Ads

Monday, November 15, 2021

Kidung Senja Jatuh di Pajajaran 015

Ginggi membuka matanya. Nampak Ki Rangga Wisesa sudah jatuh terduduk di sudut gua. Sebagian tubuhnya tertutup timbunan bebatuan yang rupanya runtuh dari langit-langit gua. Ginggi bisa menduga, serangan Ki Rangga Wisesa yang sedianya mengarah kepadanya segera ditangkis Ki Rangga Guna.

Ki Rangga Wisesa menggoyang tubuhnya, reruntuhan batu terlontar kesana-kemari. Dia segera bangun tapi dengan agak tertatih-tatih. Dia doyongkan tubuhnya ke depan. Dia tarik sepasang tangannya ke belakang. Lalu dengan kekuatan penuh dia dorong telapak tangan terbuka ke arah Ki Rangga Guna. Yang diserang segera memutar tangan kanannya sambil membuka jari-jarinya. Sambil tangan kiri tetap memegang pergelangan tangan Ginggi, dia mencoba menahan gempuran adik kembarnya.

“Blarrr !!!”

Dua pasang tangan saling beradu dan menimbulkan getaran hebat. Kilat menyambar-nyambar dari kedua pertemuan tenaga itu, membuat langit-langit gua kembali runtuh. Tubuh Ki Rangga Wisesa sendiri terlontar ke belakang dan untuk kesekian kalinya membentur dinding gua. Ketika Ki Rangga Wisesa berdiri sempoyongan, kali ini ada darah meleleh dari mulut dan hidungnya. Menetes-netes turun ke baju kurung putihnya di bagian dada.

“Sadarlah Ki Adi! Kau harus bertobat untuk mencuci dosamu!” kata Ki Rangga Guna yang juga mengeluarkan darah dari mulutnya.

“Aku tak mau bertobat. Aku hanya ingin mati saja! Aku ingin mati saja …” gumam Ki Rangga Wisesa.

Dia menyeringai. Mungkin merasakan sakit, mungkin juga menahan kemarahan dan kekesalan. Sambil tetap sempoyongan, Ki Rangga Wisesa terus mendekati dan berniat melakukan serangan. Sekali lagi dia menghantamkan sepasang tangannya. Udara panas memancar, ruangan gua seperti dipenuhi pijaran api.

Ginggi menjerit tak kuat karena panasnya ruangan. Udara terasa sesak dan mata pun terasa pedih. Ki Rangga Wisesa seperti putus asa serangannya selalu bisa ditahan. Akhirnya dia melolong-lolong dan menjerit histeris. Sesekali ada terdengar juga ringkik kudanya. Namun kali ini bukan ringkik penuh ejekan, melainkan lebih kedengaran sebagai suara tangisan. Dan tangan Ki Rangga Wisesa akhirnya memukul kesana-kemari.

Suaranya bersiutan. Ruangan gua bergetar hebat. Banyak bebatuan kembali runtuh. Beberapa batu menimpa tubuhnya. Namun dia seperti tak mengacuhkannya. Kedua tangannya terus saja melakukan pukulan jarak jauh yang melahirkan udara panas. Sekarang dari seluruh lubang-lubang tubuhnya mengeluarkan darah. Dari telinganya, hidungnya dan juga mulutnya. Ki Rangga Wisesa terus saja menggerak-gerakkan sepasang tangannya yang kini mengeluarkan bintik-bintik darah dari pori-pori kulitnya.

Langit-langit gua terus berguguran mengeluarkan suara hiruk-pikuk. Rupanya Ki Rangga Guna sadar akan bahaya. Dia segera mengapit tubuh Ginggi. Dibawanya meloncat keluar gua. Dan benar perkiraan Ki Rangga Guna. Begitu keluar dari mulut gua, terdengar gemuruh dahsyat. Rupanya semua dinding gua runtuh ke bawah, mengubur segala apa yang ada di dalamnya. Mulut gua itu sendiri akhirnya hilang dari pandangan, tertimbun oleh berbagai reruntuhan. Sudah tak ada ringkik suara kuda, kecuali runtuhan bebatuan kapur itu sendiri.

“Paman, di sana ada mayat gadis muda dan mayat seorang bayi,” gumam Ginggi.

“Ya, dan jangan lupa, di sana pun ada tubuh adikku. Dia jahat, tapi tetap saja dia manusia. Apalagi setelah kini menjadi mayat. Tak ada bedanya dengan mayat orang baik. Sama-sama hanya berupa onggokan tulang terbungkus daging dan kulit …” gumam Ki Rangga Guna sendu.

Ginggi menunduk lesu, duduk di tanah kapur tanpa daya. Sampai ada segaris cahaya putih di ufuk timur, mereka berdua masih berada di tepi bongkahan-bongkahan reruntuhan. Sunyi, sepi dan dingin oleh udara subuh. Ginggi masih terduduk lesu dan Ki Rangga Guna berdiri termangu sambil menatap bongkahan dan reruntuhan batu kapur. Begitu hingga matahari menampakkan wajahnya dari bukit sana.

Tapi, tewaskah Ki Rangga Wisesa? Tak pernah ada yang membuktikannya. Tidak pula Ginggi dan Ki Rangga Guna. Mereka hanya menduga-duga saja. Bahwa melihat gua runtuh begitu dahsyat, nasib Ki Rangga Wisesa mungkin tidak akan tertolong.

“Malam keduabelas perjalanan bulan keenam …” gumam Ginggi kembali mengingat-ingat ucapan Ki Rangga Wisesa.

Dia tengah melangkah lesu menuruni bukit kapur dan di belakangnya Ki Rangga Guna mengikuti. Ginggi menghentikan langkahnya karena dia terus mengingat-ingat ucapan Ki Rangga Wisesa.

“Ya, aku ingat sekarang …” gumamnya. “Aku turun dari puncak Cakrabuana hari kesebelas dari peredaran bulan keenam. Artinya, ketika aku tengah berada di Desa Cae-lah penyerbuan ke puncak Cakrabuana itu terjadi …” kata Ginggi seperti bicara seorang sendiri.

“Begitu, bila ucapan adikku bisa dipercaya,” kata Ki Rangga Guna.

“Aku yakin, peristiwa itu benar …”

“Dari mana kau tahu?”

“Aku yang seharusnya bertanya seperti itu. Dari mana Ki Darma tahu akan ada peristiwa di puncak Cakrabuana? Secara tiba-tiba, hari itu dia memanggilku. Aku disuruhnya turun gunung hari itu juga. Aku dipaksa berlatih ilmu berkelahi hampir sepuluh tahun lebih. Dan memang kerap kali Ki Darma mengatakan, aku disuruh latihan keras karena kelak akan dibebani tugas membela rakyat Pajajaran. Aku sadar akan hal itu. Tapi yang membuat heran, mengapa begitu secara tiba-tiba seperti itu? Waktu itu aku minta diulur sampai esok harinya, sebab aku tak mau berpisah secara tiba-tiba dengannya. Tapi tetap Ki Darma bersikeras, aku harus pergi hari itu juga. Aku diusir pergi karena barangkali dia tahu, esok harinya akan terjadi sesuatu. Tapi, mengapa dia tahu suatu peristiwa akan terjadi?” kata Ginggi dengan wajah bingung dan sedih. Langkah Ginggi berhenti sejenak untuk kembali mengingat suatu.

“Hari itu aku melihat serombongan orang tergopoh-gopoh menuju puncak. Tidakkah mereka adalah anggota pasukan dari Pakuan seperti yang disebutkan Ki Rangga Wisesa?” gumam Ginggi mengerutkan dahi.

Ki Rangga Guna terdengar menghela nafas dalam-dalam. Sesudah itu dia duduk di sebuah tonjolan batu.

“Kalau begitu, aku pun percaya. Peristiwa penyerbuan itu benar terjadi,” kata Ki Rangga Guna mengangguk-angguk.

Ginggi menoleh kepada Ki Rangga Guna dengan kekhawatiran yang semakin memuncak.



“Ki Guru itu orang pandai. Nalurinya kuat untuk meraba kejadian yang bakal terjadi. Dia sudah bekerja di Pakuan sejak kepemimpinan Sang Prabu Surawisesa, bahkan ketika Kangjeng Prabu Sri Baduga. Dia salah satu perwira tangguh dari seribu orang perwira pengawal raja. Beberapa pertempuran suka dimenangkan Pakuan, atau ibukota bias lolos dari serbuan musuh, karena sebelumnya naluri Ki Guru telah sanggup merasakan adanya marabahaya. Tapi karena kepandaian ini pula Ki Guru menghadapi bencana…” kata Ki Rangga Guna, menghela nafas beberapa kali.

“Ki Darma seorang perwira kerajaan?” tanya Ginggi mengerutkan dahi.

“Ya, tidakkah dia mengatakannya padamu?”

Ginggi menggelengkan kepala. Kata pemuda ini, bahwa Ki Darma bukan orang sembarangan, hanya didapatnya melalui cerita pantun. Itu pun menyangkut hal-hal buruk.

“Selama bersamaku, tidak secuil pun dia mengatakan siapa sebenarnya dia. Yang aku tahu, dia hanyalah seorang tua yang cepat marah tapi terkesan juga sebagai orang yang kecewa terhadap sesuatu. Dia kerap kali mengeluh terhadap situasi negara dan aku disuruhnya ikut memikirkan hal itu. Aku disuruh mencari keempat muridnya agar aku bias bergabung dan minta nasihat apa-apa yang harus aku kerjakan. Tapi kenyataannya …” Ginggi menghentikan perkataannya sebab dia teringat peristiwa tadi malam.

Ki Rangga Guna terlihat wajahnya kuyu dan Nampak memendam kesedihan amat dalam. Barangkali dia terpukul oleh peristiwa tadi malam. Saudara kembarnya terkurung oleh reruntuhan gua. Mungkin Ki Rangga Wisesa tela mati karena reruntuhan itu.

“Ki Guru dulu benar seorang perwira kerajaan yang tangguh. Namanya dikenal sebagai Ki Darma Tunggara. Pandai menguasai ilmu pertempuran. Dia seorang akhli siasat perang. Duabelas ilmu siasat perang yaitu makarabihwa, lisang-bihwa, cakra-bihwa, suci-muka, bajra-panjara, asu-maliput, merak-simpir, gagak-sangkur, luwak-maturun, kidang-sumeka, babah-buhaya dan ngaliga-manik, dia kuasai dengan sempurna. Semua orang memerlukannya. Tapi Ki Darma dikenal memiliki satu penyakit menurut anggapan para bangsawan. Ki Darma selalu bicara apa adanya. Kalau baik dibilang baik dan kalau jelek dibilang jelek. Terhadap kaum bangsawan dan raja, Ki Guru Darma kerap kali melontarkan kritik. Beberapa orang menganggap kritik Ki Guru Darma itu sebagai panca-parisuda (lima obat penawar), yaitu sebagai alat untuk menghilangkan segala kekurangan yang melekat di tubuh seseorang. Tapi kebanyakan lainnya beranggapan bahwa bila kritik itu dilontarkan terhadap raja maka itu berarti penghinaan. Kata orang, sejak zamannya Sang Prabu Surawisesa, Ki Guru suka mengeritik. Kepada Sang Prabu Surawisesa, dikatakannya sebagai pipit mencari padi. Pipit tak akan berhenti mematuk sebelum padi di huma habis dipatuknya. Itu dimaksudkan sebagai tudingan kepada sang Prabu Surawisesa yang gemar berperang. Sebelum musuh dibabat habis tak nanti perang diselesaikan. Ketika pemerintahan beralih kepada Sang Prabu Ratu Dewata, dikatakannya sebagai zaman wiku tertidur di tengah ribuan cicit suara tikus kelaparan. Bila sang wiku tengah bertapa, bisa saja mengacuhkan situasi sekeliling karena pikiran terpusat dalam tapa. Tapi yang ini, hanya berupa tindakan diamnya seorang wiku karena lagi tidur. Ribuan tikus mencicit karena lapar adalah bahaya, sebab bisa-bisa mengeroyok dan memakan orang yang lagi tidur. Begitulah memang ketika Pakuan diperintah Sang Prabu Ratu Dewata. Di saat Pakuan dikelilingi musuh-musuh, Sang Ratu Dewata malah lebih menitik beratkan mengurus kehidupan agama dan keyakinan. Sang Ratu Dewata kerap kali mengurung diri di kuil karena melakukan tapabrata. Padahal menurut Ki Guru Drama, tapanya seorang raja adalah berjuang mengurus negri …” kata Ki Rangga Guna menceritakan kisah Ki Darma.

Ginggi hanya termangu-mangu, duduk di samping Ki Rangga Guna.

“Ki Guru Darma selama jadi perwira hampir-hampir dianggap duri dalam daging. Banyak kalangan bangsawan tak menyukainya karena Ki Darma blak-blakan mengoreksi mereka yang keliru. Bahkan kepada pejabat yang kerjanya mempermainkan kekayaan negara, Ki Guru selalu membencinya. Itulah sebabnya, walau pun tenaga Ki Guru terus dimanfaatkan, tapi kedudukannya tak pernah beranjak naik. Tak pernah ada orang mengusulkan agar dia menjadi mangkubumi misalnya. Padahal Ki Darma sudah lebih dari cukup untuk memegang jabatan seperti itu. Atau kalau benar Ki Guru Darma tetap diperlukan di keprajuritan, mengapa selama ini tak pernah dipercaya sebagai kepala perwira, padahal Ki Guru Darmalah yang paling tua dan paling luas pengalamannya. Beruntung sekali Ki Guru Darma tidak penuh ambisi. Menurutnya, puluhan tahun menjadi bagian dari seribu perwira pengawal raja, puluhan kali pula terlibat pertempuran besar, tidak secuil pun mengharap jasa. Ki Guru katakan, dia bukan mengabdi kepada pangkat atau pun harta, tidak pula mengabdi kepada seorang raja. Kalau pun benar disebut mengabdi, maka dia mengabdi kepada kerajaan, kepada Pajajaran,” kata lagi Ki Rangga Guna.

“Aku mengerti, mengapa Ki Darma tak disukai di pemerintahan. Itu karena dia memberi kasih sayang terhadap negri tidak melulu karena pujian atau jilatan kata-kata muluk. Namun hal-hal seperti itu tidak membuat terusir pergi dari jajaran seribu perwira pengawal raja. Hanya saja mengapa Ki Rangga Wisesa mengabarkan Ki Darma diburu dan dikejar oleh perwira kerajaan bahkan oleh pasukan Cirebon dan masing-masing menganggap Ki Darma sebagai musuh besarnya?” tanya Ginggi heran.

Ditanya seperti itu, kembali Ki Ranga Guna menghela nafas. Dia menunduk sejenak dan memijit-mijit jidatnya.

“Yah, akhirnya memang Ki Guru Darma dimusuhi oleh dua kekuatan besar. Sudah jelas bila Pasukan Banten, Cirebon bahkan Demak menganggap Ki Guru sebagai musuh besar, sebab beberapa kali penyerangan mereka ke Pakuan bisa ditepis. Dan itu kesemuanya karena taktik dan siasat perang yang dibangun Ki Guru,” kata Ki Rangga Guna.

“Tapi, mengapa akhirnya Ki Darma dimusuhi oleh satu kekuatan besar lainnya yang padahal telah dengan susah payah dia bela dan dia pertahankan? Mengapa Ki Darma yang begitu berjasa malah dikejar-kejar?” Ginggi penasaran dan memotong ucapan Ki Rangga Guna secara tak sabar.

“Yah, itulah. Ki Guru Darma akhirnya menjadi korban pendiriannya sendiri …” gumam Ki Rangga Guna.

Ginggi ingin mendapatkan penerangan lebih jelas. Untuk itu dia meminta Ki Rangga Guna membeberkan kembali dengan sejelas-jelasnya. Ki Rangga Guna akhirnya meriwayatkan perihal apa sebabnya Ki Darma menjadi buronan.

“Ki Darma Tunggara sejak muda belia telah mengabdikan ke Pakuan sebagai prajurit. Jadi sudah barang tentu pembelaan dirinya terhadap negara melalui upaya menjaga keberadaan negara dari gangguan musuh. Yang dimaksud bekerja untuk negara bagi Ki Darma adalah mempetaruhkan badan dan nyawa dalam setiap peperangan. Namun kendati begitu, Ki Darma bukanlah perwira yang gila perang. Kejayaan negri menurut Ki Darma adalah bagaikan harimau. Sifat harimau menurut Ki Darma tidak serakah. Dia hanya makan selagi lapar. Kalau tak lapar dia tak makan dan tak membunuh mangsa. Harimau pantang berkelahi. Dia akan selalu menghindari lawan. Tapi kalau harimau diganggu, maka dia pantang untuk menyerah.

“Ki Darma selama jadi perwira sudah kenyang berdiri di medan pertempuran. Ketika masih prajurit, di bawah kepemimpinan sang Prabu Sri Baduga, Ki Darma ikut pertempuran-pertempuran kecil melawan Cirebon. Ketika Pakuan dipimpin Sang Prabu Surawisesa, Ki Darma bahkan lebih matang lagi meraup pengalaman bertempur. Selama Sang Prabu Surawisesa memerintah hamper empatbelas tahun lamanya, terjadi limabelas kali pertempuran besar melawan Banten dan Cirebon. Ki Darma di sini mulai lelah bertempur dan berani mengeritik raja. Menurut Ki Darma, sebaiknya kita bertempur ketika kita diserang saja. Lengkapnya pasukan dan utuhnya sikap-sikap pemberani menurut Ki Darma lebih baik digunakan untuk membela diri belaka. Tapi menurut kebanyakan perwira dan juga raja, kebesaran negri juga tercipta bila sanggup menepiskan berbagai kendala. Menurut raja, ketika Pajajaran belum diserang oleh Banten dan Cirebon, Negara ini kuat di lautan. Ketika pelabuhan Kalapa (Sunda Kelapa) belum direbut Banten dan Cirebon, Pajajaran melakukan komunikasi dagang dengan bangsa asing melalui Kalapa. Namun sesudah pelabuhan besar itu dikuasai Banten dan Cirebon, tertutuplah hubungan ekonomi dengan Negara-negara seberang lautan. Hal ini amat berpengaruh terhadap perekonomian dalam negri. Itulah sebabnya, Pasukan Pajajaran beberapa kali sempat mencoba merebut Pelabuhan Kalapa. Namun sejauh itu tak pernah berhasil,” tutur Ki Rangga Guna.

Menurut Ki Rangga Guna, “Ki Darma memang selalu melontarkan kritik. Tapi kendati begitu, dia tetap berlaku sebagai prajurit sejati yang taat kepada perintah. Ki Darma selalu berupaya melumpuhkan kekuatan musuh dengan cara membentuk pasukan kecil yang diambil dari perwira-perwira pilihan. Mereka secara rahasia kerap kali mengganggu pusat-pusat kekuatan musuh. Ketika pemerintahan berpindah dari Sang Prbu Surawisesa kepada Sang Prabu Ratu Dewata, sikap raja ini amat kebalikan dengan yang lama. Bila Sang Prabu Surawisesa bisa dikatakan gemar berperang, adalah Sang Prabu Ratu Dewata yang memiliki kegemaran mengurung diri di kuil bersama wiku-wiku istana. Melihat kenyataan ini, Ki Darma pun tetap tak puas dan tetap melakukan kritik. Dikatakannya, Raja selalu lemah memimpin negara, padahal bahaya serbuan musuh tetap mengancam. Dan terbukti ada penyerbuan besar-besaran ke pusat pemerintah, dilakukan oleh pasukan Banten. Perang besar terjadi di alun-alun benteng luar. Hanya karena kegagahan seribu perwira pengawal raja saja istana tak berhasil ditembus. Istana raja, Kedaton Sri Bima Untarayana Madura Suradipati selamat dari serangan musuh tapi ratusan perwira pilihan menjadi tumbal negara. Ki Darma Tunggara yang lolos dari maut, tidak mendapatkan penghargaan yang layak atas jerih payahnya mempertahankan istana. Dia malah dicurigai oleh kalangan pejabat sebagai penghianat. “

“Mengapa dituduh penghianat?” tanya Ginggi heran.

“Itulah karena kepandaian Ki Guru Darma meramal kejadian yang bakal berlangsung,” kata Ki Rangga Guna.

Mulanya pejabat istana ragu akan kepandaian Ki Darma ini. Ketika naluri Ki Darma mengatakan bakal adanya bahaya, hampir semua orang tak percaya. Beberapa pejabat mengatakan, Ki Darma hanya mengada-ada sebab benaknya selalu dirasuki hawa peperangan. Sebagian lagi mengatakan mustahil ada penyerangan musuh ke pedalaman. Selama berpuluh-puluh tahun, musuh memang tak pernah melakukan penyerbuan langsung ke pusat istana. Pasukan Pakuan memang kerap kali gagal melakukan serangan ke pesisir utara karena pasukan musuh di pantai memiliki senjata api bernama meriam. Namun juga sebaliknya, pasukan musuh tak berani mengejar sampai ke pedalaman sebab Pasukan Pakuan lebih berpengalaman melakukan pertempuran di wilayahnya sendiri.

Namun hari itu kenyataan membuktikan lain. Pasukan Banten ternyata berani menyerbu langsung ke pusat pemerintahan dan hampir-hampir berhasil merebut pusat pemerintahan Pakuan itu. Ki Darma tetap tak dipercaya memiliki naluri untuk meramal kejadian yang besifat marabahaya. Dia dituduh sebagai perwira yang gila perang dan kesal melihat raja yang kerjanya mengurung diri di tempat suci. Maka saking inginnya dipercaya bahwa negara selalu ada dalam bahaya perang, Ki Darma dituduh sengaja “mengundang” musuh agar segera terjadi pertempuran.

“Tentu saja ini amat kebalikan dengan kejadian sebelumnya. Kalau di zaman Sang Prabu Surawisesa Ki Darma dituding menolak perang, maka ketika di zaman Sang Prabu Ratu Dewata, malah dituduh perwira yang gila perang!” kata Ki Rangga Guna.

“Benar-benar keliru …” gumam Ginggi kesal.

“Tiga tahun sebelum Sang Prabu Ratu Dewata diganti oleh putranya Sang Ratu Sakti, Ki Darma mengundurkan diri dari semua kegiatan di Pakuan. Dia melakukan pengembaraan ke mana saja dan ketika itulah Ki Darma mengambil murid sampai empat orang, kendati antara yang satu dengan yang lainnya memiliki masa yang berbeda. Satu dengan lainnya tak pernah saling kenal, kecuali aku dan adikku saja,” kata Ki Rangga Guna. “Dua murid terdahulu sudah berpisah dengan Ki Darma lima tahun ketika aku dan adikku Rangga Wisesa diambil murid oleh Ki Guru,” tuturnya.

“Dan sesudah Ki Darma melepas kalian tiga atau empat tahun baru Ki Darma membawaku ke Puncak Cakrabuana,” kata Ginggi menjelaskan.

Ki Rangga Guna melengkapi ceritanya. Ternyata katanya, sesudah Ki Darma melepaskan masalah kenegaraan, urusan bukan bertambah ringan. Marabahaya bahkan datang lebih mengancam. Ketika masih berada di istana, bahaya seberat apa pun masih bisa ditanggulangi bersama para perwira lain. Tapi sesudah Ki Darma menjadi orang “sipil”, sudah tak ada lagi kawalan kekuatan lain di luar dirinya. Pasukan musuh tahu betul, Ki Darma perwira tangguh yang banyak merugikan musuh karena siasat perangnya. Sekarang sesudah Ki Darma tak memiliki pasukan, fihak musuh seperti berupaya untuk membalas dendam. Ki Darma dikejar-kejar tentara musuh bila pengembaraannya tiba di wilayah utara. Semua perwira musuh bahkan seperti berlomba untuk menangkapnya.

“Aku sendiri mengalaminya. Ketika tengah bersama Ki Guru melakukan perjalanan di wilayah Caringin, kami dikepung Pasukan Cirebon. Ki Darma banyak melakukan pembunuhan terhadap prajurit musuh. Hanya anehnya, fihak Cirebon seperti tak berniat mengambil nyawa Ki Guru. Sepertinya mereka hanya ingin menangkap saja. Kalau tujuan mereka mengepung Ki Darma untuk membunuhnya, hari itu tak mungkin kami berdua bisa lolos dari kepungan …” kata Ki Rangga Guna bicara dengan nada heran.

“Tidakkah mereka akan memanfaatkan tenaga Ki Darma? Bukankah Ki Darma dikenal musuh sebagai akhli siasat perang?” tanya Ginggi.

Ki Rangga Guna termenung sebentar tapi kemudian mengangguk-angguk. ”Bisa juga begitu …” ucapnya pelan.

“Jika begitu, barangkali Ki Darma tidak dianggap musuh besar bagi Pasukan Cirebon!” kata Ginggi.

Ki Rangga Guna terdiam. “Entahlah, aku tak bisa meraba-raba maksud sebenarnya dari fihak musuh. Yang jelas, setiap kami bertemu dengan fihak musuh, selama itu pula kami dikejar dan dikepung. Aku dan Ki Guru dalam upaya membuka kepungan terpaksa harus melakukan pembunuhan. Nah, kalau ternyata kami selalu membunuh, apakah mereka tetap akan menarik Ki Guru sebagai sekutunya?” tanya Ki Rangga Guna.

Ginggi tak bisa memberikan komentarnya.

“Yang jelas, hidup Ki Darma semakin sulit sesudah dia berhenti dan mengundurkan diri dari istana. Pihak yang ditinggalkan seperti merasa tak senang, bahkan lebih dari itu mereka seperti merasa dikhianati.”

“Puncak marabahaya bagi Ki Guru Darma ketika pucuk pemerintahan di Pakuan dipegang oleh Sang Prabu Ratu Sakti yang kini memerintah. Sang Prabu Ratu Sakti bahkan lebih keras dari raja-raja sebelumnya. Pakuan langsung mengumumkan bahwa Ki Guru Darma itu seorang penghianat yang berbahaya bagi negara. Barang siapa menemukannya mati atau hidup akan diberi hadiah,” kata Ki Rangga Guna.

“Melihat bahaya seperti ini, Ki Guru Darma menyuruh kami berpencar saja dan jangan sekali-kali mengaku sebagai murid Ki Darma. Ki Guru Darma nampak agak kecewa dengan kepemimpinan raja yang sekarang. Bukan karena Sang Prabu Ratu Sakti berniat akan membunuhnya, tapi yang mengecewakan Ki Guru, karena raja yang sekarang bertindak keras terhadap rakyat. Barangsiapa ketahuan tak mentaati kebijaksanaannya, mereka akan ditindak. Itulah sebabnya, di beberapa daerah timbul pemberontakan.,” kata Ki Rangga Guna.

Ginggi menunduk mendengar ucapan Ki Rangga Guna. “Aku memang bukan muidnya, Paman …” gumam Ginggi.

Ki Rangga Guna pun menghela nafas. “Entah apa sebabnya Ki Guru Darma tidak mengangkat atau mengakuimu sebagai muridnya yang syah. Tapi apa pun yang terjadi, kenyataannya Ki Guru memberikan berbagai ilmu kepandaian kepadamu. Berarti kau harus mengakuinya sebagai guru, anak muda,” kata Ki Rangga Guna.

Ginggi mengangguk tanda setuju. “Barangkali hatiku pun sudah mengakuinya, Paman. Kalau tak begitu tak nanti aku mau melaksanakan amanatnya,” kata Ginggi.

Ki Rangga Guna menoleh.

“Aku harus mencari keempat muridnya dan aku harus mengikuti petunjuk para muridnya dalam upaya membela rakyat Pajajaran dari tekanan raja,” kata Ginggi menatap Ki Rangga Guna.

Yang ditatap hanya termenung lesu.

“Sekarang aku sudah bertemu denganmu. Mungkin kau tahu, apa yang harus aku lakukan seperti kehendak Guru,” kata Ginggi.

Ki Rangga Guna masih nampak diam, sehingga Ginggi perlu berkata sekali lagi.

“Entahlah anak muda. Aku sendiri pun bingung memikirkannya,” kata Ki Rangga Guna pada akhirnya, sehingga membuat heran Ginggi.

Ki Rangga Guna bangun dari duduknya. Dia berdiri berpangku tangan. Matanya memandang ke pedataran di bawah bukit. Pedataran itu amat luas. Beberapa terdiri dari rawa-rawa, beberapa bagian lagi hanya berupa semak dan tumbuhan perdu. Ada sekelompok burung bangau terbang di atas rawa. Sesekali mereka menukik menusuk permukaan air rawa dan terbang lagi sesudah paruhnya mengapit ikan kecil.

“Sebelum aku dilepas, Ki Guru memang memberikan amanat serupa. Tapi kau lihatlah, bagaimana kesanmu melihat adikku Ki Rangga Wisesa? Membuatku malu saja,” gumamnya sedih. Dia pandang lagi bongkahan-bongkahan reruntuhan gua kapur. Ki Rangga Wisesa ada di sana, mungkin terkubur untuk selama-lamanya.

“Aku juga amat menyesalkan kejadian ini, Paman. Tapi, mengapa hal ini bisa sampai terjadi?” tanya Ginggi.

“Adik kembarku tersiksa oleh perasaan iri dan sakit hati. Kami berdua dulu adalah rakyat Kerajaan Talaga. Ketika telaga diperangi Cirebon, keluargaku termasuk orang Talaga yang menolak masuk keyakinan baru. Maka terjadi peperangan dan kami ada di pihak yang kalah. Kami dua saudara kembar melarikan diri dan akhirnya diambil murid oleh Ki Guru Darma. Namun selama Ki Guru memberi pelajaran, dia mendapatkan perbedaan sikap pada kami berdua. Entah perangai apa yang terdapat pada adikku. Yang jelas, Ki Guru nampaknya lebih mempercayaiku ketimbang adikku. Bila ada sesuatu yang harus dirundingkan, maka Ki Guru merundingkannya denganku. Bila Ki Guru memerintahkan sesuatu yang dianggap penting, maka hanya akulah yang ditugaskan. Dan secara diam-diam, Ki Guru memberikan ilmu yang tak diberikan kepada adikku. Aku heran dan tak enak dengan perlakuan ini. Maka aku tanyakan kepada Ki Guru, tapi dia hanya berkata bahwa kelak pun aku akan tahu. Secara diam-diam, ilmu yang didapat dari Ki Guru aku sampaikan dan latihkan kepada adikku. Tapi adikku bukannya berterima kasih, tapi malah memendam kemarahan. Sampai pada suatu saat kami berpisah, rasa sakit adikku tak terobati lagi,” kata Ki Rangga Guna.

“Dan rasa sakit hati ini dia lampiaskan dengan melakukan serangkaian kejahatan. Mencuri mayat bayi dan memperkosa wanita,” kata Ginggi.

Ki Rangga Guna menundukkan muka. “Barangkali mencuri mayat bayi dan memperkosa gadis bukan maksudnya berbuat kejahatan,” kata Ki Rangga Guna.

Ginggi mengerutkan dahi.

“Ya, itu pengakuan adikku. Dia melakukan itu karena keperluan tertentu. Kerapkali dia memperkosa gadis, bukan karena dia gila perempuan, tapi karena ingin menyempurnakan ilmu sihir yang tengah dia pelajari. Begitu pun halnya dengan pencurian mayat bayi. Semua dilakukan bagi penyempurnaan ilmu sesatnya itu,” kata Ki Rangga Guna. “Kesalahannya memang terletak padaku dan Ki Guru. Kami telah membuat dia sakit hati. Dan agar dia memiliki kepandaian yang sekiranya bisa mengalahkan aku, dia kerjakan cara apa saja, termasuk mempelajari ilmu sesat,” ungkapnya.

“Ya, Ki Rangga Wisesa ingin membalas dendam padamu, Paman. Terbukti, selama ini dia pergunakan namamu dalam melakukan kejahatannya sehingga semua orang mengejarmu,” kata Ginggi.

Ki Rangga Guna mengangguk-angguk mengiyakan.

“Tapi kalau benar engkau tak bersalah, mengapa setiap kau dikejar dan dikeroyok kau tak pernah menerangkan hal yang sebenarnya?”

“Percuma, sebab persamaan wajah kami menyulitkan sanggahanku. Semua orang tak mau percaya bila aku memungkirinya. Maka tak ada jalan lain selain aku menangkap adikku sendiri. Sekarang adikku sudah mati dan tak akan berbuat kejahatan lagi. Tapi kedudukanku tetap tak berubah, namaku tetap jelek. Dengan kematian adikku, aku semakin tak mungkin membuktikan bahwa diriku tak bersalah,” kata Ki Rangga Guna.

“Aku menyesal dengan kematian adikku. Seharusnya dia tak perlu mati. Orang berlaku jahat bukan karena badannya, tapi karena pikirannya yang sedang sakit. Jadi untuk memberantas kejahatan, sebetulnya bukan membunuh orangnya tapi mengobati jiwanya itu,” kata Ki Rangga Guna mengeluh.





OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

===============================




Air Terjun Victoria Afrika

No comments:

Post a Comment