Ads

Tuesday, January 18, 2022

Kunanti di Gerbang Pakuan 011

Empat orang rombongan kecil ini segera dikepung rapat oleh para penghadang itu. Pragola sendiri pun termasuk orang yang menjadi sasaran penyerangan ini, demikian juga Paman Manggala.

Serangan yang datang padanya terasa amat sungguh-sungguh dan tujuannya seperti mengarah nyawa. Sambil mencoba menahan serangan yang datang bertubi-tubi dari kiri dan kanannya, Pragola meneliti lebih seksama kepada bertempur dan penampilan mereka. Pemuda ini sedikit mengerutkan dahinya sebab para penyerang tidak menampilkan gerakan dengan penuh perhitungan, apalagi menggunakan strategi tempur seperti militer. Padahal kalau pemberitahuan Pangeran Yudakara bisa dipercaya, yang melakukan penghadangan rombongan kecil ini adalah tentara Cirebon yang menyamar sebagai kelompok penjahat.

Menurut Pangeran Yudakara, pasukan Cirebon akan mencegat Banyak Angga dan kalau mungkin membunuhnya. Bila putra Pangeran Yogascitra ini tewas sebelum menunaikan tugasnya, maka akan disusul lagi oleh utusan lainnya. Utusan kedua dan seterusnya akan selalu dihadang dan dihancurkan sehingga pada akhirnya semua kekuatan di Pakuan dilumpuhkan. Inilah siasat mengundang harimau keluar sarang seperti yang dikatakan Pangeran Yudakara tempo hari.

Benarkah rombongan penghadang ini tentara Cirebon yang tengah menyamar? Pragola hafal sekali gaya bertempur orang-orang Cirebon. Di samping ilmu berkelahi mereka tinggi-tinggi, mereka juga menjungjung sifat-sifat ksatria. Kalau mau melakukan penyerangan selalu memberikan peringatan terlebih dahulu kepada lawan dengan cara berteriak keras. Banyak perwira Cirebon juga pantang membunuh kalau tidak perlu sekali. Mereka hanya ingin melumpuhkan dan menaklukan lawan saja. Sebab kendati kata mereka membunuh dalam peperangan dibenarkan dalam agama, namun pembunuhan itu sendiri bukanlah tujuan utama.

Tapi Pageran Yudakara memang sudah mengatakan, bila keadaan memaksa, Banyak Angga harus dibunuh. Sekarang nampak nyata, pasukan penghadang itu bergerak bukan karena terpaksa oleh keadaan, melainkan sudah menjadi tujuan utamanya. Mereka datang memang untuk membunuh. Dan sialnya, mengapa dirinya sendiri pun sepertinya hendak dibunuh juga? Gerakan-gerakan ganas bolehlah dilakukan. Tapi fungsinya sekadar untuk mengelabui Banyak Angga saja. Sekarang, kelihatannya seperti bukan pura-pura dan Pragola meski meningkatkan kewaspadaan kalau tak mau nyawanya melayang oleh sabetan golok atau tusukan gobang.

Pragola dikepung oleh tiga lawan. Satu menghadang di depan dan dua berada di samping kiri dan kanannya. Ketika orang itu melakukan serangan saling susul-menyusul dengan cepat dan ganas. Lawan di depan mengayunkan golok yang ujungnya berkilat saking tajamnya. Sedangkan dari kiri kanannya, secara bersamaan menusukkan ujung gobangnya. Satu mengarah ke lambung kiri, satunya ke rusuk kanan. Sedangkan ayunan golok dari depan mengarah lurus pada keningnya.

Pragola adalah seorang pemuda yang sejak kecil ditempa oleh berbagai kemelut dan kekerasan. Perkelahian baginya bukan sesuatu hal yang baru. Sejak bersama gurunya Ki Sudireja, Pragola banyak terlibat pertempuran, baik melawan Prajurit Pajajaran mau pun kaum perompak dan segala macam orang jahat yang mengganggu rakyat. Itulah sebabnya, menghadapai ancaman maut seperti yang terjadi sekarang ini, tak ada rasa gentar secuil pun. Yang ada dalam benaknya ini hanyalah rasa marah dan heran saja. Pemuda itu tetap merasa bingung, mengapa orang-orang yang diduga sebagai utusan Pangeran Yudakara ini melakukan serangan ganas dan sungguh-sungguh terhadapnya?

Serangan ganas dari tiga penjuru ini sulit untuk ditangkis begitu saja, apalagi Pragola tak berbekal senjata. Maka satu-satunya jalan adalah menghindar dengan cara meloncat ke belakang. Pemuda itu menekuk sepasang kakinya dan hampir-hampir seperti hendak jongkok. Ini adalah gaya tolak menjejak bumi seperti tolakan kaki kodok dalam melakukan loncatan. Bedanya, gerakan ini dilakukan kebalikan. Tidak meloncat ke depan seperti binatang itu, melainkan ke belakang.

Tenaga tolakan itu amat besar, sehingga tubuh Pragola seperti terlontar ke belakang. Tubuh pemuda itu terlontar ke atas hampir tiga depa tingginya. Di atas udara dia bersalto beberapa kali untuk melihat suasana di belakang dirinya dan sekaligus berjaga-jaga terhadap serangan baru.

Ketika tubuhnya bersalto, pemuda itu sempat menyaksikan, betapa Banyak Angga pun tengah dikepung lawan. Yang mengepungnya bahkan lebih banyak lagi jumlahnya. Dalam selintas Pragola menghitung, ada sekitar lima atau enam orang pengepung yang mencoba mengancam nyawa pemuda itu. Entah dia sanggup menahannya atau tidak. Tapi Pragola tak mau tahu tentang itu. Dengan kata lain Pragola akan membiarkan kalau tokh Banyak Angga harus mati sebab itulah keputusan Pangeran Yudakara, itulah keputusan politik!

Pangeran Yudakara yang mengaku berjuang untuk kepentingan Cirebon tengah mencoba melumpuhkan kekuatan Pakuan sedikit demi sedikit. Matinya Banyak Angga atau siapa pun yang datang dan memihak Pakuan adalah kemenangan buat Pangeran Yudakara.

Pragola turun ke atas tanah dengan mantap, tepat membelakangi pertempuran lain yang dilakukan Banyak Angga. Baru saja tubuhnya berdiri tegak, serangan sudah menghambur dari depannya. Yang melakukan serangan adalah tiga orang tadi itu. Pragola harus siap-siap kembali menerima serangan mereka. Namun sebelum mereka benar-benar dekat, terdengar teriakan Banyak Angga jauh dibelakangnya.

“Pragola, awas di belakang!!!” teriak Banyak Angga.

Dengan gerakan amat cepat Pragola memutar tubuhnya. Ternyata tiga penyerang tengah mengayunkan golok besar ke arah punggungnya. Pragola tak ada waktu untuk menghindar. Maka satu-satunya jalan untuk menyelamatkan diri adalah mencoba mendahului melakukan penyerangan. inI adalah lomba kecepatan. Apakah serangan golok yang lebih dulu mencehcar dirinya, ataukah sodokan sepasang kepalan tangannya yang mengarah kekiri dan kanannya.

Namun tak percuma Pragola digembleng bertahun-tahun oleh mendiang Ki Guru Sudireja. Sejak usia dini dia telah dilatih melakukan gerakan-gerakan cepat. Mula-mula dalam waktu singkat harus mampu melayangkan pukulan kiri-kanan ke batang pohon pisang masing-masing seratus kali. Semakin usia latihan bertambah, maka jumlah pukulan harus semakin banyak. Yang dipukul pun bukan sekadar batang pohon pisang lagi, melainkan batang pohon enau. Dalam usia remaja, Pragola sudah sanggup memukul hancur batang pohon kelapa sekali tohok.

Ini adalah lomba kecepatan. Dan gerakan cepat itu dilakukannya dengan kekuatan penuh. Maka tak ayal, hasilnya adalah jeritan-jeritan kesakitan. Ketiga orang penyerangnya terlontar keras hampir tiga depa ke belakang. Dua penyerang di kiri kanannya mendapatkan sodokan keras dari sepasang tangan yang dilakukan secara silang dan penyerang yang berada di tengah menerima tendangan telak di ulu hati.

Tentu ini adalah serangan yang cukup kejam sebab hasilnya adalah kematian. Betapa tiga orang lawan yang terpental itu jatuh bergulingan beberapa kali, berkelojotan dan kemudian diam tak bergerak. Untuk sementara Pragola bebas dari penyerang. Dengan kaki terpentang lebar dia berdiri bertolak pinggang, mengawasi sibuknya Banyak Angga menghindarkan kepungan dari kiri-kanannya.

