Ads

Sunday, October 22, 2017

Banjir Darah di Borobudur Jilid 38

Terdengar suara Siddha Kalagana tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan ini.
“Ha, ha, ha! Dharmamulya, kau seperti seorang bayi hendak memberi wejangan kepada seorang kakek! Taukah kau siapa adanya Buddha Gautama itu? Siapakah adanya Pangeran Sidharta itu? Ha, ha, ha! Mana kau tahu? Kau seorang Jawa, sedangkan Buddha Gautama yang kau puja-puja itu lahir di negeriku. Aku yang lebih tahu bagaimana penghidupan Pangeran Siddharta di masa mudanya! Ha, ha, ha! Apa kau kira begitu terlahir orang dapat menjadi sempurna pengetahuannya? Apakah Pangeran Siddharta juga tidak mengalami masa kesenangan hidup sebelum menjadi Buddha? Kau jangan banyak ribut. Candi ini akulah yang membangun dan aku pula yang menentukan bagaimana nanti jadinya. Candi ini akan menjadi candi indah dan hendak kujadikan hadiah bagi calon pengantinku, si cantik ayu Pramodawardani yang molek dan denok!”

Tiba-tiba Wisananda melangkah maju dengan muka merah. Ia mengeluarkan ucapan dalam Bahasa Hindu terhadap Siddha Kalagana, akan tetapi setelah memandang tajam, Siddha Kalagana berkata dalam bahasa daerah.

“Wisananda, kita bukan berada di Hindu, dan biarpun kita datang dari satu negeri, akan tetapi kau datang dari Hindu Utara, sedangkan aku datang dari selatan! Di tanah Hindu kita bermusuhan, apakah disini kau hendak memberi nasehat kepadaku? Tidak ada gunanya, dan lebih baik kau segera pergi dari sini. Aku tidak membutuhkan seorang pengemis seperti kau!”

“Siddha Kalagana!” Maha Wiku Dharmamulya berseru marah. “Jangan kau menghina orang!”

“Ha, ha, ha, Dharmamulya. Siapa yang menghina? Bukankah para Wiku adalah pendeta-pendeta yang hidup sebagai pengemis? Hanya kau saja yang aneh dan hendak menjadi enak sendiri. Kau mengaku menjadi mahawiku, akan tetapi coba lihat bagaimana keadaan hidupmu? Mewah dan enak! Kenalkah kau akan hidup merantau sebagai pengemis? Sudah dapatkah engkau melenyapkan nafsu-nafsu duniawi? Lihatlah, pakaianmu masih bagus dan aku melihat minyak yang keluar dari daging ayam membasahi bibirmu. Ha, ha, ha! Pergilah, pergilah! Aku sedang sibuk, jangan engkau berani mengganggu pestaku!”

“Siddha Kalagana!” teriak Dharmamulya dengan marah sekali. “Sudah kukatakan bahwa ini adalah peringatan terakhir, kalau engkau tetap membangkang, terpaksa kami akan menggunakan kekerasan!”

“Menggunkan kekerasan?“ Kening Siddha Kalagana berkerut dan sepasang matanya yang dalam megeluarkan cahaya berapi. “Apa maksudmu?“

“Kami akan merobohkan patung-patungmu, merusak bangunan candi, dan mengusir engkau kaki tanganmu dari Syailendra ! “

“Bedebah ! Kau berani berkata begitu?"

Sambil berkata demikian, Siddha Kalagana mengambil sebuah batu besar yang ditumpuk di dasar bangunan itu lalu melontarkan batu besar dan berat itu ke arah kepala Dharmamulya. Akan remuklah kepala pendeta itu kalau sampai tertimpa batu yang dilontarkan ini, akan tetapi tiba-tiba terdengar seruan keras dan tongkat di tangan Wisananda bergerak menagkis batu itu yang meledak dan hancur !

“Hmm, engkau berani memperlihatkan kepandaian disini, Wisananda?“ membentak Siddha Kalagana.

“Untuk membela kebenaran aku bersedia mengorbankan nyawa, Siddha Kalagana!“ menjawab Wisananda yang segera melompat ke atas kaki candi itu.






Kedatangannya disambut oleh Siddha Kalagana dan bertempurlah kedua orang Pendeta Hindu itu dengan dahsyatnya di atas kaki candi. Para prajurit pasukan yang dibawa oleh Dharmamulya segera mengepung dan hendak naik ke atas kaki candi, akan tetapi tiba-tiba terdengar sorakan riuh dan keluarlah pasukan Srigala Hitam anak buah Siddha Kalagana menyerbu!

Perang hebat terjadi di atas kaki candi dan di bawah, perang campuh yang hebat sekali, disaksikan oleh bulan purnama raya. Pesta kegilaan tadi kini terganti oleh perang tanding yang hebat sekali. Teriak kesakitan dan sorak kemenagan terdengar saling susul, dibarengi dengan mengalir darah yang keluar dari tubuh manusia. Mayat bertumpuk, bergelimpangan di kaki candi.

Pertandingan yang terjadi antara Siddha Kalagana dan Wisananda amat hebat dan seru. Keduanya sama kuat dan sama digdaya, keduanya memiliki tenaga batin yang cukup dahsyat. Ilmu sihir berlawanan dengan ilmu hitam, akan tetapi keduanya memiliki daya yang mendatangkan pengaruh yang mengerikan, yaitu ular Cobra yang telah kering dan kaku seperti tongkat, sedangkan Wisananda mainkan tongkatnya yang berat dan panjang.

Dari cepatnya gerakan mereka, tubuh kedua orang pendeta itu lenyap ditelan sinar senjata mereka sendiri. Tak seorangpun prajurit berani membantu pertempuran ini, karena sukarlah bagi mereka untuk melihat mana yang kawan dan mana lawan. Para prajurit pasukan Dharmamulya sibuk menghadapi pasukan Srigala Hitam yang amat liar dan buas serta digdaya itu.

Akhirnya, terdengarlah keluhan dan Wisananda nampak terhuyung ke belakang lalu ia roboh terlentang di atas batu-batu yang menjadi alas candi itu. Kulit mukanya yang sudah hitam menjadi lebih hitam lagi dan dari jidatnya megalir sedikit darah. Ternyata jidatnya telah kena tertusuk lidah ular Cobra itu dan bisa yang amat hebat telah meracuni darahnya dan merenggut nyawa seketika itu juga dari badannya.

Siddha Kalagana tertawa bergelak dan menyeramkan. Kemudian ia menggerak-gerakkan senjatanya dan kocar-kacirlah para prajurit Syailendra. Pasukan Srigala Hitam sudah merupakan lawan yang amat kuat dan banyaklah sudah korban yang jatuh, kini ditambah amukan Siddha Kalagana yang dahsyat, membuat mereka tak dapat menahan lagi dan larilah pasukan Syailendra itu.

Maha Wiku dharmamulya dengan terpincang-pincang juga lalu melaporkan kekalahan dan tewasnya Wisananda itu kepada Sang Maha Raja Samaratungga. Tentu saja Sang Prabu menjadi terkejut sekali mendengar berita buruk itu. Cepat Sang Prabu Samaratungga mengumpulkan para senopati untuk mengatur barisan menjaga keselamatan keraton dan mengadakan perundingan untuk menyerbu dan mengusir Siddha Kalagana dari Syailendra.

Pada keesokan harinya dari jurusan utara datanglah Sang Prabu Pikatan, Raja Mataram bersama Indrayana, membawa pasukan yang kuat dan terdiri dari para prajurit pilihan.

Bagaimana Rakai Pikatan dan Indrayana dapat tiba di ibukota Syailendra pada saat yang tepat itu? Sebagaimana diketahui di bagian depan, Sang Rakai Pikatan dan Indrayana pergi berkelana mencari jejak Candra Dewi yang melarikan diri. Sampai berbulan-bulan lamanya mereka merantau dan akhirnya mereka bertemu dengan Panembahan Bayumurti yang bertapa di Gunung Kidul.

Sambil menumpahkan air mata, Rakai Pikatan Indrayana memohon ampun karena mereka berdua merasa bahwa merekalah yang menjadi sebab penderitaan batin Candra Dewi dan yang membuat gadis itu melarikan diri.

“Sudahlah, hal itu tak perlu dipersoalkan lagi, Anakku Candra Dewi telah pergi dan kalau memang berjodoh, tentu akan bertemu dengan Raden Indrayana. Adapun paduka, ananda Prabu Pikatan, paduka tentu masih ingat akan pesanku bahwa Mataram akan bangkit dan menjadi jaya kembali. Oleh karena itu, sekarang kembalilah ke Mataram, pimpinlah pasukan yang kuat dan pergilah kembali ke Syailendra untuk membangun candi Buddha yang diminta oleh sang puteri mahkota itu.“

Demikianlah, dengan bergegas Rakai Pikatan kembali ke Mataram, diikuti oleh Indrayana yang setia. Di Mataram mereka mendengar kabar tentang Sidda Kalagana yang mengakui telah membunuh kedua manusia iblis di Gunung Papak, bahkan kini pendeta itu telah mulai membangun candi di dusun Tepusan. Mendengar ini Rakai Pikatan menjadi marah sekali dan ia segera memimpin pasukan prajurit pilihan, lalu bersama Indrayana menuju ke Syailendra dengan cepat.

Sang Rakai Pikatan langsung pergi menghadap Maha Raja Samaratungga yang menjadi girang sekali melihat kedatangan Rakai Pikatan dan Indrayana. Di bawah ancaman Siddha Kalagana, ia melihat kedatangan kedua orang muda ini seakan-akan cahaya penerangan yang mengusir kegelapan hatinya.

Rakai Pikatan lalu menceritakan bahwa dia dan Indrayana yang berhasil membunuh siluman kembar di puncak Gunung Papak.

“Bagus sekali, Anak Prabu Pikatan, “ Maha Raja Samaratungga memuji, “dan secara kebetulan sekali syarat ketiga terletak di hadapanmu. Siddha Kalagana yang tadinya menjadi peserta sayembara, kini ternyata telah berobah menjadi musuh dan mengancam keselamatan Syailendra. Sudah menjadi tugasmu pula untuk mengusirnya dari kerajaan ini. “

“Jangan khawatir, paman prabu. Hamba sanggup untuk melenyapkan si angkara murka itu dari muka bumi ini, “ jawab Rakai Pikatan dengan gagah.

“Hanya satu hal yang masih membinggungkan hatiku. Bagaimana Indrayana dapat datang menghadap bersamamu? Apakah kau juga masih hendak melanjutkan sayembara ini, Indrayana? Kudengar tadi bahwa siluman itu terbunuh oleh Anak Prabu Pikatan dan kau sendiri, maka bagaimana kehendakmu sekarang. “

Indrayana tersenyum lalu menyembah dengan hormatnya.
“Berkat pangestu paduka hamba dapat pula membunuh seorang diantara kedua siluman penggangu keamanan di Gunung Papak itu, gusti. Dan sudah tentu hamba lanjutkan pula sayembara ini dengan menempuh syarat ketiga, mengusir musuh negara yang datang mengganggu Kerajaan Syailendra. Akan tetapi ada sedikit perobahan dalam usaha hamba ini. Kini hamba melakukan semua perjuangan ini, bukan lain hamba melakukannya untuk sahabat dan junjungan hamba ini. Sang Pikatan, raja dari Mataram ! “

Biarpun hatinya merasa agak heran, namun Maha Raja Samaratungga menjadi girang juga mendengar ini.

“Anak-anak muda, berangkatlah dan usahakanlah agar supaya Siddha Kalagana dapat terusir dan terbasmi sebelum menimbulkan kerusakan lebih banyak lagi. Doa restuku mengiringi usaha kalian, semoga kalian berhasil dan kembali dengan selamat!“

Kedua orang muda itu mengundurkan diri dan segera mempersiapkan pasukan-pasukannya, dibantu pula oleh beberapa orang senopati syailendra yang mengerahkan para prajurit pula. Bangunan candi besar yag baru selesai alas dan kakinya itu lalu dikurung, termasuk pesanggerahan-pesanggerahan yang didiami oleh Siddha Kalagana beserta para bidadarinya dan bangunan-bangunan tempat tinggal pasukan-pasukan Serigala Hitam.

Marahlah Siddha Kalagana melihat pengepungan ini. Ia segera mengumpulkan pasukannya dan dengan senjata ular di tangan ia berseru keras.

“Orang-orang Syailendra! Apakah pengalaman semalam itu masih belum membuat kalian menjadi kapok? Dengarlah, bahwa akulah yang akan menjadi raja baru di Syailendra, yang akan menggantikan Sang Prabu Samaratungga dan yang akan mendatangkan kebahagiaan di negeri ini! Apakah kalian buta tidak melihat bahwa aku adalah titisan Hyang Syiwa? Apakah kalian ingin aku menghancurkan dulu Syailendra sebelum kalian menyerah dan menerimaku sebagai suami Pramodawardani yang akan menggantikan kedudukan Samaratungga?“

Akan tetapi, Siddha Kalagana terkejut ketika tiba-tiba muncul dua orang pemuda yang bukan lain adalah Raden Pancapana dan Raden Indrayana, musuh-musuh besarnya dahulu! Betapapun juga, ia tidak merasa takut, karena bukankah ia pernah membuat dua orang ini tidak berdaya?

“Siddha Kalagana, pendeta siluman ! Jangan membuka mulut besar karena kami yang akan melebur kejahatanmu ! “ kata Rakai Pikatan,

“Ha, ha, ha,! Raja Mataram, kau seorang kanak-kanak hendak meruntuhkan langit. Lihat senjataku yang hendak menghancurkan kepalamu! “

Siddha Kalagana melompat dan menyerang dengan hebatnya. Akan tetapi, Rakai Pikatan dan Indrayana telah siap sedia dan kedua orang pemuda perkasa ini lalu mengeroyok pendeta yang sakti itu. Pertempuran terjadi dengan hebatnya, disusul oleh perang tanding antara pasukan Serigala Hitam pasukan-pasukan Mataram dan Syailendra yang bersatu.

Kembali darah mengalir di sekitar candi yang sedang dibangun itu. Sebelum pertempuran terjadi, para pekerja telah mulai mengukir dan memahat, bahkan mulai hendak membangun candi tingkat pertama. Akan tetapi kini mereka lari ketakutan dan bersembunyi di tempat aman agar jangan sampai terlibat dalam perang dahsyat itu. Pertempuran berjalan lebih sengit dari kemarin, perang campuh berkecamuk sangat hebatnya.

Siddha Kalagana mengerahkan seluruh tenaganya, bahkan telah mempergunakan ilmu hitamnya, akan tetapi kedua orang muda yang telah mendapat gemblengan dari Bagawan Ekalaya, dapat menolak semua pengaruh ilmu hitam itu, bahkan lalu membalas dengan serangan-serangan maut yang membuat Siddha Kalagana sibuk sekali. Betapapun pandainya ia bersilat dengan tongkat ularnya, namun ia telah tua dan tenaganya telah banyak berkurang, maka perlahan-lahan ia mulai terdesak hebat.

Sungguh mengagumkan Siddha Kalagana pendeta tua itu. Biarpun ia selalu terdesak, namun ia masih dapat mempertahankan diri dan pertempuran itu berlagsung sampai sehari penuh!

Pasukan-pasukan Serigala Hitam bertempur laksana serigala-serigala kelaparan. Mereka menyerang dengan nekad, liar dan mati-matian sehingga korban yang jatuh di kedua fihak bertumpuk-tumpuk.

Banjir Darah di Borobudur







No comments: