Ads

Saturday, November 27, 2021

Kidung Senja Jatuh di Pajajaran 035

“Mengapa harus dilakukan di depan orang-orang Yogascitra?” tanya Bangsawan Soka.

“Agar Ginggi dianggap berjasa oleh mereka sehingga mendapatkan penghargaan dari orang-orang Yogascitra. Akan lebih baik kalau akhirnya Ginggi dipercaya untuk mengabdi di lingkungan puri Yogascitra!”

Mulanya ucapan Ki Banaspati ini ditanggapi dengan kerutan dahi oleh kedua orang pejabat yang duduk di hadapannya. Tapi sesudah berpikir sebentar, Bangsawan Soka nampak berwajah cerah bahkan tertawa terkekeh-kekeh.

“Kau pandai! Kau pandai Banaspati. Aku tahu akalmu. Kau akan menyusupkan orangmu ke dalam puri Yogascitra sehingga kelak akan lebih mudah menyelesaikan tugas-tugas penting, begitu kan?” tanya Bangsawan Soka.

Ki Banaspati mengangguk dengan senyum dikulum. “Betul. Karena orang-orang Yogascitra nampaknya mendapatkan kepercayaan yang baik dari kalangan istana, maka diharapkan Ginggi bisa keluar-masuk istana dengan mudah,” kata Ki Banaspati lagi.

Bangsawan Soka menepuk pahanya tanda setuju dengan taktik ini, begitu pun Ki Bagus Seta nampak tersenyum tipis.

“Ini tugas maha penting bagimu, Ginggi. Bila kau sanggup menjalankan tugas ini dengan baik, maka kedudukanmu kelak akan mulia,” kata Ki Banasapati menoleh pada Ginggi.

“Kau berangkatlah sekarang, awasi Suji Angkara. Kalau anakku mulai menyerbu puri Yogascitra, kau harus pandai-pandai menyelinap ke sana,” kata Ki Bagus Seta memerintah Ginggi.

Ginggi mengangguk bahkan menyembah takzim. Sesudah itu dia undur dari ruangan paseban. Tiba di halaman puri, Ginggi bertemu jagabaya dan bertanya ke mana kira-kira Suji Angkara pergi.

“Saya lihat dia menuju puri Nyimas Layang Kingkin, Raden …” jawab jagabaya hormat sekali.

Ginggi tersenyum pahit mendengar dirinya dipanggil Raden. Begitu mudahnya Ki Bagus Seta mengubah keadaan, termasuk yang menyangkut nasib seseorang. Ginggi tak banyak cakap, serta-merta dia menuju puri tempat tinggal Nyimas Layang Kingkin. Menoleh kiri-kanan dulu. Sesudah yakin tak ada orang di sekitar tempat itu, dia segera meloncat naik ke atas benteng. Loncat lagi kiri-kanan, kemudian masuk ke ruangan dalam.

Ginggi dapatkan Suji Angkara tengah duduk berhadapan dengan adik tirinya. Melalui celah dinding kayu, Ginggi mendapatkan pemuda itu duduk termenung dan ada lelehan airmata di sepasang pipinya.

“Aku mencintai Nyimas Banyak Inten, sungguh mati, aku cinta,” kata Suji Angkara dengan suara memelas.

“Ya, kau harus berjuang sendiri kalau memang itu yang kau inginkan. Kita sebenarnya punya keinginan sama, yaitu tak mengizinkan Nyimas Banyak Inten bersanding dengan Sang Prabu, kendati kepentingan kita berbeda. Aku tak mau ada saingan. Sang Prabu memang banyak memelihara selir, tapi yang namanya selir baru, pasti mendapatkan perhatian lebih. Jadi aku tak mau perhatian Sang Prabu pada selir baru terbagi dua. Engkau harus jauhkan Nyimas Banyak Inten dari puri istana, sebab kalau kau tak berhasil memboyongnya, maka akulah yang akan menyingkirkan pesaingku, Kakanda Suji…” kata Nyimas Layang Kingkin dengan suara mantap dan tegas.