Pragola juga mengawasi, betapa teman-temannya yang lain tengah mendapatkan kepungan. Paman Manggala dikeroyok tiga orang dan Paman Angsajaya dikeroyok dua lawan. Pragola tak perlu membantu kedua orang ini sebab dalam selintas pun dia sudah dapat menarik kesimpulan bahwa kemampuan lawan masih di bawah kepandaian kedua orang itu.

Paman Manggala dengan entengnya berkelit ke sana-kemari menghindarkan serbuan golok-golok lawan. Begitu pun Paman Angsajaya dengan amat indahnya menggerakkan langkah kaki dalam upaya menghindari serbuan lawan. Paman Angsajaya sanggup bergerak indah mungkin dia punya gaya berkelahi yang indah tapi mungkin juga karena sanggup mengendalikan lawan yang kemampuannya di bawahnya.



Baik Paman Angsajaya mau pun Paman Manggala ternyata tak mencoba untuk membunuh lawan. Paman Manggala mungkin tak punya niat sebab dia tahu, “musuh” yang menghadang ini sebenarnya teman. Tapi Pragola patut memuji kepada Paman Angsajaya. Sudah jelas nyawanya selalu diancam sebab lawan berniat untuk membunuhnya. Tapi prajurit Pajajaran setengah baya ini seperti tak berniat untuk membunuhnya. Dia memang balik menyerang dan melakukan beberapa pukulan namun tak ada pukulan telak yang mengarah nyawa lawan. Mungkin Paman Angsajaya ingin menangkap lawan hidup-hidup untuk kelak diteliti identitasnya tapi juga karena mungkin orang ini punya hati lembut.

Seperti yang banyak didengar Pragola, rata-rata orang Pajajaran punya kelembutan hati. Mereka tak suka mengganggu orang lain tapi juga tak suka diganggu. Mereka tak suka membohongi tapi juga tak suka dibohongi. Tapi menurut Pangeran Yudakara, sifat-sifat seperti ini adalah sesuatu yang lemah. Karena selalu jujur maka orang Pajajaran pun selalu menganggap orang lain jujur. Sekali dipermainkan oleh tindakan akal-akalan seperti permainan politik misalnya, maka hancurlah mereka.

Pragola kembali berpaling untuk memperhatikan nasib Banyak Angga. pemuda tampan berusia sekitar 27 tahun atau lebih ini nampak sibuk sekali dikeroyok oleh lima orang lawannya. Pragola tak sayang jiwa anak pejabat Pakuan ini. Kalau mati dalam pertempuran ini tak mengapa sebab hanya punya arti satu bagian dari tugasnya sudah terselesaikan secara tak langsung. Tapi Pragola pun tak mau orang bercuriga padanya.

Kelima orang pengeroyok itu memang masih bersikap mengepung namun sepertinya tak sanggup membunuh Banyak Angga dalam waktu cepat. Kalau kesibukan pemuda itu tak cepat dibantu hanya akan membuat curiga saja. Siapa pun tak boleh ada yang menduga bahwa Pragola berpihak pada kaum penyerang. Maka untuk itu dia terpaksa harus membantu Banyak Angga untuk menyapu “lawan”.

Maka ketika melihat kelima orang itu begitu bertele-tele dalam upaya membunuh Banyak Angga, Pragola hanya menganggap bahwa ini sebuah kegagalan. Kegagalan yang satu tak boleh disusul oleh kegagalan yang lainnya. Timbullah rasa curiga orang-orang Pakuan karena tak membantu Banyak Angga dalam membebaskan diri dari mara-bahaya hanya akan menciptakan kegagalan lebih parah lagi.

Maka untuk itu, dia segera turun melibatkan diri. Kini Banyak Angga lepas dari kepungan bahkan dari bahaya kematian sesudah Pragola turun membantu. Bahkan dalam waktu yang cukup singkat para pengepung sudah porak-poranda. Semuanya sudah bisa dilumpuhkan oleh Pragola sebab perhatian para penyerbu tengah tertumpu kepada Banyak Angga.

Banyak Angga sendiri terpana melihat kehebatan Pragola. Barangkali pemuda itu sebelumnya tidak pernah menduga bahwa pembantunya ini demikian tinggi ilmu berkelahinya.

Diperhatikan secara khusus seperti ini Pragola sedikit gagap dan merasa serba-salah. Barangkali dia terlalu memperlihatkan kebolehannya di depan umum, teristimewa di hadapan “majikan”nya, Banyak Angga. Mungkin Banyak Angga akan merasa tersimggung sebab kegagahannya yang baru saja ditampilkan sepertinya mendudukkan pemuda itu ke tempat yang rendah. Terlalu cepatnya Pragola menundukkan lawan hanya mencoreng harga diri Banyak Angga, karena pemuda anak pejabat ini, yang mendapatkan tugas berat melakukan perjalanan ke wilayah timur yang berbahaya ini, nyatanya tak memiliki kepandaian berarti.

Namun perkiraan-perkiraan yang membuat dada pragola berdebar adalah kalau saja Banyak Angga berpikir lain. Bagaimana bila pemuda ini mencurigai dirinya? Pragola diperkenalkan oleh Pangeran Yudakara ke pihak istana hanya sebagai prajurit biasa. Mungkinkah seorang prajurit biasa memiliki kepandaian begitu tinggi? Ini yang membuat Pragola khawatir. Dengan perasaan sedikit tegang Pragola menatap Banyak Angga yang datang mendekat untuk melakukan sesuatu yang tidak diharapkan.

Belakangan Banyak Angga datang ternyata hanya untuk memeluknya. “Adikku, ternyata kepandaianmu demikian hebat. Aku bangga padamu,” tutur pemuda itu sejujurnya. Ditepuk-tepuknya punggung Pragola dengan penuh suka-cita.

Lega hati Pragola. Ternyata Banyak Angga tak berburuk sangka padanya.

“Pangeran Yudakara adalah seorang yang senang merendah. Dia tak pernah mengatakan bahwa prajurit yang jadi bawahannya demikian tinggi ilmunya. Apakah Pangeran Yudakara memiliki banyak prajurit sepertimu?” tanya Banyak Angga masih dengan tatapan kagum.

Pragola hanya menahan napas, tak tahu harus berkata apa. “Kepandaian saya tak begitu hebat. Kebetulan saja perhatian para pengeroyok hanya tertumpu padamu sehingga saya lolos dari penglihatan mereka,” kata Pragola pada akhirnya.

“Jangan merendahkan diri. Kau tadi melumpuhkan tiga orang dalam satu gerakan. Seranganmu cepat dan mantap. Tak sembarang orang sanggup melakukannya,” susul lagi Banyak Angga masih dengan nada memuji.

“Ah, Raden terlalu melebih-lebihkannya. Orang yang dicekam rasa takut bila ditekan keadaan akan melakukan sesuatu kenekadan. Saya tadi takut sekali melihat tiga orang melakukan serangan sekaligus dari tiga jurusan. Saking takutnya dilukai mereka, saya mendahului menyerang mereka. Hanya sekenanya saja dan kebetulan kena,” tutur Pragola, juga bicara sekenanya.

Banyak Angga hanya senyum dikulum. Dan Pragola tak bisa menduga apa yang ada dibalik senyuman itu.

“Radenlah yang menyelamatkan nyawa saya. Kalau saja Raden tak memperingatkan, saya tentu sudah tewas oleh mereka,” kata Pragola.

“Engkau pun berjasa. Kalau aku kau biarkan dikeroyok kelima orang itu. Sudah pasti aku akan binasa. Aku akan khabarkan pada ayahanda bahwa engkau telah berjasa menyelamatkan nyawaku. Pada peringatan Kuwerabakti tahun depan, akan aku perjuangkan agar kau ikut tes keperwiraan. Engkau cukup pandai untuk dijadikan perwira,” tutur lagi Banyak Angga.

Sementara itu Paman Manggala dan Paman Angsajaya telah meringkus para penghadang. Lima orang penghadang tewas oleh Pragola dan Paman Manggala serta Paman Angsajaya. Sisanya tujuh orang luka-luka walau pun tidak sampai membahayakan jiwa mereka.

“Semuanya sudah kami cangkalak (ringkus), Raden,” lapor Paman Angsajaya.

“Perlukah mereka dibunuh?” tanya Pragola sedikit menguji.

“Jangan bunuh mereka!” sergah Banyak Angga.

“Mereka adalah orang jahat! Mereka perampok!” sekali lagi Pragola menguji.

Namun Banyak Angga menggelengkan kepala. “Kejahatan mereka karena sesuatu sebab juga dan tak berdiri sendiri. Semua saling berkaitan. Kejahatan hanya bisa dilenyapkan dengan mencoba menciptakan keadaan agar orang tak berpikir menjadi penjahat,” tutur Banyak Angga.

