Ads

Monday, October 30, 2017

Jaka Galing Jilid 05

Jaka Galing melihat betapa napas eyangnya payah sekali. Ia memeluk kepala eyangnya yang putih dan mengeluh.

“Duhai eyang Panembahan yang tercinta....... aku hanya mempunyai kau seorang kalau sekarang eyang pergi meninggalkan aku........, betapa akan jadinya nasib cucumu ini. Eyang kau adalah seorang yang memiliki kesaktian tinggi, pergunakanlah kesaktianmu itu, eyang. Lawanlah maut yang hendak membawamu..... jangan tinggalkan aku.......”

Mendengar ucapan Jaka Galing yang merayu-rayu itu, seketika timbul kekuatan Panembahan Ciptaning dan tenaganya yang hampir habis itu pulih kembali. Ia dapat bergerak dan tiba-tiba ia bangkit lalu duduk.

Ganggang tombak Kyai Santanu yang menancap di ulu hatinya tampak lucu ketika panembahan ini duduk. Akan tetapi ternyata pertapa sakti itu bangkit hanya untuk menegur cucunya saja.

“Kulup, cucuku! Lupakah kau bahwa betapapun tinggi kepandaian seorang manusia, pada hakekatnya ia tak lebih berarti daripada setitik debu bila dibandingkan dengan kehendak Hyang Agung? Aku atau kau hanyalah setitik air disamudera dan tidak mungkin setitik air itu hendak membawa kehendak sendiri. Mau atau tidak, betapapun ia hendak melawannya, ia pasti akan hanyut terbawa oleh gelombang itu. Apakah kau akan senang melihat eyangmu atau gurumu berkhianat dan melawan kehendak Hyang Maha Agung?”

Hati Jaka Galing terpukul oleh kata-kata ini dan ia lalu menubruk dan menciumi kedua tangan eyangnya yang penuh darah.

”Ampun, eyang. Ampun.........”

Tapi tiba-tiba ia merasa betapa tangan yang di ciumi nya itu dingin sekali. Ia cepat memandang wajah orang tua itu. Ternyata Panembahan Ciptaning telah melepaskan napas terakhirnya dan telah wafat dalam keadaan duduk!

“Eyang..........” hanya demikian Jaka Galing dapat berbisik.

Ia tetap berlutut didepan eyangnya sambil mencium tangan orang tua itu. Lama sekali ia berada dalam keadaan seperti itu seakan-akan kakek itu sedang memberi berkah kepada seoarang cucu atau muridnya yang berlutut dan menyembah di depannya.

Kemudian Jaka Galing bergerak perlahan dan memondong jenazah eyangnya dibawa pergi dari situ dengan tindakan perlahan dan kepala ditundukkan, para perajurit sama sekali tidak berani mengganggunya. Mereka hanya memandang dengan hati terharu, melihat betapa pemuda yang gagah perkasa itu berjalan perlahan dan betapa rambut dan jenggot panembahan yang putih dan panjang itu melambai-lambai tertiup angin.

Adipati Gendrosakti yang melihat dari tempat jauh, tak tahu harus berbuat apa, maka lalu menyusul Sariti yang telah diantar pulang oleh para pelayan ketika terjadi keributan tadi.






Para penonton juga tidak ada yang berani mengeluarkan suara sedikitpun dan memandang pemuda yang memondong tubuh eyangnya itu dengan pandangan sayu, mengikuti gerakan Jaka Galing dengan pandang mata mereka sampai pemuda itu lenyap dari pemandangan.

Peristiwa ini menggores di kalbu rakyat Tandes dan meninggalkan kesan mendalam yang mengharu-kan. Rakyat ikut berduka cita didalam hati, mereka mengutuk perbuatan Adipati Gendrosakti yang terlalu kejam dan menurutkan dorongan nafsu angkara. Namun, siapakah diantara mereka yang berani menyatakan ini dan berterus terang?

Betapapun juga, Adipati Gendrosakti adalah pembesar yang paling berkuasa di Kadipaten Tandes, dan wilayah itu, kekuasaannya tak terbatas dan boleh dikata bahwa hidup atau mati seluruh rakyat Tandes berada di dalam genggaman tangannya. Oleh karena inilah maka peristiwa berdarah itu berlaku tidak berkesan lama, dan lenyap dari kenangan orang bersama dengan terbangnya waktu.....

Kamar tidur yang disediakan untuk Sariti adalah yang sebuah kamar yang terbesar dan terindah diantara sekian banyak kamar di dalam gedung besar kadipaten. Kamar ini dulu adalah kamar pertama, dewi cahyaningsih, akan tetapi semenjak Sariti diboyong masuk kedalam kadipaten, puteri Majapahit yang sabar dan halus budi pekertinya itu mengalah dan pindah ke dalam sebuah kamar yang tidak begitu besar di ruang belakang bersama anak perempuannya.

Sariti yang cantik jelita tengah duduk menghadapi cermin dan membereskan rambutnya dengan sebuah sisir. Rambutnya memang indah. Hitam panjang sampai ke paha dan sekalian halus juga mengombak air, harum sedap karena selalu digosok pandan dan sari kembang melati dan mawar.

Wanita muda ini dengan perasaan bangga memandang bayangannya di dalam cermin. Memang ia cantik dan manis, tubuhnya ramping dengan kulit kuning halus menggairahkan, sedang usianya masih muda sekali. Maka, tak heran apabila Adipati Gendrosakti sampai lupa daratan dan mabuk.

Akan tetapi pada saat itu, sang ayu Sariti bermuram durja. Sepasang alis matanya bertemu dan kedua matanya yang jernih indah itu memerah, seakan-akan menahan tangis yang mendesak, air matanya hendak tumpah.

Adipati Gendrosakti tampak duduk diatas pembaringan yang indah bertilam sutera merah muda berkembang sulam bunga seruni dengan bantal-bantal yang bersarung indah pula serta berbau harum mewangi mengingatkan dia bau rambut selirnya itu.

Gendrosakti duduk bersila dengan wajah bingung. Ia maklum bahwa selirnya yang tercinta itu sedang marah dan tak senang hati. Atas desakan selirnya ini, ia telah mengusir pergi semua selir lain dan kini Sariti mendesaknya agar ia mengusir pula Dewi Cahyaningsih! Tentu saja ia tak dapat meluluskan permintaan ini.

Pada saat itu, Sariti memutar tubuhnya yang indah itu menghadapi Adipati Gendrosakti. Air matanya tak dapat ditahannya pula dan telah membasahi kedua pipinya yang kemerah-merahan seperti warna mawar yang seindah-indahnya.

“Kangmas, adipati, kalu begitu, cinta kangmas terhadap diri saya hanya.... palsu belaka.....” ia lalu menggunakan sepuluh jari tangannya yang halus runcing untuk menutupi mukanya karena air matanya mengucur makin banyak.

Adipati Gendrosakti turun dari pembaringan dan dengan penuh kasih sayang memegang pundak selirnya sambil berkata perlahan.

“Jangan kau berkata demikian, Sariti, kau tahu betul bahwa cintaku kepadamu cinta murni dan tak dapat diukur besarnya. Permintaanmu yang manakah yang pernah kutolak?”

“Buktinya..... kangmas lebih memberatkan yunda Dewi daripada aku .....”

Adipati Gendrosakti membeli-belai rambut Sariti yang hitam dan harum.
“Permintaanmu kali ini memng sukar untuk dapat dilaksanakan, Sariti. Telah berkali-kali aku jelaskan, bahwa untuk menyuruh Cahyaningsih pulang tidaklah semudah kau kira. Hal ini berlainan sekali dengan keadan para selir yang telah kita usir dri sini. Ingatlah, dia adalah isteriku yang sah dan isteri pertama. Tentu akan menimbulkan perasaan tidak senang di kalangan para hamba sahaya dan rakyat di Tandes.”

Dengan gaya manja sekali Sariti menolakkan kedua tangan Adipati Gendrosakti yang membelai-belai rambutnya itu, lalu katanya.

“Itu hanya alasan kosong belaka, kangmas. Apa hubungan para hamba sahaya dan rakyat dengan urusan rumah tangga kangmas sendiri? Bilang saja bahwa hatimu masih berat sebelah kepada yunda Dewi”.

“Ingat bahwa Cahyaningsih telah mempunyai seorang puteri dariku, apa akan jadinya dengan dia dan anakku Puspasari?”

Sariti cemberut dan bibirnya yang berbentuk gendawa dan merah segar itu ditajamkan, menambah manisnya.

“Kangmas maklum bahwa yunda Dewi benci kepadaku. Biarlah, daripada hidup dibenci dan selalu terancam, lebih baik kangmas pulangkan saja aku atau bunuh saja, aku tidak kuat hidup di bawah satu wuwungan dengan orang yang membenciku dan biarlah kalau memang kangmas lebih mencintai nenek tua itu daripada aku”.

Mendengar ucapan ini, dengan cepat Gendrosakti memeluk selirnya dengan hati cemas.

“Sariti, jangan kau mengambil keputusan nekat seperti itu. Aku takkan hidup lama lagi tanpa kau, aku… aku…., mencintaimu sepenuh jiwaku. Aku tak peduli lagi akan keadaan Dewi Cahyaningsih, jangankan baru seorang, biarpun ada seribu Cahyaningsih, aku masih berat kepadamu, manis.”

Sariti cepat berkata dengan suara manis dan merdu,
“Kalau begitu, suruhlah dia pergi, kangmas. Biar kita berdua hidup rukun dan tenteram, penuh cinta kasih dan damai !”

“Tapi, Riti manisku, dia adalah keturunan Prabu Brawijaya di Majapahit. Kalau sang prabu mendengar akan hal puterinya terusir dari sini, pasti beliau akan marah sekali.”

