Ads

Sunday, November 14, 2021

Kidung Senja Jatuh di Pajajaran 013

“OH, barangkali engkau masih beragama lama, anak muda. Jum’at adalah nama salah sebuah hari dari hitungan minggu. Kalian menyebutnya sebagai hari Sukra, Hitungan hari dalam seminggu buat kalian mungkin Soma untuk hari kesatu dan kami menyebutnya Senin. Anggara untuk hari kedua dan kami menyebutnya sebagai Selasa. Buda untuk hari ketiga dan kami menyebutnya sebagai Rabu. Respati, Sukra, Sanaiscara dan Aditya, kami menyebutnya sebagai Kamis, Jum’at, Sabtu dan Ahad, anak muda,” kata pemilik rumah sambil menyulut rokok kelobot, yaitu tembakau yang dilinting oleh kulit jagung.

“Sebetulnya ada kepercayaan penduduk, bayi yang mati di malam Jum’at harus diwaspadai sebab kadang-kadang timbul gangguan. Kami berniat menjaga kuburan bayi itu sampai habis hitungan malam Jum’at. Tapi bapak kepala dusun tidak percaya akan kepercayaan yang ada sejak lama ini. Dan akibatnya.…”

“Dan akibatnya bagaimana, Paman?” Ginggi tak sabar menanti kelanjutan cerita pemilik rumah ini.

Pemilik rumah yang giginya sudah hitam karena terlalu banyak merokok ini batuk-batuk sejenak karena asap rokoknya. Dia letakkan rokok kelobotnya dan meraih cangkir tanah liat. Lelaki tua berkulit kering ini segera meneguk air putih di cangkir itu.

“Mayat bayi itu hilang karena kuburannya dibongkar orang!” cetus orang itu.

“Dibongkar orang?” Ginggi kaget mendengarnya sampai matanya yang bundar semakin bulat karena terbelalak. “Kau yakin kuburan itu dibongkar orang?’ tanya Ginggi.

“Di kampung kami kadang-kadang terdapat binatang aul yaitu sebangsa anjing tapi wajahnya seperti kera. Kadang-kadang ada terdengar binatang itu mencakar-cakar kuburan. Tapi kuburan bayi yang dibongkar itu jelas tindakan manusia. Tak ada cakaran, kecuali cungkilan sebuah alat. Lagi pula kalau dilakukan oleh binatang, mengapa meski selalu malam Jum’at?”

Ginggi menggesek-gesekkan telunjuknya ke ujung hidungnya sendiri. Matanya menerawang ke langit-langit atap rumbia.

“Untuk keperluan apa orang menggali kuburan bayi?” gumam Ginggi masih menggesek-gesekan hidung dengan telunjuknya.

“Banyak keperluannya, anak muda. Orang jahat yang ingin memiliki sihir selalu menggunakan mayat bayi sebagai persyaratan mendalami ilmu hitam tersebut. Orang-orang daerah timur percaya akan adanya mujizat dari makhluk aneh bernama kemamang, Makhluk itu berupa kendi yang bisa terbang, diperintahkan majikannya untuk mencuri kekayaan orang lain, atau disuruh membunuh atau mencederai musuh majikannya,” kata pemilik rumah sambil melinting kembali rokok kelobotnya, padahal rokok yang lama baru habis setengahnya.

“Aneh, masa ada kendi bisa terbang sendiri?” potong Ginggi sambil terkekeh lucu.

“Bukan sembarang kendi, sebab benda itu sudah diisi mayat bayi yang sudah dikeringkan. Mayat bayi itu dicuri dari kuburnya. Selama empatpuluh hari empatpuluh malam diganggang di atas perapian. Kian lama tubuh bayi itu kian kerempeng dan mengering bagaikan dendeng. Selama proses pengeringan itu, ada tetesan minyak keluar dari tubuh mayat bayi itu. Oleh penjahat yang sedang mendalami ilmu hitam, tetesan minyak itu ditadah dan diserap dengan kapas. Kapas yang sudah berisi minyak itu disimpan di buli-buli kecil. Dia amat berguna untuk kejahatan lainnya. Sedangkan mayat bayi yang sudah kering mengecil itu dia masukkan ke dalam kendi.”

“Jahat sekali …” gumam Ginggi.

“Memang jahat dan biadab. Makanya kami semua marah melihat kejadian ini,” kata lelaki tua ini.

“Lalu bagaimana tindakan kalian?”

Ditanya demikian lelaki yang bertelanjang dada karena udara panasnya ini hanya tercenung. “Bagaimana, ya? Habis, kami sendiri pun sebetulnya bingung, siapa yang melakukan kebiadaban ini,” keluhnya sambil menghela nafas.

“Apakah sudah kalian coba untuk diselidiki?”

“Ya, sudah tapi kami tak bisa menemukan jejaknya, apalagi pelakunya …”

“Sayang, ya …”

“Ya, memang sayang. Dan ini membuat kami selalu penasaran,” kata lelaki tua ini.

Ginggi menguap beberapa kali. Rupanya tuan rumah tahu Ginggi menderita kelelahan karena habis melakukan perjalanan jauh. Ginggi dipersilakan tidur apa adanya, sebab memang rumah yang dia tumpangi amat sederhana. Ginggi pun tidur. Dan serasa belum pulas benar, ketika di halaman rumah terdengar orang berbicara. Ginggi diam-diam menyimak pembicaraan itu. Tapi ternyata hanya sesuatu yang tak begitu penting. Ada seorang pengelana seperti dirinya yang rupanya kemalaman dan minta izin kepada tugur (ronda) untuk numpang tidur di dusun ini.

“Nanti akan kami carikan penduduk yang memiliki balai-balai cukup. Maklumlah Paman, ini dusun kecil dan tak ada rumah besar di sini. Tapi kalau boleh kami bertanya, siapakah Paman ini dan mau pergi ke mana sampai malam-malam terdampar di dusun ini?” tanya tugur kepada pengembara kemalaman itu.

“Namaku Rangga Guna, sobat!” kata suara pengembara itu.

Ginggi serentak bangun karena kaget mendengar nama itu. Sambil dada berdebar keras dia turun dari pembaringan dan membuka pintu. Halaman rumah itu cukup luas dan agak gelap. Ada dua orang tugur, satu membawa obor, satunya lagi berbekal tongtong. Keduanya tengah berhadapan dengan lelaki setengah baya bertubuh cukup tinggi dan berwajah bulat. Dan yang lebih khas dari itu, hidungnya melengkung seperti patuk burung beo serta sepasang matanya sipit. Ini Nampak nyata dari cahaya obor yang bergoyang-goyang tertiup hembusan angin malam. Dan siapa lagi yang memiliki potongan wajah seperti itu kalau bukan Ki Rangga Guna, murid Ki Darma yang murtad dan menghianati tugas yang dibebankan gurunya.

“Hai! Rangga Guna!!!” teriak Ginggi membuat yang bersangkutan mengereyitkan dahi sehingga kedua matanya semakin menyipit.

Ada kemarahan menyesak di dada pemuda itu, sebab kelakuan durjana orang ini akan membawa aib Ki Darma dan mungkin juga nama baik Ginggi sendiri. Sebelum Ki Rangga Guna sadar akan apa yang terjadi, aku harus segera melakukan serangan, pikir pemuda itu sambil menggerak-gerakkan ujung kakinya untuk menotol tanah. Tubuh pemuda itu meloncat hampir menyerupai terjangan harimau. Terjangannya mengarah ke tempat di mana Ki Rangga Guna berdiri.



Kedua tugur nampak kaget melihat ada orang bias terbang. Barangkali saking kagetnya, keduanya hanya berdiri mematung sambil mulut melongo menyaksikan tubuh manusia meluncur deras seperti mengarah pada mereka. Kedua orang itu memang berdiri membelakangi Ginggi. Hanya ketika ada bentakan pemuda itu saja kedua orang tugur membalikkan badan. Kedua orang itu menjerit ngeri tapi tak mampu bergerak. Barangkali keduanya menyangka terjangan itu mengarah pada mereka berdua.

Gerakan Ginggi sebetulnya agak terganggu oleh posisi kedua tugur tersebut. Padahal jurus yang dilakukannya ini seharusnya menerjang lurus meniru loncatan harimau. Kalau Ginggi harus mengikuti jurus yang sudah ditetapkan oleh Ki Darma barangkali sebelum terjangan mencapai sasaran yang dimaksud maka hanya kedua tugur itu saja yang menerima akibatnya. Oleh sebab itu, pemuda itu perlu mengubah sedikit gerakannya. Terjangan yang seharusnya lurus mengarah sasaran, dia ubah menjadi gerakan salto sehingga tubuhnya sedikit mumbul ke atas dan melewati ubun-ubun para tugur.

Ketiga orang itu mendongak ke atas menyaksikan demontrasi salto yang dilakukan Ginggi. Hanya bedanya bila kedua orang tugur menyaksikan adegan ini dengan mulut melongo dan gemetar, Ki Rangga Guna menatapnya dengan pandangan tenang walau pun selintas Ginggi melihat ada kerutan heran di dahi orang itu. Ki Rangga Guna nampak sudah siap menerima serangan. Tangan kiri lurus ke atas sambil seluruh jari-jari tangan terbuka lebar seperti orang menyangga sesuatu benda berat. Sedangkan kepalan tangan kanan melintang tepat di sikut kiri. Ginggi hafal betul gerakan ini. Jari-jari terkembang lebar akan digunakan sebagai perisai untuk menghadapi serangan lawan dari atas, sedangkan kepalan tangan kanan dipersiapkan untuk membalas serangan.

Bentuk serbuan dari atas bila taat mengikuti ajaran Ki Darma sebetulnya harus melancarkan serangan berbentuk pukulan kepalan tangan. Namun Ginggi mengerti, bila fihak lawan menerima serbuan kepalan tangan dengan jari-jari tangan melebar, pukulan sekuat apa pun tak akan ada gunanya, sebab Ginggi bisa menduga, tangkisan lawan tak akan menerimanya dengan kekerasan. Ginggi tahu betul gerakan tangan melebar ini. Dia akan digunakan untuk memunahkan tolakan tenaga kasar dari serangan kepalan tangan itu. Maka, tahu akan siasat lawannya, Ginggi mengubah bentuk serangan. Hanya ketika meluncur di perjalanan saja serangan Ginggi berbentuk kepalan tangan.

Akan tetapi ketika kepalan tangannya hampir setengah jengkal “mendarat” di telapak tangan Ki Rangga Guna yang jari-jari tangannya terbuka lebar itu, Ginggi mengerahkan pusat tenaga ke arah jari-jari tangannya. Kepalan tangan secepat kilat berubah mengembang dan “menjeprit” serentak. Jepritan ini sungguh kuat sebab semua tenaga dialirkan ke jari-jari tangan. Kalau Ki Rangga Guna tidak cepat-cepat menurunkan tangannya, jelas akan membahayakan telapaknya. Tubuh Ki Ranga Guna melorot hingga jatuh terduduk dan jumpalitan ke belakang seperti trenggiling.

Ginggi pun jumpalitan untuk mengubah kedudukan. Dan di saat tubuhnya turun ke bumi, sepasang kakinyalah yang mendahului turun. Ginggi berdiri dengan kaki terpentang lebar dan kedua tangan bertolak pinggang memperhatikan tubuh Ki Rangga Guna yang terus menggelinding menjauh.

“Hahaha! Jangan terlalu jauh menggelinding, aku tak melanjutkan serangan!” teriak Ginggi dengan nada mengejek.

Kedua tugur sudah terbiri-birit entah kemana dan Ki Rangga Guna meloncat berdiri pada jarak tujuh depa lebih. Dia berdiri dengan kaki sama terpentang dan tangan membentuk pasangan kuda-kuda silang.

“Apa hubunganmu dengan Ki Darma, anak muda?” tanya Ki Rangga Guna berkata lembut namun menyelidik penuh rasa heran.

“Aku petugas Ki Darma yang diutus membasmi kejahatan. Dan penjahat pertama yang harus kubasmi adalah engkau!” kata Ginggi tenang.

“Kejahatan apa yang aku buat, anak muda?”

“Kejahatanmu membawa aib bagi semua orang. Kau memperkosa wanita! Terimalah seranganku!!” teriak Ginggi melesat kembali.

“Tunggu dulu!” teriak Ki Rangga Guna.

