Ads

Monday, February 28, 2022

Pendekar Darah Pajajaran 004

ANGAN-ANGAN-nya merasa tidak menentu. Ia ingat kembali akan kasih sayang Senapati Manggala Muda Indra Sambada, yang selalu memperlakukannya sebagai adik kandungnya sendiri.

Gedung Senapaten serta halamannya yang megah terbayang kembali dalam angan-angannya. Juga Jaka Wulung dan Jaka Rimang yang selalu tersenyum dan melatihnya dalam tata bela diri dibawah asuhan kakaknya Indra Sambada kini membayang kembali dalam alam lamunannya. Dan semua itu membuatnya rindu ingin pulang kembaii ke Senapaten di kota Raja. Ia menyesal akan kepergiannya yang tanpa pamit.

Kini lamunannya beralih kepada kasih sayang orang tua angkatnya Bupati Wirahadinata atau Kyai Tunggul, dan terutama pada Ibu angkatnya. Sejak kecil ia di timang-timang dan dibelainya dengan mesra. Sifat lemah Iembut seorang Ibu dengan penuh rasa kasih sayang, seakan-akan melintas dalam khajalannya dan kini ia sebatang kara terlunta-lunta mengembara. Terasalah olehnya, bahwa ia sendiri tidak tahu siapakah ia sebenarnya. Mungkinkah, ada orang yang senasib dengan dia? Tak tahu akan asal usulnya sendiri?.

Apakah ia sendiri yang memang ditakdirkan demikian? Jika ia sedih, pada siapakah ia harus mencurahkannya? Dan apabila ia senang, kepada siapakah ia harus memamerkan? Demi mengingat-ingat itu semua, air matanya berlinang-linang meleleh membasahi pipinya tidak terasa dadanya terasa sesak dan isak tangisnya tak dapat ditahan.

Siksaan jasmani yang belum lama dialami, dapat diatasi dengan ketabahan hatinya, namun siksaan bathin yang demikian ini, rasanya tidak mampu memikulnya. Benar-benar dalam arti kata hidup sebatang kara. Tidak berayah, tidak beribu, bahkan mengenal wajahnyapun belum, tidak bersaudara dan tidak tahu dimana ia dahulu dilahirkannya.

Ya! Tak ubahnya sebagaimana ia sekarang seorang diri ditengah hutan belanrara dan tidak mengenal arah yang harus dituju. Memikirkan itu semua, hatinya terasa sedih bagaikan disayat-sayat sembilu. Haruskah ia menerima begitu saja nasib yang malang ini? Ataukah ia harus berikhtiar, berdaya-upaya dengan segala kemampuan yang ada, untuk mencari dimana tempat tinggal orang tuanya yang sejati, jika masih hidup, dan dimana makamnya jika telah meninggal?.

Akan tetapi jika ia harus mencari, dimanakah ia harus mencarinya di dunia yang membentang luas ini dan pada siapakah ia harus bertanya? Sampai pada pertanyaan-pertanyaan inilah, ia selalu menghadapi jalan buntu. Pertanyaan yang ia sendiri tidak mendapatkan jawabannya. Dan hanya air matanyalah yang selalu setia menemani dalam saat menanggung dukanya.

Ketahuilah, bahwa Dewata Yang Maha Agung dan Maha Pengasih dan Penyayang pada umat-Nya, akan selalu menyertai apabila kita selalu mengabdi pada-Nya. Dalam kegelapan, dimana kau tak dapat meraba dengan tanganmu, maka kau tidak perlu berkecil hati dan putus asa. Serahkanlah sepenuhnya kepada Dewata Yang Maha Agung. Dan mohonlah penerang pada-Nya. Percayalah, bahwa Ia akan selalu memberi apa yang selalu kau mohon dari pada-Nya. Maka setiap saat, setiap kau bernafas, sebutlah selalu dalam bathinmu akan kebesaran-Nya.

Ajaran-ajaran yang termuat dalam kitab Niti yang diajarkan kakak angkatnya Indra Sambada, kini tiba-tiba mengiang kembali ditelinganya. Kata demi kata terkumpul tersusun merupakan barisan kalimat yang dapat diingat kembali keseluruhannya. Semakin lama semakin jelas dan ia kini seperti orang yang tersentak bangun dari tidur. Perlahan ia bangkit dan duduk bersila di tanah. Kepalanya menunduk. Matanya dipejamkan. Dan ia mulai bersamadhi, mengikuti ajaran kakak angkatnya.

Baru saja ia selesai dari semadhinya, tiba tiba terdengar suara tawa nyaring dari atas kepalanya. Ia terkejut sesaat dan mendongak keatas mencari dengan pandangannya ketempat arah datangnya suara.

Seorang kakek-kakek gundul dengan hanya memakai cawat dari kulit ular sanca, duduk diatas dahan yang tinggi pohon jambu dengan ketawa terkekeh-kekeh. Kumis dan jenggotnya yang tumbuh jarang telah berwarna putih semua dan sangat panjang. Tawa yang terkekeh-kekeh itu diiringi dengan gerakan goyangan kakinya yang seirama dengan tingkah lakunya yang sinting. Dan di sisinya duduk seekor kera, menirukan semua gerakan yang dilakukan si kakek gundul.

“Hai, kakek gundul! Tolong tunjukkan jalan yang terdekat untuk keluar dari hutan ini!” Sujud berseru.

Akan tetapi si kakek malah memperpanjang tawanya yang terkekeh-kekeh, seakan-akan tidak memperdulikan pertanyaan yang ditujukan padanya.

“Kakek gundul !. Turunlah kemari sebentar !”. Sujud mengulang seruannya.

“Hai!. .Anak gilal. Disini tidak ada orang yang bernama kakek gundul! Jika kau perlu denganku naiklah kemari !” Jawab si kakek sambil tertawa terkekeh dengan nada mengejek dan acuh tak acuh.

“Siapakah namamu? Jika kau tidak mau kupanggil kakek gundul”.

“Anak gila. Naiklah kemari dahulu, baru nanti kita bicara! !”

“Kakek gundul, aku tidak gila dan jangan kau panggil aku anak gila lagi. Namaku Sujud”.

Ketawa si kakek semakin terdengar nyaring. “HaHahaaa… Sekali lagi kau panggil aku kakek gundul kepalamu akan kugunduli dengan pisau dapurmu itu, tahu!” Tetapi anehnya, wajah si kakek sedikttpun tidak menunjukkan kemarahan, walaupun kata-katanya disertai ancaman. Dan ketawanya masih mengiringi kata-katanya. “Panggillah aku kakek Dadung Ngawuk. Dan Iekaslah kau naik!”

“Kakek Dadung Ngawuk! Aku enggan memanjat demikian tinggi. Sebaiknya kakek saja yang turun atau tolong tunjukkan kearah mana aku harus berjalan untuk cepat keluar dari hutan ini!”.

“Hahaaa... haaa Aku butuh teman, maka tak mungkin kau dapat pergi dari sini. Biarlah berteman dengan anak gila tak mengapa”.

Mendengar kata cemoohan yang tidak henti-hentinya, Sujud merasa sangat mendongkol.

“Kakek Dadung Ngawuk! Jangan main-main dengan ketawamu yang memuakkan itu, lekaslah tunjukkan arah jalan keluar hutan ini! Aku akan segera berlalu!”

Tetapi si kakek masih juga tetap tertawa terkekeh-kekeh. Kiranya ia sama sekali tidak merasa tersinggung dikatakan gila oleh Sujud.

“Benar-benar kakek yang kujumpai ini orang gila”. Pikirnya.

“Baikl Terlebih dahulu kau harus dapat menerobos keluar dari kepungan pasukanku yang terdiri empat puluh prajurit. Jika kau tidak dapat lolos dari kepungan, kau harus tetap menemani aku disini”.

Berkata demikian, Dadung Ngawuk meloncat kedahan yang berada dibawahnya, dan gerakan itu disusul oleh kera yang berada disisinya. Ternyata kakek Dadung Ngawuk ini dapat berloncatan dengan tangkas, menyerupai gerakan kera yang menyertainya. Dengan pandangan matanya, Sujud mengikuti gerakan si kakek serta kera itu dengan mulut ternganga karena rasa kagum dan heran.

Pertama, heran akan ketangkasan si kakek dapat memanjat dan berloncatan diatas dahan-dahan tak ubahnya seperti seekor kera. Dan kedua, menilik kata-katanya tadi ia memerlukan teman. Jadi jelas bahwa ia seorang diri. Tetapi mengapa justru berkata bahwa pasukannya yang berjumlah empat puluh prajurit akan mengepungnya. Sedangkan ia sendiri tidak melihat adanya tanda-tanda orang disekitarnya.



Tiba-tiba tanpa diketahui, si kakek telah memegang cambuk yang panjangnya lebih dari dua depa, yang terbuat dari kulit ular sanca. Sesaat kemudian suara lecutan cambuk terdengar mengampar tiga kali berturut-turut

“tar tar…. tarr…. taaarrr…” dengan diiringi tawanya yang nyaring.

Tak lama kemudian, disekeliling Sujud telah bermunculan kera-kera jenis beruk dengan bersuara cecowetan mengurung Sujud yang masih berdiri dengan mulut ternganga. Pengalamannya yang pahit, membuat ia berfikir untuk tidak mau menyerah sebelum mengadakan perlawanan dalam batas kemampuannya. Cepat ia berdiri tegak, siap-siaga untuk menghadapi serangan yang datang kearahnya.

Dengan tak terduga-duga, kera yang duduk disamping si kakek meluncur kearahnya dengan kecepatan yang menakjubkan. Sebelum Sujud dapat bergerak untuk menyambutnya, kera tadi dapat merebut pisau yang terselip dipinggangnya, serta membawanya keatas dahan dengan memanjat pohon. Kemudian disambut oleh si kakek, dengan ketawa yang terkekeh-kekeh.

Kiranya kera itu hanya bermaksud untuk merampas pisaunya dan tidak bermaksud menyerang. Demikian pula kera-kera yang mengurungnya. Satupun tidak ada yang memulai menyerang.

Mereka hanya mengurung Sujud dalam lingkaran dengan memperdengarkan suara cecowetan yang riuh sambil memperlihatkan giginya yang kecil-kecil. Serta diiringi menggaruk-garuk badannya. Kini Sujud baru mengetahui bahwa yang dimaksud Dadung Ngawuk dengan pasukan prajuritnya adalah kera-kera yang sekarang sedang mengurungnya. Jumlah kera yang mengurungnya, memang seperti apa yang telah dikatakan Dadung Ngawuk ialah empat puluh.

“Sujud, anak gila! Sekarang pasukanku telah siap dan kau boleh coba menerobos keluar dari kepungan. Jika berhasil lolos, akan kuantarkan sampai ditepi hutan! Atau kau menyerah saja, tidak usah membuang tenaga sia-sia, untuk menemani aku disini!”.

“Lebih baik aku mati karena melawan dari pada menyerah dan akhirnya menerima siksaan, sebagaimana pernah menimpa diriku”. pikir Sujud.

Dengan kebulatan tekad yang tak mengenal takut, Sujud mulai menerjang kedepan, serta menyerang dengan tinjunya kearah kera yang menghadang didepannya. Akan tetapi dengan tangkasnya, kera yang diserang meloncat kesamping menghindari serangan pukulan. Dalam waktu yang sama ketika Sujud mulai bergerak, tiga ekor kera yang berada didekatnya meloncat kearah kepalanya dari belakang, menjambak rambutnya yang gondrong dengan sekuat tenaga.

Sujud terpaksa menarik kembali pukulan tinjunya yang ternyata mengenai tempat kosong. Untuk tidak jatuh terlentang Sujud segera membalikkan badan sambil menyerang dengan telapak tangan kiri kearah salah satu kera yang menjambaknya. Dan kemudian disusul dengan tendangan kaki mengikuti loncatnya kera yang menghindari serangannya.

Akan tetapi sewaktu ia melontarkan serangan tendangan, tiga ekor kera lagi menarik kakinya, dimana ia sedang berdiri diatas satu kaki. Tak ayal lagi, Sujud jatuh terguling di tanah. Dengan cepat ia berdiri kembali, siap menghadapi serangan-serangan yang mendatang sebagai serangan berangkai.

Namun ternyata kera-kera itu tidak hendak menyerangnya, melainkan hanya mengurung saja, menunggu dan menjaga jangan sampai Sujud dapat lolos dari kepungan mereka. Melihat Sujud jatuh bergulingan, ketawa yang terkekeh-kekeh memuakkan terdengar kembali dari Dadung Ngawuk, seakan-akan melihat permainan yang lucu sekali.

Cepat Sujud bangkit kembali dan menerjang kelain penjuru. Dua ekor kera yang menghadangnya diserang dengan tendangan berangkai dan satu diantaranya jatuh terpental.

Walaupun sampai dua langkah kera itu terpental karena tendangan, dengan mudah ia bangun kembali di atas keempat kakinya, sambil menyeringai beringas dengan mendesis-desis dan meloncat lagi kearah Sujud. Sedangkan kera-kera dibelakang Sujud serentak berlompatan dan masing-masing ada yang memegang pinggang, lengan, kaki dan ada pula yang menarik-narik celananya.

Dengan demikian Sujud menjadi sibuk karenanya. Untuk mencegah jangan sampai jatuh terlentang karena tarikan-tarikan kera-kera itu, Sujud dengan ketangkasannya membalikkan badan dan tinjunya bergerak menyambar-nyambar kearah kera-kera yang mengerumuninya.

Akan tetapi kera kera itu cepat berloncatan menjauhi menghindari datangnya serangan, serta kembali ditempat masing-masing seperti semula sewaktu mereka mengurung Sujud.

Tetapi kiranya kera-kera itu tidak ada yang bermaksud melukainya dan hal ini diketahui pula oleh Sujud. Mereka hanya menghadang, menarik-narik ataupun mendorongnya untuk mencegah jangan sampai Sujud lolos dari kepungan. Jika semula Sujud selalu menerjang dengan serangan tinju dan tendangan, setelah memgetahui bahwa lawan-lawannya tidak berkehendak melukainya, iapun segera merobah cara menerjangnya.

Ia meloncat kearah utara sebagai gerak tipuan, kemudian meloncat kembali kearah timur dengan gerakkan yang lebih cepat. Namun kiranya kera-kera itu telah mengetahui terlebih dahulu akan maksudnya. Mereka dengan rapihnya berloncatan mendahului menghadang, sewaktu Sujud meloncat merobah arah. Berulang kali ia mencoba gerakannya itu dengan cara selalu menukar arah, tetapi kera-kera itupun selalu dapat mendahului gerakannya dan dengan demikian ia masih tetap terkurung rapat di tengah lingkaran kera.

Badan dan mukanya telah basah bermandikan peluh, namun ia tetap masih terus berloncatan kian kemari untuk melepaskan diri dari kepungan prajuritnya Dadung Ngawuk. Tetapi semua usahanya tak pernah berhasil. Kadang-kadang ia melompat, melambung tinggi diiringi suara bentakan nyaring untuk menakut-nakuti kera-kera yang menghadangnya, akan tetapi sebelum ia sempat berpijak diatas tanah kembali kakinya telah ditangkap tiga/empat ekor kera dan ditariknya, sehingga ia kembali jatuh bergulingan di tanah.

Demi melihat jatuhnya Sujud bergulingan ditanah, ketawa yang terkekeh-kekeh memuakkan dari mulut Dadung Ngawuk terdengar semakin bertambah keras. Demikian pula kera beruk yang besar disisi kakek itu turut pula berdiri diatas sambil berjingkrak-jingkrak menyeringai gembira, hingga dahan dimana mereka berdua berpijak menjadi tergetar keras sekali, sampai daun-daunnya jatuh bertebaran.

Makin lama, Sujud merasa makin lelah kehabisan tenaga. Gerakannya menjadi sangat lambat. Tetapi sebagai anak yang bersifat keras hati tidak mau ia menyerah. Dengan sisa tenaga yang masih ada, ia mengamuk dan menerjang dengan serangan tinju dan tendangan yang dahsyat. Karena dengan cara yang lunak tidak pernah berhasil, kini ia menjadi mata gelap.

Empat ekor kera terpental jatuh bergulingan terkena tendangan dan tinjunya. Demi melihat teman-temannya jatuh bergulingan, kera yang lainnya menjadi lebih ganas. Lebih dari lima belas ekor kera menerjang serentak dari arah belakang, samping dan depan, Sujud semakin marah dan bertambah mata gelap. Dengan secara membabi buta ia melancarkan serangan yang lebih dahsyat terhadap kera yang mendekatinya. Tarikan, bahkan gigitan dipundak, lengan, betis tidak dirasakan lagi.

Untuk merobohkan kera yang demikian banyak jumlahnya adalah diluar kemampuannya. Akhirnya Sujud sendiri yang jatuh terguling dan tak sadarkan diri. Cambuk ditangan kakek Dadung Ngawuk berkelebat menyampar diudara dengan mengeluarkan suara seperti petir dan kera yang mengerumuni segera berloncatan menjauhi Sujud. Seakan-akan mendengar aba-aba untuk cepat meninggalkan tempat itu.

Kakek Dadung Ngawuk turun dan mendekati Sujud diikuti kera piaraannya yang setia. Luka Sujud bekas kena gigitan segera diobati dengan olesan ludahnya. Dan kemudian ia memijat badan Sujud dengan jari-jari tangannya yang mengandung kekuatan tenaga dalam. Pelahan-lahan Sujud sadar kembali dan membuka matanya.

“Kau diamlah dan jangan bergerak dahulu, anak gila”. Dadung Ngawuk berkata pelan dengan masih tetap memijit seluruh tubuhnya.

Mendengar seruan kakek Dadung Ngawuk yang lemah lembut, serta merasa diperlakukan demikian baiknya, Sujud terpaksa diam menyerah. Ia tengkurab di tanah mengikuti perintahnya. Jari tangan Dadung Ngawuk kini memijit kepala bagian belakang dan bergerak terus ke bawah menuruti punggungnya sampai dijari kaki. Untuk kemudian kembali lagi keatas sampai dikepalanya.

Demikian itu, dilakukan sampai berulang kali sambil disertai tiupan pelan dari mulutnya kearah tubuh yang sedang dipijitnya. Rasa hangat menjalar di seluruh tubuh. Ternyata kesaktian Dadung Ngawuk telah membuka semua jalinan saraf yang lemah serta pembuluh darah sampai diujung jari kaki. Si Kakek berkata pelan pada dirinya sendiri sambil bersenyum.

“anak gila tapi baik dan berbakat.... Hih hihikk….. ada tai lalatnya besar dilengan...” Jari tangannya tetap masih bergerak dilengan Sujud untuk mengurutnya.

Setelah selesai mengurut seluruh tubuhnya, Sujud kembali disuruh berbaring terlentang. Kembali diurutnya dari tulang rusuk sampai perutnya, dengan disertai tiupan seperti semula. Sesaat kemudian dirasakan oleh Sujud, bahwa isi perutnya terasa melilit-lilit, dan rasa muak ingin muntah tidak dapat ditahan lagi. Semua kotoran isi perutnya keluar dari mulut dan hidungnya, dengan mengeluarkan bau amis yang memuakkan. Badannya terasa lemas tak berdaya, Sujud segera diangkat dan dipindahkan ketempat yang bersih oleh Dadung Ngawuk disebelahnya.

“Jamang... Lekas petikan buah kemboja merah yang hanya tinggal seuntai itu”.

Kera yang selalu mengikuti kakek Dadung Ngawuk, setelah mendengar namanya dipanggil, cepat meloncat pergi melakukan perintahnya. Seakan-akan tahu apa yang dikehendaki si kakek majikannya.

Tak lama kemudian kembali dengan membawa seuntai buah-buahan hijau, menyerupai buah pinang. Dengan kukunya yang panjang, buah kemboja merah itu dipecahnya untuk kemudian diambil isinya yang berwarna putih susu, serta bulat seperti buah kelengkeng. Kesemuanya satu demi satu buah kamboja itu oleh Dadung Ngawuk dimasukkan kemulut Sujud. Dan tanpa dirasakan lagi buah itu terus ditelannya.

“Berusahalah untuk tidur. Dan jangan mengejangkan anggauta badan”. perintah si kakek kepada Sujud, yang segera ditaatinya. “Jamang! Cepat ambilkan sisa makananku!”.

Kera jenis beruk yang dinamakan Jamang segera berloncatan pergi, kemudian memanjat sebuah pohon besar yang tak jauh dari tempat itu. Dengan membawa tempurung yang berisikan daging ular dan buah manggis, Jamang segera menyerahkan pada kakek Dadung Ngawuk.

Tempurung disambutnya dengan masih berjongkok didekat Sujud. Wajah Sujud yang tadinya kelihatan pucat pasi, berangsur-angsur menjadi merah. Seluruh tubuhnya dirasakan panas membara. Hingga ia tak sadarkan diri kembali. Namun kakek-kakek itu tersenyum puas memperlihatkan kegirangan hatinya.

Mulutnya segera ditempelkan kemulut Sujud dan ditiupnya pelan mengiringi hembusan napasnya. Setelah merasakan basah kuyup oleh keringat dibadannya, segera melepaskan tempelan mulutnya dan kembali duduk bersila didekat Sujud yang masih berbaring sambil mengatur pernafasannya yang tersengal-sengal kehabisan tenaga.

Suhu badan yang panas membara dirasakan Sujud berangsur-angsur turun dan kembali wajar. Bersamaan dengan sadarnya Sujud, kakek Dadung Ngawukpun telah pulih kembali tenaganya. Sedangkan si Jamang, kera yang berada disisinya, turut pula memperlihatkan kegirangannya dengan bergerak lucu.

Waktu telah senja. Hari mulai gelap remang–remang. Tanpa ada yang memerintah empat puluh ekor kera berloncatan mendatangi dengan masing-masing membawa dahan kering.

Tak lama kemudian kakek Dadung Ngawuk dengan batu percikannya segera membuat api unggun di tengah hutan itu. Sesungguhnya Sujud sejak tadi merasa tenaganya pulih kembali, namun tanpa disuruh kakek gila itu, ia tak berani bangkit. Ia tetap saja berbaring terlentang di tanah. Sebagai anak angkat Kyai Tunggul ia tahu pula, bahwa si kakek memijit dengan mengeluarkan tenaga saktinya, demi untuk tambahnya kekuatan baginya. Tetapi ia hanya pernah melihat Bapak angkatnya berbuat demikian, dan belum pernah mengalami sendiri.

Buah yang telah ditelannya tadi, belum pernah sekalipun ia melihatnya. Bertahun-tahun mengikuti ayah angkatnya sebagai pembantu tabib, tetapi belum pernah ayah angkatnya menggunakan ataupun menyimpannya buah seperti apa yang telah ditelannya. Bahkan menceritakan saja belum pernah. Seingat dia baru kali ini melihat pohon kemboja merah berbuah.

“Anak gila yang baik! Mari kita makan bersama. Dan jangan bermalas-malasan tidur saja!”.

“Kakek Dadung Ngawuk! Aku tak mau lagi kau panggil anak gila!” Sujud menyawab sambil bangkit dan duduk disebelah si kakek.

“Bagus, bagus,,,,,, nanti kita lanjutkan lagi perdebatan ini, tetapi sekarang kita makan dahulu. Perutmu tentu sudah merasa lapar!”.

Daging ular yang gemuk dipanggangnya diatas api, serta dipotong-potong dan segera mereka berdua memakannya dengan lahap. Semua kera yang berada disekelilingnya tidak ketinggalan turut pula makan buah-buahan yang telah dibekalnya masing-masing.

Tidak jauh dari tempat perapian, dimana pohon kemboja berada, ternyata ada sebuah sendang yang airnya sangat jernih. Untuk cuci tangan, mandi dan sebagainya, mereka cukup menggunakan buangan air yang mengalir, kemudian bertemu dengan kali Lusi.

Hanya untuk minum, mereka mengambil langsung dari sendang. Dan didekat sendang itulah kakek Dadung Ngawuk membuat gubuk kecil, sekedar untuk berteduh di waktu hujan. Pada hari cerah ia selalu berada dipepohoan bermain dengan keranya. Tidurpun selalu di alam terbuka.

Pada hari esoknya Sujud merasa segar serta ringan sekali badannya. Dengan mudah dapat turut memanjat pohon yang sangat tinggi serta dapat pula berloncatan di dahan dahan, mengikuti gerakan kakek Dadung Ngawuk bersama si Jamang. Ia mulai tertarik keindahan alam ditengah hutan itu, dan maksud untuk cepat meninggalkan hutan terlupakan pula. Mereka duduk pada sebatang dahan yang tinggi sambil asyik bercakap cakap.

“Anak gila! Aku selalu memanggilmu dengan anak gila bukan tak beralasan!” Kakek Dadung Ngawuk mulai bicara. “Pertama kau seorang diri masuk hutan tanpa tujuan, kedua, memiliki celana dan sarung yang walaupun telah kumal cukup menunjukkan bahwa kau adalah keluarga Raja ataupun bangsawan di kota Raja. Ketiga, melihat gerakanmu dalam menerjang kera-keraku kemaren, jelas gerakan yang kau lakukan terdiri dari jurus-jurus seorang tamtama Kerajaan dan yang terakhir, kau mengaku bernama Sujud. Itu tak cocok dengan pribadimu. Nama Sujud harusnya hanya dimiliki Rakyat biasa ataupun anak pendeta (Brahmana), sedangkan tulang dan darahmu menurut pengetahuanku setelah aku raba kemaren, kau keturunan bangsawan ataupun orang kaya. Dan mungkin orang tuamu tidak memberikan nama Sujud kepadamu. Nah, coba sekarang kau bantah keteranganku ini dengan kejujuranmu” Berkata demikian Dadung Ngawuk memandang muka Sujud dengan amat tajamnya.

“Ach… tetapi itu semua bukan alasan menuduhku anak gila. Aku tak mau membantah keteranganmu bukan karena membenarkan, tetapi aku sendiri tidak tahu siapa aku ini sesungguhnya”. Sujud berkata dengan sega!a kejujurannya.

Mendengar jawaban Sujud, kakek Dadung Ngawuk mengerutkan keningnya dengan wajah yang bersungut-sungut, seakan ada persoalan sulit yang sedang di pikirkan.

“Aneh, aneh….. Benar-benar anak gila...” gumamnya.

Karena kakek Dadung Ngawuk Sujud terpaksa menceritakan riwayatnya sendiri menurut apa yang diketahui dan dialaminya. Ia menceritakan sejak mengikuti orang tua angkatnya dan kemudian menjadi adik angkat Senapati Muda Indra Sambada dikota Raja. Tak pula lupa ia ceritakan pengalaman yang baru saja dialami, sewaktu mendapat siksaan dari Durga Saputra.

Setelah mendengar cerita riwayat Sujud dengan singkat tanpa diketahui sebabnya, kakek Dadung Ngawuk menangis tersedu-sedu seperti anak kecil, sambil mengayun-ayunkan kakinya.

“Kakek Dadung Ngawuk! Mengapa kau menangis?.. Apakah kau sudah gila?” Sujud bertanya sambil bersenda gurau untuk menghibur.

Sambil mengusap air mata yang mengalir dipipinya kakek Dadung Ngawuk tiba tiba tertawa terkekeh-kekeh, sehingga batang dahan dimana mereka duduk, tergetar keras.

“Kau tidak gila, anak baik! Mungkin…. . aku yang gila”.

“Sudahlah, kakek! Kita tak perlu lagi mempersoalkan kata gila. Coba kau ceritakan khasiat buah kemboja merah yang kemarin kau paksakan padaku!”.

“Haa.... haahaaa.... haaaaa, haaaaa...!. Anak cerdik ! Kau ternyata lebih pandai dari pada Bapak angkatmu si Tunggul dukun bayi, yang hanya tahu rempah-rempah”.

“Apa? Bapak Tunggul pernah menjadi tabib termasyur di Kota Raja. Jangan kau menghinanya!” (Baca "Indra Sambada Pendekar Majapahit").

“Haa ... haaaa... haaaaaa...! Kau marah, bapakmu kunamakan dukun bayi ! Bagus. Haaaa... bagus….. benar-benar kau ini anak gila yang baik”. Kini kakek Dadung Ngawuk mulai bercerita dengan penuh semangat.

“Dengarkan baik-baik!! Buah kemboja merah itu dinamakan buah “Daru Seketi” artinya dalam jumlah seketi pohon kemboja merah belum tentu ada satu yang dapat berbuah. Dan apabila pohon itu berbuah sebanyak-banyaknya hanya tiga untai, serta musimnya sewindu sekali. Jika buah itu dipergunakan untuk pengobatan dinamakan dalam kitab usadha buah "tulak tujuh", artinya pemunah daya guna-guna. Aku sendiri yang telah tua dan hampir masuk kubur, baru kali ini dapat menemukan. Khasiatnya, jika orang itu kuat menahan suhu panasnya badan akibat dari makan buah itu, maka akan menjadi kebal menerima serangan guna-guna, ataupun serangan daya kesaktian lainnya. Dan juga kebal akan segala macam racun yang merangsang melalui pencernakan. Akan tetapi jika tidak kuat akan panas badan sewaktu memakannya akan mati seperti orang hangus terbakar. Dan orang harus memakan buah tulak tujuh itu habis seuntai semua. Ternyata setelah aku buka jalinan syaraf-syarafmu dan pembuluh darahmu semua, serta kukosongkan isi perutmu, kau telah berhasil melampaui saat yang berbahaya itu. Maka dengan demikian berarti memang cocok untukmu”.

Demi mendengar tutur kata kakek Dadung Ngawuk itu Sujud merasakan tenggorokannya seperti terkunci. Tak mampu ia mengucapkan terima kasih, akan pemberian yang tak ternilai itu. Ia menyesal, karena semula ia mengira bahwa kakek Dadung Ngawuk bermaksud jahat padanya, padahal kenyataannya kini ia malah berhutang budi yang tak mungkin dapat membalasnya.

Waktu itu siang tengah hari. Matahari telah berada diatas kepala, dengan menyinarkan panas yang membara, memandangi seluruh alam terbuka. Namun di pohon yang rindang itu, mereka tidak merasakan teriknya sinar matahari. Angin yang selalu meniup disiang hari itu membuatnya mereka tetap segar tak berkeringat.

Tiba-tiba pohon disekitarnya bergoyang gemuruh. Suara cecowetan terdengar semakin mendekat. Pasukan kera Dadung Ngawuk datang berkumpul dengan membawa bermacam buah-buahan, sebagaimana biasa pada tiap siang tengah hari, untuk makan bersama-sama.

Dadung Ngawukpun segera turun, diikuti Jamang dan Sujud. Dengan rapinya kera-kera itu duduk berjongkok mengelilingi mereka, setelah meletakkan buah-buahan yang dibawanya tadi dihadapan kakek Dadung Ngawuk. Setelah Dadung Ngawuk mengambil yang dipilihnya secukup untuk keperluan mereka bertiga, maka sisanya segera dibagikan kepada semua kera anak buahnya oleh si Jamang.





OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

===============================




Air Terjun Victoria Afrika

No comments:

Post a Comment