Ads

Wednesday, November 24, 2021

Kidung Senja Jatuh di Pajajaran 032

“Engkau…?”

Kedua orang itu secara bersamaan mengucapkan kata-kata seperti itu. Kemudian Ki Bagus Seta memandang heran kepada Ki Banaspati. Barangkali merasa heran bahwa rekannya sudah mengenalnya pula.

“Engkau sudah mengenal badegaku, Banaspati?” tanyanya.

“Dia sudah menjadi pembantuku setahun yang lalu. Tapi pemuda ini brengsek sebab tidak satu kali pun berupaya membantuku,” kata Ki Banaspati menatap tajam Ginggi.

“Sebulan lalu dia menjadi badega di sini. Aku sudah curiga dia memiliki kepandaian. Tapi ketika aku uji dengan menyuruh jagabaya memukulinya, dia tak melawan. Siapa engkau sebenarnya, hei pemuda misterius?” Tanya Bangsawan Bagus Seta mulai bercuriga lagi.

“Dia murid paling akhir dari Ki Darma…!” kata Ki Banaspati bergumam.

Nampak sekali ada perubahan pada kulit wajah Ki Bagus Seta. Ginggi nampak tak bisa menduga, apa makna perubahan wajah itu.

“Dia diutus Ki Guru agar ikut perjuangan kita. Dan dia sebelumnya sudah setuju ikut kita. Tapi pemuda ini memang benar dungu. Tak ada satu pun pekerjaan yang dia lakukan untuk kita,” kata Ki Banaspati.

“Tugas apa saja yang harus aku kerjakan dan sesuai dengan amanat Ki Darma?” kata Ginggi menguji Ki Banasapati.

Ginggi yakin, orang ini tak akan bisa menjawabnya, sebab tugas pertama yang diberikan padanya adalah menguntit Suji Angkara dan membunuhnya. Beranikah dia bilang bahwa aku ditugaskan membunuh Suji Angkara, padahal pemuda itu jelas-jelas anak tiri Ki Bagus Seta? Demikian pikir Ginggi. Tapi pemuda ini melenggak dan begitu kagetnya ketika Ki Banaspati menjawab dengan jawaban yang tak mungkin dia duga.

“Ya, kau brengsek sebab selama setahun ini kau tidak melaksanakan apa yang kuperintahkan. Buktinya Suji Angkara sampai hari ini masih segar-bugar!” kata Ki Banaspati sedikit mendelik.

Ginggi menatap Ki Bagus Seta. Tapi untuk kedua kalinya dia menduga salah. Ginggi berpikir Ki Bagus Seta akan kaget atau marah ketika mendengar Ki Banaspati menyuruh Ginggi bunuh anak tirinya. Tapi ketika Ginggi menatap tajam pada orang tua setengah baya ini, tidak secuil pun ada perasaan terkejut. Bahkan roman wajahnya pun tidak menampakkan perubahan barang sedikit pun. Aneh sekali, pikir Ginggi.

“Aku disuruh bunuh anakmu, bagaimana pendapatmu?” tanya Ginggi melepaskan basa-basi hormat pada Ki Bagus Seta.

Rupanya orang tua setengah baya yang berpakaian gagah ini pun merasakan perubahan sikap Ginggi. Nampak bibirnya tersenyum pahit.

“Engkau pandai bersandiwara anak muda dan aku tertipu oleh sikap-sikapmu yang ketolol-tololan…” gumam Ki Bagus Seta kembali duduk bersila di hamparan alketip buatan negriParasi (Iran).

Ki Banaspati pun duduk dan keduanya saling berhadapan. Akhirnya Ginggi juga sama-sama ikut duduk, agak terpisah jauh.

“Engkau memang misterius, anak muda. Kalau kau benar-benar murid Ki Guru Darma, mengapa musti masuk ke puriku secara main-main seperti ini?” tanya Ki Bagus Seta akhirnya.

“Masih banyak yang belum aku mengerti. Jadi aku ingin melakukan penyelidikan secara sembunyi,” kata Ginggi tegas.

“Tentang apa?”

“Tentang hubungan kalian dan tentang sejauh mana perjuangan kalian dalam menjalankan amanat Ki Darma,” jawab Ginggi lagi menatap kedua orang itu bergantian.

“Sudah aku terangkan semuanya padamu. Engkau harus percaya semua itu!” kata Ki Banaspati menimpali.

“Segala sesuatunya?”

Ki Banaspati terdiam sejenak. Sesudah itu dia kembali menyahut, ”Ya, segala sesuatunya!”

“Coba ulangi lagi kau beberkan tujuan perjuanganmu, Ki Banaspati!” kata Ginggi.

“Kau jangan bersuara lantang seperti itu padaku, juga pada Ki Bagus Seta, sebab kedudukanmu di sini tidak sama,” Ki Banaspati menegur, merasa tak enak karena Ginggi tidak menggunakan batas sopan santun.

“Kita semua seimbang sebab memiliki tugas yang sama yang diamanatkan Ki Darma. Bahwa kalian di sini menjadi pejabat, tak ada hubungannya denganku!” kata Ginggi bersila tegak dan memandang tajam kepada kedua orang yang sama duduk bersila di depannya.

Ki Bagus Seta rupanya tersinggung dengan ucapan Ginggi ini. Dia segera beranjak hendak berdiri namun ditahan Ki Banaspati.

“Sudahlah, adat anak ini memang keras. Ki Guru sepertinya tidak memberikan pelajaran moral kepada anak ini,” katanya menyabarkan Ki Bagus Seta, padahal dia sendiri yang mula-mula tersinggung dengan sikap Ginggi.

“Ingin aku tahu, sejauh mana dia memilki kemampuan…” gumam Ki Bagus Seta menahan kemarahan.

“Mungkin dia di bawah kemampuan kita dan bukan masalah berat bila kita ingin menundukkannya. Hanya yang jadi bahan pertimbangan, kita semua jangan berbuat sesuatu hal yang merugikan kita, merugikan perjuangan kita. Kita sesama murid Ki Darma Tunggara harus seia sekata dalam memperjuangkan amanat guru,” kata Ki Banaspati pada akhirnya.

Ini sedikit melegakan sekaligus membuat Ginggi harus berpikir. Pendirian Ki Banaspati Angina-anginan, sebentar bersikap pemarah, sebentar kemudian seolah bersikap penuh bijaksana. Namun Ginggi memantapkan diri untuk tidak mudah terpengaruh sikap-sikap mereka. Ki Banaspati balik memandang pada Ginggi.



“Baiklah aku maklum, bila kebiasaan dan perangaimu begitu kepada setiap orang. Tapi yang ingin kau pegang, tetaplah kau gabung dengan kami!” seru Ki Banaspati.

“Banyak cara dalam menolong rakyat. Tapi cara paling sempurna agar menghasilkan sesuatu yang besar dan berarti adalah berupaya mengubah tatanan negara,” kata Ki Banaspati pasti. Ditatapnya Ginggi dalam-dalam seolah memastikan bahwa tindakannya benar dan harus dijalankan.

“Bagaimana dengan engkau, Bagus Seta?” Ginggi melirik pada Ki Bagus Seta.

“Aku sejalan dengan Ki Banaspati!” katanya angkuh dan tak mau menatap Ginggi.

“Menaikkan seba secara terus-menerus dan memerangi negara-negara kecil yang ingkar membayar pajak tinggi, itulah upaya melaksanakan amanat guru?” tanya Ginggi penuh selidik.

“Ginggi, dengarkan aku,” Ki Banaspati ikut bicara, “Untuk menuju daratan di seberang sungai yang berair deras, kita tidak mungkin memotong arus begitu saja. Mungkin perjalanan harus agak melambung jauh ke hilir. Terkadang kita sulit mengarunginya dengan berenang begitu saja. Kita harus cari pegangan. Pegangan itu, mungkin sesuatu yang tengah dibawa arus. Begitu pun perjuangan kita. Melawan Raja begitu saja tidak akan sanggup mengubah keadaan dengan mudah. Di beberapa wilayah terjadi pemberontakan, bila dilakukan dengan kasar hanya akan meruntuhkan cita-cita mereka saja. Cobalah mencari celah yang sekiranya bisa kita manfaatkan untuk menyusup. Kau harus bangga kepada Ki Bagus Seta dan aku. Orang-orang yang sesungguhnya dikejar dan dimusuhi karena punya keterkaitan dengan Ki Darma, tapi malah bisa menyusup ke pusat istana dan memiliki pengaruh. Tapi sejauh apa pengaruh kita tanamkan, tetap harus sejalan dulu dengan keinginan penguasa. Kalau kita berbuat kebijaksanaan yang secara serentak bertolak belakang dengan keinginan Raja, bukan pengaruh yang kita dapatkan tapi kehancuran!” kata Ki Banaspati panjang lebar.

“Tapi kebijaksanaan kalian malah terasa menyengsarakan rakyat,” gumam Ginggi berpangku tangan.

“Kita ini tengah berjuang membangun sesuatu yang baru dan membongkar hal-hal lama. Yang namanya membongkar tentu akan ada yang dirusak. Ibarat kita menanam tanaman baru yang bebas dari hama, tentu harus mencabuti tanaman lama yang penuh hama, terkadang harus kita cabut seluruhnya, seluruh bagian akar juga tanah di sekitarnya. Barangkali akan ada bangunan yang sebetulnya baik tapi terpaksa ikut terbongkar. Barangkali akan ada batang pohon yang masih bersih dari hama tapi terpaksa harus ikut dicabut. Itulah pengorbanan Ginggi. Untuk memperjuangkan suatu kebenaran, akan ada ranting-ranting kebenaran ikut jadi korban tak ada sesuatu yang tak wajar dari kesemuanya. Rakyat berkorban, kita berkorban, dan semua berkorban. Kau lihatlah pengorbanan Ki Bagus Seta. Dia berani berkorban membiarkan anak tirinya jadi incaran pembunuhan. Suji Angkara tidak sepaham dengan perjuangan ayahandanya. Dia masih hijau dalam urusan kenegaraan. Satu-satunya yang harus dia junjung di Pajajaran adalah Raja tanpa memikirkan apakah Raja berharga buat rakyat atau tidak. Itulah sebabnya aku mengutusmu bunuh Suji Angkara agar dia tidak jadi duri dalam perjuangan semesta ini. Dan kau harus sanggup berpikiran besar. Pengorbanan kita paling menyakitkan adalah menerima tugas membunuh Ki Guru!” kata Ki Banaspati.

Kalau ada suara halilintar terdengar di siang hari bolong, maka ucapan inilah yang lebih terasa membelah dada. Ginggi tak terasa berdiri dari duduknya saking terkejutnya mendengar berita yang disampaikan Ki Banaspati ini. Matanya terbelalak dan tangannya menunjuk ke arah Ki Banaspati.

“Benarkah yang kau ucapkan ini?” desisnya pendek tapi penuh getaran.

“Betul…!” gumam Ki Banaspati.

“Kau … kau pengkhianat! Kau murid murtad!” Ginggi berteriak dan menghambur ke arah Ki Banaspati yang masih duduk bersila.

Ki Banaspati yang tak menyangka dirinya diserang tiba-tiba, serta merta meloncat ke samping. Tapi Ki Bagus Seta rupanya telah menyangka jauh sebelumnya. Maka sebelum Ginggi melancarkan pukulan, Ki Bagus Seta sudah lebih dahulu melayangkan serangan dahsyat. Serangan itu berupa angin pukulan yang dikerahkan sepenuh tenaga. Ginggi merasakan, serangan tenaga dalam ini sepertinya hendak membunuhnya. Ginggi yakin akan kemarahan Ki Bagus Seta. Dia pejabat tinggi di Pakuan, dihormati semua bangsawan dan ditakuti para prajurit serta jagabaya. Sekarang dia merasa terhina dengan tindak-tanduk orang yang semula dianggap sebagai badeganya. Betapa tak begitu. Pertama kali datang berpura-pura menjadi badega, merendah-rendah setengah menjilat. Dan kini, Ginggi begitu terang-terangan menentangnya, bertindak kasar dan tidak menghormatinya secuil pun, padahal Ki Bagus Seta merasa bahwa dirinya adalah pejabat tinggi. Barangkali ini penghinaan pertama baginya dan menyakitkan rasanya.

Itulah sebabnya Ginggi menduga, Ki Bagus Seta akan melakukan tindakan balas dendam atas perasaan terhinanya itu. Namun Ginggi tidak akan mengalah begitu saja. Dia pun sudah lama menahan kemarahan terhadap Ki Bagus Seta. Ki Bagus Seta memang benar murid Ki Darma. Barangkali pun dia benar telah berjuang melaksanakan amanat Ki Darma. Tapi pergerakan Ki Bagus Seta amat melampaui batas amanat. Dia terlalu melambung sehingga melupakan amanat yang paling mendasar dari Ki Darma bahwa semua anak muridnya harus berjuang membela kepentingan rakyat.

Sekarang yang disaksikan Ginggi, Ki Bagus Seta malah semena-mena membuat kebijaksanaan. Dalam menarik pajak tinggi pun sebenarnya Raja hanya mengeluarkan titah saja, sedangkan yang membuat rekaan dan rancangan adalah Ki Bagus Seta. Semua titah Raja yang terasa membebani rakyat semua keluar dari jalan pikiran Ki Bagus Seta belaka. Sekarang Ginggi menyadari baik Ki Banaspati mau pun Ki Bagus Seta sama-sama memiliki ambisi untuk mempunyai pengaruh kuat di Pajajaran. Ki Bagus Seta bergerak di dayo (ibukota) dan Ki Banaspati bergerak di wilayah-wilayah kekuasaan Pajajaran. Ginggi tak mau tahu, yang jelas, dia tak setuju dengan gerakan keduanya.

Marah, sesal, sedih dan entah apa lagi, semuanya menggayuti pikiran Ginggi. Dan begitu serangan pukulan hawa panas terasa begitu kuat menyerang dirinya, Ginggi pun segera menghimpun tenaga di bagian perutnya. Inti tenaga seperti bergulung-gulung di perut, secara serentak dia salurkan ke tubuh bagian atas. Urat-urat darahnya menegang dan berdenyut, mengalir keras menuju jaringan darah di sepanjang kedua tangannya, membuat otot-ototnya menegang keras. Dan begitu sambaran angin pukulan berhawa panas datang menerobos, Ginggi berteriak menggelegar seperti suara petir layaknya. Sepasang tangannya yang sudah terisi inti tenaga dia gerakkan mendorong dan menolak serangan terhadap tenaga Ki Bagus Seta.

Dua angin pukulan beradu keras. Karena ada dua tekanan udara saling berbenturan maka terdengar suara ledakan keras di ruangan disertai kilatan kepulan asap. Ginggi terlempar ke belakang membentur meja dan sebaliknya tubuh Ki Bagus Seta terlempar dan punggungnya membentur daun jendela. Kayu-kayu jendela berantakan dan tubuh Ki Bagus seta menerobos ke luar.

Ginggi segera bangun sambil menyeka darah yang sempat menetes ke luar dari mulutnya. Dia harus memapaki lagi satu serangan baru yang datang dari gerakan dorongan Ki Banaspati. Orang ini mengulangi serangannya yang tadi pernah ditepis Ginggi dengan jalan memunahkannya dengan angin pukulan dingin. Kedua orang ini berdiri dengan kaki terpentang lebar dan saling mendorongkan kedua belah tangan dengan telapak tangan terbuka lebar.

“Blaaar!”

Kembali dengan kilatan sinar disertai kepulan asap tebal. Untuk kedua kalinya tubuh Ginggi terlontar ke belakang. Namun tubuh Ki Banaspati pun sama terlontar dan punggungnya membentur dinding kayu jati. Dinding bergetar hebat dan ada bagian-bagian kayunya yang pecah-pecah.

Tubuh Ki Banaspati menggeliat-geliat sebentar, rupanya merasa kesakitan karena benturan tubuhnya barusan. Namun hanya sebentar dia sudah berdiri lagi. Kali ini langsung meloncat hendak memukul Ginggi yang masih terlentang. Ginggi sadar akan adanya serangan ini. Tapi matanya masih berkunang-kunang dan dadanya serasa akan pecah. Dengan susah payah dia bergerak untuk berdiri. Namun serangan pukulan telapak tangan miring dari Ki Banaspati sudah mencoba mencecar pelipis kirinya. Ginggi mencoba miringkan kepala ke kanan sedikit menunduk. Pukulan telapak tangan miring gagal menerobos sasaran tapi serangan itu seperti dilanjutkan menyusul ke kanan dan Ginggi kian miringkan kepalanya ke kanan. Sementara tangan kirinya mencoba membantu badannya untuk berdiri dan tangan kanannya coba untuk dilayangkan ke kiri. Tidak berbentuk kepalan, melainkan dua jari tengah dan telunjuk digabung membentuk capit gunting untuk digunakan menotok kerongkongan Ki Banaspati.

Rupanya Ki Banaspati sadar, serangan ini bila mengenai sasaran akan membuat bahaya besar. Kerongkongannya akan kaku tersumbat, atau sama sekali tertusuk dua jari bertenaga kuat itu. Maka satu-satunya jalan untuk menghindarinya adalah dengan jalan menarik tubuh ke belakang. Namun layangan tangan kanan ke arah kiri ini bisa terus nyelonong mengikuti gerakan mundur leher Ki Banaspati. Untuk memunahkan serangan ini, Ki Banaspati merebahkan tubuhnya, bersalto ke belakang sambil melakukan tendangan dahsyat.

Ginggi pun bersalto ke belakang dan tendangan Ki Banaspati bisa dia hindarkan. Sekarang keduanya sudah sama-sama berdiri dan saling pandang dan saling berhadapan. Sepasang mata sama-sama saling mecorong untuk mecoba mengintip kelemahan lawan.

Sambil mata tetap mencorong ke depan Ginggi memutar otak mencari gerakan-gerakan baru yang tidak dikenal Ki Banaspati. Sebab percuma saja menggunakan jurus-jurus pemberian Ki Darma dalam melawan Ki Banaspati. Jurus-jurus apa pun yang diberikan Ki Darma padanya, sudah tak akan berarti bila digunakan melawan teman seperguruan.

Ginggi teringat pelajaran-pelajaran yang diberikan Ki Rangga Guna beberapa bulan lalu. Ki Rangga Guna banyak memberikan ilmu-ilmu baru. Kata orang tua itu, itu adalah ilmu kedigjayaan yang didapatnya dari perantaun. Bukan ilmu Pajajaran dan tidak dikenal di wilayah Pajajaran. Kalau ilmu-ilmu itu dia praktekkan, benarkah Ki Banaspati tidak mengenalnya?

Berpikir sampai di situ, Ginggi segera memasang kuda-kuda. Dia mencoba berdiri dengan sebelah kaki kiri saja, berjingkat sehingga hanya ujung jempolnya saja yang menapak di lantai kayu. Sedangkan kaki kanan berjungkat setinggi lutut kiri. Kedua tangan berkembang lebar ke samping seperti burung garuda membuat kelepak sayap.

Ginggi melihat Ki Banaspati mengerutkan alisnya, sepertinya dia tengah menyelidik gerakan apakah itu. Atau barangkali juga dia tengah menerka, bagaimana kelanjutan gerakan asing ini.

Ginggi tetap berdiri kukuh dengan ujung jempol kaki kirinya. Begitu pun sepasang tangannya masih membentuk sayap burung garuda. Ki Banaspati bergerak satu langkah ke depan tapi Ginggi masih bersikap diam. Namun sebelum Ki Banaspati bergerak melakukan penyerangan, dari luar masuk segerombolan jagabaya dengan berbagai senjata di tangan, di belakangnya mengikuti Ki Bagus Seta.

Para jagabaya berteriak-teriak menyuruh Ginggi menyerah. Tiga orang di antaranya Ginggi hafal sebagai jagabaya yang melakukan penyiksaan pada dirinya tempo hari. Mereka kini bahkan paling berani menerobos masuk dan secara gegabah melakukan penyerangan dengan tangan kosong.

“Huh! Dasar monyet dungu, dia tidak kapok kita gebuki,” kata seorang bertubuh kekar bercambang bauk menakutkan.

Dia menghambur melayangkan pukulan. Tapi Ginggi sudah tidak berpura-pura seperti tempo hari. Begitu Si Cambang Bauk menghambur melayangkan pukulan dengan tangan berotot gempal dan kuat tapi pukulannya lamban dan lemah ini, maka dengan amat mudahnya pergelangan tangannya dia tangkap. Si Cambang Bauk berteriak kesakitan karena pegangan tangan yang dilakukan Ginggi disertai pengerahan tenaga. Si Cambang Bauk berusaha melepaskan tangannya, tapi tak bisa. Tangan kiri jagabaya tinggi besar ini segera melayangkan pukulan tangan kirinya tapi ditangkis Ginggi. Akibatnya orang ini menjerit ngeri karena tangannya beradu dengan tangan Ginggi.

Melihat temannya tak berdaya, tiga orang mencoba membantu. Ginggi hafal, inilah kedua temannya yang pernah menyiksa dirinya. Maka ingat ini, serta-merta Ginggi memelintir tangan Si Cambang Bauk ke belakang sehingga menjerit-jerit ngeri. Begitu badannya membalik, Ginggi segera mendorong Si Cambang Bauk sekeras mungkin. Tubuh besar itu menubruk dua temannya sehingga jatuh bertubrukan dan saling tindih sesamanya.

Yang lain ikut menyerang tapi hanya jadi santapan tangan Ginggi yang menggunakan pengerahan inti tenaga. Sebentar saja semuanya sudah berpelanting ke segala arah. Yang seorang malah hampir menubruk tubuh Ki Bagus Seta yang mengeluarkan sumpah-serapah karena kemarahan yang sangat.

“Berhentilah, tak baik sesama teman seperguruan saling bunuh!” teriak Ki Banaspati memperingatkan.

“Tidak akan saling bunuh, sebab aku yang akan bunuh kalian. Kalian berdosa besar terhadap Ki Darma!” teriak Ginggi sedikit terisak karena kesal dan sedih.

“Rangga Wisesa yang bersalah. Dia melaporkan Ki Darma pada Seribu Perwira Pengawal Raja. Akibatnya, Sang Prabu juga mengetahui di mana Ki Guru bersembunyi. Beliau memerintahkan kami untuk mengejar ke Puncak Cakrabuana. Tapi pelaksanaan penyerbuan aku tak ikut. Yang bergerak ke sana adalah sesepuh perwira kerajaan kendati semua itu adalah perintah Ki Bagus Seta!” kata Ki Banaspati menoleh.

Ginggi juga ikut menoleh pada Ki Bagus Seta. Orang ini tidak menampakkan perubahan mimik wajah. Ginggi marah sekali melihat perilaku mereka. Ingin dia menerjang kedua orang itu bila mengingat pengkhianatan keduanya terhadap Ki Darma. Tapi sementara itu para jagabaya saling pandang sesamanya, kemudian juga menatap Ki Bagus Seta dan Ki Banaspati bergantian.

“Juragan… Juragan Ki Bagus Seta adalah murid pemberontak Ki Darma?” gumam jagabaya bercambang bauk sambil mulut masih menyeringai kesakitan karena tangannya dipilin Ginggi.

“Juragan Bagus Seta murid pemberontak?” gumaman ini terdengar di sana-sini.

“Ya, benar… aku murid Ki Darma!” desis Ki Bagus Seta.

Dan belum habis ucapannya, dia meloncat ke sana kemari melakukan pukulan-pukulan telak terhadap para jagabaya yang jumlahnya mencapai belasan orang. Terdengar teriakan-teriakan kesakitan dan dalam waktu singkat para jagabaya yang sebetulnya anak buahnya sendiri terlontar kesana-kemari. Semuanya mendapatkan pukulan-pukulan telak yang mematikan karena selain dilakukan dengan pengerahan tenaga, juga mengarah pada bagian-bagian yang membahayakan nyawa. Ki Bagus Seta berdiri tegak di tengah ruangan, dikelilingi oleh tubuh-tubuh bergeletakan tak berdaya. Ginggi kaget sekali menyaksikan tindakan Ki Bagus Seta yang ganas tak berperikemanusiaan ini.

“Engkau membunuhi anak buahmu sendiri?” Tanya Ginggi dengan suara gemetar saking heran dan terkejutnya.

Ki Bagus Seta tidak menjawab sepatah pun. Sepasang matanya mencorong entah ke mana dan wajahnya Nampak pucat.

“Itulah salah satu pengorbanan dalam perjuangan,” Ki Banaspati yang berkata.

“Mengapa pengorbanan perjuangan seganas ini? Mereka adalah orang-orang tak berdosa dan tak tahu menahu!” kata Ginggi menoleh Ki Banaspati.

“Ya, betapa pedihnya kita berkorban. Kita harus membunuh orang yang tak berdosa, membunuh orang yang tidak tahu menahu persoalan kita, sebab kalau kita tak melakukan hal seperti tadi, kitalah yang akan menemui bahaya,” kata Ki Banaspati lagi.

“Tadi kau saksikan sendiri, sesudah mereka tahu juragannya adalah murid Ki Darma, serentak mereka memandang penuh curiga, padahal jauh sebelumnya, mereka hormat dan sopan pada Ki Bagus Seta. Ya, Ki Darma dikejar dan diburu serta dibenci orang Pakuan. semua orang yang punya kaitan dengan Ki Darma juga harus dibenci dan diburu. Betapa pahitnya nasib kita. Dan betapa beratnya pengorbanan kita. Agar perjuangan kita lancar, kita harus menutup rahasia itu rapat-rapat siapa diri kita. Dan agar rahasia itu tetap rapat, kita harus berlaku seolah-olah kita berdiri di fihak musuh. Jangan kau salahkan kebijaksanaan Ki Bagus Seta dalam menurunkan perintah agar Ki Darma diburu, sebab bila tidak begitu, Ki Bagus Seta akan dicurigai dan perjuangan akan gagal!” kata Ki Banaspati memberikan penjelasan.

Namun penjelasan ini tetap tak dimengerti Ginggi, sebab pada pikirnya, mengapa itu semua harus terjadi? Mengapa Ki darma harus diburu dan mengapa yang memerintahkannya harus Ki Bagus Seta?

“Perjuangan kalian membabi-buta. Ki Darmalah yang memberi perintah agar kalian berjuang. Tetapi mengapa Ki Darma pula yang kalian jadikan tumbal?” tanya Ginggi tak puas.

“Ki Guru bukan butuh keselamatan nyawa, melainkan butuh kebebasan. Ki Guru inginkan rakyat Pajajaran bebas dari tekanan Raja. Untuk kepentingan rakyat, dia tak akan menyembunyikan nyawanya. Semuanya akan dia abdikan!” kata Ki Banaspati. “Sebab yang penting,” lanjut Ki Banaspati lagi, “Bukan keselamatan dirinya yang Ki Guru pertahankan, tapi cita-citanya. Kematian Ki Guru akan berharga bila kita menjalankan dan menyukseskan cita-citanya,” katanya.

Ginggi termangu sebentar, namun akhirnya dia menggelengkan kepalanya. “Semua tidak aku mengerti, sebab yang namanya keberhasilan perjuangan harus kita rasakan juga. Aku tak mau mati dalam perjuangan. Keberhasilan sebuah perjuangan tapi sambil kehilangan nyawa, bukan keberhasilan namanya. Dan ini berlaku juga bagi Ki Darma. Beliau berhak hidup. Jadi kalau ada orang yang membunuhnya, dia harus bertanggung jawab!” kata Ginggi bertahan dengan pendapatnya.

Hening sejenak. Sementara itu di pekarangan terdengar orang-orang saling bertanya-tanya tentang peristiwa di ruangan tengah puri Bagus Seta.

“Tidak boleh ada perbedaan pendapat dalam melaksanakan perjuangan. Engkau boleh pilih sendiri, ikut kami atau mati sebagai pemberontak menurut tuduhan orang-orang Pakuan!” kata Ki Bagus Seta sesudah mendengar di luar mulai banyak jagabaya.

“Apa maksudmu?” tanya Ginggi menatap tajam.

“Di luar banyak jagabaya dan prajurit pilihan. Kalau kau tak mau bergabung dengan kami, maka dengan amat mudahnya aku tuduh kau penjahat pemberontak yang membunuhi anak buahku. Kau akan dikepung dan para perwira kerajaan akan kuundang untuk meringkusmu!” kata Ki Bagus Seta mengancam.

Rupanya ini bukan ancaman omong kosong belaka, sebab Ginggi berpikir, orang ini dengan amat mudahnya akan memutar-balikan keadaan. Dia bisa dituduh pembunuh dan para prajurit tak akan percaya pada Ginggi kalau dia balik menuding. Semua akan merasa sesuatu yang mustahil bila Ki Bagus Seta membunuhi anak buahnya sendiri. Ginggi mengerti ini. Tapi dia tak mau didikte orang lain. Apalagi dia sedikit pun tidak setuju dengan tindak-tanduk kedua orang murid Ki Darma yang sepertinya menghalalkan segala cara dalam melakukan kegiatan dan tujuannya. Sekali lagi Ginggi tak mau menjawab ketika Ki Bagus seta menyuruhnya untuk memilih sikap. Dan karena merasa bahwa Ginggi sikapnya tak bergeming, maka Ki Bagus Seta segera berteriak agar para jagabaya dan para prajurit memasuki ruangan tengah.

“Ada kejadian apakah Juragan?” tanya para jagabaya setelah berseru kaget karena di atas lantai bergelimpangan belasan jagabaya lainnya tak berdaya di sana.

Beberapa orang mencoba memeriksa tubuh-tubuh bergeletakan itu. Namun setelah tahu teman-temannya tak ada yang bernyawa, mereka berseru kaget bercampur marah.

“Juragan… Mengapa mereka mati sedemikian rupa?” tanya seorang jagabaya.

“Tangkap orang itu! Dialah pembunuhnya!” teriak Ki Bagus Seta menuding pada Ginggi.

Tanpa menunggu waktu, belasan jagabaya serentak menghambur menyerang Ginggi. Ki Bagus Seta berteriak pula agar yang lain memanggil prajurit-prajurit pilihan guna membantu pengepungan. Ginggi merasakan bahaya mengancam pada dirinya. Maka dia pun serentak mendahului lawan. Sepasang tangannya dia gerakkan, berputar-putar seperti baling-baling. Pedang dan tombak beterbangan karena lepas dari pemegangnya. Sedangkan yang merasa tak kuat akan benturan-benturan tangan Ginggi berteriak kesakitan.

Langkah mereka pun tertahan dan mundur satu dua tindak. Ginggi memaklumi, para jagabaya dalam satu gebrakan saja sudah merasa jerih kepadanya. Kesempatan ini Ginggi gunakan untuk meloncat ke luar ruangan melalui lubang jendela yang hancur. Namun di pekarangan sudah menghalangi belasan prajurit. Melihat seragam jenis rompi terbuat dari beludru hitam, rambut kepala digelung rapi ke atas serta berbekal perisai baja dan senjata pedang, mudah diduga mereka adalah prajurit istana yang sengaja diundang untuk menangkapnya.





OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

===============================




Air Terjun Victoria Afrika

No comments:

Post a Comment