Ads

Friday, September 20, 2013

Bajak Laut Kertapati Jilid 002

***Kembali

Keramaian apakah yang seang berlangsung ? ternyata bahwa hari ini diadakanperlombaan dan pemilihan anak-anak kapal yang cakap. Belanda telah bermufakatdengan para pembesar setempat untuk mencari anak-anak kapal sebagai pelayan danpembantu pada kapal-kapal mereka dan untuk mengadakan pemilihan, maka diadakanperlombaan berenang, bermain di air dan kecakapan mengemudikan perahu berlayar.

Selain itu, juga dalam kesempatan ini, para pembesar hendak berpesta, merayakanperjanjian perdamaian dan persetujuan yang tercapai antara pembesar BelandaSpeelman dan Sunan Amangkurat II !

Dalam kesempatan ini, para puteri jelita dari gedung-gedung pembesar, mendapatalasan untuk keluar dari gedung dan kamarnya, untuk ikut menyaksikan keramaianini. Mereka ini bersama ayah buda mereka, ikut naik ke atas panggung danmenyaksikan perlombaan-perlombaan itu, juga memberi kesempatan kepada parapemuda yang jarang dapat memandang wajah mereka untuk kali ini memandangsepuasnya dan mengaguminya dengan diam-diam !

Hiburan yang paling ramai, bahkan melebihi ramainya perlombaan-perlombaan itu,adalah acara bebas yang tidak direncanakan lebih dulu. Seorang isteri tumenggung,tanpa disengaja telah menjatuhkan tempolongnya ( tempat ludah sirih ) ke dalam airdi depan panggung. Air ini dalam dan jernih sehingga tempolong itu kelihatan dariatas, menggelinding ke atas dasar pantai.

Melihat hal ini, seorang nelayan muda lalumelompat ke dalam air dan menyelam untuk mengambilkan tempolong kuningan itu.Tubuhnya yang bergerak-gerak bagaikan ikan besar itu nampak dari atas dan semuapembesar, terutama para isteri dan puteri memuji dengan kagum dan girang. Memanghal ini mendatangkan pemandangan yang amat mengagumkan, jauh lebih menarikdaripada melihat perlombaan perahu atau berenang dari tempat itu. Maka, setelahnelayan muda itu timbul dari air sambil membawa tempolong dan menyerahkankepada penjaga, ia disambut dengan tepuk sorak.

Melihat kegembiraan semua tamu, maka tumenggung itu lalu mengusulkan untukmembauat permainan sebagai penambah acara, yakni mereka melempar-lemparkanbenda dengan sengaja ke dalam air dan para penonton diperbolehkan terjun danmendapatkan benda-benda itu kembali! Tentu saja untuk ini diadakan hadiah-hadiah,bahkan karena gembiranya, lalu ditetapkan bahwa benda yang dilemparkan itu bolehdimiliki oleh para penyelam !

Hal ini mendatangkan kegembiraan besar sekali. Para pemuda lalu memperlihatkankesigapan dan kepandaiannya. Dan ternyata bahwa yang paling suka melempar-lemparkanbenda ke dalam air adalah para puteri dan wanita! Yang dilemparkan kedalam air sebagaian besar adalah mata-mata uang. Memang menyenangkan sekalimelihat para pemuda nelayan itu menyelam dan berenang di atas dasar laut, hilirmudik bagaikan ikan-ikan besar berebut makanan.

Diantara sekian banyaknya penonton yang melihat pertunjukan ini, terdapat seorangpemuda yang berwajah tampan dan berpotongan tubuh kekar dan tegap. Kulitnyabersih dan halus, membuat ia kelihatan seperti Arjuna diantara sekian banyak nelayanyang berkulit hitam terbakar matahari setiap hari. Semenjak tadi pemuda ini berdiridi dekat panggung, akan tetapi berbeda dengan semua orang yang menonton parapenyelam memperebutkan uang, ia menunjukan pandang matanya kepada seoranggadis yang duduk di atas panggung.

Gadis ini cantik jelita seperti kebanyakan puteri yang berada di situ, akan tetapidalam pandangan pemuda itu, dia adalah gadis yang tercantik diantara sekian semuawanita yang pernah dijumpainya ! Dara itu bertubuh lagsing, berkulit kuning lagsat,dan wajahnya manis sekali. Bibirnya seperti gendewa terpentang, tipis dan merah basah menggairahkan hati, dan yang terindah dari semua itu adalah sepasang matanya. Inilah mata yang disebut dammar kanginan, atau bagaikan dian tertiup angin.

Sinar matanaya bagaikan mengandung pengaruh yang menjatuhkan hati pria manapun juga. Bentuknya lebar agak meruncing di ujung membuat lirikannya tajam sekali. Dihias bulu mata yang panjang dan lentik, melengkung ke atas membuat mata itu nampak berseri bergerak-gerak dengan lincah.

Dara juita ini adalah Roro Santi, puteri dari Dipati Wiguna, seorang bangsawan dari demak yang kini menjadi pembesar di Jepara. Roro Santi terkenal sebagai bunga Jepara dan kecantikannya telah terkenal diantara semua penduduk Jepara. Telah tiga bulan ia dipertunangkan dengan Raden Suseno, putera Bupati Randupati dari Rembang.

Akan tetapi, tiap kali orang tuanya hendak melangsungkan pernikahannya, juita itu selalu menolak dan sambil menagis agar supaya pernikahannya diundurkan karena ia tidak sampai hati meninggalkan dan berpisah dari orang tuanya.

Sebagai puteri tunggal yang amat dimanja dan dicinta, tentu saja kedua orang tuanya tak mau memaksanya dan demikianlah, telah tiga bulan lebih ia bertunangan, akan tetapi belum juga pernikahan dilangsungkan. Raden Suseno menjadi tidak sabar, akan tetapi ia tidak berani terlalu mendesak, hanya merasa cukup puas apabila beberapa hari sekali ia diperbolehkan datang ke Jepara dan memandang tunangannya dengan dendam birahi yang menggelora di dalam dadanya.

Roro Santi bukannya tidak tahu bahwa pemuda tampan itu telah semenjak tadi memandangnya dengan mata menyatakan kekagumannya, akan tetapi siapakah diantara sekian banyaknya laki-laki yang tidak memandangkanya dengan kagum ?

Oleh karena itu, ia tidak mengambil perduli, hanya diam-diam ia merasa heran mengapa diantara nelayan-nelayan yang sederhana itu terdapat seorang pemuda yang demikian cakapnya. Kegembiraannya bertambah ketika mengetahui bahwa pemuda itupun mengagumi kecantikannya. Perempuan manakah yang tidak merasa gembira dan bangga apabila ada mata laki-laki memandangnya dengan kagum? Segalak-galaknya wanita, biarpun di luar ia mungkin akan marah apabila ada laki-laki lain memandangnya dengan tajam, akan tetapi tak salah lagi di dalam hatinya ia pasti merasa amat gembira dan bangga! Dengan adanya kekaguman yang terpancar keluar dari mata lelaki yang ditujukan kepadanya, maka tak pecumalah segala jerih payahnya merawat dan menjaga diri serta bersolek setiap hari!

Di luar sangkaan semua orang, pemuda ini bukan lain ialah Kertapati, bajak laut yang menggemparkan itu! Dengan menyamar seperti seorang nelayan biasa, ia mencampurkan dirinya dengan orang banyak untuk ikut menonton keramaian itu dan sekalian melakuan penyelidikan untuk keperluan “pekerjaannya“ . Ia merasa heran dan benci kepada matanya sendiri mengapa mata itu tidak mau menurut kehendaknya.

Selama ini, diantara kawan-kawannya, yakni anak buahnya yang membantu pekerjaannya sebagai bajak laut, ia terkenal sebagai seorang pemuda yang “alim“ dan sama sekali tidak suka membicarakan tentang perempuan-perempuan cantik.

Apabila kawan-kawannya bercakap-cakap soal perempuan, ia menjauhkan dirinya tanpa mencurahkan sedikitpun perhatian sungguhpun ia tidak melarang mereka. Akan tetapi, para anak buah bajak laut itu jangan sekali-kali berani mencoba untuk mengganggu wanita di depannya!

Pernah ia menghajar seorang anak buahnya sampai setengah mati ketika anak buahnya itu menculik seorang gadis dari perahu yang mereka rampok.

Kini, melihat Roro Santi, menurut kehendaknya, ia tidak mau mengambil perduli sama sekali dan bahkan tidak ingin melihatnya, akan tetapi aneh, matanya seperti terkena pesona dan ia tidak dapat menguasainya pula ! Oleh karena itu ia merasa benci kepada matanya, kepada hatinya, dan kepada diri sendiri.

“Bodoh!“ bisiknya kepada diri sendiri. “Mata keranjang!“ Ia memaki-maki diri sendiri seakan-akan yang berbuat itu adalah seorang yag menjadi orang kedua.

Melihat betapa juita itu agaknya tidak mengacuhkan, ia menjadi makin gemas kepada diri sendiri dan merasa direndahkan. Saking gemasnya, untuk menghukum diri sendiri, ia lalu terjun ke dalam air, ikut menyelam dan mengejar uang yang dilempar ke dalam air! Ia sampai lupa untuk membuka bajunya dan terjun ke dalam air dengan pakaian masih lengkap !

Melihat seorang pemuda terjun ke dalam air dengan pakaian lengkap, pecahlah suara ketawa dari para penonton. Diluar kehendaknya, Kertapati menarik perhatian semua orang. Apalagi ketika ia memperlihatkan kesigapan dan kecepatannyadi dalam air yang tiada ubahnya laksana seekor ikan belut itu. Para penyelam lainnya merasa terkejut sekali karena tiap kali mereka hendak menangkap sebuah mata uang yang dilemparkan dan tenggelam di depan mereka, tahu-tahu berkelebat bayang-bayang hitam bagaikan seekor ikan menyambar dan uang itu telah dihahului dan disaut oleh bayangan hitam yang cepat gerakannya itu. Yang mengherankan lagi ialah kekuatan menyeam pemuda ini, karena setelah menyelam sekali dan mendapatkan sepotong uang logam itu, dan muncul kembali untuk mengambil napas, akan tetapi Kertapati bermain-main di dalam air bagaikan ikan dan seakan-akan ia tidak membutuhkan pergantian napas! Penyelam lain telah tiga kali mengambil napas di permukaan air, akan tetapi ia masih saja berada di dalam air!

Akhirnya, setelah kedua tangannya penuh dengan uang logam, Kertapati muncul di permukaan air. Tepuk-sorak menyambutnya sebagai tanda memuji dan ketika Kertapati melihat betapa tepuk tangan dan sorakan itu diberikan untuknya, ia menjadi merasa malu dan sebal. Dilemparkannya kembali semua uang di tangannya itu ke dalam air sambil tertawa bergelak ! Tentu saja semua orang merasa heran melihat ini, akan tetapi para nelayan yang melihat demikian banyaknya uang dilempar ke air, segera ikut menyelam dan sebentar saja uang yang dilempar oleh Kertapati itu menjadi rebutan di dasar air !

Kertapati kembali memandang ke arah Roro Santi dan kebetulan sekali gadis inipun sedang memandang ke arahnya dengan mata kagum. Biarpun Kertapati tidak membuka pakaiannya ketika menyelam, akan tetapi oleh karena kini bajunya basah kuyup, maka baju itu melekat pada kulit tubuhnya, membuat potongan tubuhnya nampak nyata. Bahu yang bidang, dada yang menonjol ke depan, lengan yang kuat pinggang yang kecil itu memang amat mengagumkan, terutama karena tubuh yang gagah ini dimiliki oleh wajah yang demikian tampan.

Diam-diam Roro Santi memuji ketampanan dan kegagahan pemuda ini dan melihat betapa pemuda itu melemparkan kembali semua uang yang tadi diambilnya ketika ia menyelam, ia dapat menduga bahwa pemuda ini pasti bukan seorang nelayan atau petani biasa! Ksatria dari manakah dia ?

Melihat betapa pandang mata pemuda itu ditujukan kepadanya, Roro Santi menjadi gugup dan merasa betapa mukanya menjadi panas. Ia segera menundukkan mukanya yang menjadi merah itu dan dengan tangan gemetar ia mencabut tusuk kondenya yang terbuat daripada emas dihias permata intan. Ia lalu mengerling ke arah Kertapati yang masih memandangnya, kemudian sengaja melepaskan tusuk konde itu ke dalam air !

Kertapati melihat gerakan ini, juga banyak penyelam yang telah timbul di permukaan air melihat benda berharga ini terjatuh ke dalam air, maka cepat mereka menyelam untuk memperebutkannya. Kertapati memandang dengan dada berdebar aneh, dan ia merasa seakan-akan bahwa tusuk konde itu sengaja dilempar di dalam air untuknya !

Sebelum ia dapat menekan debar jantungnya, ia telah melompat kembali ke dalam air! Tiga orang penyelam yang terpandai telah meluncur dekat benda itu, akan tetapi tiba-tiba tubuh mereka terdorong ke kanan dan kiri oleh sepasang lengan yang luar biasa kuatnya dan sebelum mereka dapat mempertahankannya, tusuk konde itu telah disambar oleh tangan penyelam baju hitam yang aneh tadi !

Kertapati lalu timbul lagi di permukaan air dan berenang cepat sekali ke darat, lalu melompat dengan sigapnya ke tas batu karang. Dari situ ia lalu melompat ke arah panggung dengan tangan kanan dan sekali ia ayun tubuhnya, ia telah naik ke atas panggung itu, tepat dihadapan Roro Santi yang menjenguk ke bawah untuk melihat siapa yang berhasil mendapatkan tusuk kondenya!

Untuk sejenak, Roro Santi tertegun dan memandang dengan matanya yang indah itu terbelalak kepada pemuda yang kini berada dihadapannya. Kertapati tersenyum dan mengulurkan tangannya yang memegang tusuk konde itu sambil berkata perlahan,

“ Terimalah kembali tusuk kondemu …… kau telah menjatuhkannya ke dalam air …… “

Pemuda itu merasa terheran sendiri mengapa ia merasa begitu gugup sehingga bicaranyapun terputus-putus dan napasnya tersengal. Dengan muka merah Roro Santi mengulur tangannya, akan tetapi ia segera menariknya kembali dan berkata dengan muka tetap tunduk,

“ Kau …… ambillah…… itu menjadi hakmu ! “

Semua orang-orang bagsawan yang duduk ditarup itu, merasa marah dan penasaran melihat betapa seorang penyelam berani naik ke panggung dan menghadapi Roro Santi dengan berdiri saja, sedangkan puteri itu duduk di kursi. Alangkah berani dan kurang ajarnya! Bahkan andaikata Kertapati naik ke panggung dan menghadapi puteri itu dengan menyembah dan berlututpun sudah merupakan perbuatan yang kurang ajar karena tanpa mendapat perkenan mereka, tak seorang nelayan atau penonton boleh naik ke panggung begitu saja, apalagi mengajak bicara seorang puteri dipati !

Yang paling marah adalah Raden Suseno yang duduknay tak jauh dari tempat itu. Dengan hati penuh cemburu dan marah, pemuda ini melihat betapa sinar mata kertapati menatap wajah tunangannya dengan berani, kurang ajar, dan penuh perasaan. Ia berdiri dari kursinya dan segera melompat ke depan Kertapati.

“bangsat rendah“ ia memaki samnil memandang dengan mata melotot.“ Jangan berlaku kurang ajar ! “

Kertapati memandangnya dengan senyum simpul, seperti seorang dewasa memandang seorang anak kecil yang nakal.

“Puteri ini menjatuhkan perhiasan rambutnya dan aku menolong mengambilkannya lalu mengembalikan benda ini kepadanya, mengapa kurang ajar ? “

“ Tutup mulut ! Lekas kembalikan perhiasan itu kepadaku dan segera enyah dari sini !” bentak Raden Suseno marah.

Akan tetapi Kertapati tetap tersenyum dengan wajah tenang. Para bangsawan yang berada di situ makin tertarik melihat pertengkaran ini, bahkan beberapa orang opsir Belanda yang menjadi tamu juga memandang dengan tertarik. Mereka semua kini berdiri dari kursinya dan semua mata, baik yang berada di atas panggung maupun yang berada di bawah, yakni para nelayan dan penonton, ditujukan ke arah atas panggung di mana pemuda baju hitam yang aneh itu sedang berdiri berhadapan dengan Raden Suseno yang sedang marah.

“ Benda ini bukan milikmu, enak saja kau memintanya ! “




Raden Suseno makin marah. “ Bangsat kurang ajar ! Tidak tahukah kau sedang berhadapan dengan siapa ? Aku adalah Raden Suseno putera bupati dari Rembang, dan puteri ini adalah tunanganku, Raden Roro Santi ! “

Kertapati segera memotong pembicaraannya dengan membongkokkan tubuh dan berkata.

“Terima kasih atas pemberitahuan nama itu, bukan namamu, akan tetapi nama puteri ini Roro Santi, alangkah indah nama ini, sesuai benar dengan orangnya…… “

“Keparat ! Lekas berikan barang itu kepadaku ! Atau barangkali kau minta dihajar dulu ?“ Raden Suseno sudah menjadi marah sekali maka ia lalu mengayun tangan kanannya, menempiling ke arah kepala Kertapati. Akan tetapi, dengan tenang sekali Kertapati merendahkan tubuhnya sehingga tamparan itu lewat di atas kepalanya, mengenai tempat kosong.

“Pemiliknya telah memberikan kepadaku, kau perduli apa ? “ katanya, “ Kalau kau menghendaki benda ini, mengapa tadi kau tidak melompat ke dalam air ? “

Akan tetapi Raden Suseno tidak mau banyak cakap lagi, wajahnya menjadi pucat saking marahnya dan ia merasa penasaran sekali betapa tamparannya dihindarkan dengan mudah oleh pemuda itu. Ia menyerang lagi dengan tonjokan keras ke arah dada lawannya, dan menyusul dengan tendangan keras dan cepat untuk menendang tubuh pemuda bulu hitam itu agar terlempar ke bawah panggung !

Raden Suseno adalah seorang pemuda ahli pencak, maka gerakannya cepat dan tenaganya kuat. Akan tetapi, ia tidak tahu bahwa ia sedang berhadapan dengan seorang pendekar yang tinggi ilmu kepandaiannya. Kertapati miringkan tubuh ke kiri untuk mengelak dari tonjokan ke arah dadanya, kemudian ketika kaki kanan lawannya yang menendang menyambut dekat, tiba-tiba ia ulur tangan kirinya dan mendorong tubuh Raden Suseno ke kanan ! Karena tenaga tendangan sendiri ditambah dengan dorongan lawan, tak dapat tertahan lagi tubuh Raden Suseno terlempar ke kanan dan jatuh ke bawah panggung ! Terdengar suara “ jeburr ! “ ketika tubuhnya menimpa air, disusul suara tertawa yang ditahan-tahan dari para penonton di bawah panggung !

Pada saat itu, terdengar teriakan orang dari bawah panggung, “ Dia Kertapati …… ! Dia yang dulu kami kejar-kejar ! Dia Kertapati ! Tangkap…… ! “

Yang berteriak-teriak ini adalah seorang diantara empat ponggawa yang dulu hendak menangkap Kertapati dengan bantuan seorang sersan Belanda. Ponggawa itu lupa bahwa kalau bajak laut itu berlaku kejam dan tidak menolong dia dan tiga orang kawannya ke dalam perahu, tentu mereka berempat telah mati seperti sersan Belanda itu pula ! Kini ia berteriak-teriak dan berlari menuju ke panggung itu.

Roro Santi terkejut sekali mendengar ini dan ia memandang kepada Kertapati dengan mata terbelalak dan muka pucat. Jadi inilah bajak laut Kertapati yang telah menggemparkan seluruh negeri selama beberapa bulan ini ?

“Terima kasih atas pemberian benda yang akan kusimpan selama hidupku ini …… “

Kertapati masih sempat berbisik perlahan sebelum mempersiapkan diri menghadapi musuh-musuhnya.

Memang, teriakan yang dikeluarkan oleh ponggawa tadi, untuk sejenak membuat semua orang merasa seakan-akan tubuh mereka menjadi kaku. Mereka berdiri bagaikan patung memandang kearah pemuda baju hitam yang msih berdiri di depan Roro Santi, bahkan kini tidak ada orang yang memandang ke dalam air di mana Raden Suseno sedang berenang ke tepi sambil menyumpah-nyumpah !

