Ads

Monday, October 30, 2017

Jaka Galing Jilid 02

Melihat keadan yang aneh ini, empat orang ponggawa segera berhenti nemaki-maki kuda mereka. Tapi seorang diantara mereka yang termuda, tidak merperdulikan peringatan Panembahan Ciptaning, dan bahkan memaki-maki lebih keras dengan kata-kata kotor.

Tiba-tiba kudanya meringkik ganjil dan sambil bediri di kedua kaki belakang, binatang itu menggoyang-goyang tubuhnya dengan kuat hingga si ponggawa tidak dapat bertahan lagi dan terlempar dari atas punggung kuda! Untung ia terlempar ke atas semak-semak yang tebal hingga tidak mengalami patah tulang, dan hanya menderita luka-luka dikulit saja.

Sekali lagi panembahan Ciptaning berkata.
“Mas ponggawa, kalian paculah kuda itu baik-baik. Aku hendak berjalan lebih dulu.”

Terlihat oleh mereka bayangan putih berkelebat dan pendeta tua itu telah lenyap dari pandangan mata mereka! Bukan main kagum mereka melihat kesaktian ini. Sesudah itu dengan cepat mereka menolong kawan mereka yang terlempar oleh kuda tadi. Ponggawa itu merintih- rintih, tapi kini tidak berani memaki lagi!

Adipati Gendrosakti adalah adipati yang mermerintah daerah kadipaten Tandes dan terkenal sebagai seorang yang sakti mandraguna, karena ia pernah menjadi senopati dari Prabu Brawijaya di kerajaan majapahit.

Karena jasanya yang besar dalam menaklukkan Kerajaan Blambangan pada beberapa tahun yang lalu, ia lalu diangkat menjadi adipati dan berkedudukan di kadipaten Tandes, serta dijodohkan dengan seorang puteri kedaton yang cantik jelita bernama Cahyaningsih, yakni puteri seorang selir Prabu Brawijaya.

Semenjak Adipati Gendrosakti memerintah di tandes, daerah itu menjadi subur makmur dan tenteram. Para paman tani bekerja dengan penuh semangat karena selain mendapat petunjuk-petunjuk dari para ponggawa kadipaten yang bertugas khusus untuk itu, juga pajak sawah tidak terlalu berat.

Para nelayan juga bekerja dengan penuh gembira dan hasil ikan yang mereka dapat sedemikian banyaknya hingga dapat dikirim kedaerah lain, bahkan sampai dibawa keluar pulau.

Tapi memang benar ucapan para cendekiawan zaman dahulu bahwa segala sesuatu yang nampak dipermukaan bumi itu tidak kekal adanya. Sedangkan samudera yang demikina luasnya mengalami pasang surut, udara yang sedemikian luas mengalami musim panas dan dingin. Apalagi manusia, makhluk kecil yang tidak berdaya terhadap kehendak Sang Hya Agung.

Roda pemerintahan yang tadinya berputar lancar di bawah pimpinan Adipati Gendrosakti, tiba-tiba harus tunduk pula kepada nasib yang menimpanya. Hal ini terjadi semenjak Adipati Gendrosakti mengambil seorang selir baru sebagai penambah selir- selirnya yang sudah berjumlah 14 orang itu.

Tadinya Adipati sangat mencintai Dewi Cahyaningsih dan tidak memelihara selir, tapi semenjak istrinya yang tercinta itu melahirkan seorang anak perempuan, entah mengapa, berubahlah sifat Adipati Gendrosakti dan selirnya selalu bertambah banyak.

Selirnya yang terbaru adalah ledek yang sangat tersohor karena kecantikannya dan kepandaiannya menari serta suaranya yang merdu. Namanya Sariti, berasal dari Surabaya. Dan sejak memboyong selir ini ke kadipaten, Adipati Gendosakti mulai melalaikan dan jarang sekali keluar dari kadipaten untuk memeriksa keadaan rakyatnya di desa seperti yang dulu sering ia lakukan.






Tiap hari ia bersenag-senang dengan selir baru itu dan hampir tiap malam terdengar suara gamelan dimainkan oleh para yaga dari ruang tengah kadipaten, tanda bahwa adipati sedang mengadakan klenengan. Dari luar kadipaten, sayup-sayup terdengar suara Sariti mengalun merdu, merayu-rayu dan membuat sang adipati tenggelam semakin dalam.

Pada suatu malam, Adipati Gendrosakti bermimpi melihat api kecil bernyala di dalam rumahnya. Lama-lama nyala api itu membesar hingga rumahnya menjadi lautan api dan terbakar habis. Ia berteriak-teriak minta tolong lalu sadar dari mimpinya dengan wajah penuh peluh dan hati tidak tenteram.

Pada keesokan harinya, ia panggil menghadap para hulubalangnya dan memerintahkan untuk memanggil menghadap para cerdik pandai di seluruh kadipaten. Setelah mereka datang menghadap, Adipati Gendrasakti lalu menceritakan kejadian yang diimpikannya dan bertanya kepada mereka apa arti mimpinya itu.

Para penasehat itu saling pandang dan tak seorang diantara mereka dapat memecahkan arti mimpi yang aneh itu. Beberapa diantara mereka maklum bahwa mimpi seperti itu mempunyai arti yang tidak baik, maka mereka tak berani menerangkannya di depan Gendrosakti dan merasa lebih aman dengan menutup mulut dan berpura-pura tidak tahu artinya.

“Paman sekalian adalah orang-orang yang dianggap paling pandai di kadipaten tandes. Tapi mengapa memecahkan arti mimpi yang sedemikian sederhananya saja tidak sanggup?” kata Adipati Gendrosakti marah.

Penasehat tertua yang dianggap paling pandai, bernama Bagawan Sidik Permani, menyembah dan berkata.

“Gusti adipati yang mulia. Menurut pendapat hamba yang rendah, mimpi adalah kembang tidur. Seorang yang bermimpi menandakan bahwa dia itu tidur nyenyak dan pulas. Hamba rasa tidak perlu paduka merasa bingung dan menyusahkan sebuah mimpi yang tidak ada artinya.”

"Paman Bagawan, tak mungkin mimpiku semalam itu tak ada artinya. Sayapun bisa membedakan mimpi yang kosong dengan mimpi yang mengandung arti. Sayang saya tidak dikaruniai kewaspadaan oleh Sang Hyang Agung dan lebih sayang lagi paman sekalian yang memiliki kewaspadaan ternyata tidak mampu mempergunakannya.”

Bagawan Sidik Permani berkata pula,
”Maaf, Gusti Adipati, kalau gusti tetap hendak mengetahui arti mimpi paduka itu, kiranya di seluruh Tandes ini hanya ada seorang saja yang sanggup menerangkannya.”

Wajah Adipati Gendrosakti berseri dan kemarahannya berkurang.
“Paman Bagawan, siapakah gerangan orang itu? “ tanyanya.

“Siapa lagi kalau bukan Paman Panembahan Ciptaning dari dusun tiban. pendeta yang mengasingkan diri dan bertapa di dusun itu.”

Ia maklum akan kesaktian dan kewaspadaan Panembahan Ciptaning, karena dulu ketika ia masih menjadi senopati di Majapahit, Panembahan Ciptaning juga mengabdi kepada Prabu Brawijaya dan menjadi penasihat yang dikasihani. Pada waktu itu nama Panembahan Ciptaning masih disebut Empu Ciptaning. Mendengar keterangan Bagawan Sidik Permani, hati Adipati Gendrosakti menjadi sangat girang dan mengutus lima orang ponggawa untuk pergi ke dusun Tiban dan memanggil orang tua itu.

Panembahan Ciptaning dengan mempergunakan aji kesaktiannya telah mendahului para ponggawa yang diutus memanggilnya dan sebelum hari menjadi gelap ia telah tiba di kadipaten.

Penjaga pintu gerbang kadipaten yang telah mendengar bahwa Adipati Gendrosakti mengirim utusan untuk memanggil seorang tua yang sakti, ketika mendengar permintaan kakek itu dan mendengar namanya, segera berlaku hormat sekali dan mengiringkan pendeta itu masuk ke kadipaten.

Adipati Gendrosakti yang mendengar akan kedatangan Panembahan Ciptaning, menjadi girang sekali. Segera ia panggil menghadap semua hulubalang dan penasihatnya. Dan pada senja hari itu ia mengadakan pertemuan di balairung atau ruang dimana biasanya ia mengadakan persidangan dengan para ponggawanya.

Setelah semua hulu balang datang menghadap, Panembahan Ciptaning yang sementara itu dipersilahkan menanti diruang tunggu, lalu dipanggil menghadap.

Dengan langkah perlahan dan wajah yang sabar serta tenang, Panembahan Ciptaning memasuki balairung dan langsung menghadap Adipati Gendrosakti yang duduk di kursi kebesarannya, sebuah kursi dihias dengan gading-gading indah, hadiah dari sang Prabu Brawijaya.

Sebagai seorang tamu agung atau seorang yang terhormat, Panembahan Ciptaning tidak duduk di atas lantai seperti hamba sahaya yang lain, melainkan dipersilakan duduk di atas sebuah kursi cendana.

Setelah tegur-menegur dan salam-menyalam sebagimana layaknya tamu dan tuan rumah. Adipati Gendrosakti lalu menceritakan maksudnya memanggil orang tua itu. Ia lalu menceritakan tentang mimpinya yang aneh dan yang membuat selalu hatinya bimbang.

“Paman panembahan.” katanya dengan sikap hormat, “Semenjak saya mendapat mimpi itu, entah mengapa, hati saya merasa tidak enak, makan tak mau dan tidur tak nyenyak. Saya akan merasa menderita dan kecewa selalu sebelum mimpi saya itu dipecahkan artiya. Oleh karena itu, saya mohon kepada paman untuk sudi membantu dan menerangkan arti mimpi saya itu.”

Semenjak tadi Panembahan Ciptaning mendengar dengan penuh kesabaran, Tidak satu kalipun ia memotong pembicaran Gendrosakti, Setelah adipati itu selesai menuturkan mimpinya, baru pendeta itu mengangguk-angguk dan menggunakan tangannya meraba-raba jenggotnya yang putih dan panjang.