“Jangan… Jangan engkau yang menggagalkan keinginan Sang Raja. Tanganmu terlalu bersih dan hatimu terlalu halus. Jangan kau kotori nama baikmu dengan tindakan-tindakan seperti itu. Biarlah Kanda yang berjuang menjauhkan Nyimas Banyak Inten dari kesempatannya memasuki puri istana. Hanya engkau, hanya engkau yang akan menjadi selir terkasih Sang Raja, yang menghiasi puri Sri Bima Untarayana Madura Suradipati dan yang sanggup membahagiakan penghuni kedaton (istana) Pakuan itu…”

“Terima kasih bila Kakanda merasa aku lebih berharga duduk menjadi penghuni Taman Mila Kancana atau jadi penumpang perahu hias di Telaga Rena Maha Wijaya. Aku pun akan berdoa agar ciat-citamu bersanding dengan Nyimas Banyak Inten bisa terlaksana…” kata Nyimas Layang Kingkin.

Keduanya saling berpegangan tangan dan Suji Angkara nampak berurai air mata kembali. Wajahnya masih tetap pucat dan bibirnya bergetar, tapi oleh Ginggi terlihat senyum di bibir pucat itu.

Malam harinya terpaksa Ginggi harus keluar puri Ki Bagus Seta. Dia akan berusaha mengawasi gerakan Suji Angkara. Sudah sejak senja hari sebetulnya Ginggi mengamati puri pemuda itu. Jagabaya yang sempat dia tanya selalu mengatakan bahwa pemuda itu sejak siang hari tak pernah keluar dari puri itu.

“Beliau pergi keluar ketika akan menghadap ayahandanya saja. Sepulang dari puri Bagus Seta, Raden tak pernah keluar lagi. Ada apakah engkau tanya-tanya tentang majikanku, hey badega?” tanya jagabaya.

Ginggi tersenyum lagi. Di puri Bagus Seta dia sudah terangkat julukannya menjadi Raden. Etika basa-basi di Pakuan begitu kuat memisahkan tahapan-tahapan hidup manusia. Antara puri Bagus Seta dan puri Suji Angkara letaknya tak begitu jauh, tapi penilaian orang pada Ginggi sudah berbeda jauh. Di hormati dan dipanggil raden di puri Bagus Seta serta dianggap enteng dipanggil badega di puri Suji Angkara, padahal baik wajah mau pun penampilan Ginggi tak berubah. Hanya karena tahu dan tidak tahu saja maka orang menghormat dan tak menghormati dirinya.

Orang-orang puri Bagus Seta menghormati dirinya karena mereka tahu dirinya diangkat menjadi pembantu utama. Para pembantu utama kaum bangsawan dan juga pejabat istana akan juga dihormati seperti itu. Sebaliknya orang-orang Suji Angkara hanya tahu Ginggi keluyuran di puri itu beberapa waktu lalu sebagai badega saja. Menyebalkan basa-basi dan aturan ini, pikir Ginggi dalam hatinya.

Sampai malam tiba, Suji Angkara tidak terlihat keluar puri. Ini sebetulnya meresahkan Ginggi. Kalau benar pemuda itu mengurung diri di dalam puri, tak mengapa. Ini hanya menandakan bahwa pemuda itu tidak melakukan apa-apa. Tapi benarkah Suji Angkara diam mengurung diri di purinya?

Ginggi teringat perbuatan Bangsawan Soka yang mengipas-ngipasi Suji agar hatinya panas dan marah terhadap Pangeran Yogascitra. Suji Angkara memang terpengaruh dan kemarahannya tersulut sehingga sepertinya dia hendak melakukan pembunuhan terhadap diri Pangeran Yogascitra. Namun ketika percakapan dengan Nyimas Layang Kingkin secuil pun tidak membicarakan kemarahannya terhadap Pangeran Yogascitra. Yang mereka bicarakan adalah bagaimana caranya agar Nyimas Banyak Inten tak jadi “masuk” ke puri istana.



Dari pendengarannya ini Ginggi baru mengetahui perasaan Nyimas Layang Kingkin. Ternyata gadis anggun yang berpenampilan dewasa ini punya ambisi besar dalam memenangkan persaingan menjadi selir Raja. Tidak sekadar ingin menjadi selir saja, melainkan juga menginginkan hanya dia seorang yang menjadi selir baru bagi Raja. Gadis itu tak mau disaingi oleh Nyimas Banyak Inten. Berbahaya juga gadis itu, pikir Ginggi. Tapi jalan pikirannya ini segera dikoreksi kembali. Berbahayakah seseorang mempunyai ambisi? Jahatkah bila seseorang mendambakan satu ambisi setinggi-tingginya? Gadis itu berambisi tinggi masuk ke puri istana raja dan ingin menempatkan dirinya sebagai selir terkasih Raja. Untuk itulah sejak dulu dia membujuk kakandanya, Suji Angkara agar tak segan-segan mempersunting Nyimas Banyak Inten.

Baru belakangan ini Ginggi maklum akan maksud gadis itu. Dia selalu berdoa dan mendukung cita-cita Suji Angkara dalam upaya mendapatkan Nyimas Banyak Inten bukan karena rasa sayang seorang adik terhadap kakaknya, melainkan berdasarkan pada kepentingan dirinya semata. Ginggi amat maklum kini, kalau Suji Angkara berhasil mempersunting Nyimas Banyak Inten, maka cita-cita dirinya untuk menjadi selir Raja tidak akan mengalami hambatan.

Sekarang sebenarnya Nyimas Layang Kingkin sudah mencapai cita-citanya sebab Raja berkenan mengambilnya sebagai selir. Namun tetap saja gadis itu belum merasa puas sebab masih dibayang-bayangi persaingan. Dia tak menginginkan rasa kasih Raja terhadap selir baru terbagi dua. Itulah sebabnya, gadis itu selalu memanas-manasi kakandanya dengan doa dan dukungan agar Suji Angkara tetap setia dengan citacitanya.

Sebegitu jauhkah ambisi seseorang, sampai-sampai Nyimas Layang Kingkin tidak mempedulikan lagi Banyak Angga yang padahal menurut khabar, mereka telah bertunangan? Kini Ginggi mencoba berpikir perihal hubungan Suji Angkara dengan Nyimas Banyak Inten. Sejauh mana hubungan cinta mereka berjalan? Kalau Suji Angkara sudah jelas. Pemuda cabul yang gemar berlaku tak senonoh ini sebenarnya punya rasa cinta juga di hatinya. Terbukti, kendati dia beberapa kali memcoba memasuki puri gadis itu dengan cara tidak sah, namun sepertinya ada perasaan cinta sungguh-sungguh yang bersemi di hatinya. Tapi Nyimas Banyak Inten sendiri bagaimana?

Ginggi sulit menyimak perasaan gadis itu. Ketika dia diributkan dicinta oleh dua orang lelaki sekaligus, tak ada sikap tertentu yang ditampilkan. Malah di Taman Mila Kancana beberapa bulan lalu, ketika Ginggi diutus Suji Angkara menyerahkan surat pada gadis itu, Nyimas Banyak Inten hanya mengatakan bahwa sejauh ini dia tak memikirkan urusan cinta sebab dia belum dewasa benar. Tapi ketika purinya diganggu “penjahat” dan Suji Angkara menampilkan diri sebagai “pahlawan”, gadis itu dengan penuh perhatian merawat luka Suji Angkara, hamper-hampir membuat Ginggi sedih dan cemburu.

“Cinta pulakah Nyimas Banyak Inten terhadap Suji Angkara?” gumamnya sendirian di gelap malam sudut benteng puri.

Ginggi menghela napas dalam-dalam. Bila teringat Nyimas Banyak Inten membuat hatinya sedih. Kemelut cinta di antara mereka sebenarnya kemelut besar, dan Ginggi terlalu kecil untuk ikut-ikutan terjun dalam kemelut tersebut. Tapi entah mengapa, perasaan hatinya tak bisa dibendung. Setiap malam tiba dia selalu susah tidur karena wajah anggun putri bangsawan itu selalu menghiasi kelopak matanya. Beberapa kali dia bertemu wanita, bahkan merasakan hangatnya tubuh seorang wanita seperti Nyi Santimi, tapi perasaan yang ada di jiwanya kali ini terasa lain.