Bibir Sariti yang tadinya sudah membayangkan senyum manis, kembali cemberut, bahkan sepasang matanya yang bersinar-sinar dan berkelap-kelip bagaikan dian terhembus angin itu memandang dengan cahaya menghina.

“Kau takut kangmas? Apa yang kau takutkan? Bukankah kau terkenal gagah perkasa dan mempunyai perajurit-perajurit pilihan dan kuat? Lagi pula, bukankah kau dahulu menjadi senopati Majapahit yang terkenal paling sakti? Prabu Brawijaya mampu berbuat apa terhadap kita?

Untuk beberapa lama Adipati Gendrosakti termenung, lalu berkata perlahan.
“Biarpun ucapanmu itu betul, akan tetapi harus diingat bahwa Majapahit mempunyai banyak perwira yang sakti dan tentara yang sangat kuat. Kalau sang prabu marah kepada kita dan mengirim barisan kesini, tentu akan pecah peperangan dasyat yang akan menimbulkan banyak korban jiwa di kedua belah pihak. Apakah tidak ada jalan lain yang lebih aman dan baik untuk mencapai maksud kita?” Adipati yang sudah berumur 50 th lebih itu mengerutkan keningnya yang sudah penuh garis.

Tiba-tiba Sariti menghampiri Adipati Gendrosakti yang duduk di atas kursi sambil termenung menggigit-gigit bibirnya, lalu dengan gaya menarik hati sekali menjatuhkan diri di atas pangkuan adipati itu.

“Kangmas, mengapa kau begitu bodoh dan kurang akal? Serahkan saja hal ini kepada
Sariti, isterimu yang cerdik dan setia, isterimu yang mencintaimu dengan penuh jiwa.”

Kemudian dengan bisik-bisikan di dekat telinga Adipati Gendrosakti, Sariti menceritakan siasatnya. Adipati Gendrosakti mendengarkan dengan penuh perhatian, lalu mengangguk-angguk dan memandang selirnya yang cantik jelita itu dengan pandangan kagum dan gembira.

“Alangkah pandainya kau mengatur siasat, isteriku manis. Baik, baik! Memang harus diatur begitu!”

Memang tidak keliru ucapan para pujangga purbakala yang menyatakan bahwa betapapun pandai, gagah perwira, kuat dan saktinya seorang laki-laki, namun apabila ia telah tergila-gila akan kecantikan dan berada di bawah pengaruh seorang wanita maka segala kepandaian dan kegagahannya itu akan sia-sia belaka dan ia hanya merupakan tanah liat yang lembek sekali dalam genggaman tukang periuk yang pandai, ia akan menyerah dan menurut saja dibentuk oleh wanita yang dikasihinya itu!

Adipati yang mabok akan belaian dan rayuan Sariti yang cantik jelita, lupa akan anak bini, bahkan rela mengorbankan isteri dan anaknya demi kesenangan dan kepuasan hati kekasihnya itu.

Sariti memang berpikiran cerdik dan mempunyai banyak muslihat licin. Ia ajukan siasatnya, yakni Dewi Cahyaningsih dan anaknya akan diantar pulang ke Majapahit dengan pengawal-pengawal sebagaimana mestinya.

Akan tetapi, di tengah jalan kedua ibu anak itu akan di binasakan, kemudian para pengawal itu lalu diharuskan lari ke Majapahit dan memberi laporan kepada Sang Prabu Brawijaya bahwa ketika mereka mengantar Dewi Cahyaningsih dan puterinya berkunjung ke Majapahit, ditengah jalan di serang oleh……… Jaka Galing yang berhasil membunuh ibu anak itu!

Sungguh sissat yang kejam tapi licin luar biasa. Seperti telah merencanakan untuk menggunakan sebatang pedang yang bermata dua hingga dapat sekali pukul meruntuhkan dua lawan. Disatu pihak membinanasakan kedua wanita yang menjadi penghalang baginya itu, di pihak lain dapat merusak nama Jaka Galing yang berbahaya pula bagi Adipati Gendrosakti, hingga sang prabu tentu akan mengutus perajurit untuk menangkap Jaka Galing! Satu siasat yang harus dipuji, tapi yang harus dikutuk karena kejamnya.

Pada keesokan harinya. Adipati Gendrosakti dengan menguatkan hati dan melenyapkan segala rasa segan dan malu, memasuki kamar isterinya. Kedatangannya disambut dengan wajah heran oleh isterinya dan dengan kegembiraan oleh Puspasari, anaknya.

Telah berbulan-bulan adipati ini tak pernah masuk ke dalam kamar isterinya, maka kedatangannya ini tentu saja menimbulkan heran kepada isteri yang sudah tak mengharapkan lagi kunjungan suaminya itu.

Dengan cekatan Puspasari menyuguhkan minum kepada ayahnya. Setelah duduk berhadapan dengan isterinya, Gendrosakti lalu berkata.

Jaka Galing







No comments: