Ads

Wednesday, November 10, 2021

Kidung Senja Jatuh di Pajajaran 010

Ditatap oleh kedua orang itu dengan penuh selidik, membuat Ginggi jadi kikuk. Dia menggosok-gosok ujung hidungnya beberapa kali seolah-olah di sana ada asap belanga mengotorinya. Dia juga menepis-nepiskan ujung tangannya ke arah pakaiannya, kalau-kalau debu jalanan membuat pakaiannya dekil. Namun pemuda itu akhirnya yakin, kedua orang itu menatapnya bukan karena kondisi tubuhnya yang dianggap kotor.

“Engkau orang asing. Kami takut dengan orang asing,” gumam pemilik warung bertubuh pendek kurus ini, menatap pada anaknya.

“Saya sudah mendapatkan izin kepala jagabaya Aliman,” kata Ginggi.

“Betulkah?”

“Untuk apa berbohong. Kami bahkan mengobrol lama. Dan saya tahu, apa penyebab kalian takut terhadap orang asing. Karena di sini ada kejadian yang tak kalian sukai bukan?” kata Ginggi lagi. Pemilik kedai itu mengangguk.

“Ya, dua malam lalu ada gadis terbunuh. Katanya bunuh diri. Tapi banyak orang mengatakan, gadis anak perempuan penghibur itu bunuh diri setelah kegadisannya dirambah manusia laknat tak bertanggung jawab!” kata pemilik warung marah dan kesal. Dia mendengus dan melotot ke arah Ginggi. Sesudah itu gadis kecil itu pergi dengan tergesa-gesa.

“Lihatlah, karena peristiwa-peristiwa yang menyangkut mereka, banyak anak gadis tak suka dan selalu bercuriga terhadap kaum pendatang. Lihatlah kesan anakku kepadamu barusan. Dia sangka setiap laki-laki yang pendatang gemar melakukan kejahatan berahi,” kata pemilik warung menuding dengan hidungnya ke arah mana gadis itu berlalu.

“Kalau saya tahu, akan saya kejar penjahat itu!” kata Ginggi.

“Semua orang juga berkata begitu. Tapi siapa yang bias menduga hati orang. Mulutnya berkata begitu, padahal mungkin hatinya berkata lain,” kata pemilik kedai seperti menyindir.

“Ya, memang bisa juga begitu. Tapi aku berkata menurut apa kata hatiku. Lihat saja nanti, kalau ada terdengar peristiwa macam itu lagi, aku pasti turun tangan,” kata Ginggi menegaskan.

Si pemilik warung tidak mengiyakan tapi juga tidak menentang perkataan pemuda itu. Dan karena sudah mendapatkan izin kepala jagabaya, pemilik kedai pun akhirnya mengizinkan Ginggi menumpang tidur.

“Tapi tentu dengan beberapa persyaratan. Di antaranya saja engkau tidak boleh berbuat onar, termasuk minum tuak.”

“Saya tidak mau minum tuak,” jawab Ginggi.

“Ya, bagus!” sambut pemilik kedai.

Dua hari melakukan perjalanan, pemuda ini tidak mandi. Oleh sebab itulah pertama yang diburunya di tempat pondokannya adalah jamban untuk mandi. Pakaian yang barusan ditanggalkan sudah demikian dekil dan langsung saja dia cuci bersih. Sekarang Ginggi perlu menggantinya dengan bekal pakaian yang didapatnya dari Kandagalante Sunda Sembawa. Ada sekitar tiga stel pakaian yang didapat di dalam buntalannya. Tapi amboi, mana yang harus dia kenakan sebab ketiga stel pakaian itu semuanya terbuat dari bahan mewah.

Ginggi sudah mengenal beberapa jenis kain, mana buatan Pajajaran dan mana yang didatangkan dari negri sebrang atau pun negri-negri jauh. Dan ketiga stel pakaian itu semuanya dibuat dari bahan-bahan pilihan hasil pertukaran dengan negri jauh. Jenis pakaiannya masih berupa kampret juga. Tapi kainnya tipis halus dan mengkilat. Kalau kena cahaya lentera, kain baju itu memantulkan kembali cahayanya dan warna biru tuanya semakin indah.

Pemuda itu bingung memikirkan jenis pakaiannya ini. Ginggi suka melihat jenis pakaian halus mengkilat ini ketika para remaja anak-anak golongan santana (kalangan menengah, saudagar dan pedagang) memakainya ketika mereka berjalan-jalan menghirup udara sore atau bila mereka bercanda bersama kaum remaja putri. Hanya anak-anak orang kaya dan yang berjiwa pesolek saja yang gemar memakai pakaian halus dengan warna mencolok seperti ini.

Ketiga pakaian di buntalan itu indah-indah belaka. Barusan yang dipegangnya adalah kampret warna biru tua. Dua lagi berwarna kuning dan merah darah, amat mencolok. Ketiganya aku tak suka, pikirnya. Tapi kalau dia tak gunakan, habis mau pakai yang mana? Terdesak oleh keadaan, akhirnya pemuda itu terpaksa memilih salah satu pakaian. Dipilihnya warna biru tua. Ikat kepalanya pun berwarna sama hanya saja terbuat dari jenis kain yang agak tebal walau pun masih sama halus.

Ketika pemuda itu selesai berdandan dan mulai masuk ke kedai, si pemilik kedai melongo heran. Anak gadisnya pun hampir-hampir tak berkedip menatapnya. Menerima tatapan demikian tajam dari mereka, kembali Ginggi meraba hidungnya dan menepis-nepis pakaiannya.

“Pakaianku sudah tak kotor dan badanku pun sudah tak dekil. Tapi mengapa kalian masih menatapku seperti itu?” tanyanya heran.

Si gadis kecil tersipu-sipu ditegur demikian. Ayahnya yang kurus dan kecil pun malah nampak membungkukkan badan dengan penuh hormat.

“Saya tak menyangka Raden berkenan singgah di kedai reyot macam begini …” kata pemilik kedai masih membungkuk-bungkuk.

Senyum hambar bergayut di bibir pemuda itu. Ternyata penyakit manusia tak pernah sirna, pikirnya. Selama Ginggi turun gunung dan mengenal tipe-tipe manusia, selalu ada kesamaan, bahwa orang cenderung melihat sesamanya hanya dari luar belaka. Mulut manis dan pakaian bagus akan selalu disambut hangat dan ramah. Padahal tadi sebelum mandi dan berpakaian dekil dengan jenis kasar, orang-orang ini melirik dengan sebelah mata.

“Seharusnya Raden memilih tempat peristirahatan yang lebih bagus. Barangkali Kuwu Marsonah atau bahkan Juragan Ilun Rosa pun akan berkenan menerima kehadiran Raden,” kata pemilik kedai hormat.



“Aku mungkin akan bertamu kepada mereka. Tapi untuk menumpang tidur, aku memilih di sini saja,” kata Ginggi.

Dan karena sudah terlanjur mendapatkan penghormatan, akhirnya Ginggi pun tak ragu-ragu untuk meminta pelayanan mereka.

“Aku sekarang lapar. Coba sediakan makanan yang paling enak. Kau juga gadis kecil, ambilkan aku minuman yang sekiranya bisa menyegarkan tubuhku,” kata pemuda itu yang segera memilih tempat duduk agak di sudut.

Pemilik kedai tergopoh-gopoh mempersiapkan berbagai penganan. Si gadis kecil disuruhnya menghangatkan lauk-pauk yang ada di kedai itu.

Ginggi bersenandung kecil merasakan nikmatnya dilayani orang. Sambil senyum simpul dia menyaksikan anak beranak sibuk kesana-kemari menyiapkan makanan. Ada yang membawa baki kayu, ada juga mengambil piring terbuat dari tanah liat. Ginggi menghitung, ada tiga orang lagi yang bekerja di kedai besar itu. Mereka laki-laki setengah baya semua.

Oh, tidak! Ternyata masih ada seorang lagi pekerja kedai. Dan yang ini jelas gadis muda. Usianya barangkali dua atau tiga tahun di atas gadis kecil tadi. Gadis ini tidak tergopoh-gopoh. Dia melangkah biasa saja. Tapi Ginggi tahu, gadis itu datang untuk menghampiri dan melayaninya, sebab dia datang mendekat membawa baki yang di atasnya terdapat poci dan cangkir.

Gadis itu tepat berdiri di samping Ginggi sehingga pemuda itu bisa melihat wajahnya dari sudut matanya. Walau pun hanya terbatas dari samping tapi pemuda itu dapat menduga, gadis ini pasti anak pemilik kedai. Ginggi menduga demikian karena raut wajah gadis ini hamper serupa dengan gadis kecil yang lebih dahulu sudah dikenalnya.

Ginggi merasa kurang puas hanya menatap raut wajah gadis itu melalui sudut matanya. Dan rasa penasaran ini tak dapat ditahannya. Dia segera berpaling untuk bisa menatap langsung wajah gadis itu. Hanya sekejap saja menatap raut wajah itu secara utuh sebab gadis itu segera memalingkan wajah dengan mulut cemberut. Selesai meletakkan poci dan cangkir, gadis itu berlalu tanpa menoleh lagi barang sedikit, seolah-olah di sana tak ada orang. Atau seolah-olah gadis itu bukan melayani pengunjung, melainkan hanya menyimpan begitu saja poci dan cangkir di meja.

Kini Ginggi yang balik cemberut. Gadis itu parasnya cukup manis. Kulitnya putih bersih, bibirnya tipis merekah merah. Dan ada tahi lalat kecil di sudut dagunya. Tapi apalah kecantikan bila tidak dilengkapi perangai yang ramah.

“Tuk!” Pemuda itu menggetok ubun-ubunnya.

Satu kebiasaan bila dia menyalahkan dirinya. Sekian lama dia bergaul dengan orang banyak, sedikit banyaknya telah terpengaruhi tradisi dan kebiasaan mereka. Dulu dia mengacuhkan tabiat orang, sebab dia sendiri pun tak mau tahu tabiat dirinya. Dulu dia bicara seenaknya kepada setiap orang dan penampilan serta sikap pun diperlihatkan seenaknya tanpa perduli apakah orang lain senang atau tidak melihat tampang dan penampilannya. Sekarang dia baru tahu rasa, dilayani dengan mulut cemberut tanpa ucapan barang sepatah sambil mata tidak melirik barang secuil, membuat hatinya tersinggung dan harga dirinya dilecehkan.

Harga diri? Sejak kapan dia mengenal harga diri? Tentu sejak dia mengenal banyak orang. Dia melihat orang lain suka tersinggung bila dilecehkan. Dan sekarang dirinya ikut-ikutan merasa tersinggung karena dilecehkan. Kalau begitu, aku sudah terpengaruh oleh kebiasaan orang lain, pikirnya. Padahal ketika aku hidup berdua saja dengan Ki Darma, tak ada perasaan seperti itu.

“Tuk!” Ginggi kembali menggetok ubun-ubunnya.

Kalau begitu, semenjak dia banyak melihat tata pergaulan, dia menjadi orang yang mudah goyah dan rapuh terbawa arus kebiasaan orang lain.

“Mari Raden, semua masakan telah terhidang. Tapi maafkan bila segalanya kurang berkenan di hati,” kata pemilik kedai mengembalikan kesadarannya.

Ginggi meneliti apa yang ada di hadapannya. Ternyata meja sudah penuh diisi berbagai penganan. Ada ikan lele ditaburi bumbu menyengat. Ada juga paha ayam yang baunya wangi menggoda hidung dan air liur. Makanan-makanan lain pun tidak kalah menariknya. Semua masih mengepulkan asap yang harum dan merangsang selera makan. Tanpa basa-basi, pemuda itu segera melahap semua makanan. Dan semuanya terasa enak, sehingga malam itu Ginggi makan banyak sekali.

Waktu semakin merengkuh malam. Dan ke dalam kedai besar ini, tidak terasa telah banyak orang. Semuanya punya maksud yang sama yaitu hendak makan. Tapi beberapa pengunjung nampak heran melihat Ginggi memborong satu meja penuh. Beberapa orang bahkan merasa ragu menumpang duduk di bangku di mana Ginggi asyik mengunyah makanan.

Rupanya pemuda itu pun merasakan kecanggungan pengunjung lainnya. Agar mereka tidak ragu-ragu, Ginggi mempersilakan mereka duduk di sampingnya. Ginggi menggeser duduknya kian ke sudut untuk memberi tempat kepada pengunjung baru. Tapi mana bisa mereka duduk bersama padahal di atas meja semua makanan milik pemuda itu. Mereka barangkali baru bisa makan bersama kalau semuanya ikut serta mencicipi makanan yang dikuasai Ginggi. Rupanya pemuda itu pun tahu apa yang dipikirkan para pengunjung. Dan untuk yang kesekian kalinya, Ginggi mempersilakan mereka ikut duduk.

“Ayo kita makan bersama. Makanan ini enak-enak dan jumlahnya banyak. Tak mungkin aku habiskan sendirian saja. Ayo, makanlah kalian. Jangan khawatir tidak cukup. Kalau habis, biar aku pesankan lagi!” kata Ginggi.

Mulanya pengunjung ragu-ragu menerima ajakan ini. Tapi karena pemuda itu selalu mendesak, akhirnya ada satu dua orang yang berani duduk. Dan akhirnya yang duduk di sana kian bertambah. Mungkin enam orang mereka berhimpitan di bangku panjang sehingga Ginggi duduk kian mepet ke sudut. Namun ini membuat kegembiraan buatnya. Apalagi ketika dilihatnya semua orang mulai berani makan dengan ramai dan gembira.

“Hey, Pak Tua! Ayo tambah lagi makanannya!” seru Ginggi.

Sebelum pemilik kedai meluluskannya, dengan agak ragu dia bertanya tentang bagaimana cara pembayarannya.

“Bayar? Maksudmu kau minta sejumlah makanan ini ditukar dengan benda logam macam ini?” kata Ginggi merogoh ke dalam buntalannya. Pemuda itu mengeluarkan beberapa pundi-pundi besar. Dibukanya talinya, dikeluarkanya isinya. Dia menyodorkan kepingan uang logam satu genggam.

“Cukupkah semua makanan ini aku tukar dengan segenggam kepingan logam ini?” tanya pemuda itu.

“Hah? Kau bayar segitu?” mata pemilik warung yang kecil itu mendadak terbelalak lebar.

“Kalau kurang biar kutambah lagi!” kata Ginggi yang merasa bahwa pemilik warung kurang puas diberi satu genggam.

Tapi pemilik kedai semakin membelalakkan matanya. Ginggi menoleh ke kiri dan ke kanan. Ternyata semua orang menatapnya dengan cara membelalakan mata. Ginggi menggaruk-garuk kepalanya.

“Kalau lebih dari ini, aku tak sanggup sebab keperluanku masih banyak dan perjalananku masih jauh!” kata Ginggi lagi.

“Engkau salah mengerti Raden. Ki Alpi bukan menganggap bayaranmu kurang tapi uang itu kelebihan, terlalu banyak. Itu uang kepingan perak dari negri Cina. Nilainya amat tinggi. Kau berikan hanya dua keping saja, maka sekali pun Ki Alpi menambah makanan sebanyak dua meja lagi, masih terlalu mahal. Artinya, uang logam dua keping itu masih bisa kau tukar dengan makanan lebih dari empat meja penuh,” kata seorang tua di sampingnya.

Ginggi mengerutkan keningnya. Dia menoleh kepada Ki Alpi, pemilik kedai ini. “Betulkah begitu, Pak?” tanyanya ingin meyakinkan.

Dan ternyata Ki Alpi mengangguk. Ginggi lega hatinya sekali pun merasa heran. Di Kandagalante Sagaraherang pemuda ini memang sudah mengenal jenis kepingan uang yang bisa digunakan sebagai alat penukar keperluan hidup seperti barang dan makanan. Tapi bagaimana cara menggunakannya dan berapa perbandingannya dengan berbagai barang yang ada di pasar, Ginggi sendiri tidak tahu. Masuk ke kedai untuk berbelanja baru kali inilah dia lakukan dan hasilnya sungguh mencengangkan. Ternyata kepingan logam yang diberikan oleh Kandagalante Sunda Sembawa demikian berharganya.

“Bila demikian caranya, aku bisa makan enak tanpa harus bekerja dengan keras,” pikirnya sambil meremas-remas kepingan logam yang ada di genggamannya.

“Baiklah kalau begitu, aku serahkan saja dua keping,” katanya menyodorkan kepingan logam sebanyak dua keping.

Ki Alpi mengangguk-angguk dan berjanji akan menambah jumlah makanan bila masih diperlukan. Namun nyatanya, makanan satu meja penuh ini tak habis dimakan bertujuh. Semuanya sudah kalah sebelum pemilik warung menambah makanan baru.

“Wah, terima kasih sekali Raden. Baru kali ini ada orang kaya raya murah hati mau membagi makanan kepada setiap orang,” kata orang tua di sampingnya sambil membuka kancing bajunya dan mengusap-usap perutnya yang sedikit buncit karena makanan.

“Kau pasti anak orang kaya Raden tapi belum pengalaman menggunakan uang,” kata yang lain.

“Uangmu berharga untuk apa saja, untuk kesenangan apa saja. Mari aku antar kau ke tempat hiburan. Di sana kau bisa main dadu. Kalau kalah, kau bisa dihibur oleh perempuan cantik-cantik dan genit-genit!” tutur yang lainnya.

“Huh! Aku tak suka perempuan! Perempuan itu racun, tahu!” bentak Ginggi tak senang, membuat si pembicara bengong sejenak.

“Kalau begitu, untuk apa uang sebanyak itu, Raden? Anak-anak orang kaya di sini selalu membawa uang untuk keperluan di rumah hiburan!”

“Ah! Persetan dengan itu!” bentak Ginggi lagi.

Tapi kemudian pemuda itu termenung. Dia heran sendiri dengan sikapnya. Di kedai ini, ketika dia berpakaian necis, ketika orang-orang memuji karena uangnya, dengan enaknya dia bisa bicara sambil membentak-bentak. Dengan seenaknya pula dia memperlihatkan sikap suka dan tidak suka akan pendapat dan gagasan orang lain. Karena apakah ini?

Benarkah Ki Rangga Guna? Pemuda itu meraba-raba uang logam yang masih banyak terdapat di dalam pundi-pundi kainnya. Ya, dia bertindak jumawa ini karena uangnya. Di kedai ini dia dipandang orang karena uangnya. Dia menampik gagasan orang dan mereka tunduk karena uang juga. Ah, ternyata uang ini bias amat menguntungkan tapi juga bisa amat membahayakan. Coba kalau aku menuruti saran mereka untuk main dadu dan perempuan. Dengan uang ini mudah tapi membahayakan diriku, pikirnya.

Ginggi mulai mengerti, pantas saja banyak orang berupaya memiliki kepingan logam seperti ini. Suji Angkara dikhabarkan senang berniaga dengan kaum pedagang bangsa asing dan bila pulang membawa banyak pundi-pundi seperti miliknya kini. Kandagalante Sunda Sembawa dikhabarkan sebagai seorang kaya di Sagaraherang dan dihormati semua orang karena banyak memiliki logam ini. Kemudian ada perampok dan orang jahat lainnya, berupaya merampas bahkan membunuh hanya karena kepingan logam ini pula.

“Betul-betul berbahaya benda-benda ini,” pikir pemuda itu.

Ginggi melepaskan genggaman tangannya dari pundi-pundi uangnya dan disembunyikan kembali ke dalam buntalan pakaiannya. Dia harus hati-hati menggunakan kepingan uang logam ini dan jangan sampai dirinya dikendalikan oleh benda-benda seperti itu.

Orang-orang di sekelilingnya masih ramai. Mereka mengobrol kesana-kemari tapi percakapan yang paling menyita dia adalah tentang kematian dua anak gadis yang terjadi dalam selang waktu sebulan ini. Hanya saja pembicaraan ini nampaknya simpang siur. Tak ada yang mengatakan pasti bagaimana dua anak gadis belia itu bisa mati.

“Aku kira mereka memang mati bunuh diri,” kata yang seorang.

“Ya memang, semua orang juga tahu mereka mati bunuh diri. Yang seorang menusuk perutnya dengan patrem, satunya lagi gantung diri. Tapi ada kesamaan dari keduanya. Mereka bunuh diri karena mempunyai sebab yang sama, yaitu merasa kesucian dirinya sebagai perawan tercemar. Kau dengar bukan, tubuh mereka ditemukan dalam keadaan mengibakan? Pakaiannya koyak-koyak, kulit tubuhnya pun lecet-lecet. Sepertinya terjadi pergumulan dulu sebelum gadis itu bunuh diri,” kata yang lainnya lagi.

“Kalau benar kedua gadis itu mati karena kejahatan lelaki, ingin kukoyak-koyak isi dada si jahat itu!” teriak seorang pemuda geram.

“Ya, benar! Dia harus dibunuh sebab telah merusak nama baik lelaki di sini!” teriak yang lainnya.

“Cobalah lihat, sesudah ada kejadian seperti itu, susah sekali kita melihat gadis-gadis molek bertandang di senja hari, pergi ke mata air pun mesti dikawal ketat ayahnya.”

“Bahkan lebih rugi dari itu, gadis-gadis di sini sekarang tidak menyukai para pemuda. Kalau kita tatap, dia palingkan mukanya. Dia lari dan dia sembunyi. Rugi kita!” kata pemuda yang duduk di sudut sana.

Semuanya mengangguk-angguk tapi sambil tawa berderai. Ginggi yang hanya mendengar saja juga ikut tertawa. Ternyata pada akhirnya mereka benci si pemerkosa karena tindakan lelaki biadab merugikan mereka dalam berhubungan dengan para gadis yang dilanda ketakutan dan kecurigaan. Pantas saja anak pemilik warung demikian ketus terhadapku, pikir pemuda itu.

“Siapa yang pernah tahu, kira-kira seperti apakah lelaki jahat itu?” tanya seseorang.

“Kita semua rata-rata mencurigai kaum pendatang. Tapi sulit meraba-raba, siapa mereka, sebab ke Tanjungpura banyak orang yang datang dan pergi,” kata seorang pemuda sambil menatap ke arah Ginggi. Yang lain pun ikut menatapnya sehingga pemuda itu menjadi pusat perhatian walau barang sejenak.

“Aku yakin, yang berbuat kejahatan bukan anak muda seperti Raden berpakaian biru ini,” tutur lelaki tua yang duduk di samping Ginggi sepertinya membela kehadiran pemuda itu.

“Bahkan aku amat mencurigai, pelakunya adalah orang yang sudah berumur. Tubuhnya agak tinggi, mukanya agak bulat, hidungnya melengkung seperti burung ekek dan matanya sipit seperti …” lelaki tua yang bicara tadi tidak melanjutkan kata-katanya ketika ke dalam kedai itu masuk seorang lelaki setengah baya.

Pak tua yang barusan menghentikan kata-katanya malah melotot kaget memandang pendatang baru itu. Bibirnya gemetar, telunjuknya mengarah kepada pendatang baru itu sambil ikut gemetar pula. Semua orang sama-sama menatap pendatang itu tidak terkecuali Ginggi. Orang itu agak jangkung, mukanya bulat, hidungnya melengkung dan matanya sipit.

“Diakah orangnya?” teriak yang lain.

“Ya … dia! Benar dia! Dialah si jahat itu!” teriak lelaki tua itu.

Semua orang sigap berdiri. Ada juga yang menghunus golok.

“Serbuuu!!!”

“Bunuuuh!!!”

Semua orang serentak menghambur ke arah pendatang baru itu yang nampak amat terkejut dengan sambutan aneh ini. Dia hanya sempat bengong sejenak. Namun pada akhirnya tak memiliki kesempatan untuk diam mematung seperti itu bila tak ingin tubuhnya lumat oleh berbagai serbuan yang datang. Orang berhidung bengkok bermata sipit itu nampak tak ingin melayani serangan. Dengan gerakan kaki teratur dia melangkah satu dua tindak ke belakang. Ketika serangan datang kian gencar, ujung kakinya menotol tanah dan jumpalitan ke belakang.

“Hm, dia punya kepandaian,” gumam Ginggi masih tetap duduk di tempatnya

Di pekarangan yang agak luas, lelaki setengah baya itu baru berdiri lagi. Tapi pengepung terus mengejar dan menyerang dan nampaknya orang-orang itu bersiap akan membunuhnya.

Namun dari tempat duduknya Ginggi menyaksikan, kepandaian orang asing itu sungguh hebat. Dia bisa berkelit kesana-kemari menghindari berbagai serangan dengan amat lincah dan tepat. Sebuah bacokan golok yang menghambur ke arah jidatnya, dengan enteng saja dia tepiskan hingga si penyerang terjerembab ke samping. Bila dia mau, sebetulnya orang asing itu bisa membalas serangan dengan telak bahkan bisa membunuh si penyerang. Tapi tubuh si penyerang dibiarkan begitu saja terjerembab di bawah kakinya tanpa berusaha untuk menyerang tengkuk si penyerang dengan pijakan kaki misalnya.

Dalam waktu yang singkat terdengar jerit dan pekik kesakitan. Bukan karena orang asing itu melancarkan serangan balasan, tapi teriakan kesakitan itu keluar dari mulut si penyerang yang serangan pukulan tangannya berbenturan dengan tangkisan tangan orang asing itu. Mereka meringis-ringis dan tak berani melanjutkan serangannya. Sebaliknya, lelaki bermata sipit itu pun nampaknya tak berniat melanjutkan keributan. Terbukti, ketika tahu penyerangnya menghentikan gerakan, dia pun segera membalikkan badan hendak berlalu pergi.

“Tangkap pemerkosa!” teriak lelaki tua penyulut keributan ini.

Ginggi tahu, lelaki ini yang tadi menuduh si hidung bengkok bermata sipit melakukan perbuatan biadab terhadap gadis di kampung ini.

“Raden, bukankah engkau tadi sore bilang akan menangkap pelaku perkosaan? Itulah orangnya seperti apa kata Mang Suepi!” kata pemilik kedai menagih janji.

Ginggi memang ingat, tadi dia berkoar hendak menangkap tukang perkosa. Tak dinyana, sekarang “tugas” itu menunggunya. Tapi benarkah lelaki berwajah bulat itu pelaku pemerkosa?

“Apakah kau tidak salah lihat, Mang?” tanya Ginggi kepada si lelaki tua.

“Mataku memang lamur, tapi masih bisa melihat wajah orang itu. Ya, dialah yang tiga malam lalu datang ke rumah hiburan dan mengganggu banyak wanita penghibur. Karena orang itu tabiatnya kasar, tak ada wanita yang mau padanya. Namun di tengah malam, terdengar jeritan pilu di rumah hiburan itu. Ternyata anak gadis salah satu wanita penghibur yang sebetulnya masih bau kencur sudah bunuh diri. Pakaiannya koyak-koyak dan seluruh tubuhnya penuh dengan cakaran-cakaran. Uh, biadab! Biadab!” kata lelaki tua itu mengepal-ngepalkan tinjunya.

“Pak, titip buntalanku, akan aku kejar orang itu!” kata Ginggi.

Sesudah menyerahkan titipan barangnya, Ginggi segera pergi ke arah mana orang tadi menghilang. Pemuda itu berlari cepat sambil sesekali melongok ke arah lorong-lorong kuta atau benteng tanah liat. Tapi sampai keempat sudut tembok benteng dia datangi, orang yang diburunya tidak ditemukan sepertinya menyusup ke dalam bumi.

“Betulkah orang itu pemerkosa?” gumamnya.

Kalau benar begitu, maka sungguh berani dia, berkeliaran menampakkan diri di muka umum padahal kelakuan jahatnya sudah diketahui. Mengapa dia berani mati seperti itu? Apakah karena memiliki kepandaian tinggi seperti apa yang ditampilkannya tadi? Karena yang dicari tak juga ketemu, akhirnya pemuda itu berniat kembali ke kedai. Namun sebelum melangkah pergi, ada terbesit pikiran untuk singgah dulu di rumah hiburan yang ada di wilayah tersebut.





OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

===============================




Air Terjun Victoria Afrika

No comments:

Post a Comment