“Ananda adipati, memang segala apa yang ada telah di tentukan oleh Sang Hyang Agung. Manusia boleh berusaha, namun Gusti Yang Maha Tinggi juga yang akhirnya jadi penentunya. Betapapun cerdik pandainya seseorang, tapi sebenarnya ia bukan apa-apa dan hanyalah makhluk kecil lemah dan tak berdaya dan harus tunduk kepada hukum alam. Ananda adipati, sungguh amat mengherankan kalau dipikir bahwa untuk menerangkan arti mimpi yang sederhana ini saja sampai bersusah payah mendatangkan paman orang tua yang bodoh. Apakah paman takkan dianggap terlalu meremehkan saudara-saudara para cendekiawan di tandes ini?”

“Inilah yang membingungkan hati saya, paman. Ternyata kali ini paman-paman penasihat di Tandes ini kehilangan kewaspadaan mereka dan tak sanggup menerangkan arti mimpi saya, oleh karena itu saya terpaksa mengganggu paman panembahan.”

Sekali lagi, Panembahan Ciptaning mengangguk-anggukkan kepalanya yang sudah ubanan dan terdengar ia menarik napas panjang.

“Hm, inipun kehendak Sang Hyang Agung, memang sudah seharusnya demikian. Biarlah ananda adipati, dengarkanlah uraian paman akan arti mimpi itu. Ananda melihat bunga api kecil di dalam rumah yang kemudian membesar dan membakar rumah ini sampai habis binasa. Mimpi ini mempunyai arti buruk, ananda Memeng, pada permulaan bahaya yang mengancam Kadipaten Tandes tidak kentara dan karenanya ananda abaikan. Bunga api kecil di dalam rumah itu memperlambangkan adanya siluman di dalam rumah ananda, siluman yang telah menjelma menjadi wujud manusia dan yang kemudian hari akan mendatangkan bencana dan kehancuran kepada ananda serta Kadipaten Tandes. Karena ini menjadi peringatan Sang Hyang Agung, maka berhati-hatilah, ananda!”

Tidak saja Adipati Gendrosakti yang menjadi pucat mendengar uraian ini, bahkan semua hadirin juga merasa ngeri dan terkejut. Tidak hanya terkejut akan ancaman arti mimpi itu, tapi terkejut karena mereka menganggap bahwa pendeta ini terlampau berani dan lancang meramalkan keadaan yang demikian buruk bagi Kdipaten Tandes.

Memang di dalam hati Gendrosakti telah timbul amarah besar, tapi ia masih kuasa menekan perasaannya itu, dan bertanya meminta nasihat.

“Kalau demikian halnya, usaha apakah yang dapat saya ikhtiarkan untuk menjauhkan bencana yang mendatang itu,paman panembahan?”

Dengan suara sungguh-sungguh Panembahan Ciptaning menjawab.
”Seperti kukatakan tadi, manusia boleh berusaha, namun Sang Hyang Agung juga yang akan menentukan! Betapapun juga, kalau benar-benar diusahakan, memang belum terlambat. Jalan satu-satunya ialah ananda harus bertindak cepat, mengambil bunga api itu dan membuangnya jauh-jauh hingga tak menimbulkan kebakaran besar! Ananda harus insyaf bahwa segala akibat itu bersebab. Sang Hyang Agung takkan menjatuhkan hukuman kepada makhlukNya tanpa sebab, seperti juga air diam takkan bergerak tanpa ada yang menyentuhnya! Dan kesalahan-kesalahan apa yang telah ananda perbuat, hanya ananda sendiri yang bisa mencarinya.”

Adipati Gendrosakti berpikir keras dan mencoba untuk menerka siapa gerangan siluman berwujud manusia yang merupakan bunga api yang kelak akan membakar rumah tangganya itu. Tapi ia tak sanggup menemukannya maka ia lalu bertanya lagi.

“Duhai, paman panembahan yang waspada, janganlah kepalang tanggung menolong kami. Sebutkanlah orangnya yang paman anggap sebagai bunga api itu, dan saya akan melenyapkannya dari muka bumi ini sekarang juga!”

Karena agak lama pendeta itu belum menjawab, maka keadaan menjadi sunyi dan tegang. Setiap telinga dipasang baik-baik untuk mendengar jawaban panembahan Ciptaning dan setiap dada berdebar. Kemudian terdengar jawaban panembahan itu, perlahan dan tenang hingga jelas terdengar oleh semua orang.

“Bunga api indah dilihat dan setiap orang membutuhkannya. Dalam mimpi ini ia melambangkan seorang yang cantik dan pada waktu ini paling ananda cintai dan ananda sayang. Dialah orang itu!”

Hening sesaat, bahkan hembusan napaspun hampir tak terdengar lagi, tapi tiba-tiba meledaklah uap panas di dalam dada Adipati Gendrosakti.

“Paman panembahan! Kau maksudkan sariti?!”

Jaka Galing







No comments: