Ads

Friday, November 12, 2021

Kidung Senja Jatuh di Pajajaran 012

Di wilayah Kandagalante Tanjungpura ini, Ginggi hampir bertemu murid kedua Ki Darma. Kalau benar orang yang dikeroyok di depan kedai itu Ki Rangga Guna, pemuda itu setindak telah berhasil melaksanakaan perintah Ki Darma. Tapi akan benar-benar sempurnakah apa yang menjadi kehendak penghuni puncak Cakrabuana itu? Ginggi disuruhnya meminta petunjuk terhadap orang itu dalam upaya menjalankan misinya. Petunjuk apa? Mencari tahu tata cara berbuat mesum? Kalau benar Ki Rangga Guna dikejar-kejar karena gemar berlaku mesum, Ginggi betul-betul malu dan kecewa.

Barangkali Ki Darma pun akan berperasaan yang sama. Aku akan kejar Ki Rangga Guna. Dia harus bertanggung jawab atas tindak-tanduknya yang membuat cemar Ki Darma ini, pikir pemuda itu. Ingat ini, Ginggi segera berkemas. Mengganti pakaiannya dengan yang baru dan mohon diri kepada pemilik kedai.

“Tapi anak muda, uang yang kau berikan tadi malam jumlahnya terlalu besar, sedangkan aku tak punya pengembalian atas kelebihannya,” kata pemilik warung yang membantu mengikat tali buntalan pemuda itu.

“Tak mengapa Pak, aku tak begitu meributkan soal uang,” kata Ginggi.

Pemilik warung mengucapkan terima kasih berkali-kali. “Sekarang kau hendak kemana, anak muda?” tanyanya kemudian.

Ginggi termenung. Mau kemana setelah ini? Ki Banaspati memberinya tugas, yaitu membunuh Suji Angkara yang khabarnya berangkat ke Pakuan. Ginggi tak memperhatikan benar tugas gila ini. Tapi keinginan untuk melacak Suji Angkara memang ada dalam benaknya. Barangkali dia harus terus menuju Pakuan tapi sambil tetap berupaya mengemban misi Ki Darma, yaitu menghubungi orang-orang yang diharap bisa memberi bimbingan dalam mengemban misi membela rakyat Pajajaran.

“Tinggal dua orang yang harus kutemukan di mana mereka berada, yaitu Ki Rangga Wisesa dan Ki Bagus Seta,” kata Ginggi di dalam hatinya.

Oh, sekarang banyak tugas yang harus dikerjakannya. Mencari kedua orang itu yang entah berada di mana serta berusaha mengejar Ki Rangga Guna untuk diminta pertanggungan jawabnya. Begitu banyaknya tugas yang harus diemban sebelum melaksanakan misi yang sebenarnya yaitu membela rakyat.

“Aku akan melacak penjahat yang mengacau Kandagalante Tanjungpura ini. Bukankah engkau mengharapkan wilayahmu aman Pak Tua?” kata Ginggi, dianggukkan oleh pemilik warung itu.

“Terima kasih kau mau berjuang untuk kedamaian kami. Tapi hati-hati, penjahat itu bengis dan berangasan. Jangan hanya karena membela orang lain kau mengalami marabahaya,” pesannya.

Ginggi tersenyum. Orang ini baik, mau memikirkan nasib orang lain. “Aku pergi sekarang juga, Pak Tua. Oh, ya … sampaikan permohonan maafku kepada putrimu yang bernama …”

“Ah, si Asih anak cerewet. Akulah yang mesti minta maaf padamu,” sergah pemilik warung tersipu-sipu. “Kalau engkau kembali dalam keadaan selamat, sebetulnya aku menginginkan kau tinggal di sini. Kalau kau mau tentunya…” orang tua itu menunduk penuh rahasia dan ucapannya seperti mengandung makna tertentu. Namun hal ini tak dirasakan pemuda itu.

“Aku juga senang dengan wilayah Kandagalante ini. Orang-orangnya bila berbicara tak punya tedeng aling-aling tapi penuh persaudaraan,” kata Ginggi, teringat keakraban penduduk manakala dia disuguhi makanan, juga teringat cerewetnya gadis anak pemilik warung ini.