“Lalu akan kita apakan mereka kini?” tanya Pragola.

Nampak Banyak Angga termenung sejenak. “Ya, pada akhirnya yang berbuat jahat akan mendapatkan hukuman. Kita serahkan kepada para penguasa setempat. Kita akan membawa mereka ke cutak (pejabat setingkat camat kini), untuk diproses lebih jauh,” gumam pemuda itu sesudah menghela napa beberapa kali.

***

Mengubur lima mayat musuh korban pertempuran kecil itu ternyata cukup menyita waktu juga. Ini menyebabkan rombongan kecil itu harus bermalam di tempat itu.

Untuk kesekian kalinya Pragola dipaksa harus memuji perilaku dan pendirian Banyak Angga. Dengan alasan mengejar waktu, Pragola mengusulkan agar mayat-mayat berserakan itu ditinggal begitu saja, atau paling tidak ditutupi dedaunan. Namun Banyak Angga berpikir lain. Kata pemuda itu, selagi hidup bisa saja orang itu jahat. Namun sesudah mati yang sisa hanyalah jasadnya. Dan jasad orang mati si jahat mau pun si baik tak ada bedanya, semua harus dirawat dan dihormat.

Tentu saja pendirian Pragola pun sebetulnya begitu. Kalau pun dia tadi mengusulkan lain, itu karena ingin lebih mengenal karakter pemuda itu saja. Pragola tahu, ada kebiasaan orang Pajajaran dalam menyempurnakan jasad si mati. Di wilayah Pajajaran yang banyak didapat sungai besar seperti wilayah Galuh (Ciamis sekarang) ada istilah nerebkeun (melabuhkan). Jasad orang mati dibenamkan ke dasar sungai atau telaga. Tapi di wilayah pegunungan yang jauh ke sungai besar, terdapat istilah ngurebkeun (mengubur). Jasad orang mati ditanam ke dalam tanah.

Malam hari keempat orang itu tidur giliran. Bila dua orang beristirahat, maka dua orang lagi tugur (meronda). Pragola memilih tugur bersama Paman Manggala padahal Banyak Angga nampaknya ingin sekali satu kelompok dengannya.

“Kepanadaian Paman Manggala kurang begitu tinggi, begitu pun Paman Angsajaya. Supaya kekuatan seimbang, terpaksa saya harus menyertai Paman Manggala dan sebaliknya Raden menyertai Paman Angsajaya,” tutur Pragola memberikan alasan.

Dan ini dapat dimengerti pemuda pejabat itu yang lantas setuju dan mendapatkan jatah tidur paling awal. Padahal yang sebetulnya diingini Pragola adalah bercakap-cakap dengan Paman Manggala perihal kecurigaan yang ada dibenaknya. Di saat Banyak Angga dan Paman Angsajaya tidur pulas, pragola mengajak Paman Manggala agak menjauh dari tempat itu. Paman Manggala memeriksa ke tujuh tawanan yang terikat jadi satu. Sesudah itu baru dia menghampiri Pragola.

“Ada apa?” tanya Paman Manggala.

Mereka duduk bersila saling berhadapan.

“Saya heran dengan tindak-tanduk para penghadang. Benarkah mereka prajurit Cirebon. Gerakan tempurnya kasar sekali. Mereka pun beringas dan kejam. Kepadaku mereka melakukan serangan ganas, seolah-olah mereka menginginkanku mati…” kata lagi Pragola.

“Barangkali itu hanya perasaanmu saja, Pragola,” gumam Paman Manggala.

“tak terasakah tindakan dan perlakuan mereka pada Paman?”

“Memang terasa. Tapi aku anggap itu wajar sebab penyamaran mereka tak boleh diketahui,”

“Kita bisa mati kalau kepandaian mereka berada di atas kita,” tutur Pragola.

“Itulah sebabnya kita dipercaya mengemban misi ini,” kata Paman Manggala.

Di kegelapan malam Pragola mencoba menatap Paman Manggala, namun suasana terlalu gelap. Setiap bermalam di tengah perjalanan memang tak pernah memasang api unggun, takut diserang prajurit Cirebon.

“Bisakah mereka dipercaya seperti kita dalam mengemban misi ini?” tanya Pragola.

”Mereka bisa dipercaya,”

“Tak akan buka rahasia bahwa sebetulnya mereka bukan perampok melainkan prajurit Cirebon yang dikendalikan Pangeran Yudakara?” tanya Pragola lagi.

“Tak akan buka rahasia!” jawab Paman Manggala yakin.

Pragola puas dengan jawaban ini. Tapi dia sendiri pun tak tahu mengapa merasa puas dengan jawaban Paman Manggala. Beberapa lamanya kedua orang itu tugur. Beberapa kali Paman Manggala memeriksa tawanan seolah-olah ingin meyakinkan tawanan tak akan melarikan diri.

“Bisakah kita usahakan mereka melarikan diri?” tanya Pragola.

“Tak bisa, mereka luka parah…” bisik Paman Manggala.

“Karena tadi mereka seperti berusaha membunuhku, aku terpancing dan marah, sehingga mereka terbunuh…” keluh Pragola penuh sesal.

“Itu resiko mereka. Tapi kau pun ceroboh,”

“Aku terlalu kasar…”

“Maksudku kau ceroboh memperlihatkan kepandaian aslimu,” gumam Paman Manggala.

Pragoal mengeluh pendek.

“Mungkin penyamaranmu sedikit terkuak,” desis Paman Manggala. ”Akan ada sedikit kesulitan karena hal ini…” sambungnya lagi penuh sesal.

Beberapa kali Paman Manggala memeriksa tawanan, sampai tiba waktunya tugur mereka selesai. Banyak Angga bangun tepat pada waktunya dia giliran tugur.

Pragola tidur nyenyak saking lelahnya. Namun serasa belum lama, dia segera terjaga di saat seberkas cahaya tipis sudah nampak di langit timur. Tapi yang membuat dirinya terbangun bukan karena keadaan sudah terang tanah, melainkan karena didengarnya suara kaget Banyak Angga.

“Ada apa?” tanya Pragola sambil mengucak-ngucak kelopak matanya.

“Semua tawanan sudah tak bernapas!” teriak Banyak Angga.

“Mati?” tanya Pragola.

Dia berjingkat mendekati kelompok tawanan yang nampak duduk saling bersandar satu sama lainnya. Kedudukan mereka sebetulnya masih belum berubah seperti tadi malam yaitu duduk berhimpitan saling beradu punggung. Tak dinyana ternyata pagi ini semuanya sudah tak bernapas.

Pragola memeriksa, tak ada luka baru di tubuh mereka. “Kenapa mereka mati?” tanyanya menatap Banyak Angga.

“Itulah yang ingin aku ketahui!” kata pemuda itu.

“Radenlah yang tugur. Jadi tentu Raden harus mengetahui mengapa mereka tewas,” kata Pragola sedikit keras karena tak senang tawanan itu tewas. Bukankah mereka sebetulnya bagian dari kelompoknya?

“Mereka mati karena luka-lukanya…” kata paman Manggala yang ternyata tengah memeriksa satu-persatu tawanan itu.

“Mati karena luka-lukanya?” tanya Pragola mengerutkan dahi. Mereka memang menderita luka. Tapi rasanya terlalu jauh kalau harus mati secara tiba-tiba ini. “Luka-luka mereka biasa saja. Tak semestinya mereka mati!” kata Pragola penuh sesal.

Ucapannya ini membuat Banyak Angga menatapnya. Begitu pun Paman Manggala menatapnya secara khusus. Pragola cepat sadar terhadap kekeliruannya ini. Barangkali Banyak Angga merasa heran terhadapnya. Mengapa secara tiba-tiba dia penuh perhatian terhadap keselamatan para tawanan, padahal baru kemarin dia mengusulkan agar semua “perampok” dibunuh saja. Paman Manggala yang menatapnya penuh seksama mungki maksudnya menegur dia agar tidak menampakkan kemarahan ini.

“Lihatlah ada pembengkakan di seputar bekas luka. Aliran darah mereka mungkin terganggu oleh pembengkakan ini,” gumam Paman Manggala.

Paman Angsajaya ikut memeriksa. Tapi jelas dalam pandangan Pragola, prajurit ini tak tahu apa-apa perihal kondisi tubuh. Dia hanya mengangguk-angguk saja ketika Paman Manggala memeriksa dan mengambil kesimpulan seperti ini.

“Tadi malam aku teledor tidak memeriksa mereka. Kalau tak begitu, kita bisa tahu saat kapan mereka tewas,” gumam Banyak Angga penuh sesal.

