi, tiba2 terdengar suara nyaring dengan nada ejekan:

“Permainan anak kecil”.

Semua orang berpaling kearah datangnya suara, dan suasana seketika menjadi sepi dan tegang. Sementara itu terdengar tepukan tangan tiga kali dan suara gamelanpun segera berhenti. Seorang pemuda lalu yang memakai pakaian seragam sebagai murid Kyai Singayudha meloncat naik ke atas panggung. Sedangkan empat orang pemuda yang sedang bersilat tadi segera menghentikan gerakannya dan berdiri berjajar dibelakangnya.

Dengan senyum yang dibuat-buat pemuda tadi menganggukan kepalanya kepada para penonton setelah mana ia bicara dengan nada yang tajam sekali”.

“Tuan2 yang terhormat. Sekiranya ada yang kurang puas akan hidangan pertunjukan kami, sudilah naik ke atas panggung untuk memberikan petunjuk yang sangat baik bagi perguruan Baskara Mijil. Dengan senang hati, kami bersedia menerima petunjuk Tuan yang akan menambah pengalaman kami untuk mana kami ucapkan banyak terima kasih”. Ucapan seorang pemuda, murid Baskara Mijil yang sangat sopan itu, jelas merupakan tantangan bagi orang yang baru saja berseru menghina pertunjukan tadi.

Dan semua penonton menunggu dengan hati berdebar-debar akan munculnya seorang yang dimaksud. Tiba2 sebatang golok panjang meluncur laksana sambaran kilat, dan tertancap hampir seluruhnya diatas panggung, tepat didepan pemuda yang berbicara tadi.

Hanya gagang dan sebagian dari mata golok itu yang kelihatan masih bergetar. Dan sesaat kemudian disusul berkelebatnya bayangan yang melayang naik ke atas panggung dengan satu loncatan yang cukup mengagumkan. Orang itu masih muda dan berusia 25 tahun, sebaya dengan pemuda pamong murid perguruan Baskara Mijil yang kini berada dihadapannya.

Ia mengenakan pakaian serba hitam dari bahan tenunan rakyat biasa, dengan kain sarung warna merah yang dilipat dan dipinggangnya sebelah kiri tergantung sarung golok panjang yang ternyata telah kosong. Sepasang alisnya tebal dan bertemu pangkal. Sinar pandangan matanya tajam berkilat. Rambutnya gondrong tanpa ikat kepala dan raut mukanya persegi dengan warna kulit yang kehitam-hitaman. Urat-urat di lehernya yang pendek kelihatan menonjol. Bentuk tubuhnya kokoh kekar dengan tingginya yang sedang. la berdiri dengan tangan kiri bertolak pinggang sambil menunjuk kearah pemuda yang dihadapannya dengan jari telunjuk tangan kanan.

Lain halnya dengan pemucla dihadapannya. la bertubuh langsing tetapi padat berisi. urat-uratnya kelihatan melingkar2 dikedua lengannya. Wajahnya memancarkan sinar ketenangan dengan warna kulit yang kekuning2an serta bersih. Rambutnya hitam terurai sampai dipundak dan tersisir rapih. Ikat kepalanya seutas sutra warna merah selebar dua jari, diikat erat2 diatas tengkuknya.

Sedang para penonton masih berdebar-debar rnenyaksikan adegan yang tegang itu, si pemuda murid Kyai Singayudha cepat membungkukkan badannya serta mencabut golok panjang yang tertancap dihadapannya hanya dengan menggunakan japitan ibu jari dengan telunjuk tangan kanannya, kemudian diangsurkan kepada pemuda yang sedang berdiri dihadapannya dengan bertolak pinggang, yang ternyata adalah pemilik dari golok panjang itu.

Melihat cara mencabut golok yang tertancap hampir seluruhnya dipapan kaju jati yang sekeras itu, hanya dengan menggunakan jepitan ibu jari dengan telunjuknya saja sudah dapat diterka bahwa pemuda pamong murid Kyai Singayudha terang memiliki tenaga dalam yang tidak dapat dipandang ringan.

Dan para penonton kembali dibuat ternganga lebar olehnya. Lebih-lebih bagi mereka yang tidak mengerti mengenai ilmu kanuragan. Tanpa berkedip Sujud mencurahkan perhatiannya kearah adegan yang tegang itu. Rasanya ingin ia melihat lebih dekat lagi, agar dapat mengikuti dengan jelas.