Karena hari sudah demikian siang, Ginggi terpaksa mohon diri dan dilepas oleh pemilik warung dengan perasaan suka-cita. Untuk menahan panasnya matahari, Ginggi dibekali topi jenis toroktok, yaitu topi anyaman bambu dengan caping lebar dan bulat. Topi ini biasa digunakan pengembala itik dan aman melindungi seluruh kepala dari sergapan sinar matahari.

Ginggi senang menerimanya. Kendati topi jenis ini disediakan untuk pengembala itik, tapi nampaknya ini topi khusus dan dibuat dengan menonjolkan keindahan. Anyaman bambunya menggunakan dua warna, gading dan coklat, serta dianyam teratur sehingga menghasilkan paduan warna yang indah. Topi itu pun nampak halus mengkilap sebab dipoles dengan cairan tertentu yang membuat benda itu mengeluarkan warna khusus pula.

Ginggi berjalan sambil mencari alamat rumah Juragan Ilun Rosa yang katanya masih saudara dekat Kandagalante ini. Ginggi akan memenuhi janjinya kepada Ki Aliman, kepala jagabaya di sini, bahwa akan ikut membantu menyelidiki peristiwa aib yang terjadi di wilayah ini. Seperti apa yang dikhabarkan kepala jagabaya, di Kandagalante Tanjungpura ini terjadi dua peristiwa yang melibatkan kematian dua orang gadis. Salah satu korban adalah putri Juragan Ilun Rosa itulah. Anak gadisnya dikhabarkan mati bunuh diri dengan jalan menusuk lehernya dengan patrem (tusuk konde). Mengenaskan, sebab tindakan bunuh diri diduga karena kehormatannya dirusak.

Tapi di kelokan jalan yang agak sunyi, pemuda itu terpaksa menghentikan langkahnya. Ada yang mencegatnya di tepi jalan berdebu itu. Gadis pemilik warung! Ginggi tertegun sejenak. Ada apa lagi dengan gadis bawel ini?

“Bukankah aku tak mengganggumu lagi? Mengapa kau tiba-tiba mencegatku?” tanya Ginggi berusahaa pura-pura ketus.

Namun pemuda itu kecele kalau mengharapkan ucapan ketusnya dibalas dengan keketusan yang sama. Gadis itu malah diam saja. Sebentar menatapnya dengan mata berbinar, sebentar kemudian menunduk dengan rona merah di pipinya. Ginggi jadi malu sendiri. Ternyata gadis itu datang bukan untuk bersilat lidah. Entah apa keinginan gadis cerewet ini. Karena gadis itu tak menjawab pertanyaannya, Ginggi melangkah mendekati beberapa tindak.

“Ada apa Asih? Asih bukan, namamu?” tanya Ginggi menjadi gagap.

Gadis itu mengangguk. Menatap lagi dengan berbinar, kemudian menunduk lagi dengan tetap masih meninggalkan rona merah di pipinya.

“Oh, ya… Kalau-kalau ayahmu tak menyampaikannya. Aku mengajukan permohonan maaf atas kejadian tadi pagi. Tak seyogianya aku mempermainkanmu sehingga membuatmu marah,” kata Ginggi setulusnya.



Gadis itu hanya mengangguk dan menunduk.

“Lalu, apalagi…?” tanya Ginggi gugup. Pemuda itu baru tahu, bahwa sejak tadi di tangan gadis itu ada sebuah bungkusan dari daun jati. Sambil tetap menunduk dia menyerahkan bingkisan itu kepada Ginggi.

“Untuk bekal di jalan kalau-kalau kau lapar…” gumam gadis itu menunduk.

Pemuda itu menerima pemberian ini sambil menatap wajah gadis itu.

“Kata ayah, bila kau kembali kelak, akan menetap disini. Betulkah itu?” tanya gadis itu penuh harap.

Ginggi menatap tajam mata gadis itu. Berbinar, bening dan masih suci. Dan gadis ini aneh sekali. Pertama kali bertemu diawali dengan sikap angkuh dan seperti membenci lelaki. Sekarang di saat akan berpisah memperlihatkan wajah ramah dan… dan penuh harap.