Kemudian, serentak timbullah keributan besar ketika para penjaga dan ponggawa, dengan tombak di tangan lalu mengurung panggung di mana Kertapati mengeluarkan suara ketawa bergelak dan sekali tubuhnya bergerak, ia telah terjun ke dalam air!

Terdengar tembakan yang dilepas dari senjata api di tangan seorang opsir tamu Belanda, akan tetapi dengan menyelamkan diri ke dalam air, Kertapati dapat menyelamatkan diri dari peluru yang menyambarnya itu. Opsir-opsir Belanda lain ketika mendengar bahwa pemua itu adalah bajak laut yang mereka benci, juga sudah mengeluarkan senjata api masing-masing dan kini dengan membabi-buta mereka menembak ke dalam air sambil mengira-ngira saja !

Kertapati terus berenang di bawah permukaam air dan ketika ia muncul kembali, ternyata ia telah berada di tepi yang jauh dari terup itu, lalu melompat ke darat dimana terdapat banyak penonton. Akan tetapi, para opsir itu masih menembakkan senjata api mereka ke arah tempat itu dan dua orang penonton roboh terkena peluru, sedangkan Kertapati lenyap diantara penonton yang banyak !

Tentu saja hal ini menimbulkan keributan dan geger. Semua penonton berlari cerai-berai, takut terkena tembakan yang nyasar dan yang lepas dengan ngawur itu. Ketika tempat itu sudah bersih dari para penonton, ternyata Kertapati telah lenyap pula tanpa meninggalkan bekas! Para ponggawa masih mencari ke sana ke mari dengan hati kebat-kebit karena ketakutan, akan tetapi yang dicari telah lenyap, entah ke mana perginya !

Perbuatan Kertapati yang amat berani ini mendatangkan kesan mendalam pada semua orang. Para opsir Belanda makin membencinya dan menganggapnya sebagai pengacau yang kurang ajar, terutama sekali Raden suseno merasa amat marah dan juga cemburu sekali. Ia tidak puas akan sikap tunangannya yang memberikan tusuk kondenya kepada bajak laut jahat itu!

Hanya di dalam dada seorang saja kertapati menimbulkan kesan yang luar biasa, yakni dalam dada Roro Santi sendiri! Gadis ini merasa demikian tertarik kepada pemuda baju hitam itu. Ia menganggap pemuda itu gagah berani, jujur, dan juga tidak menjilat-jilat seperti Raden Suseno atau lain-lain pemuda dihadapannya. Kekurang-ajaran dan kekasaran bajak laut itu menarik hatinya.

Biarpun berkali-kali ia mengerahkan tenaga batinnya untuk menganggap Kertapati sebagai seorang bajak laut yang kejam, pengacau yang penuh dosa, akan tetapi perasaan wanitanya berpendapat lain dan anehnya, bayangan pemuda dengan senyumnya yang manis dan tenang itu sukar sekali diusir dari alam pikirannya !

Opsir Belanda yang pertama-tama melepaskan tembakan ketika Kertapati muncul dalam keramaian di pantai Jepara itu, adalah seorang berusia kurang dari tiga puluh tahun, berwajah tampan dan gagah, berambut kekuning-kuningan dan matanya biru serta tajam sekali. Dia bukanlah seorang opsir biasa, karena sesunguhnya opsir ini yang namanya Dolleman, adalah seorang kepala pasukan rahasia atau mata-mata Belanda yang banyak disebar untuk menyelidiki keadaan dan pergerakan para pangeran di Mataram berhubung dengan pemberontakan-pemberontakan Trunajaya.

Dolleman amat cerdik dan ia telah mempelajari bahasa daerah sehingga dapat bercakap-cakap dalam bahasa itu cukup fasih, sungguhpun lidahnya masih terasa kaku untuk dapat mengucapkan kata-kata daerah yang asing baginya itu. Telah banyak jasa yang diperbuat selama ia datang dari negerinya sehingga di kalangan Kompeni, ia mendapat kepercayaan penuh, bahkan ia mempunyai surat kuasa untuk menggerakkan semua pasukan Kompeni yang terdapat di mana saja, menurut perintahnya apabila terjadi sesuatu yang penting.

Selain mendapat tugas untuk mengawal Speelman yang mengunjungi Jepara dan mengadakan pertemuan dengan Sunan, iapun mendapat tugas pula untuk menyelidiki dan mencari sarang bajak laut Kertapati yang mengacau disepanjang tepi Tegal sampai Jepara. Maka ketika Kertapati dengan beraninya muncul dalam keramaian di pantai itu, Dolleman segera mengerahkan seluruh pembantunya untuk disebar dan melakukan penyelidikan di sekitar daerah Jepara. Ia merasa yakin bahwa bajak laut itu tentu berada di sekitar daerah itu dan bersembunyi di sebuah desa.

Dolleman mempunyai banyak sekali kaki tangan yang terdiri dari penduduk pribumi yang telah makan uang sogokannya, akan tetapi, ia tidak kenal betul kecerdikan Kertapati, dan tanpa disadarinya seorang diantara kaki tangannya adalah seorang anak buah bajak laut sendiri ! Oleh karena itu, tentu saja kaki tangannya melakukan pengejaran dan penyelidikan, mereka tak berhasil menemukan bajak laut itu,

Di dalam rumah penginapan. Dolleman duduk di kamar, sudut bibirnya menjepit sebatang serutu dan kedua tanagnnya mempermain-mainkan sebatang tangkai pena. Pikirannay bekerja keras dan ia benar-benar merasa bingung menghadapi bajak laut kertapati yang amat cerdik itu. Peristiwa terbunuhnya sersan Zeerot dan keadaan empat kawan ponggawa yang pingsan di dalam perahu, membuat ia dapat menduga bahwa betapapun juga, sebagai seorang bajak laut, Kertapati masih melindungi orang-orang sebangsanya. Siapa lagi kalau bukan Kertapati yang menolong empat orang ponggawa itu sehingga mereka tidak mati tenggelam ?

Perbedaan nasib sersan Zserot dan empat orang ponggawa itu menimbulkan dugaannya bahwa Kertapati bukanlah bajak laut biasa dan Dolleman mulai menghubungkan keadaan bajak laut itu dengan pemberontakan Trunajaya. Adakah hubungan antara Kertapati dan Trunajaya ?

Untuk mencari sesuatu yang merupakan titik terang guna mencari jejak untuk penyelidikan, ia mulai mengenangkan lagi semua peristiwa yang terjadi di dekat pantai pada waktu keramaian itu. Terbayanglah di depan matanya yang biru tajam itu ayah Roro Santi yang cantik jelita, pandang matanya yang amat manis itu.

Terbayang pula betapa Kertapati memandang puteri itu dengan mata penuh perasaan dan teringatlah ia akan pemberian tusuk konde itu. Tiba-tiba Dolleman menancapkan penanya di atas meja dan berseru.

“Bagus …… !! akal inilah yang harus kugunakan !!“

Wajahnya yang cakap menjadi berseri gembira, matanya yang tajam bercahaya terang ia segera menukar pakaiannya dengan pakaian yang indah dan baru. Kemudian denagn langkah lebar dan bersiul-siul, ia berjalan keluar dari rumah penginapannya dan langsung menuju ke gedung Adipati Wiguna.

Adipati Wiguna menyambutnya dengan ramah tamah dan tamunya duduk di ruang tengah. Diperintahnya pelayan untuk mengeluarkan hidangan bagi tamu itu, akan tetapi Dolleman lalu berkata sambil tersenyum.

“Jangan merepotkan diri, tuan Adipati ! Saya hanya ingin bercakap-cakap sebentar dan karena yang akan saya bicarakan ini adalah suatu yang amat penting, harap tuan Adipati suka menyuruh semua pelayan mengundurkan diri agar percakapan kita takkan terganggu. “

Biarpun merasa agak heran, Adipati Wiguna lalu memerintahkan semua pelayannya mundur, kemudian ia menghadapi Dolleman yang duduk di depannya sambil bertanya,

“ Perkara apakah gerangan yang hendak kau bicarakan ? “

Sebelum mulai bicara, Dolleman mengeluarkan sebungkus cerutu dan menawarkannya kepada tuan rumah, akan tetapi dengan halus Adipati Wiguna menampiknya sambil mengucapkan terima kasih. Dolleman mencabut sebatang cerutu dan menyalakannya, lalu menghisap asap cerutu itu dalam-dalam ke dadanya.

“Tuan Adipati Wiguna, “katanya setelah menghembuskan asap itu keluar dari mulut dan hidungnya, “telah lama saya mendengar nama tuan Adipati dan kalau tidak salah tuan Adipati berasal dari Demak, bukan ? “

Adipati Wiguna mengangguk dan bangsawan ini cukup mklum bahwa ia sedang berhadapan dengan seorang opsir penyelidik yang terkenal sekali, maka ia menanti dengan hati berdebar akan kelanjutan dari percakapan ini. Karena tidak mungkin opsir ini datang sekedar untuk bercakap-cakap angin belaka.

“Memang saya sekeluarga berasal dari Demak tuan Dolleman, “ jawabnya menekan debar jantungnya “ belum lama saya dipindahkan ke Jepara dan menjabat pangkat di sini. “

Dolleman mengangguk-angguk dan menyentil-nyentil cerutunya dengan jari sehingga abunya yang putih jatuh ke atas lantai.

“Tuan Adipati, saya telah banyak mengalami pertempuran-pertempuran, diantaranya pertempura melawan Trunajaya di Surabaya. Pertemuan saya dengan tuan Adipati mengingatkan saya akan seorang pemimpin pemberontak pembantu Trunajaya, oleh karena wajahnya mirip sekali dengan tuan Adipati. “

Biarpun Adipati Wiguna berusaha menetapkan hatinya, namun wajahnya tetap saja berubah pucat mendengar uapan ini. Ia tersenyum menutupi kegelisahannya dan berkata,

“Kau aneh sekali, tuan letnan! Tentu saja diantara ribuan manusia di dunia, banyak yang mirip mukanya, apakah anehnya hal ini ? “

Dolleman mengangguk-anggukan kepalanya yang berambut kuning keemasan itu.

“Saya tahu, saya tahu …… akan tetapi anehnya pula, orang inipun berasal dari Demak!“ Kemudian letnan itu mendekatka kepalanya kepada tuan rumah dan matanya memandang tajam sekali, seakan-akan berusaha hendak menembus mata Adipati Wiguna dan menjenguk ke dalam hatinya. “ Dia itu bernama Wiratman, kenalkah kau kepadanya, tuan adipati ?? “

Wajah Adipati Wiguna makin pucat dan ia tidak dapat menjawab untuk beberapa lama. Ia maklum bahwa letnan Belanda itu telah mengetahui hal ini dan ia merasa seakan-akan ia berada dalam cengkraman tangan tamunya ini.

Melihat kebimbangan tuan rumah, letnan Dolleman tersenyum dan menarik napas panjang tanda kepuasan hatinya.

“Tuan adipati, jangan kau gelisah. Sesungguhnya saya sudah tahu belaka bahwa Wirataman itu adalah adik kandungmu ! Akan tetapi, jangan kau berkuatir, tuan Adipati. Biarpun hal ini apabila diketahui oleh Sunan akan merupakan hal yang hebat dan bahaya akan mengancam keluargamu, akan tetapi hal ini yang mengetahui hanya saya seorang, dan saya tahu betul bahwa tuan Adipati tidak sama dengan adik kandung yang menjadi pemberontak itu ! “ Kembali Dollemon menghisap cerutunya dan menyadarkan tubuhnya pada kursinya.

“ Tuan letnan Dolleman, terima kasih atas kepercayaanmu. Dan …… dan apakah kiranya yang dapat saya lakukan untuk membalas kebaikan budimu ini ? “

Melihat sikap dan mendengar ucapan Adipati Wiguna yang langsung itu, Dolleman tertawa bergelak, memperlihatkan giginya yang besar dan putih.

“Ha, ha, tuan Adipati. Saya suka melihat tuan yang bersikap terus terang dan langsung ini! Memang harus begini laki-laki menyelesaikan sesuatu persoalan. Terus terang pula saya menyatakan kepadamu bahwa setelah bertemu dengan puterimu Roro Santi pada keramaian di pantai kemarin dulu, saya merasa suka kepadanya. Dengan setulus hati aya, saya mengajukan pinangan untuk puteri tuan adipati itu!“ Sambil berkata demikian, kembali sepasang mata Dolleman memandang tajam.

***Bajak Laut Kerta Pati Jilid 003

***Kembali

No comments:

Post a Comment