“Tuankah, yang mewakili suara gelap tadi?. Ingin kami mengetahui lebih dahulu nama dan gelar Tuan, sebelum memberikan petunjuk yang berharga bagi kami”. Murid Kyai Singayudha berkata memecah kesunyian dengan suara lantang yang diiringi dengan senyuman mengejek.

“Apa ?! Aku tidak mewakili siapapun! Hadirku dipanggung ini tidak ada sangkut pautnya dengan suara gelap tadi. Aku hanya semata-mata melayani tantanganmu yang sombong, yang baru saja kau ucapkan. Dan aku adalah rakyat biasa yang tak mempunyai gelar• Namaku Talang Pati”. Jawab pemuda lawannya dengan tak kalah lantangnya.

Mendengar jawaban yang tegas dari Talang Pati, Braja Semandang tersentak heran, hingga ia melangkah surut ke belakang satu tindak. Dugaan bahwa Talang Pati adalah orang yang mengeluarkan suara gelap yang berisi kata2 hinaan ataupun mewakili orang yang menghinanya ternyata tidak benar.

Kini Braja Semandang, demikianlah nama pemuda pamong murid Baskara Mijil itu, dan memang semua dari perguruan Baskara Mijil memakai nama awalan Braja, tindakannya penuh keraguan.

Ia memalingkan kepalanya sesaat kepada Singayudha gurunya yang duduk dideretan terdepan, minta pertimbangan. Singayudha menyibakkan lengan jubahnya, sebagai isyarat jawaban dan tahulah bahwa maksud gurunya terserah akan kebijaksanaan Braja Semandang sendiri.

“Saudara Talang Pati! Jangan hendaknya salah terka!? Tantanganku hanya aku tujukan kepada orang yang menghina perguruan kami dimuka umum. Kami tidak bermaksud bermusuhan dengan siapapun juga tanpa alasan”.

“Tetapi, bukankah ucapanmu yang penuh kesombongan tadi, sengaja menghina semua. penonton? Apakah kau kira, bahwa semua orang jeri mendengar nama Baskara Mijil?! Ketahuilah, bahwa sekalipun gurumu yang naik panggung, aku tidak akan gentar menghadapinya”.



Kata2 ini tajam bukan kepalang. Mukanya yang kekuning-kuningan mendadak sontak berobah menjadi merah padam, hingga ujung daun telinga Braja Semandang serta matanya kelihatan merah menyala tak mampu menerima penghinaan yang menyinggung nama kebesaran gurunya. Badannya terasa menggigil bergetar menahan kemarahan yang meluap-luap. Jari-jari kedua belah tangannya meremas remas. Dengan suara parau dan gopoh ia bicara dengan nada bentakan.

“Keparat Talang Pati! Tak usah kau menyinggung nama guruku! Aku Braja Semandang sanggup menghajar mulutmu yang lancang”!

Kata-kata itu diiringi gerakan secepat kilat menghunus klewang dipinggangnya dan langsung menyerang lawan dengan loncatan kedepan dalam jurus tusukan maut. Tangan kirinya dengan jari-jari terbuka diangkat keatas agak kebelakang mengikuti gerakan sebagai imbangan badan, dengan kakinya terbentang lebar.

Para penonton banyak menjerit ngeri demi melihat serangan yang ganas serta tiba-tiba itu. Dan diantaranya banyak pula yang cepat-cepat berlalu meninggalkan alun-alun, karena takut akan meluaskan keributan.

Sujud semakin tertarik akan pertarungan yang sungguh2, yang kini tengah berlangsung. Tanpa disadarinya ia telah menerobos batas tali kawat yang terpentang dan berdiri lebih dekat.

Sementara itu orang-orang tak berjejal-jejal seperti semula. Sewaktu orang-orang menjerit, hampir saja Sujud turut pula berteriak, karena melihat Talang Pati yang diserang dengan tiba-tiba itu masih saja bertolak pinggang dengan tangan kirinya dan belum siap siaga untuk bertempur.

“Bukankah ini serangan yang curang?” pikirnya. Akan tetapi kecemasannya segera lenyap, setelah melihat Talang Pati terhindar dari serangan maut dengan gerakan yang sangat mengagumkan.

Klewang yang hampir mengenai dadanya, disambut dengan bacokan golok, sambil melangkah surut serong kesamping kiri dan muncratlah percikan api karena dua senjata beradu keras. Keduanya terkejut dan meloncat surut ke belakang satu langkah. Masing-masing saling kagum akan ketangkasan dan kekuatan tenaga lawan. Kembali kini rnereka saling serang menyerang dengan gerakan yang cepat dan sukar diduga arah tujuannya. Tebangan, tusukan, bacokan silih berganti dengan perubahan-perubahan yang amat cepat. Keduanya menunjukkan ketangkasan yang seimbang.

Gerakan klewang dan golok panjang demikian cepatnya, hingga sepintas lalu merupakan sinar putih yang bergulung2 dan sambar menyambar menyelubungi kedua tubuh mereka yang sedang bertempur. Sedang mereka berternpur dengan serunya. tiba tiba terdengar suara orang berseru diiringi tawa yang bergelak gelak.

“Haahaa….. haa…..! Bagus, bagus! Permainan anak kecil meningkat menjadi permainan bocah! Ha... haa hahaa”.

Semua yang hadlir terkecuali yang sedang bertempur, memalingkan kepala ke arah suara. Mereka ingin mengetahui gerangan siapakah yang berani berbuat demikian tak senonoh, dengan mengeluarkan kata-kata hinaan tanpa menghiraukan kemungkinan adanya orang-orang sakti lain yang hadir ditempat pertunjukkan itu.

Bersamaan waktunya, dikala orang-orang sedang mencari dengan pandangan matanya kearah orang yang bersuara tadi. Singayudha melesat laksana bayangan ke atas panggung, dan langsung jatuh berdiri di tengah2 dua orang pemuda yang sedang bertempur dengan serunya.

Singayudha dapat memisah mereka yang sedang bertempur hanya dengan angin sambaran loncatannya saja, hingga keduanya hampir jatuh terlentang, jelas menunjukkan bahwa Kyai Singayudha memiliki ilmu kanuragan yang sangat sakti. Dan demikian dua orang pemuda seketika terpaksa berhenti bertempur.

“Hai, Tua bangka Tadah Waja! Silahkan naik panggung, jika maksudmu hendak membalas dendam karena tidak puas dengan kejadian satu tahun yang lalu.”

Singayudha berdiri tegak diatas panggung dengan berseru nyaring, sambil jari telunjuknya menunjuk kearah orang yang sedang berdiri bersandar pada tiang dimana tali kawat terikat, tepat dibelakang Sujud. Suaranya bergema berwibawa.

Seorang yang telah lanjut usia berkerudung kain panjang berkembang sebagai baju atasnya, sambil masih bersandar pada tiang dimana tali kawat terpancang, ketawa terbahak-bahak seraya berkata.

“Haahaaa… haaa…….! Kau kira aku wayang orang yang sedang ditanggap, mau naik ke panggung, menemanimu?! Tak sudi aku menjadi singa tontonan!”

Kata-kata yang sederhana ini, merupakan sindiran penuh penghinaan yang amat tajam bagi Singayudha. Lebih tajam dari pada mata tajamnya klewang sendiri yang tergantung dibalik jubahnya. Tadah Waja bertubuh kurus. Rambutnya panjang terurai dan telah memutih. Matanya cekung dan hidungnya bengkok menyerupai patuk burung hantu. Mulutnya lebar dengan bibirnya yang tebal. Mukanya kasar penuh jerawat, serta memancarkan sifat kebengisan. Kuku jari2 tangannya hitam dan panjang meruncing, mengandung racun yang sangat berbahaya. Ia berdiri bersandar sambil memegang tongkat besi sepanjang sedepa dan sebesar ibu jari kaki.

Ia dulu seperguruan dengan Tambakraga sewaktu menuntut ilmu hiam. Ialah suatu ilmu kesaktian kanuragan yang khusus untuk tujuan kejahatan. Pada satu tahun yang lalu, sewaktu Tadah Waja sedang merampok didaerah Tegal dekat pantai utara beserta lima orang anak buahnya. Kebetulan Singayudha berada pula didaerah itu dengan diiringkan empat puluh muridnya.

Akhirnya pertempuran sengit terjadi. Lima orang murid Singayudha roboh terluka. Akan tetapi karena jumlah murid Singayudha jauh lebih besar dari pada rampok, maka akhirnya Tadah Waja terpaksa lari meninggalkan gelanggang dengan menderita luka dipundaknya, terkena sebatang anak panah yang dilepas para murid perguruan Baskara Mijil. Disamping itu, seorang anak buah Tadah Waja terpaksa ditinggalkan karena mati tertusuk klewang didadanya.

Dengan demikian perbuatan kejahatan dapat digagalkan sama sekali oleh Singayudha beserta murid-muridnya. Dan semenjak itu nama Singayudha dengan perguruannya Baskara Mijil bertambah luas pengaruhnya.

Dengan diliputi rasa dendam kesumat, semula Tadah Waja pergi ke hutan Wonogiri, dengan maksud minta bantuan saudara seperguruannya Tambakraga yang sakti. Akan tetapi kenyataannya Tambakraga telah membubarkan sarang rampoknya dan kini telah menjadi seorang pertapa di Gunung Lawu, karena menginsyafi akan kesesatan dalam jalan hidupnya yang telah ditempuhnya. (Baca Seri Pendekar Majapahit).

Setelah mengetahui bahwa Singayudha akan mengantar anaknya yang menjadi mempelai lelaki ke Banjararja dengan hanya diiringkan empat puluh orang muridnya, Tadah Waja sengaja bermaksud hendak membalas dendam ditempat keramaian itu. Ia datang di Banjararja dengan membawa anak buahnya yang dua kali lipat jumlahnya. Anak buahnya terdiri dari para penjahat yang telah tunduk dibawah perintahnya. Dan diantaranya terdapat pula Durga Saputra sebagai anggauta baru, akan tetapi karena kesaktiannya ia menjadi salah satu anak buah yang terpercaja.

Demi mencapai tujuannya, Tadah Waja tak segan2 menggunakan siasat licik dan ganas. Sebagian anak buahnya tersebar diantara para penonton yang berjejal-jejai dialun abin itu. Sedangkan sebagian lagi berada disekitar gedung Kebanjaran Kapanewon, dengan tujuan merampok habis seluruh isi Kapanewon, serta membakar gedungnya. Dan ini semua tinggal menunggu isyarat aba2 dari Tadah Waja yang kini sedang sengaja memancing keributan. Ia yakin, bahwa siasatnya yang telah diperhitungkan dengan masak2 tentu akan berhasil. Disamping tercapainya tujuan utama menghancurkan nama perguruan Baskara Mijil serta membunun Singayudha, juga para anak buahnya akan gembira karena mendapat hasil harta rampokan.

Sebagai seorang sakti, Singayudha cepat dapat menekan perasaannya yang meluap-luap karena hinaan yang langsung menyinggung namanya. Tanpa menghiraukan kata2 Tadah Waja, ia berseru dengan suara yang mengandung daya kesaktian:

“Tadah Waja.! Dahulu aku masih berlaku lapang dan memberikan kesempatan untuk hidup, seharusnya kau berterima kasih padaku dan menginsyafi akan kesesatanmu dalam menempuh jalan hidupmu. Tak kuduga, bahwa hari ini kau sengaja datang mengantarkan jiwamu!” Suaranya rnenggetar memekakkan telinga dengan penuh wibawa membuat para muridnya sendiri menggigil ketakutan. Demikian pula para penonton yang tak memiliki kepandaian.

“Ha… haaaa… haaaa…! Singa barangan yang pandai membual! Bukan aku, tetapi kaulah hari ini yang akan kehilangan kepalamu! Terimalah ini sebagai ganti jiwaku!” Menjawab demikian Tadah Waja tiba2 melemparkan Sujud yang sedang berdiri ternganga didepannya, kearah Singayudha.

Sujud yang tak mengira, bahwa dirinya yang akan di jadikan bulan-bulanan tak sempat mengelak sama sekali. Sewaktu baju dipunggungnya dicengkeram oleh Tadah Waja dan kemudian dilemparkan. Kini ia tinggal menerima nasib kelanjutannya, namun sebagai murid Dadung Ngawuk masih juga ia dapat berjungkir balik di udara, untuk berjaga-jaga menghadapi serangan dari penerima tubuhnya.

Demi melihat berjungkir baliknya tubuh anak tanggung kearahnya, Singayudha berseru terkejut sambil mengelak satu tindak kesamping. Sebagai seorang guru kanuragan yang telah memiliki nama harum, ia tak mau menyerang orang yang ia sendiri belum tahu siapa adanya. Tangan kanannya diangsurkan ke depan untuk menangkap tubuh Sujud yang meluncur bagaikan bola kearahnya.

Akan tetapi belum juga tangannya menyentuh tubuh Sujud, tiba2 salah seorang tamu undangan yang rnengenakan pakaian kebesaran sebagai Bupati Narapraja, melesat bagaikan berkelebatnya bayangan dan menyambar tubuh Sujud serta menghilang dibalik penonton yang sedang riuh berebut diujung untuk meninggalkan tempat yang mulai gaduh.

“Hai.... berhenti!” Durga Saputra berseru sambil lari mengejar. “Bapak Tadah Waja! Yang lari itu adalah Wirahadinata Indramayu”.

Bersamaan waktunya Singayudha telah meloncat turun dan langsung menyerang Tadah Waja dengan sambaran angin pukulannya. Mendapat serangan yang tiba2, Tadah Waja mendadak mengeluarkan suara seruan tinggi melengking, untuk kemudian meloncat surut kebelakang dua langkah, dan lari melesat meninggalkan gelanggang dengan berseru:

“Kejarlah aku, jika kau ingin kehilangan kepalamu”. Ia sengaja meninggalkan gelanggang untuk memancing agar Singayudha lari mengejarnya.

Tanpa berfikir panjang Singayudha melesat lari mengejar diikuti sebagian anak buahnya. Dan bersamaan waktunya dengan melesatnya Singayudha, nyala api telah menjilat2 gedung Kebanjaran Kepanewon dari segenap penjuru.

SUARA JERITAN tangis perempuan dan anak-anak bercampur dengan suara para rampok yang sedang merampok serta menjarah rayah harta yang ada di Kabanjaran. Para Punggawa Narapraja dibantu sebagian para murid perguruan Baskara Mijil yang masih tinggaI di Kabanjaran Kapanewon segera menerjang para rampok. Suasana menjadi semakin gaduh. Panewu Arjasuralaga dan adiknya Lurah Tamtama Arjarempakapun turut pula mengamuk dengan klewangnya. Pertempuran seru berkobar dalam beberapa kalangan.

Disusul kini awan hitam yang tebal bergulung-gulung naik di ketinggian dan nyala api yang makin besar menjilat jilat membumbung tinggi diangkasa, hingga langit diatasnya menjadi merah membara.

Tempat pesta keramaian, kini menjadi medan pertempuran. Para tamu undangan yang memiliki keberanian dan erat hubungannya dengan Panewu Arjasuralaga segera turut membantu membasmi para rampok, sedangkan mereka yang merasa takut akan terlibat dalam pertempuran yang dahsyat segera lari berlalu meninggalkan Banjararja.

Dikegelapan malam yang samar-samar, ditebing kali Cilosari, seorang bertubuh kurus dan telah lanjut usia dalam pakaian kebesaran sebagai Bupati Narapraja menghentikan langkah larinya sambil menurunkan anak tanggung yang mendekati dewasa dari pundaknya. Dengan serta merta diliputi oleh rasa haru yang tak terhingga, ia merangkul dengan kedua tangannya erat2 ke leher Sujud, serta menciumi keningnya sambil bicara:

“Anakku!…… Telah lama aku mencarimu... juga Gusti Indra kakakmu... berduka hati, mencari kau sampai dimana-mana”.

“Bapak !” Hanya itulah yang dapat keluar dari mulut Sujud, dan air matanya meleleh, membasahi kedua pipinya. Dengan kata2 yang terputus-putus ia melanjutkan bicaranya : “Ibu… bagaimana…… dan kangmas Indra….. apakah tidak marah? Aku menyesal…!”.