Tapi Ginggi sudah terlanjur menerjang dengan satu pukulan kepalan tangan.

“Plak!”

Tubuh Ki Rangga Guna mundur tiga tindak, sedangkan tubuh Ginggi serasa tertahan dinding baja ketika kepalan tangannya ditahan telapak terbuka Ki Rangga Guna. Ginggi kembali melakukan serangan. Tapi Ki Rangga Guna hanya main kelit dan mundur. Sedikit pun tak melakukan pembalasan. Dan serangan yang dibalas kelitan ini sepertinya tak akan menghasilkan keputusan, sebab dua-duanya saling mengenal gerakan lawan. Sampai pada suatu saat, Ki Rangga Guna punya kesempatan untuk meloloskan diri dari seranganserangan Ginggi. Ki Rangga Guna meloncat menjauh dan melarikan diri. Ginggi berteriak agar lawannya tak bertindak pengecut. Namun suara pemuda itu tak digubris Ki Rangga Guna.

Ginggi penasaran. Orang itu terus dia kejar. Masuk ke hutan jati, keluar lagi. Berlari di padang semak-semak. Sampai pada suatu saat jauh di ufuk timur seberkas cahaya sudah terlihat, buronan pemuda itu tak pernah ditemukan lagi. Hari sudah mulai terang tanah. Ginggi penasaran dan bertekad menemukan Ki Rangga Guna. Dia naiki beberapa pohon jati, dengan harapan bisa melihat di atas pohon. Tapi yang terlihat hanya pohon dan padang semak belaka. Akhirnya hanya kelelahan yang didapat. Ginggi terpaksa kembali ke dusun kecil itu. Orang-orang sibuk bertanya tentang kejadian semalam. Dan Ginggi hanya mengabarkan bahwa buronannya itu seorang penjahat besar.

“Tidakkah dia yang mencuri mayat anakku, anak muda?” tanya kepala dusun yang dikabari perihal peristiwa semalam.

“Entahlah yang jelas orang itu harus kutangkap,” gumam Ginggi.

Sepagi itu, Ginggi sudah menjadi bahan pembicaraan penduduk dusun. Kedua tugur itulah yaang menyebarkan berita, betapa saktinya pemuda berpakaian kain halus mengkilat itu katanya.

“Raden, bagaimana kalau kau tinggal menjadi penduduk di sini?” kata kepala dusun penuh harap. “Kami membutuhkan orang pandai sepertimu. Dan kalau kau mau, kami semua akan mengabdi padamu. Biarlah kau menjadi kepala dusun, sebab hanya itu yang patut kuberikan padamu sebagai imbalannya,” tutur kepala dusun sejujurnya.

“Paman, bila engkau menganggapku orang pandai yang dibutuhkan, maka sebenarnya banyak yang memerlukan tenagaku di saat-saat seperti ini. Aku memang perlu menunaikan kewajiban menjaga keamanan dan memberantas kejahatan. Tapi tentu bukan sekadar di dusun ini saja,” kata Ginggi.

Dan kepala dusun nampaknya sadar akan keadaan. Dia tak berani lagi mengajukan kehendaknya pada pemuda itu. Ginggi hanya perlu beristirahat sejenak dan makan seadanya. Sesudah itu, dia pun segera mohon diri. Tak lupa sambil mengucapkan terima kasih atas perhatian dan penghargaan yang diberikan penduduk dusun tersebut. Ginggi kembali melakukan perjalanan panjang. Dia keluar masuk hutan jati atau hutan karet yang banyak terdapat di wilayah perbatasan utara ini.

Bila memasuki sebuah dusun, Ginggi pun berupaya melakukan penyelidikan, atau pun penyelidikan dalam mencari tahu Ki Rangga Guna, dan tidak terasa, perjalanan pemuda itu sudah memakan waktu berminggu-minggu lamanya. Atau bisa juga waktu berbulan sudah dia habiskan hanya untuk penyelidikan. Ginggi menghabiskan waktu berbulan karena dia bisa menelitinya dari perjalanan peredaran purnama. Menurut perhitunganya, sudah tiga bulan purnama dia jalani. Ke mana sebetulnya dia berjalan, pemuda itu pun sudah tak tahu lagi. Hanya saja yang menyebabkan dia sanggup melakukan perjalanan panjang, karena yang tengah dikuntitnya serasa benar-benar ada di depannya.

Dengan perkataan lain, perjalanannya selama ini tidaklah keliru. Sebab di beberapa kampung yang dilalui, Ginggi juga menemukan kasus-kasus perkosaan terhadap gadis muda tak berdaya. Tidak semua korban perkosaan berakhir dengan kematian. Dan yang kebetulan selamat dari kematian selalu mengabarkan bahwa yang mengganggu kehormatan dirinya adalah seorang lelaki setengah baya dengan wajah bulat, hidung melengkung dan mata sipit.

“Ki Rangga Guna ….” desis Ginggi kesal dan geram.

Ginggi bahkan semakin marah, sebab di beberapa kampong terjadi beberapa kejadian seperti yang membuktikan bahwa tindakan perkosaan terhadap anak gadis ada kaitan erat dengan pencurian mayat bayi yang mati di malam sukra (Jumat). Ada satu dua kampung yang menjadi geger sebab dalam selang beberapa hari saja terjadi dua peristiwa menggemparkan. Pertama peristiwa pemerkosaan terhadap gadis muda dan beberapa hari kemudian ketika kebetulan ada bayi di malam Sukra, kuburnya ada yang membongkar dan mayat bayinya hilang. Bila tindak kejahatan ini dilakukan oleh seseorang yang sama, maka tudingan Ginggi hanya terarah kepada Ki Rangga Guna seorang. Dan bila benar begitu, betapa jahatnya murid Ki Darma yang satu ini. Ginggi tak suka terhadap Ki Banaspati yang ambisi politiknya demikian gila. Namun, terhadap Ki Rangga Guna ini malah lebih membencinya lagi. Ki Rangga Guna menyakitkan sebab tindakan=tindakannya hina, biadab dan tak manusiawi. Ki Rangga Guna jiwanya barangkali sudah dirasuki setan atau sudah menjadi gila dan kehilangan kesadarannya sebagai manusia. Kalau tidak demikian, mana mungkin tindak kejahatannya melebihi takaran manusia jahatan lainnya.

Pada suatu hari, Ginggi tiba di sebuah wilayah perbukitan kapur. Bukit-bukit ini tidak terlalu besar apalagi tinggi, namun amat banyak dan bertebaran. Beberapa bukit terasa gersang tanpa tumbuhan berarti. Namun beberapa bukit ditumbuhi pohon-pohon jati kendati terlihat tak begitu subur. Hari sudah demikian senja dan sebentar kemudian kegelapan akan merajai malam. Ginggi perlu mencari tempat untuk berlindung dari dinginnya angin malam atau sebuah tempat aman untuk menghindar dari pertemuan dengan binatang buas yang sekiranya membahayakan dirinya.

Berdasarkan pengalaman, di bukit kapur biasanya terdapat gua alam. Ginggi harus mencari gua-gua itu sekadar untuk menghabiskan malam. Ginggi menaiki sebuah bukit. Bukit itu tak terlalu terjal, tapi juga tak begitu mudah untuk didaki. Ginggi memilih bukit itu sebab selain tak begitu terjal tapi tak begitu mudahnya untuk didaki. Maksudnya, didaki oleh jenis binatang yang dirasa akan membahayakan dirinya. Macan kumbang selalu hidup di bukit karang, tapi dalam hal-hal tertentu binatang itu tak suka tinggal di bukit yang memiliki kemiringan melengkung dan rata. Biasanya macan kumbang menyenangi bukit dengan tonjolan-tonjolan khas agar dia bisa berloncatan kesana-kemari dengan mudah dan ringan.

Ginggi coba mendaki bukit yang melengkung dan rata. Agak sulit memang. Tapi pekerjaannya itu dia lakukan terus. Ginggi bersemangat menaiki bukit itu karena dia memastikan di balik punggung bukit terdapat cekungan gua. Bagaimana dia tahu disana ada cekungan gua?

“Aku melihat seberkas cahaya. Disana pasti ada gua dan dihuni manusia,” kata Ginggi di dalam hatinya. Namun sudah barang tentu pemuda itu harus hati-hati. Dia tidak boleh sembarangan memasuki gua. Tak akan menjadi masalah bila yang melewatkan malam di dalam gua itu hanyalah seorang pengembara sepertinya, atau sekelompok pemburu. Tapi bila yang di dalam sana orang jahat, akan menyulitkannya.

Ginggi perlu mengeceknya. Maka dengan berindap-indap mendekati mulut gua. Melalui tonjolan-tonjolan batu di sudut lubang gua, Ginggi mengintip ke arah datangnya cahaya. Cahaya itu berupa api unggun. Kayu-kayu kering gelondongan digunakan sebagai bahan bakar, sehingga api berkobar tinggi.

Ginggi terkesiap wajahnya. Kembali dadanya berdebar keras dan giginya berkerutuk karena menahan kemarahan. Siapa yang tak marah bila yang dilihatnya adalah suatu pemandangan yang membuat bulu kuduk berdiri saking kagetnya melihat pemandangan ini. Api unggun itu bukan saja hanya digunakan sebagai penerangan dan pengusir dinginnya malam. Melainkan dipergunakan juga untuk mengganggang tubuh mayat seorang bayi. Mayat bayi itu sudah mulai mongering sebagai tanda sudah lama diganggang di atas api unggun. Namun ada lemak-lemak menetes dari tubuh kering seperti dendeng itu. Tetesannya jatuh ke atas jilatan api dan membentuk suara-suara desisan-desisan khas sebagaimana api yang tertimpa tetesan benda cair.

Di sudut gua kapur pemandangan tak kalah hebatnya. Di sana terbaring tubuh seorang gadis amat muda dengan pakaian tak keruan bahkan boleh disebut hampir telanjang. Gadis muda itu nampak tak sadarkan diri, atau barangkali sudah mati, sebab selain wajahnya sudah pucat pasi, di beberapa bagian tubuhnya banyak didapat luka memar dan sebagian mengucurkan darah.

Yang membuat darah Ginggi semakin menggelegak karena marah, pelaku dari kesemua ini tak lain dan tak bukan adalah Ki Rangga Guna. Orang ini nampak tengah duduk bersila menghadap ke arah api unggun. Tangannya bersidakap dan mulutnya komat-kamit seperti tengah mengucapkan mantra. Kulit wajah Ki Rangga Guna nampak pucat seperti jarang terkena sinar matahari. Hampir-hampir tak menyerupai Ki Rangga Guna saking pucatnya, dan apalagi kain kepalanya diikat kain putih. Yang menandakan bahwa dia Ki Rangga Guna, karena raut wajahnya yang khas, yaitu muka bulat, hidung melengkung seperti paruh burung ekek dan matanya sipit. Sekarang Ki Rangga Guna tengah memakai pakaian serba putih. Bukan berbentuk kampret atau salontreng, tapi lebih menyerupai baju kurung. Celananya juga menggunakan warna putih model sontog, yaitu celana panjang sebatas betis.

Sedang melakukan upacara apakah ini, pikir Ginggi. Jelas sekali, Ki Rangga Guna tengah melakukan sesuatu upacara. Ginggi pernah melihat beberapa upacara dari beberapa jenis agama yang ada di Negri Pajajaran ini. Tapi yang dilakukan Ki Rangga Guna seperti baru pertama kalinya dilihat Ginggi. Upacara itu aneh dan menakutkan. Ki Rangga Guna bersidakap menghadap api yang di atasnya diganggang mayat bayi, hanya membuat kesan bahwa upacara yang dilakukannya bukan untuk melaksanakan upacara kebaikan. Beberapa bulan lalu bahkan dia pernah mendapat tahu dari seorang penduduk yang kampungnya pernah geger karena kehilangan mayat bayi di kuburannya, tepat di malam Sukra (Jum’at). Ginggi dikabari, kemungkinan mayat bayi dicuri di malam Sukra untuk kepentingan ilmu hitam. Ginggi menghitung, kalau tak salah ini malam Sukra, Upacara yang erat kaitannya dengan ilmu sihir kata orang selalu dilakukan di malam Sukra, Benarkah Ki Rangga Guna tengah melakukan upacara ilmu hitam? Ginggi terus mengintip untuk lebih mengetahui apa saja yang akan dilakukan orang sesat ini.

Sekarang Ki Rangga Guna menurunkan kedua belah tangannya. Sesudah itu dia membentuk posisi seolah-olah kedua tangannya akan melakukan sembah. Sepasang telapak tangan dia lekatkan satu sama lain. Namun gerakan menyembah segera diubahnya. Sedikit demi sedikit telapak tangan dipisah dan merenggang. Sesudah itu kedua telapak tangan bersatu kembali. Begitu seterusnya berulang-ulang. Menurut penglihatan Ginggi, ini gerakan yang biasa dilatihnya semasa masih bersama Ki Darma. Gerakan telapak tangan terbuka dan kemudian menyatu, adalah gerakan tepukan untuk memperkuat telapak tangan itu sendiri.

Tepukan akan dimulai pelan. Namun lama kelamaan akan semakin keras dan meningkat. Ginggi melakukan latihan seperti itu empatpuluh hari empatpuluh malam tanpa henti. Ini untuk melatih kekuatan telapak tangan. Kata Ki Darma, bila telapak tangan sudah benar-benar kuat, kalau digunakan untuk menghantam batang pohon, maka akan membuat tumbang pohon itu sendiri karena batangnya hancur. Kalau yang dihantam adalah sebuah batu, maka batu itu akan berubah hancur menjadi kerikil-kerikil kecil.

“Bisa kau bayangkan kalau telapak tanganmu kau pergunakan untuk menempeleng pipi lawan. Maka mulut lawanmu akan dower, rahangnya akan hancur dan gigi-giginya akan tanggal berantakan,” kata Ki Darma waktu itu.

Namun sudah hampir enam bulan Ginggi melakukan perjalanan, belum satu kali pun tangannya dia layangkan untuk menyakiti orang, kendati harus diakuinya selama dia turun gunung sudah beberapa kali melakukan perkelahian. Ginggi memang sudah menduga cara latihan seperti ini beserta kegunaannya kelak. Namun yang membuat pemuda ini merasa kaget, tingkat latihan Ki Rangga Guna lebih tinggi dan lebih hebat hasilnya. Gerakan tepukan semakin lama semakin keras karena dilakukan pengerahan tenaga sepenuhnya.

Saking kerasnya, tepukan itu menghasilkan suara yang membahana dan menyakitkan anak telinga. Ginggi hampir-hampir tak kuat menahannya. Tepukan tangan ini menghasilkan pemandangan yang amat menakjubkan. Setiap kali sepasang tangan Ki Rangga Guna bertemu keras, setiap itu pula membersit seberkas cahaya kilat. Ada hawa panas memancar dari mayat bayi yang tergantung di atas lidah api bergoyang-goyang seperti didera hembusan angin keras. Begitu pun lidah api melenggang-lenggok keras sebagaimana layaknya diterpa hembusan angin.

Ginggi berusaha menulikan telinga, sebab setiap lubang telinga menerima suara tepukan, setiap kali itu pula dadanya bergetar keras. Pemuda itu hampir meloncat pergi saking tak kuatnya menahan getaran itu, kalau saja Ki Rangga Guna tidak menghentikan latihannya. Suara tepukan berhenti dan suasana mendadak hening. Lidah api berhenti bergoyang, kecuali tubuh mayat bayi yang tergantung di atas masih bergoyang kesana-kemari.

Sekarang Ki Rangga Guna berdiri dari duduknya. Memandang sejenak ke arah mayat bayi yang tergantung kering di atas langit-langit gua. Secepat kilat Ki Rangga Guna meloncat memburu mayat bayi yang kering kerontang itu. Turun dan hinggap seperti burung hantu di tonjolan batu di seberang lidah api sambil tangan kanan sudah memegang tubuh mayat bayi tepat di bagian sepasang kakinya. Secepat kilat Ki Rangga Guna mengeluarkan sebuah pisau yang terselip di pinggangnya.

“srat!”

Tangan mayat bayi itu dia kutungi sebatas pergelangannya, kiri dan kanan bagian tangan bayi itu dua-duanya dia bungkus dengan kain putih. Dilipatnya beberapa kali. Dan sesudah itu, bungkusan telapak tangan mayat bayi itu dia belitkan di pinggangnya seperti layaknya memakai sabuk.

“Biadab!” desis Ginggi perlahan.

Ki Rangga Guna melemparkan bagian tubuh mayat bayi ke atas kobaran api dan senter kemudian mayat bayi kering kerontang itu sudah luluh-lantak dimakan api. Terdengar suara Ki Rangga Guna terkekeh-kekeh seperti puas atas hasil kerjanya. Perhatian Ki Rangga Guna sekarang beralih ke tubuh gadis muda yang tergeletak diam di sudut gua. Sambil hahah-heheh menyeramkan, Ki Rangga Guna mendekati tubuh tak bergerak itu. Pisaunya yang tipis mengkilat dia angkat dan sepertinya akan segera dihunjamkan ke bagian dada gadis tak berdaya itu.

“Hentikan!” teriak Ginggi tak sanggup lagi menahan gelora hatinya.

Sejenak Ki Rangga Guna terkejut mendengar suara ini. Barangkali dia tak menyangka ada orang lain mengintip perbuatannya. Hanya sejenak saja dia terkejut, sebab sesudah itu raut wajahnya lebih menggambarkan rasa heran ketimbang kemarahan.

“Siapa di situ? Ayo masuk ke sini!” teriaknya.

Ginggi meloncat masuk dan berdiri berhadapan dengan Ki Rangga Guna. Tapi, benarkah ini Ki Rangga guna? Ginggi menatap tajam wajah orang ini. Sudah dua kali dia bertemu Ki Rangga Guna. Dan ini yang ketiga. Tapi wajah Ki Rangga Guna seperti lain dengan wajah orang ini beberapa bulan berselang. Beberapa bulan yang lalu Ki Rangga Guna berkulit kecoklat-coklatan karena seperti sering terkena sinar matahari. Sedangkan raut mukanya kini amat kebalikan dengan beberapa bulan lalu. Berkulit putih tapi terkesan pucat karena kekurangan sinar matahari. Yang membuat bulu kuduk Ginggi merinding, mulut Ki Rangga Guna selalu menyeringai memperlihatkan giginya yang kuning. Matanya pun berputar liar dan bila menatap sorotannya tajam beringas. Beda sekali dengan penampilan beberapa bulan yang lalu.

“Hikhikhikhik! Kebetulan ada sesuatu yang bisa aku pakai sebagai latihan. Tiga kali empatpuluh hari empatpuluh malam aku tuntaskan latihanku. Sepuluh bayi sudah kugunakan, sepuluh gadis pun sudah aku manfaatkan. Ayo bocah dungu, pukullah aku!” kata Ki Rangga Guna melengking tinggi menyakitkan telinga dan isi dada.

Untuk yang kesekian kalinya Ginggi bergidik. Suara dan tawa Ki Rangga Guna kini bahkan menyeramkan. Dulu besar dan berat. Bernada datar dan seperti tak gemar bicara berpanjang-panjang. Sekarang kecil melengking dan sesekali seperti suara ringkik kuda.

“Ayo anak kecil, pukullah aku! Ayo cepat!” ringkiknya lagi.

“Bukan saja aku akan sekadar memukul, tapi pun aku akan bunuh kamu!” teriak Ginggi. “Engkau jahat dan biadab, maka harus aku enyahkan engkau dari muka bumi ini!” teriak Ginggi melesat ke depan.

Begitu langkah kaki kanan maju setindak, begitu pula kepalan tangan kanan bergerak seperti per membuat pukulan keras mengarah dada. Ginggi terkejut, menurut logika, bila orang diserbu pukulan, maka dia akan segera bergerak menyambut. Kalau tidak berkelit pasti akan menangkis. Tapi Ki Rangga Guna sungguh berani. Pukulan Ginggi dibiarkannya menerobos menyerang dada.

Ginggi berteriak keras mencoba menahan gerakan. Sebesar apa pun kemarahannya terhadap Ki Rangga Guna yang jahat ini, tapi dia tak mau bertindak kejam melakukan serangan kepada orang yang tak melakukan perlawanan. Luncuran tenaganya yang telanjur dia keluarkan hanya bisa ditahan setengah bagian saja. Yang setengahnya menerobos dada Ki Rangga Guna.





OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

===============================




Air Terjun Victoria Afrika

No comments:

Post a Comment