Ginggi boleh bertemu dengan macam-macam pengalaman, yang menyedihkan, menjengkelkan bahkan membuat dirinya marah, tapi tak ada yang membuat dirinya serasa nestapa selain bila harus berpikir perihal keberadaan Nyimas Banyak Inten.

Nyimas Banyak Inten itu gadis bangsawan terhormat. Ayahnya berkedudukan tinggi di Pakuan, bahkan sekarang di percaya Raja untuk diangkat menjadi penasihat. Nyimas Banyak Inten demikian molek, anggun dan cantik laksana bidadari. Dia diperebutkan banyak ksatria dan dicinta Raja. Maka bila diukur dengan kedudukannya, dirinya seperti burung gagak merindukan bulan. Seperti setetes air ingin menyamai lautan, atau seperti asap tungku ingin disejajarkan dengan awan berarak di angkasa. Dirinya hanya seujung kuku bila dibandingkan dengan posisi gadis itu. Seharusnya Ginggi tahu diri. Seharusnya dia menghukum dirinya dengan cara membuang jalan pikirannya dan pergi jauh dari Pakuan. Tapi mengapa ia tak mampu bertindak begitu? Ginggi bertahan dengan banyak kesengsaraan di Pakuan. Bukan karena terlalu setia dengan penyelidikannya, melainkan juga karena selalu ingin membayangkan Nyimas Banyak Inten.

“Ah, sialan aku ini!” keluhnya seorang diri.

Sekarang bulan sudah mulai timbul lagi, hanya berupa sabit tipis, setipis kesempatannya dalam menjangkau impian muluk. Bulan sabit banyak ditemani bintang-gemintang, ribuan banyaknya. Tapi apakah bulan sabit bisa percaya diri bakal menerangi jagat raya ini? Tidak, seharusnya bulan sabit tahu diri, dia tak sanggup menggapai bumi, dia tak sanggup menerangi alam raya dalam keadaan begitu. Ribuan bintang yang menemaninya hanyalah mengolok-olok dirinya, sebab para gemintang pun tidak akan sanggup membantu dirinya untuk menerangi alam raya ini.

Ginggi terus berceloteh dalam hatinya, sampai-sampai dia hampir melupakan tujuannya mengamati Suji Angkara. Hanya setelah kesadarannya pulih, maka dia ingat lagi Suji Angkara. Maka dengan heran dia amati, mengapa pemuda itu terus mengurung diri selama ini? Pemuda itu amat pesolek. Tukang pesta dan gemar foya-foya. Kalau malam baik seperti ini, dia sering mengundang prepantun atau para penembang cantik untuk menghibur dirinya. Di cuaca malam yang baik ini biasanya pemuda itu mengundang teman-teman sesama putra bangsawan untuk menikmati hiburan sambil minum tuak. Suasana pesta mungkin dia lupakan mengingat hatinya tengah gundah-gulana. Tapi setidaknya pemuda itu harus terlihat biar barang sebentar.

Ginggi curiga. Itulah sebabnya, sesudah suasana dianggap aman dari tugur, Ginggi segera meloncat ke atas benteng puri dan menyelinap masuk ke sebuah bangunan utama di mana biasanya Suji Angkara berada. Puri itu sunyi saja. Lentera di beberapa sudut kamar pemuda itu tidak dipasang sehingga kegelapan ruangan amat mencekam. Ginggi mencoba meloncat dan naik ke atas atap sirap hitam. Lapisan sirap dia buka sedikit sehingga bisa mengawasi ruangan tempat tidur Suji Angkara. Tapi di tempat tidur tak ada siapa-siapa. Suji Angkara tidak ada di sana dan berarti sedang berada di luar, tapi di mana?

Ginggi meloncat turun lagi. Kini dia tuju ruangan belakang di mana biasanya terdapat beberapa pekerja puri. Kebetulan Ginggi masuk ke ruangan dapur dan mendapatkan seorang wanita setengah baya. Wanita itu sejenak kaget melihat ada orang masuk secara tiba-tiba. Namun sesudah diketahuinya bahwa yang masuk adalah Ginggi, dia hanya senyum kecil.

“Dasar anak kurang sopan, masuk ke tempat orang tidak uluk salam (mengucap salam). Mau apa bocah gendeng masuk ke sini?” tanyanya.

“Aku cari tuan muda Suji Angkara, di mana dia?”

Yang ditanya termenung sejenak seolah-olah mengingat-ingat sesuatu.

“Oh, ya… di mana ya Si Kasep (Si Tampan) itu? Tadi senja bibi lihat di taman belakang tapi sudah lama tak lihat masuk puri. Coba engkau cari di taman belakang…” jawab wanita setengah baya itu.

Tidak membuang waktu Ginggi segera meninggalkan tempat itu dan memburu taman belakang. Namun di sana pun suasana sepi. Pemuda itu terus berkeliling taman kalau-kalau Suji Angkara memang berada di taman. Tapi hingga ke tepi benteng ujung paling belakang, tak ditemukan pemuda itu, kecuali sebuah pintu kayu di sudut benteng.

Pintu kayu itu seperti jalan darurat untuk menuju luar benteng. Ginggi memeriksanya dan ternyata pintu itu tidak terkunci, sepertinya baru saja ditinggalkan orang. Ginggi termenung dan segera saja timbul perkiraan-perkiraan buruk. Tidakkah Suji Angkara meninggalkan puri secara diam-diam lewat pintu darurat ini? Pergi ke mana? Darah Ginggi serasa berdesir. Ya, barangkali Suji Angkara sudah keluar puri lewat pintu belakang dan… menuju puri Yogascitra!

Ini hanya perkiraan saja. Tapi kendati begitu, Ginggi harus cepat-cepat berjaga-jaga kalau-kalau perkiraannya benar. Itulah sebabnya dia segera meninggalkan puri Suji Angkara, sengaja lewat pintu darurat itu. Ginggi berjalan menyusuri tepian benteng. Benteng itu amat panjang dan berakhir di ujung persimpangan lorong. Lorong itu kelak akan berakhir di sebuah jalan simpangan lagi. Ke kiri akan menuju jalan utama berbalay batu, dan ke kanan akan menuju… puri Yogascitra!

Kecurigaan semakin menebal. Kalau benar Suji Angkara keluar lewat pintu darurat, dia pun pasti akan tiba di sini. Lantas kalau sudah tiba di sini mau ke mana? Jalan besar berbalay kelak akan menuju jalan durian, terus ke Tajur Agung atau bisa juga ke tepi Sungai Cihaliwung, baik menuju leuwi Kamala Wijaya atau pun ke Pulo Parakan Baranangsiang, yaitu sebuah delta kecil di tengah Sungai Cihaliwung di mana di sana terdapat pesanggrahan tempat kaum bangsawan dan kerabat Raja bercengkrama.

Ginggi mengerutkan dahi tanda berpikir, dia tengah menebak-nebak, ke arah mana kira-kira Suji Angkara menuju. Bila menuju kiri, amat mustahil pemuda itu pergi ke Tajur Agung malam-malam. Kalau pergi ke kanan pasti ke puri Yogascitra. Dan inilah yang dikhawatirkan Ginggi. Maka untuk membuktikan bahwa kekhawatirannya tak beralasan, pemuda itu segera meloncat pergi ke arah kanan menuju puri Yogascitra.

Ginggi berlari cepat, secepat anak panah dilepas dari busurnya. Dia berlari cepat dari samping karena terbiasa latihan lari cepat mendaki Puncak Cakrabuana, juga karena terdorong rasa khawatirnya. Apa yang dia khawatirkan? Khawatir karena Suji Angkara berencana membunuh Pangeran Yogascitra, ataukah khawatir pemuda jahat itu akan menculik Nyimas Banyak Inten? Dua-duanya, aku hatinya.

Ginggi berlari cepat dan tidak terlalu lama dia sudah tiba di tepi benteng puri Yogascitra. Untuk mempersingkat waktu, Ginggi tidak masuk lewat gerbang, tapi meloncat naik ke atas benteng dan sebentar kemudian sudah meloncat turun masuk di dalam kompleks puri. Ginggi tidak menuju ke mana-mana, sebab tujuan utamanya adalah puri di mana Nyimas Banyak Inten berada. Dan hati pemuda itu berdebar keras ketika didengarnya banyak orang berteriak-teriak di sekitar puri.

Ginggi datang ke tempat itu dengan cepat dan didapatnya di sana banyak prajurit serta jagabaya. Ketika mereka melihat ada orang datang sambil berlari, beberapa jagabaya sambil berteriak-teriak menyuruh Ginggi berhenti.

“Siapa kau?”

“Pasti dia penjahatnya!”

“Serbuuuu! Tangkap!!!”

Dalam suasana kacau dan sedikit gelap karena hanya beberapa obor yang dibawa jagabaya, kemarahan prajurit mudah tersulut sehingga semuanya menghambur karena terpengaruh suara dan teriakan orang yang memberi aba-aba. Semua prajurit dan jagabaya mengepung dan menyerang Ginggi dengan berbagai senjata di tangan. Ada juga yang melepas anak-anak panah, namun semuanya bisa ditepis bahkan beberapa buah bisa ditangkapnya. Serangan dari belasan bahkan puluhan prajurit bersenjata pedang dan tombak hanya dihindarkan dan dikelitkan saja. Dan bila ada tombak yang terlanjur menyodok tubuhnya, terpaksa dia tangkap dan tarik ke depan sehingga pemegangnya terjerembab.

Sementara para pengepung semakin banyak juga. Dan di antara yang datang, terdapat juga Banyak Angga dan Purbajaya. Dari belakang mereka seorang tua setengah baya juga nampak berlari mendatangi tempat itu, dialah Pangeran Yogascitra.

“Ada apa ini?” teriak Banyak Angga dan pertempuran segera berhenti. Namun ketika pemuda itu melihat siapa yang dikeroyok, wajahnya nampak terkejut, demikian pun Purbajaya.

“Hei… bukankah engkau badega puri Bagus seta? Mengapa mengacau tempat ini?” tanya Banyak Angga.

“Dia penjahat, pasti menculik Nyimas Banyak Inten!” teriak seorang jagabaya menudingkan ujung pedangnya ke arah hidung Ginggi.

“Apa? Nyimas Banyak Inten ada yang menculik?” teriakan kaget ini berbareng diucapkan oleh ketiga orang pemuda yaitu Banyak Angga, Purbajaya dan Ginggi sendiri.

“Celaka!” teriak lagi Ginggi sambil menatap Purbajaya.

“Ginggi, kau pasti tahu siapa yang melakukan penculikan ini!” kata Purbajaya menatap Ginggi dengan wajah khawatir sekali.

“Aku sudah bisa menduganya. Mari ikut aku!” teriak Ginggi.

Namun ketika pemuda itu hendak meninggalkan tempat itu, beberapa senjata pedang menyabet tubuhnya dari segala arah. Pemuda itu menggerak-gerakkan sepasang tangannya dan seluruh senjata beterbangan ke segala arah. Beberapa di antaranya menancap hampir setengahnya di batang-batang pohon dan para pemiliknya menjerit kesakitan sambil memegangi pergelangan tangannya masing-masing.

“Purbajaya, mari kejar dia!” teriak Ginggi meloncat dari lingkaran kepungan.

Purbajaya mengejar Ginggi, begitu pun Banyak Angga. Bahkan belasan prajurit ikut pula berlari mengejar ke mana arah Ginggi pergi. Ginggi berlari amat cepat dan sangat menyulitkan yang mengikutinya. Beberapa kali dia mencoba menunggu mereka. Sesudah jaraknya tak begitu jauh lagi, baru Ginggi berlari kembali. Ginggi sebetulnya tidak tahu ke mana harus mencari penculik gadis itu. Tapi karena dia sudah menduga yang menculik adalah Suji Angkara, dia berspekulasi mengejar ke suatu tempat.

Ginggi ingat kejadian marak setahun lalu. Dengan amat mesranya Suji Angkara selalu mencoba berdekatan dengan Nyimas Banyak Inten ketika mereka memasak ikan. Dan tempat indah yang membawa kenangan itu tak lain adalah Pulo Parakan Baranangsiang, yaitu delta kecil atau gugusan tanah di tengah aliran Sungai Cihaliwung. Gugusan tanah itu bila siang hari amat permai dan indah dipandang mata karena keindahannya tak terkira. Tapi kalau malam hari, pulo (pulau) itu merupakan tempat terasing yang akan sunyi-sepi jauh dari perhatian orang.

Kalau Suji Angkara membawa Nyimas Banyak Inten ke sana, dan melakukan hal tak senonoh, tak akan ada orang yang mengetahuinya. Karena perkiraan-perkiraan inilah maka Ginggi mencoba menuju ke tempat itu. Untuk kesekian kalinya Ginggi menunggu orang-orang yang mengikutinya. Karena mereka terasa lamban sedangkan Ginggi merasa perlu mengejar waktu, maka dia berteriak agar mereka menyusul saja.

“Aku akan menuju Pulo Parakan Baranangsiang, sebab penculik pasti lari ke sana! Susul aku ke tempat itu!” teriak Ginggi sambil kembali berlari cepat.

Ginggi berlari menuju ke arah timur. Dia menyebrangi dulu saluran Cipakancilan, terus bergerak ke arah timur menuju tepi Sungai Cihaliwung. Menyusuri tepian Cihaliwung ke arah utara dan tiba di Leuwi Kamala Wijaya atau dikenal pula sebagai Leuwi Sipatahunan. Di sana suasana terasa sepi tanda tak ada orang di sekitar tepi leuwi (lubuk).

Ginggi segera melanjutkan perjalanannya menyusuri tepi sungai ke arah utara. Hanya sepemakan sirih saja dia tiba di tepi sungai. Dia lihat ke arah sebrang ke arah timur. Gugusan delta demikian kelam dan hanya berupa bayangan hitam. Tapi di tepi gugusan ada perahu tertambat. Ginggi berdebar hatinya. Perahu tertambat di sebrang hanya menandakan bahwa ada orang menyebrang ke gugusan pulau kecil di tengah sungai itu. Dugaannya cepat mengarah ke arah kecurigaannya semula. Suji Angkara sudah berada di sana!

Ginggi berkeliling tepi mencari perahu. Di situ hanya ada satu perahu. Kalau dia gunakan, maka tak ada perahu lain untuk mengangkut rombongan yang datang belakangan. Alhasil pemuda itu harus menyebrangi sungai dengan cara lain. Ginggi beruntung diberi ilmu napak sancang, Itulah ilmu untuk berjalan di atas permukaan air.

Kata Ki Rangga Guna yang memberikan ilmu aneh itu, napak sancang adalah ilmu meringankan tubuh. Tapi berjalan di atas air tidak melulu mengandalkan ilmu meringankan tubuh saja, melainkan juga harus bisa berlari cepat sambil telapak kaki sejajar dengan permukaan air. Kalau tak bisa begitu, seringan apa pun tubuh, tetap saja akan tercebur ke dalam air.

“Ibaratkanlah sepotong papan yang permukaannya rata. Bila bagian rata kita lemparkan sejajar dengan permukaan air, maka papan akan meloncat-loncat di atas permukaan air seperti hampir-hampir tak menyentuh air. Bisa terjadi begitu, karena saking cepatnya papan kayu itu bergerak. Tapi kalau papan itu diam, benda itu akan sedikit tenggelam. Kalau bebannya lebih berat, maka akan tenggelam sama sekali,” kata Ki Rangga Guna di tepi Sungai Citarum hampir setahun lalu.

Sekarang Ginggi akan melakukan napak sancang, bukan sekadar latihan, tapi benar-benar dilakukan untuk satu keperluan dan tak boleh gagal. Ginggi menahan napas dalam-dalam, mencoba menghilangkan berat kakinya. Dia meloncat cepat tapi loncatannya hampir sejajar dengan permukaan air. Dia gerakkan sepasang kakinya secepat mungkin. Dia “injak” permukaan air tapi hanya sejenak untuk kemudian telapak kaki dia angkat untuk melangkah cepat. Begitu seterusnya berulang-ulang. Terdengar plakplokplakplok suara telapak kaki yang menginjak permukaan air, halus seperti kecipat gerakan ikan.

Ginggi tiba di tepi gugusan pulau dengan selamat! Ginggi perlu sembunyi dulu di rimbunan semak untuk meneliti keadaan. Suasana pesanggrahan begitu sunyi dan gelap. Namun suasana sunyi ini amat mencurigakan dirinya. Maka dengan berindap-indap Ginggi mencoba mendekati bangunan pesanggrahan yang beratap ijuk dan terbuat dari kayu-kayu jati hitam. Semakin dekat Ginggi ke arah bangunan itu, semakin berdebar hatinya. Bagaimana tak begitu, sebab sayup-sayup dia mendengar keluhan-keluhan kecil. Dan jelas keluhan itu keluar dari mulut seorang wanita.

Berdesir darah di urat-urat tubuh Ginggi. Apalagi ketika dia meloncat ke dalam pesanggrahan, tubuh Ginggi menggigil karena menahan rasa marah. Betapa tak begitu, tubuh Nyimas Banyak Inten tergolek di lantai dengan pakaian hampir terbuka seluruhnya. Sedangkan di atas tubuh gadis itu Suji Angkara berusaha menghimpitnya. Panas hati Ginggi melihat adegan ini. Dadanya pun serasa akan meledak.

Didorong oleh kemarahan memuncak, Ginggi menerjang dari arah depan. Terjangannya secepat harimau yang hendak menerkam mangsa. Gerakan terkaman Ginggi rupanya diketahui dengan persis oleh Suji Angkara. Nampak rasa terkejut pemuda itu, sehingga secara serentak dia berdiri. Tapi gerakan Ginggi demikian cepatnya. Sebelum Suji Angkara meloncat untuk berkelit, tubuh Ginggi sudah melayang dan tiba di hadapannya.

“Dukk !!!”

Suji Angkara berteriak ngeri ketika tubuhnya terlontar ke belakang dan punggungnya menabrak tiang kayu. Saking kerasnya tubuh itu menubruk kayu, sampai terpental kembali ke depan, dan jatuh tersuruk mencium lantai. Tertatih-tatih pemuda itu mencoba bangkit sambil tangan kanannya memegangi jidatnya yang berusaha dipukul Ginggi.

“Kau, siapa kau…?”

“Aku Ginggi!”

“Kau… Si Duruwiksa?”

“Ya, bagimu aku Duruwiksa, aku jin, aku setan dan aku iblis pembunuh bagi tubuh dan otak manusia yang selalu dipenuhi kebejatan!” desis Ginggi sambil giginya berkerot saking marahnya.

Suji Angkara berdiri tapi terhuyung. Dia mencoba mundur beberapa tindak. Ketika Ginggi mendekat, tangannya digoyang-goyang seperti melarang Ginggi mendekat.

“Kau… kau memukul jidatku?” tanyanya gugup dan kembali memegangi jidatnya.

“Ya… sudah keempat kali ini aku menjotos jidatmu. Kau pasti ingat betul, di mana dan ketika kau sedang apa aku jotos jidatmu!” kata Ginggi mengingatkan.

Suji Angkara nampak terkejut sekali. Dia melangkah mundur, terhuyung dan tubuhnya menggigil seperti kedinginan.

“Jangan bunuh aku… jangan bunuh aku. Masa-masa lalu aku berdosa. Tapi beri aku kesempatan. Hidupku sengsara. Aku inginkan kedamaian. Dan semuanya ada pada kekasihku… Nyimas Banyak Inten… Oh!” Suji Angkara terjatuh karena kakinya tersandung.

Suji Angkara mengeluh ketika Ginggi melangkah beberapa tindak lagi.

“Jangan bunuh dia!” ada teriakan kecil setengah mengeluh dari belakangnya.

Ginggi terkesiap. Nyimas Banyak Inten yang barusan melarangnya. Betul-betulkah gadis itu melarangnya?





OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

===============================




Air Terjun Victoria Afrika

No comments:

Post a Comment