Ternyata tamu yang berpakaian kebesaran sebagai Narapraja yang menyambar tubuh Sujud sewaktu dilemparkan Tadah Waja tadi, memang Bupati Wirahadinata adanya. Ia orang tua angkat dari Sujud yang mengasuhnya sejak Sujud berusia dua setengah tahun. Pun nama Sujud adalah pemberiannya, dengan harapan agar anak itu kelak memiliki budi luhur yang selalu bersujud kepada Dewata Yang Maha Agung.

Ia menemukan anak itu, sewaktu ia lolos dari Kebanjaran Agung Indramayu karena seluruh bekas daerah Kerajaan Pajajaran terdesak oleh Majapahit, ditengah hutan dekat Sumedang dalam keadaan yang sangat menyedihkan. Anak yang baru berumur dua setengah tahun itu telanjang bulat dan merangkak-rangkak sendirian dengan tubuhnya yang kurus kering. Kemudian oleh Bupati Wirahadinata beserta istri anak itu diasuhnya, tak ubahnya seperti anak kandung sendiri dengan cinta kasih yang ikhlas. Dan oleh Bupati Wirahadinata anak itu diberi nama SUJUD.

Dalam pengembaraan, hingga Bupati Wirahadinata dengan istri menetap di Ngawi ditepi kali Bengawan dengan menyamar sebagai dukun dan mengganti namanya dengan Kyai Tunggul, Sujud selalu ada disampingnya.

Kemudian atas jasa Kyai Tunggul atau Bupati Wirahadinata dalam turut serta membantu Senapati Indra Sambada menenteramkan suasana dibelakang Kerajaan Pajajaran, ia diangkat kembali sebagai Bupati Narapraja majapahit dan memerintah kembali daerah Kebanjaran Agung Indramayu (Baca SERI PLNDEKAR „MAJAPAHIT").

Dan mulai sejak itu atas permintaan Senapati Indra Sambada yang telah menganggap Sujud sebagai adik angkatnya Sujud diserahkan kepada Senopati Indra Sambada dan tinggal menetap di Senapaten di Kota Raja.

Telah tiga kali Senapati Indra Sambada pada waktu akhir2 ini mengunjungi Kebanjaran Agung Indramayu, dan menceriterakan hal ikhwal yang menyangkut diri Sujud. Untuk mencari jejak Sujud, para tamtama nara sandi Kerajaanpun dikerahkan pula. Bupati Wirahadinata dalam usaha turut mencarinya, merasa hampir putus asa. Tidak diduga sama sekali, bahwa sewaktu ia datang memenuhi undangan perayaan perkawinan di Banjararja, dapat bertemu dengan anak angkatnya yang selalu dirindukan. Belum juga mereka berdua puas menuangkan rasa dendam rindunya, tiba2 Durga Saputra berkelebat mengejar sambil berseru.

“Wirahadinata !!!. Pengemis gadungan !!! Menyerahlah untuk kutebas lehermu, sebagai ganti lenganku sebelah ini !!!”

Dengan golok panjang yang kedua belah sisinya bermata tajam, Durga Saputra langsung dengan gerakan jurus tusukan berangkai, ialah meloncat sambil menusuk ke arah dada Wirahadinata dengan kedua kakinya terpentang lebar, merupakan kuda2 yang kokoh dan dilanjutkan dengan perobahan gerak tebangan dari kanan ke kiri dan sebaliknya kearah lambung lawan, dengan menggeser kaki ke belakang kedepan hingga menjadi rapat, serta tumit kaki depannya diangkat sedikit.

Menghadapi serangan yang demikian dahsyat dan tiba2. Wirahadinata terkesiap sesaat sambil meloncat surut kebelakang satu langkah dan jatuh berjumpalitan kesamping kiri untuk menghindar dari serangan rangkaian. Secepat kilat ia bangkit kembali dengan pedang terhunus ditangan kanannya, sedangkan tangan kirinya mendorong Sujud kesamping belakang.

“Bangsat bedebah !!. Kaulah Durga Saputra perampok di indramayu dulu ? !!! Dengan tanganmu yang hanya tinggal sebelah itu kau juga belum insyaf akan kesesatanmu !!!. Sebaiknya kutebas sekalian, tanganmu yang tinggal sebelah itu !!!”.

Berkata demikian, Wirahadinata maju menyerang dengan pedangnya dalam gerakan jurus tebangan dari balik perisai. Pedangnya berputaran cepat, hingga sinar putih yang bergulung-gulung merupakan lingkaran bentuk payung, laksana perisai baja dan disusul dengan satu loncatan sambil merobah gerakan putaran pedang menjadi serangan bacokan dari atas kebawah serta dilanjutkan dalam gaya tebangan dari kiri ke kanan menyapu paha lawan.

Benar2 merupakan serangan pedang yang sukar untuk di duga arah sasarannya. Dan ini adalah suatu jurus dari gerakan pedang tamtama asli. Akan tetapi Durga Saputra bukan anak kecil yang baru saja belajar ilmu kanuragan. Ia meloncat kesamping kiri dua tindak sambil mengangsurkan tangan kirinya yang memegang golok panjang guna menangkis datangnya susulan tebangan yang mendatang.

Dengan badannya merendah mengikuti gerakan kakinya yang telah ditekuk. Dengan demikian ia menjadi setengah berjongkok, dan terhindarlah dari serangan2 yang dahsyat. Kiranya Durga Saputra memang masih setingkat berada dibawah Wirahadinata dalam ilmu tata bela diri, hingga sebentar kemudian ia menjadi sibuk berloncatan menghindari serangan yang bertubi-tubi dari Wirahadinata. Sebenarnya ia sendiri sebelumnya telah merasa jeri untuk menghadapi Wirahadinata yang terkenal sakti, akan tetapi karena dibelakangnya diikuti Tadah Waja, ia memaksakan dirinya untuk mengejar lawan. Dengan mengandalkan Tadah Waja yang sakti serta kawan2nya yang banyak, maksud untuk membalas dendam tentu akan berhasil, pikirnya.

Sewaktu Durga Saputra dalam keadaan sangat terdesak serta terancam jiwanya, tiba2 bayangan berkelebat menghadang didepan Wirahadinata. Tadah Waja dengan tongkat besinya telah melintang memapaki tebangan klewang. Dua senjata beradu, hingga mengeluarkan percikan api. Keduanya meloncat surut kebelakang hingga tiga langkah sambil berseru terkejut :

“Heehhh”.

Ternyata telapak tangan masing2 dirasakan pedih, hingga hampir mereka saling melepaskan senjatanya. Belum juga mereka sempat saling menyerang Singayudha telah meloncat menerjang Tadah Waja dengan serangan tendangan berangkai. Angin sambaran tendangan yang berdesingan membuat terkesiapnya lawan.

Dengan tangkas Tadah waja berpusingan surut ke samping sambil mengayunkan tongkat besinya dengan tangan kanan, sedangkan jari-jari tangan kiri mengembang tegang dalam gerak cengkeram pergelangan, siap untuk mencengkeram kaki lawan dengan kuku2nya yang beracun.

Sementara itu Wirahadinata yang telah siap akan menyerang Tadah Waja terpaksa menggagalkan gerakannya, karena melihat Sujud berjumpalitan menghindari serangan Durga Saputra yang nampaknya kelihatan telah mulai kalap. Namun belum juga ia dapat melangkah membantu anaknya, empat orang anak buah Tadah Waja telah mengurung dan menyerangnya dengan senjatanya masing2. Kini pertempuran menjadi tiga, empat kalangan dan berlangsung dengan sengitnya.

Sujud bertangan kosong melawan Durga Saputra yang bersenjatakan golok panjang. Sedangkan Wirahadinata dengan pedangnya menghadapi empat orang anak buahnya Tadah Waja yang bersenjatakan dua klewang, satu golok dan satu kampak. Sedangkan Tadah Waja sendiri dengan tongkat besinya melawan Singayudha dan Braja Semandang bersenjatakan klewang.

Masih ada satu kalangan lagi yang sedang bertempur dengan sengitnya, antara lima orang murid Baskara Mijil melawan delapan orang anak buah Tadah Waja dengan bersenjatakan klewang dan bermacam2 senjata tajam lainnya.

Sedangkan Talang Pati hanya menonton, berdiri dibalik pohon dekat tempat pertempuran dimana Sujud sedang sibuk menghindari serangan golok panjang Durga Saputra yang bertubi-tubi tanpa mengenal belas kasihan dengan langkah gerakan "WURU SAKTI".





OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

===============================




Air Terjun Victoria Afrika

No comments:

Post a Comment