Ads

Wednesday, February 23, 2022

Pendekar Darah Pajajaran 001

Seri Pendekar Majapahit

Karya : KUSDIO KARTODIWIRJO
Gambar : DR. OYI SOEDOMO
Image Source : Awie Dermawan

PENGABDIAN

Kulihat matahari
Bersinar cerlang berseri
Serasa indah dunia maya
Dalam Cipta Hyang Maha Agung

Hati tergerak… ingin kecimpung
Dalam dunia budaya nan agung
Namun…. Aku tahu…………….
Diri berbisik……….. tak mampu

Ooh, Tuhan beri hamba harapan
Sewaktu hasyrat patah di jalan
Hilang musna terbawa awan

Dongeng ini kupersembahkan
Untuk mengenang Pahlawan-pahlawan Bangsa
Hasyratku…………………….. pengabdian.--------


JOGJAKARTA
******************
“Aaaaiiii!!!……. Curang kau!!? Akan kutampar mukamu dan kucabuti kumismu, jika tidak mau menurut gerakan bantinganku…….”. Anak dara kecil berseru nyaring dan membentak bentak dengan logat dan gaya tingkah lakunya kekanak-kanakan.

Sebentar-sebentar ia ketawa nyaring hingga giginya yang putih kecil-kecil serempak laksana mutiara, nampak jelas. Tetapi secepat itu pula wajahnya berubah cemberut yang menunjukkan kemarahan, serta membanting-banting kakinya ditanah.

Ia sedang bergumul dengan seekor harimau kumbang yang cukup besar. Badan harimau itu sepanjang kira-kira dua langkah dengan bulunya yang halus mengkilat berwarna hitam mulus. Harimau kumbang itu mengaum-aum pendek dengan memperlihatkan taringnya yang panjang-panjang dan tajam serta menakutkan.

Tetapi anak dara kecil itu sedikitpun tak memperlihatkan rasa takut. Ia memperlakukan harimau itu, tak ubahnya seperti boneka mainan saja. Telapak tangannya yang kecil berkelebat secepat kilat, menampar kemuka harimau yang sedang mengaum dan tepat mengenai telapuk matanya. mungkin tamparan itu drasakan sakit, mungkin juga tidak, hal itu sukar untuk diperkirakan.

Tetapi yang jelas harimau kumbang mengaum sekali lagi dan menundukkan kepalanya, seakan-akan ia mengerti, bahwa gerakannya yang baru saja dilakukan itu salah dan mengakibatkan marahnya si dara kecil.

Dara kecil tersenyum puas. menunjukkan kegirangan hatinya dengan disertai rasa kasih sayangnya yang iba. Tangan kanannya merangkul leher harimau kumbang, sedangkan jari tangan kiri yang kecil runcing-runcing membelai bulu halus yang hitam mengkilat dari kepala si harimau, seakan-akan menyesal akan apa yang baru saja dilakukan. Sang harimau menurut jinak, dan duduk berjongkok dengan kedua kaki belakang ditarik serta ditekuk rata menempel ketanah. Ekornya hitam, sepanjang badannya melingkar dan bergerak-gerak dengan matanya dipejamkan, seakan-akan merasakan halusnya belainan tangan si dara kecil.

Dara kecil itu berusia kira-kira tujuh tahun. Rambutnya hitam panjang berombak digelung dan diikat erat-erat dengan seutas pita sutra warna merah. Raut mukanya bulat telor dengan sepasang pipinya yang lesung pipit dan kemerah-merahan. Matanya redup dengan kerlingan yang memancarkan sifat kenakalan anak-anak, serta dihiasi dengan sepasang alisnya yang tipis melengkung. Mulutnya kecil dengan bibir tipis mungil. Sepasang daun telinganya dihiasi anting-anting bermata mutiara. Tubuhnya langsing dan warna kulitnya kuning bersih, dilengan kanan terdapat tahi lalat, sebuah tanda sejak ia dilahirkan, berwarna merah kehitam-hitaman, berbentuk bundar sebesar ibu jari. Tanda itu nampak jelas sekali, karena lengannya yang halus dan bersih itu telanjang tidak tertutup kain.

Ia hanya memakai baju kutang tak berlengan, berwarna kuning keemasan dari kain sutra, serta berkain sarung berwarna hitam yang dihiasi dengan lukisan kembang tersulam dari benang sutra berwarna kuning keemasan pula. Ikat pinggangnya selebar telapak tangan berwarna merah dari kain tenunan yang lazim dinamakan setagen atau angkin. Sungguhpun belum dewasa, namun wajahnya jelas menampakkan kecantikan yang menggairahkan.