Berdesir darah pemuda itu. Entah benar entah salah. Tapi pemuda itu sudah punya pengalaman melihat perangai wanita. Kalau suaranya sudah mulai halus, nada bicaranya serius dan menatap dengan sorotan nanar, ini hanya membuktikan bahwa hati dan perasaan kewanitaannya ikut bicara. Benarkah ini?

Ginggi membayangkan pertengkaran dengan gadis itu tadi pagi di pancuran. Dan ini mengingatkannya kepada pertengkaran kecil di Desa Cae dengan Nyi Santimi, juga di pancuran. Dari pancuran juga ada pertemuan hati antara dia dan Nyi Santimi. Sekarang pancuran telah menggodanya pula. Oh, ya! Tidak! Hal itu jangan terulang lagi. Cinta itu menyesakkan. Bahkan hampir-hampir membuat penyiksaan. Paling tidak terhadap batin ini. Ginggi memalingkan muka ketika mata gadis itu berbinar menatapnya.

“Aku kelak akan pulang ke Cakrabuana. Sudah barang tentu akan lewat ke sini…” tutur Ginggi.

“Terima kasih. Aku akan setia menunggumu…” kata gadis itu pelan.

Ginggi menerimanya dengan pandangan lesu. “Ya, cepatlah pulang! Orangtuamu pasti khawatir bila kau berlama-lama di sini!” memerintahkan gadis itu segera berlalu.

Gadis itu sebelum pergi menatap tajam, seperti mengharapkan sesuatu dilakukan oleh pemuda itu. Tapi Ginggi tak melakukan apa-apa sehingga gadis itu Nampak kecewa. Dia berlalu pergi. Berlari kecil dan menghilang di kelokan jalan. Barangkali benar gadis itu kecewa. Tapi Ginggi bernafas lega, bahaya sudah dilewatinya. Hhh, wanita! Begitulah bila kepercayaan terhadap lelaki mulai timbul, pikir Ginggi.

Ginggi berhasil menemukan rumah Juragan Ilun Rosa. Rumah panggung terbuat dari kayu jati pilihan cukup besar dan megah. Menandakan bahwa pemiliknya orang berada. Cukup wajar, sebab orang ini masih saudara Kandagalante Subangwara, penguasa wilayah Tanjungpura. Namun ketika Ginggi uluk salam (berteriak mengucapkan salam tanda akan bertamu), rumah besar itu sunyi-sunyi saja. Beberapa kali pemuda itu berteriak mengucapkan salam. Dan dari samping rumah tergopoh-gopoh lelaki tua gendut dan bundar. Pakaiannya sederhana saja, jauh dibandingkan dengan pakaian Ginggi yang terbuat dari kain halus mengkilat.

“Siapakah Raden, dari mana asal dan mau apa datang kemari?” tanya si gendut ramah tapi mengandung curiga.

“Hanya mau bertemu dengan Juragan Ilun Rosa, adakah dia?” tanya Ginggi.

“Juragan sudah sebulan ini tinggal bersama saudaranya, yaitu Kandagalante Subangwara.,” tutur lelaki itu.

“Sudah sebulan?”

“Ya, semenjak terjadi peristiwa memilukan di rumah ini,” jawab lagi si gendut bundar memberikan penjelasan.

“Engkau di sini ketika peristiwa itu terjadi, Paman?” tanya Ginggi.

“Saya badega (pembantu) di sini. Bahkan sayalah yang menemukan mayat Nden Wulan terbujur dengan mandi darah di kamarnya,” kata si gendut sambil mengusap bulu kuduknya. “Tapi Raden siapa, tanya-tanya peristiwa itu?”

“Hanya ingin tahu saja, mengapa peristiwa menyedihkan itu sampai terjadi…” jawab Ginggi.

“Oh, ya… Saya dengar tadi malam ada penjahat dikepung. Seorang pemuda ikut membantu. Kata kepala jagabaya orang muda itu akan berusaha menangkap penjahat yang dicurigai berbuat onar di wilayah kami ini. Kalau begitu, saya yakin, engkaulah yang dimaksud kepala jagabaya. Benar, kan?”

Ginggi tersenyum dan menganguk. “Terima kasih bila engkau sudah tahu siapa aku. Sekarang coba katakan dari awal perisiwa sebulan lalu yang menewaskan anak gadis majikanmu itu,” kata Ginggi.

Tanpa ragu-ragu badega ini membeberkan kembali peristiwa sebulan lalu. Ketika itu, ke rumah Juragan Ilun Rosa datang lima orang tamu. Semuanya laki-laki. Dari kelima orang tamu itu, hanya satu orang yang berpenampilan menonjol. Semua menaruh hormat padanya.

“Coba kau sebutkan ciri-ciri orang yang satu itu,” kata Ginggi

“Dia seorang pemuda tampan. Usianya barangkali delapan belas, atau Sembilan belas tahun. Berwajah putih bersih dan tutur katanya sopan. Dia pasti dari keluarga santana, atau bahkan bangsawan,” kata badega itu memuji-muji tamunya.

“Dan yang lainnya bagaimana?”

“Empat orang lainnya saya kira hanya bawahan pemuda tampan itu saja. Wajah dan perangainya macam-macam. Ada yang sedikit tampan tapi perangainya seperti angkuh. Bila bicara mulutnya selalu tertarik seperti orang yang mengejek dan melecehkan. Pemuda satunya lagi bertubuh kurus dan bergigi tonghor. Dua orang lagi lelaki setengah baya. Yang seorang pendek gemuk dan seorang lagi jangkung dengan pundak melengkung seperti onta,” kata pegawai di rumah ini secara rinci.

Tak salah dugaan Ginggi. Mereka adalah Suji Angkara bersama Ki Ogel, Ki Banen, Seta dan Madi. Mereka meloloskan diri dari marabahaya di wilayah Sagaraherang. Tapi benar perkiran Ki Banaspati, Suji tidak kembali ke Desa Cae, melainkan terus menuju ke barat yang kemudian diperkirakan akan terus menuju ke Pakuan.

“Apa hubungannya antara kehadiran tamu-tamu itu dengan peristiwa kematian gadis majikannya, Paman?” tanya Ginggi penuh perhatian.

“Entahlah sulit untuk menghubung-hubungkannya. Hanya saja saya mencuri dengar percakapan Nden Wulan dengan pemuda tampan itu malam-malam di halaman depan.”

“Percakapan apakah itu?”

“Hanya percakapan sepasang muda-mudi belaka. Namun nampaknya ada semacam beda pendapat antara keduanya dalam urusan… Entahlah. Mungkin urusan asmara. Pemuda tampan itu dengan halus dan lemah lembut menggoda Nden Wulan, tapi Nden menolak ajakan-ajakan pemuda itu dengan berbagai alasan. Nden Wulan beralasan untuk menolak, sebab sebetulnya sudah ada pemuda bangsawan yang menaruh minat padanya walau pun dilakukan secara rahasia. Hanya saya yang tahu rahasia mereka berdua, Raden…” kata badega.

“Sudah berapa kali pemuda tampan itu bertemu kemari, Paman?”

“Seingat saya, tamu tampan itu baru pertama kali bertamu ke rumah Juragan Ilun. Tapi ke Kandagalante Subangwara sudah beberapa kali. Khabarnya, Nden Wulan pun mengenal pemuda tampan itu di kediaman Kandagalante Subangwara,” kata badega lagi.

“Tak ada lagi percakapan khusus selain yang tadi Paman katakan?” kata Ginggi.

“Rasanya tak ada lagi …”

“Coba terangkan peristiwa ketika anak gadis majikanmu Paman temukan sudah terbunuh,”

“Ya, malam itu saya dengar suara jeritan kecil. Saya dengar persis sebab saya tengah tugur (ronda). Saya tahu jeritan kecil itu datang dari kamar Nden Wulan. Saya ketuk-ketuk pintunya tak ada sahutan. Saya dobrak dan pintu terbuka. Nampak Nden Wulan sudah terbujur dengan leher terluka karena tusukan patrem (tusuk konde). Nden Wulan bunuh diri …” keluh pegawai itu murung dan penuh sesal.

“Kau yakin?”

“Tangan kanannya berlumuran darah dan masih memegang erat benda tajam itu,” kata badega pasti.

“Kira-kira apa penyebab dia bunuh diri?”

“Patah hati …”

“Patah hati? Mengapa kau menduga demikian?”

“Di peraduan Nden Putri yang acak-acakan terdapat sebuah surat daun nipah. Kata Juragan Ilun, isinya permintaan maaf dari Raden Purbajaya bahwa dirinya akan pergi ke Pakuan dan di sana direncanakan pernikahannya dengan sesama anak bangsawan lainnya,” jawab badega.

“Kau maksudkan Purbajaya itu kekasih anak gadis majikanmu, Paman?”

Badega bertubuh bundar itu mengangguk membenarkan. “Mulanya Juragan Ilun bingung, siapa Raden Purbajaya. Namun setelah saya paparkan bahwa pemuda bangsawan itu secara diam-diam menjalin hubungan dengan Nden Wulan, Juragan mulai mengerti kendati tetap masih bingung sebab Juragan belum kenal betul dengan pemuda itu. Tanjungpura ini luas wilayahnya, terutama ke wilayah barat hampir berbatasan dengan Sungai Citarum. Di wilayah ini memang banyak kaum bangsawan,” kata badega.

“Juragan mencari tahu siapa pemuda bangsawan itu. Juragan minta tolong kepada Kandagalante Subangwara dan berhasil mendapatkan keterangan perihal pemuda bangsawan bernama Raden Purbajaya itu.”

“Bagaimana penjelasan dari Kandagalante?”

“Pemuda itu bangsawan dari daerah utara. Putra Bangsawan Jayasena. Ayahandanya ketika ditemui membenarkan bahwa Raden Purbajaya berangkat ke Pakuan, tapi bukan berniat untuk menikah dengan Putri Bangsawan Pakuan, melainkan akan mengabdi sebagai puhawang ,” kata badega lagi.

“Puhawang, apakah itu?” tanya Ginggi mengerutkan kening.

“Puhawang adalah seseorang yang akhli dalam ilmu kelautan, ilmu mengenai pantai, gua-gua serta teluk,” kata badega lagi. Katanya lagi, ayahanda Raden Purbajaya tak tahu menahu bahwa putranya punya hubungan batin dengan anak Juragan Ilun Rosa. Hanya pernah mengatakan bila lamaran kerjanya diterima di Pakuan, maka pemuda tampan itu akan segera kembali ke Tanjungpura untuk minta bantuan ayahandanya meminang seorang gadis yang belum disebutkan siapa gerangan.

“Tapi Kandagalante Subangwara amat marah mendengar berita kematian kemenakannya. Dia akan mencari penjelasan langsung kepada Raden Purbajaya di Pakuan. Pemuda tampan tamu Juragan Ilun bersedia membantu menemui Raden Purbajaya, sebab kebetulan dia pun akan menuju Pakuan,” kata badega lagi.

“Begitu akrabkah Kandagalante dengan pemuda tampan tamu Juragan Ilun, Paman?”

Yang ditanya mengerutkan alis sejenak seolah-olah mengingat-ingat sesuatu.

“Tidak begitu akrab. Tapi nampaknya Kandagalante tahu betul, siapa pemuda itu. Ini nampak sekali, sebab Kandagalante begitu hormat kepadanya,” jawab badega.

Ginggi termenung sejenak. Penelitiannya serasa berbelit-belit dan kian melebar. Bila ingin menguak tabir rahasia kematian gadis itu, sungguh sulit.

“Coba kau terangkan, kalau-kalau masih ada lagi pengetahuanmu perihal kejadian ini,” kata Ginggi terus mengorek keterangan.

“Rasanya tak ada lagi…” gumam badega tapi masih mengingat-ingat. “Oh,ya…” sambungnya memejamkan mata sebentar.

“Apakah itu?” Ginggi menatap tajam lelaki bulat ini dengan tak sabar.

“Istri Juragan Ilun yang memiliki pikiran ganjil itu.”

“Ya?”

“Dia malah menduga yang bukan-bukan. Katanya anak gadisnya mati bunuh diri bukan sekadar patah hati belaka, tapi juga karena diganggu kehormatannya!”

“Begitukah? Bagaimana dia mempekirakan demikian?” tanya Ginggi.

“Kata Juragan Istri, peraduan anaknya acak-acakan. Pakaian gadis itu pun tak karuan. Di beberapa bagian malah terkesan dibuka paksa sebab ada bagian-bagian kain yang sobek,” kata badega.

“Bagaimana pendapat yang lain?”

“Sejenak yang lain pun percaya dengan itu. Tapi surat daun nipah lebih meyakinkan lagi. Juragan Ilun bahkan tak mau pusing memikirkan bukti ini. Sebab katanya, bila harus mempercayai dugaan ini artinya harus mencurigai orang lain berbuat jahat. Juragan Ilun menganggap dosa bila bercuriga terhadap sesama,” kata badega, “Juragan Ilun Rosa hanya mengatakan, banyak kemungkinan mengapa pakaian putrinya tak keruan. Perempuan katanya di mana-mana sama, bila sampai pada puncak kemarahan dan kekecewaan suka menjambak-jambak dirinya sendiri. Demikian halnya dengan Nden Wulan. Dan saya memang pernah menyaksikan. Nden Wulan menjambak-jambaki rambutnya, menangis melolong-lolong ketika dulu dipaksa kawin dengan pemuda yang bukan pilihannya,” kata badega.

Ginggi mengangguk-angguk. Anggukan ini samar-samar belaka. Apakah karena mengerti persoalan sebenarnya, atau merasa puas dengan penjelasan barusan.

“Terima kasih atas uraian ini, Paman…” katanya sambil mohon diri.

“Bukankah akan mencari Juragan Ilun, Raden? Biarlah saya mengabarinya. Raden hanya cukup menunggu setengah hari saja,” kata badega.

“Tidak usah, Paman. Aku tak punya waktu, sebab hari ini juga harus segera melanjutkan perjalanan,” kata Ginggi.

“Baiklah kalau begitu. Tapi siapa nama Raden ini, kalau-kalau Juragan menanyakannya,” kata badega menatap agak heran karena Ginggi seperti mau buru-buru.

Ginggi hanya tersenyum, “Tanyalah kepada kepala jagabaya Ki Aliman,” tukasnya sambil beri salam dan pergi dari tempat itu.

Masih penuh misteri, pikir Ginggi. Tapi walau pun begitu, pemuda ini sudah punya gambaran. Menyimak berbagai kejadian yang melibatkan korban wanita kecurigaan Ginggi terpusat kepada pemuda anggun bernama Suji Angkara. Benar, sejauh ini Ginggi belum bisa membuktikan kecurigaannya. Tapi paling tidak, berbagai kejadian bisa menyudutkan Suji Angkara. Di mana ada peristiwa yang melibatkan korban wanita, maka di situ ada Suji Angkara! Di Desa Cae, di mana Nyi Santimi hampir menjadi korban perkosaan, khabarnya Suji Angkara berada di situ dan baru pulang berniaga.

Rama Dongdo mempercepat hari pertunangan Nyi Santimi dengan Seta katanya hanya karena kehadiran Suji Angkara. Rama Dongdo, kakek Nyi Santimi seolah-olah bercuriga cucunya akan diganggu pemuda tampan berpenampilan sopan itu. Ketika Suji Angkara memasuki Desa Wado juga terjadi peristiwa di mana seorang gadis bunuh diri. Kini yang terakhir di Tanjungpura, peristiwa bunuh dirinya seorang gadis pun diawali dengan kehadiran Suji Angkara. Ketika Suji Angkara memasuki wilayah Sagaraherang tidak terjadi kasus wanita bunuh diri. Ginggi menduga, hal ini tidak terjadi karena di daerah itu mereka dijamu berbagai kesenangan termasuk hiburan wanita.

Ya, kalau Ginggi mencurigai Suji Angkara, maka semua kebetulan ini pas adanya dan bisa dijadikan pegangan untuk bahan penyelidikan. Sambil berjalan seorang diri menyusuri jalan pedati yang berdebu dan berudara panas, Ginggi berpikir tentang kemungkinan-kemungkinan peristiwa itu bisa terjadi.

Suji angkara itu misterius dan membahayakan. Dia pesolek, dia tampan dan sopan bila berbicara. Namun tindakannya kadang-kadang ganas. Sudah Ginggi saksikan dengan mata kepala sendiri, bagaimana kejamnya Suji Angkara ketika terjadi pertempuran sengit di hutan jati melawan perampok. Gerakan perkelahiannya selalu diarahkan untuk membunuh lawan. Ki Joglo, anak buah Ki Banaspati yang ditemukan tewas di tepi kolam di wilayah Sagaraherang, amat dipastikan Ginggi sebagai korban pembunuhan Suji Angkara. Pemuda itu membunuh lawan yang tak berdaya dengan amat kejam, digorok lehernya.

Kuwu Wado pun amat takut terhadapnya, sebab pemuda sopan itu bila marah sanggup membengkokkan batang tombak dan daun pintu jati ketika penarikan seba di Desa Wado ditolak Kuwu. Banyak laporan yang masuk ke telinga Ginggi mengenai keanehan-keanehan sikap pemuda yang senang berpakaian gagah meniru-niru kaum bangsawan tinggi ini.

“Pemuda itu ramah dan halus tutur sapanya. Tapi ketika kami hanya berduaan saja, sinar matanya lain seperti mengandung maksud-maksud tertentu. Bicaranyapun menjadi mendesis seperti mewakili sesuatu perasaan. Saya takut sebab naluri saya sebagai wanita seolah mengabarkan sesuatu bahaya,” kata Nyi Santimi tempo hari di Desa Cae.

Ya, Suji Angkara banyak misteri. Belum lagi tentang peranannya dalam keseharian. Sebagai apakah sebenarnya dia? Apakah hanya bertindak sebagai anak Kuwu Desa Cae yang gemar mengembara atau sebagai bawahan Ki Banaspati dalam upaya pengumpulan seba? Ternyata tak juga demikian. Buktinya kini Ki Banaspati menyuruh Ginggi untuk membunuh pemuda itu sebab dicurigai punya hubungan dengan Pakuan. Dengan siapa dia punya hubungan di Pakuan, bukankah Ki Banaspati sendiri oleh sementara orang disebut-sebut sebagai orang Pakuan juga karena jadi petugas penting urusan penarikan seba?

Ya, semua misterius dan menarik untuk diselidiki. Tapi ingat ini, akhirnya Ginggi cuma mengeluh pendek. Pekerjaannya benar-benar berat. Belum lagi dia mengejar penjahat berahi yang lainnya yang orang lain menudingkannya kepada Ki Rangga Guna.

“Biarlah akan aku selesaikan satu-persatu,” gumam pemuda itu sambil terus berjalan.

Hari semakin panas dan semakin menyengat juga. Ginggi tiba senja hari di sebuah dusun kecil. Penduduknya nampaknya miskin-miskin. Pekerjaan sehari-harinya mungkin berladang. Tapi karena kini tengah musim kemarau tanah mereka kering dan tak bisa ditanami. Barangkali keperluan makan mereka sehari-hari hanya mengandalkan simpanan hasil panen tahun lalu belaka. Namun penduduk itu biar pun miskin mereka ramah menghadapi tamu. Terbukti ketika Ginggi ingin menumpang tidur, mereka ceria menyambutnya.

Tikar rombeng barang sehelai mereka gelarkan dan dengan tergopoh-gopoh menyediakan air putih hangat di cangkir tanah liat. Mereka menyodorkan juga nasi jagung tapi yang ditolak Ginggi karena dia sudah makan hasil pemberian gadis anak pemilik warung di Tanjungpura sana. Sayang sekali, kehadiran pemuda itu di kampung kecil ini kurang tepat adanya. Ini karena seisi kampung sedang dilanda kesedihan, sekaligus juga kemarahan.

Dua hari lalu istri kepala kampung melahirkan seorang bayi. Sayang usia bayi laki-laki itu tidak lama, sebab hanya selang beberapa waktu sang bayi yang belum mengenal indahnya dunia ini meninggal pada malam harinya.

“Kami semua bersedih sebab bapak kepala dusun amat mengharapkan seorang anak. Sesuai dengan kebiasaan kami, bila ada yang meninggal dunia, maka saat itu pun si mati harus segera dikuburkan. Malam jum’at kemarin bayi itu kami kuburkan,” kata penduduk yang rumahnya ditumpangi tidur oleh Ginggi.

“Malam jum’at? Malam apakah itu?” tanya Ginggi mengerutkan dahi sehingga alisnya melengkung membentuk sepasang golok.





OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

===============================




Air Terjun Victoria Afrika

No comments:

Post a Comment