“Kami tak menyalahkanmu, Raden. Biarlah, ini keinginan Hyang (Yang Kuasa) semata…” tutur Paman Manggala. ”Mari kita kureubkan saja cepat-cepat, jangan sampai perjalanan kita terhambat lagi,” tutur Paman Manggala sambil segera mengambil gobang (pedang) untuk digunakan menggali tanah.

Tindakannya ini segera diikuti oleh yang lainnya kendati nampak nyata masih ada penasaran baik dari Pragola mau pun Banyak Angga. Sampai matahari agak tinggi barulah pekerjaan mengubur tujuh mayat selesai.

Mereka akhirnya kembali melanjutkan perjalanan. Tujuannya, dalam waktu dua hari berjalan kaki harus sudah tiba di Sagaraherang. Sagaraherabg ini adalah sebuah daerah yang dipimpin oleh Pangeran Yudakara. Tiga belas tahun silam daerah ini pernah memberontak terhadap Pajajaran dan sempat mengirimkan hampir seribu pasukan untuk menyerang Pakuan. Berkat kegagahan para ksatria Pajajaran yang dibantu oleh Ksatria Ginggi, pasukan pemberontak bisa dibendung.

Kandagalante Sunda Sembawa yang memimpin pemberontakan ini terbunuh dalam sebuah pertempuran yang berlangsung di tepian Telaga Rena Mahawijaya, Pakuan. Sebagian meloloskan diri, sebagian lagi kalau tak tewas, menyerahkan diri. Kejadian itu berlangsung pada zamannya pemerintahan Sang Prabu Ratu Sakti (1543-1551 M) yang terkenal kejam dan ambisius.

Sekarang pada zamannya Prabu Nilakendra (1551-1567 M) wilayah Sagaraherang bukan saja “tak dihukum”, penguasanya bahkan diberi kemudahan dalam upaya memperluas wilayahnya. Buktinya dalam waktu dekat wilayah ini akan diperlebar wilayahnya dan Pangeran Yudakara akan diangkat setingkat bupati. Prabu Nilakendra sudah bosan dengan peperangan. Maka untuk meredam berbagai pemberontakan, tekanan terhadap daerah yang dulu dianggap pembangkang diperlunak. Buktinya, penguasa sagaraherang kini, yaitu Pangeran Yudakara bahkan mendapatkan kepercayaan begitu besar, padahal sudah jelas dia punya hubungan dekat dengan Kandagalante Sunda Sembawa.

Menurut penilaian Pragola, ini salah besar, sebab kendati Pangeran Yudakara tak punya niat pribadi melakukan pemberontakan, namun tetap saja pejabat ini akan melakukan tindakan yang merugikan kepentingan Pakuan. Orang-orang Pajajaran tidak pernah menyangkanya, bahwa Pangeran Yudakara adalah utusan Cirebon dalam upaya meruntuhkan Pajajaran.

Selama melakukan perjalanan yang kini dilakukan dengan jalan kaki, Pragola tak habis-habisnya berpikir perihal kejadian malam itu. Rasanya ada yang ganjil yang terdapat pada diri Paman Manggala. Sudah belasan tahun Pragola kenal dengan orang tua ini. Sejak dirinya dilatih oleh Ki Guru Sudireja dan bahkan sejak mereka diminta Pangeran Yudakara untuk membantu perjuangan Cirebon, Pragola tak pernah melihat Paman Pragola seganjil ini.

Pragola mencoba menyimak kembali kejadian tadi malam. Tujuh tawanan diketemukan tewas pada pagi harinya, padahal malam hari tak ditemui tanda-tanda tawanan akan mengalami nasib sial seperti itu. Memang benar tawanan itu rata-rata menderita luka karena perkelahian. Namun luka-lukanya tak mungkin menyebabkan kematian. Kalau pun ada, musthil pula ketujuh tawanan itu mati secara bersamaan.

Seperti apa kata Paman Manggala, memang benar ketujuh orang “perampok” itu mati karena aliran darahnya tersumbat. Ini jelas terlihat dari pembengkakan-pembengkakan pada bagian tubuh mereka. Mengapa aliran darah mereka tersumbat? Inilah yang mencurigakan. Walau pun hanya selintas tapi Pragola bisa menduga, jalan darah ke tujuh orang itu sebenarnya sudah putus, atau sengaja diputuskan. Oleh seseorangkah? Ya! Dan Pragola justru mencurigai Paman Manggala.





OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

===============================




Air Terjun Victoria Afrika

No comments:

Post a Comment