Dikala itu, siang tengah hari. Matahari berada diketinggian diatas kepala dan memancarkan sinar dengan teriknya. Langit biru membentang, mengatapi bumi, dengan dihiasi awan-awan tipis, yang bergantungan dan berpencaran, merupakan bentuk lukisan yang beraneka macam dan berobah robah.

Dahan-dahan pohon dengan daunnya disekitar tempat itu melambai-lambai terkena tiupan angin yang tidak mengenal henti. Dan daun-daun kering yang tidak lagi berpegangan pada rantingnya jatuh beterbangan ditanah. Tempat itu adalah sebuah dataran luas dengan pohon-pohon hutan yang rindang dan berserakan tumbuh liar di lereng Gunung Tangkuban Perahu.

Sekelilingnya merupakan jurang-jurang yang curam, serta menghadap kesebuah mulut gua yang cukup lebar. Dengan berlatar belakang tebing cadas yang terjal menjulang tinggi.

Disebelah timur nampak puncak bukit Tunggul yang berdiri megah, dengan lereng-lerengnya yang berpadu dengan lereng Gunung Tangkuban Perahu, laksana dua raksasa yang sedang berjabatan tangan.

Pandangan ke sebelah selatan adalah lembah rendah, dengan sawah–sawahnya yang subur serta desa-desa yang terpencar jauh satu dengan yang lainnya. Sungai Citarum nampak pula berliku-liku mengitari lembah tadi dan menambah indahnya pandangan. Setelah itu pandangan dibatasi dengan terbenturnya pada dataran lereng pegunungan yang membujur ke arah barat sejauh mata memandang. Sungguh suatu keindahan alam yang sukar untuk dilukiskan dengan sempurna. Demikianlah kemurahan Dewata Yang Maha Agung pada umatNya. Namun semua itu kiranya tidak mempengaruhi si dara kecil yang sedang asyik bermain dengan harimau kumbangnya. Lagi pula panas teriknya matahari seakan akan tidak dirasakan.



“Mari kita mulai mengulang lagi permainan yang tadi, kumbang!!!, kata si dara kecil dengan diiringi senyuman, sambil melepaskan rangkulan tangannya dan menepuk-nepuk kepala harimau, kemudian berdiri ditengah lapangan. Si harimau seperti mengerti apa yang dikehendaki dara kecil. Dengan pelan dan malas ia menjauhi si dara dan berhenti dalam jarak kira kira empat langkah darinya. Dengan bermalasan menggeliat dan membalikkan badannya, menghadap pada dara kecil. Badannya ditarik kebelakang sedikit dan……. secepat kilat harimau kumbang meloncat menerkam kearah si dara kecil.

Dengan gerakan tak kalah tangkasnya si dara kecil menyusup dibawah harimau yang meloncat kearahnya, sambil mengulurkan tangannya untuk menangkap kaki depan hariman yang kanan. Dengan tangkas ia membalikkan badannya dan menarik serta melemparkan sang harimau kedepan. Harimau kumbang jatuh berguling, tetapi secepat kilat berdiri diatas empat kakinya kembali, serta membalikkan badannya dan mengulangi terkaman seperti tadi.

Dara kecil mengulangi gerakannya lagi, menyambut terkaman harimau dengan menyusup dibawahnya serta menangkap salah satu kaki depannya dan membanting kedepan lagi. Gerakan demikian diulangi hingga berkali-kali dengan suatu gerakan yang semakin lama semakin cepat. Itulah yang disebut gerakan membanting dengan meminjam tenaga lawan, atau dalam bentuk jurus "mendayung mengikuti arus". Tiba-tiba terdengar suara tepuk tangan tiga kali dengan diiringi suara panggilan nyaring dari jauh.

"Indah Kumala!!!” Memang demikianlah nama dara itu. Kelengkapannya Indah Kumala Wardhani.

Demi mendengar suara panggilan itu. Kumala Wardhani segera memalingkan kepala ke arah suara tadi dengan menyahut nyaring:

"Saya disini, Eyang!!!!”. Berkata demikian ia berlari menuju kearah suara yang ternyata datangnya dari mulut gua tadi, dengan diikuti si harimau kumbang.

Seorang laki-laki yang telah lanjut usianya, dengan berjubah warna kuning keemasan berdiri diambang pintu gua, Menyambut datangnya anak dara kecil yang dipanggilnya tadi. Rambutnya yang telah memutih seperti kapas diikat kebelakang merupakan sanggul kecil dan diatas kepalanya melingkar sebuah sisir dari tanduk. Wajahnya yang telah berkeriput bercahaya penuh wibawa. Sepasang matanya bersinar tajam. Namun dibalik keangkeran wajahnya, tersembunyi budi perasaan yang lemah lembut serta kasih sayang terhadap sesama ummat. Ia terkenal dengan nama gelarnya Ajengan Cahaya Buana. Ia seorang pertapa shakti yang sering muncul di tengah-tengah rakyat yang sedang tertimpa kemalangan dan penderitaan. Kesaktiannya mentakjubkan, sehingga datang dan perginya tidak pernah dapat diketahui orang.

Para penjahat jeri demi mendengar namanya. Kehadirannya Ajengan Cahaya Buana ini tak pernah dapat diduga-duga sebelumnya. Pernah sekali terjadi, seorang penjahat yang sedang merampok sebuah desa dengan anak buahnya, berniat melawan Ajengan Cahaya Buana yang pada waktu itu tiba-tiba muncul menghalangi perbuatannya, tetapi dengan tidak diketahui sebab musababnya, penjahat tadi roboh terguling dan kemudian untuk selamanya mengalami cidera menjadi lumpuh kedua kakinya tanpa terluka.

Penjahat itu terkenal dengan gelarnya Oray beureum yang ganas dan shakti. Kejadian itu menjadi buah tutur orang dari mulut ke mulut dan tersebar luas di seluruh pelosok daerah Pasundan.

Tidak sedikit pula rakyat desa yang sangat miskin, tiba-tiba menerima pemberian rejeki berupa uang, beras ataupun pakaian, dengan tidak diketahui orangnya yang memberi pertolongan itu. Hanya suara mengaumnya seekor harimau dari arah kejauhanlah yang menjadi tanda bahwa Ajengan Cahaya Buana berada disekitar tempat itu.

Rakyat yang mendapat pertolongan hanya dapat mengucapkan rasa terima kasih seorang diri, tak ubahnya seperti orang yang sedang berdoa saja. Mereka beranggapan bahwa pertapa shakti itu dapat menghilang. Tidak ada orang yang mengetahui dengan pasti tentang pertapa sakti itu. Maka karenanya banyaklah dongengan rakyat yang aneh-aneh serta bermacam-macam corak dan sifatnya timbul dikalangan rakyat desa daerah Pasundan.

“Cucuku manis, bukankah Eyangmu berulang mengatakan bahwa waktu siang tengah hari demikian, tidak baik untuk berlatih”. Dengan lemah lembut serta penuh rasa kasih sayang Cahaya Buana memperingatkan cucunya Indah Kumala Wardhani.

Tetapi belum habis kata-kata Cahaya Buana, Kumala Wardhani telah menyahut dengan nada suara lantang penuh rasa manja.

“Tetapi apa yang harus saya kerjakan, Eyang? Pergi sedikit jauh saja sudah dilarang, apakah saya hanya diharuskan berbaring saja di kamar yang gelap itu?”.

Mendengar bantahan cucunya, sedikitpun Ajengan Cahaya Buana tidak marah, tetapi bahkan memandangnya dengan penuh rasa kasih sayang.

“Bukan demikian maksudku, cucuku manis. Dengarkanlah baik-baik, waktu siang hari begini adalah kurang baik untuk berlatih. Bukankah sebaiknya kau membantu mamangmu didapur. Baru nanti setelah mata hari condong ke barat, kau dapat mengulang lagi Iatihan dibawah pengawasanku”. Cahaya Buana menjelaskan dengan pelan.

“Baiklah Eyang, tetapi nanti setelah kita selesai makan, janganlah Eyang membohongi Kumala”, dara kecil itu berkata sambil lari masuk kedalam gua dan diikuti si kumbang.

Cahaya Buana mengikuti lari cucunya dengan pandangan mata penuh rasa kasih sayang serta menghela nafas panjang.

“Ach….. mirip benar ia dengan mendiang ibunya”. Cahaya Buana berkata dalam hati. “Dan seandainya kakaknya berada disini, tentu ia tidak akan merasa sangat kesepian seperti sekarang ini”. Merenungkan demikian itu, kini hatinya merasa semakin tersayat sedih.

Kejadian enam tahun yang lalu, sewaktu kemalangan menimpa keluarga anaknya, terbayang kembali dengan jelas. Penstiwa yang menyedihkan serta penuh dengan penyesalan. Raut wajahnya yang tadi bersih bersinar, kini berubah cepat menjadi suram penuh rasa duka.

Waktu itu Kumala Wardhani masih berusia satu tahun... Anak menantunya adalah seorang priyagung tamtama dari Kerajaan Pajajaran bernama Darmaku umah, berpangkat Bupati tamtama dan merangkap menjadi kepala daerah Sukabumi, sebuah daerah yang terdekat dengan kota Raja Pajajaran. Ia gugur sebagai pahlawan dimedan pertempuran, sewaktu mengiringkan Sri Baginda Maharaja Baduga dalam perang Bubat dengan meninggalkan dua putra putri.

Ya…… waktu itu bunga-bunga harum berguguran sebagai pahlawan Kerajaan Pajajaran…… sebagai ksatrya yang menjunjung tinggi sumpah tamtama, berbakti kepada keagungan Kerajaan Pajajaran. Berita mengenai malapetaka yang tidak terlupakan itu datangnya dengan tiba-tiba. Dan saat itulah Pajajaran dilanda banjir air mata.

Namun kiranya kemalangan yang menimpa keluarga Tumenggung Bupati tamtama Darmakusumah tidak hanya berhenti sampai sekian saja. Didalam suasana yang berkabung, ada pula orang-orang yang segera memancing didalam air keruh, mencari keuntungan dengan meninggalkan silat-sifat kemanusiaannya, yah…… bahkan berbuat sebagai penghianat yang berahlak sangat rendah.

Mereka itu adalah para perampok yang berpakaian tamtama Kerajaan Majapahit dan merampok dirumah para priyagung yang keluarganya sedang dalam keadaan berkabung.

Gedung Kebanjaran Agung Sukabumi, sewaktu dalam keadaan berkabung dirampok, bahkan putri Ajengan Cahaya Buana gusti ayu Bupati Darmakusumah dibunuh pula. Kedatangan Cahaya Buana kerumah putrinya yang selalu dengan harimau kumbang piaraannya ternyata terlambat. Terlambat kedatangannya itulah yang ia sangat sesalkan.

Bahkan dalam pengejaran, hanya berhasil memusnakan dua orang perampok diantara dua puluhan orang itu. Bukan hanya harta benda saja yang dibawa lari para perampok, akan tetapi juga cucu putranya tersayang Yoga Kumala, yang waktu itu baru berusia dua setengah tahun, dibawanya lari puta. Padahal cucu putranya itu diharapkan kelak dapat mewarisi kesaktiannya.

Dengan hati tersayat-sayat sedih ia membawa jenazah putrinya serta cucu putrinya Indah Kumala Wardhani dengan diikuti oleh mang Jajang pengasuh cucunya, kembali ketempat pertapaannya dilereng Gunung Tangkuban Perahu. Disanalah dekat mulut gua itu, jenazah putrinya dimakamkan dengan ditandai sebuah batu nisan terpahat diatasnya.

Mang Jajang sebagai pengasuh yang setia, turut pula merasakan kesedihan yang tak terhingga yang baru dialami tuannya. Dalam ia bermuram itu, wajahnya kelihatan kian keriput, dengan air mata yang berlinang menggenang dalam pelupuk matanya. Namun sebagai seorang pertapa shakti, dengan cepat ia dapat menguasai dirinya dan menenangkan perasaannya kembali. Disamping menggembleng cucu putrinya dalarn ilmu kebanian dan kejasmanian, ia masih selalu berusaha menemukan jejak cucu putranya Yoga Kumala.

Manusia wajib dan harus selalu berihtiar, namun ketentuan ada ditangan Dewata Yang Maha Agung. Demikian pula pedoman hidup Ajengan Cahaya Buana. Dengan pelan dan langkah berat ia memasuki gua, untuk mengikuti jejak cucunya. Dalam lorong gua yang dilalui itu, tidak demikian gelap, dikarenakan adanya jalan yang menembus kearah timur dengan mulutnya yang lebar, sehingga cukup untuk menampung sinar pancaran matahari yang jatuh pada tebing-tebing cadas yang terjal itu.

Akan tetapi mulut gua tembusan itu tidak mungkin dapat dimasuki orang luar, karena menghadap kearah jurang yang sangat curam, dengan tebing-tebingnya yang dihiasi batu-batu cadas yang licin keras serta terjal menjulang.

Diantara dua mulut gua itu, terdapat jalan simpangan yang membujur kearah utara, selebar satu setengah langkah dengan tingginya kurang dari setinggi orang berdiri. Jalan simpangan itu merupakan lorong gelap. Dengan demikian, maka orang yang hendak memasuki terpaksa harus membungkukkan badan dan jalan seorang demi seorang.

Selang kira-kira seratus langkah, jalan itu kemudian menurun ke bawah dan sampailah pada sebuah ruangan yang luas dan terang remang-remang. Terangnya ruangan ini dikarenakan pantulan cahaya dari dinding batu putih yang mengelilinginya, serta pantulan cahaya dari batu air yang menjorok tidak menentu bentuknya dan tidak teratur dari atas dan merupakan bentuk runcing bergantungan.

Lantai dari ruangan itupun kelihatan putih licin serta bersih, tidak ubahnya seperti lantai dari marmer alam. Disudut ruangan terdapat meja dari batu putih pula dengan kitab-kitab yang tersusun rapih diatasnya, serta sebuah pelita minyak, sedangkan disebelahnya tempat untuk Cahaya Buana bersemadhi. Dikedua sudut yang bertentangan lainnya adalah tempat Cahaya Buana dan cucu putrinya beristirahat.

Dari ruangan yang cukup lebar itu, masih ada sebuah lorong lagi yang menanjak dan sampai pada ruangan yang luasnya lebih kecil dari ruangan pertama. Tetapi ruangan inipun dinding-dinding dan lantainya merupakan batu putih yang dapat memantulkan cahaya.

Sebuah lorong jalan yang cukup lebar menembus dan menghubungkan ruangan itu dengan mulut goa lainnya yang menghadap keselatan. Ruangan itu merupakan tempat istirahat mang Jajang serta tempat untuk memasak. Sedangkan tempat si kumbang di sebelah dalam mulut gua yang pertama. Kiranya Kumala Wardhani telah mendahului sampai diruangan belakang dimana Mang Jajang sedang sibuk menyiapkan masakan.

“Mang Jadiang!!” Suaranya terdengar nyaring. “Indah diperintah Eyang untuk membantumu”.

“Mamangmu hampir selesai, neng!!” jawab Mang Jajang, sambil meletakkan pinggan berisi masakan sayur, serta memalingkan pandangannya kearah Kumala Wardhani. “Tunggu saja sebentar, nanti neneng dapat membantu mengatur menutup meja?!”

Mang Jajang adalah seorang lelaki yang telah lanjut usia, sekitar enam puluhan. Rambutnya putih dengan kulit mukanya berkeriput pula serta giginyapun telah ompong semua. la adalah pengasuh yang sangat setia sejak ayah Kumala Wardhani masih kecil.

Karena selalu mengabdi sebagai pengasuh dilingkungan para bangsawan, maka selalu Mang Jajang bersikap hormat yang berlebih-lebihan dan tidak pernah meninggalkan istiadat sopan-santun sebagaimana lazimnya abdi terhadap majikan. Tak heranlah apabila ia selalu memakai istilah “mengatur menutup meja", walaupun yang dimaksud adalah mengatur makanan diatas lantai batu yang berada diruangan itu.

Sedang mereka berdua sibuk menyiapkan hidangan, Ajengan Cahaya Buana tiba-tiba telah berada pula di ruangan itu.

“Mang Jajang” katanya pelan. “Harap kau dapat selalu bersabar hati mengasuh cucuku!!”

“Saya mohon restunya juragan Sepuh saja, semoga saya dapat mengasuhnya hingga neng Kumala Wardhani mendapatkan kebahagiaan, serta dapat segera bertemu kembali dengan saudara akangnya Aden Yoga Kumala”, jawab Mang Jajang.

“Yaaaahhh… bantulah aku dengan berdoa siang malam kepada Dewata Yang Maha Agung, mohon belas kasihan-Nya, agar cucuku Yoga Kumala lekas kembali dengan selamat”. Ajengan Cahaya Buana menambahkan.

Berkata demikian Cahaya Buana kembali menghela nafas panjang, dengan wajahnya berobah muram kembali, menunjukkan kesedihan yang tak terhingga. Sesungguhnya Cahaya Buana mempunyai maksud akan mewariskan kesaktiannya kepada cucu putranya yang tunggal itu, akan tetapi karena tidak kunjung datang, maka ia kini memulai sedikit demi-sedikit melatih cucu putrinya dengan ilmu tata bela diri yang telah diciptakan khusus untuk kaum putri, agar kelak tidak meninggalkan sifat-sifat kewanitaannya. Baik mengelak ataupun menyerang, gerakan jurusnya adalah berlainan bentuknya dengan seorang priya. Demikian pula macam senjata yang dipergunakan. Gerakan jurus-jurusnya sepintas lalu kelihatan lemah gemulai, tetapi mengandung unsur-unsur serangan yang cukup berbahaya bagi lawan yang dihadapinya.

Ternyata Indah Kumala Wardhani memiliki bakat dan kecerdasan yang dapat dibanggakan untuk menguasai pelajaran-pelajaran yang diterima dari kakeknya. Dalam usia dua belas tahun, Indah Kumala Wardhani dapat menangkis senjata tajam lawan dengan angkinnya, serta dapat pula menyerang dengan lemparan tusuk kondenya yang sangat berbahaya. Dalam tata bela diri bertangan kosong ia dapat membanting lawan bagaimanapun beratnya, tanpa mengeluarkan tenaga banyak, serta pukulan tamparannya yang cukup dahsyat dan sukar untuk dielakkan.

Oleh Cahaya Buana ia khusus dibuatkan tiga buah tusuk konde dari perak yang khusus dapat dipergunakan sebagai senjata dan sehelai angkin berwarna merah sepanjang dua depa, terbuat dari bahan benang sutra alam yang ditenun selebar satu jengkal. Kiranya Cahaya Buana dapat berkenan dihatinya, melihat kepandaian cucu putrinya. Apalagi Mang Jajang, rasa kagum yang tidak terhingga timbul pula dihati Jajang inang pengasuhnya demi melihat ketangkasan dara asuhannya. Kecantikan wajahnyapun kini nampak bertambah menggairahkan.

Kini Indah Kumala Wardhani dapat dengan mudahnya menuruni jurang-jurang yang curam serta menaiki tebing-tebing terjal tanpa bantuan si kumbang harimau yang setia. Ia dapat pula berlari cepat, seperti berkelebatnya bayangan dan berloncatan dengan lincahnya, bagaikan kupu-kupu berkejar-kejaran.

Sebagai putri Parahiyangan ia mahir pula memainkan kecapi dengan lagu-lagu asli Sunda yang mengalun menggetarkan perasaan yang mendengarnya. Bahkan meliwati suara petikan kecapi itu, Indah Kumala Wardhani dapat pula mencurahkan isi kalbunya melalui lagu dan nada, melengking mengalun menyayat-nyayat hati pendengarnya. Diwaktu malam yang sunyi, sering pula ia memainkan kecapinya.

Suara petikan kecapinya mengumandang terdengar sayup-sayup dari kejauhan, dengan lagu-lagunya yang sedih memilukan, menyayat-nyayat hati orang-orang desa yang tinggal di sekitar lereng gunung Tangkuban Perahu. Banyak diantara mereka yang beranggapan, bahwa suara petikan kecapi itu berasal dari putri siluman yang sedang berkuda dipuncak Gunung Tangkuban Perahu.

“Eyang, ijinkan Kumala turun Gunung guna mencari akang Yoga Kumala, satu-satunya saudara kandung Kumala”.

Nada suaranya yang merengek rengek ini, kini hampir tiap hari didengar oleh Cahaya Buana, tetapi selalu dijawabnya pula dengan kata kata lemah lembut untuk menghibur hati cucu putrinya, bahwa ia sendiri yang akan mencarinya hingga ketemu. Rengekan cucunya bertambah hari bukan semakin mereda, akan tetapi malah lebih santer dan menjadi isak tangis yang memilukan hati.

Sewaktu tengah malam dikala Indah Kumala Wardhani dengan jari jarinya yang halus dan mungil meruncing memainkan kecapi dengan petikan pada tali tali kawatnya dan mengeluarkan nada suara nyaring merayu untuk kemudian berubah menjadi irama yang menyayat-nyayat dan memilukan menggema dikesunyian, jauh menyusupi lereng lereng Gunung Tangkuban Perahu, Ajengan Cahaya Buana tergerak hatinya untuk bersamadhi, dan mematek ajiannya “pameling", demi mendengar alunan suara kecapi cucu putrinya yang tercinta.

Ia duduk bersila disudut dengan kedua belah tangan bersilang di dada laksana patung. Angan-angannya mengembara mengikuti alunan suara petikan kecapi cucunya. Menjelajah di kejauhan. Kemudian angan-angan yang merana ditarik kembali dan kini terpusat dalam rasa sejati. Suara petikan kecapi terdengar sayup-sayup, untuk kemudian dengan lambat laun lenyap dari pendengaran sama sekali.

Daya panca inderanya telah tertutup semua…… Cipta, rasa dan karsanya dilebur menjadi satu dalam rasa sejatinya dan merupakan suana pribadinya sendiri dalam titik puncak kesadaran.

Sinar terang kini menyelubungi diri pribadinya dan rnenciptakan daya tangkap yang sangat tajam untuk menerima gelombang-gelombang getaran yang datang karena pengaruh daya tarik rasa sejati, dari segenap penjuru mata angin.

Ternyata gelombang getaran yang datang dari arah barat, utara dan selatan maupun dari barat laut dan barat daya, terbentur mengalun dan memantul kembali, karena terdesak kekuatan gelombang getaran yang datang dari arah timur. Getaran gelornbang ini ditangkap dan dihimpun dalam suana pribadinya sendiri.

Dan tahulah ia kini dengan pasti, bahwa cucu putranya yang tunggal yang telah bertahun-tahun dicarinya masih hidup dan saat ini berada jauh diarah timur. Namun dimananya yang pasti ia tidak dapat mengetahuinya. Segera ia mengakhiri samadhinya dan berkehendak pergi mendatangi sumber gelombang yang kini berbalik menjadi daya tarik laksana besi sembrani yang sangat kuat.

“Cucuku manis, tak usah kau selalu bersedih hati. Eyangmu bermaksud pergi tengah malam ini bersama si kumbang, untuk mencari kakak kandungmu”. Ia berkata dengan pelan dan duduk mendekati cucu putrinya yang sedang asyik tenggelam dalarn permainan kecapi.

Demi mendengar kakeknya, Indah Kumala Wardhani menghentikan gerakan jari jarinya yang sedang menari-nari diatas tali kawat kecapi, serta membetulkan letak duduknya menghadap kakeknya.

“Pesanku, selama Eyangmu belum pulang, jangan sekali-kali meninagalkan tempat pertapaan ini”.

“Izinkan Indah mengikuti perjalanan Eyang, agar dapat membantu apabila Eyang menemui kesukaran dalam perjalanan”. Indah Kumala menyahut dengan nada mengharap.

“Oh, ooohhh, jangan…. cucuku manis!!! Jika kau ikut, berarti akan menghambat perjalananku. Kelak apabila kau sudah agak besar, tentu akan menyertai kemana aku pergi. Maka tinggallah sekarang baik-baik dipertapaan dengan mamangmu Jajang. Ulangilah dengan tekun semua pelajaran yang telah kuberikan padamu!!!”. Ajengan Cahaya Buana berkata seraya menghibur cucunya dengan suara penuh kasih sayang.

“Tetapi Eyang, bukankah Kumala sekarang sudah besar?” Kumala memotong bicara.

“Memang cucuku Kumala sekarang sudah besar dan bukan kanak-kanak lagi, akan tetapi belum cukup dewasa untuk mengatasi rintangan-rintangan yang diujumpai dalam perjalanan. Ketahuilah, cucuku manis, bahwa kini banyak orang yang sedang lupa akan kesuciannya. Maka rajin-rajinlah rnengulangi semua pelajaran yang telah kau terima. Kelak jika Eyangmu telah kembali, akan kutambah lebih banyak lagi, agar kau kelak dapat mengatasi segala rintangan apapun yang kau hadapi dalam menuju tercapainya cita-citamu”. Berkata demikian Ajengan Cahaya Buana rnenggeser duduknya untuk lebih dekat lagi, sambil membelai rambut cucu putrinya dengan mesra.

“Berapa lama Eyang harus pergi?” tanya Kumala.

“Eyang akan pergi dalam waktu tidak begitu lama. Dan semoga berhasil menemukan kakakmu Yoga Kumala. Dengan si kumbang disampingku, Eyangmu tidak kuatir akan terlantar dijalan”. sambung kakeknya.





OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

===============================




Air Terjun Victoria Afrika

No comments:

Post a Comment