Ads

Sunday, October 22, 2017

Banjir Darah di Borobudur Jilid 37

Kita tinggalkan dulu Sang Rakai Pikatan dan Raden Indrayana yang berkelana mencari Candra Dewi sampai berbulan lamanya dan marilah kita menengok keadaan Kerajaan Syailendra yang mengalami keributan besar.

Pada hari Indrayana dan Sang Prabu Pikatan pergi datanglah Siddha Kalaga memasuki hutan itu untuk memenuhi tugas sayembara, yaitu mencari kedua manusia iblis Sarpajati dan Sarpawuyung yang menjadi syarat sayembara. Alangkah herannya ketika ia melihat mayat kedua senopati Sriwijaya, bangkai ular Nagawuluk, dan mayat kedua orang manusi iblis yang di carinya itu.

Ia dapat menduga bahwa semua ini tentulah hasil karya Indrayana dan Raja Mataram. Akan tetapi oleh karena disitu tidak terlihat kedua orang muda itu, Siddha Kalagana lalu mendatangkan kawan-kawannya untuk mengangkat semua mayat itu ke ibu kota sebagai bukti bahwa dialah yang berjasa dalam menewaskan Sarjapati dan Sarpawuyung!

Sang Maha Raja Samaratungga terkejut sekali melihat tewasnya kedua senopati sriwijaya yang di harapkan akan menang. Lebih gelisah lagi hatinya ketika bahwa yang berhasil membinasakan Sarjapati dan Sarpawuyung adalah Pendeta Siddha Kalagana yang dibencinya! Hatinya curiga, karena ke manakah perginya Indrayana dan Sang Rakai Pikatan?

“Sang Prabu, “ kata Siddha Kalagana dengan sikap sombong, “karena aku yang dapat membuktikan mayat kedua orang iblis ini, akulah yang berhasil memenuhi syarat dari sayembara. Aku yang berhak memboyong Sang Diyah Ayu Pramodawardani sebagai permaisuriku. Ha, ha, ha,!“

Sang Maha Raja Samaratungga menekan kegemasan hatinya melihat sikap yang kurang ajar dan sombong ini, lalu berkata dengan suara tenang.

“Nanti dulu, Siddha Kalagana! Sebagaimana kau tahu, pengikut sayembara ada lima orang jumlahnya. Yang dua, senopati-senopati dari sriwijaya, telah tewas dalam melakukan tugasnya, maka masih ada dua orang lagi, kau sendiri, Raja Mataram, dan Indrayana. Oleh karena dua orang muda itu belum kembali, maka kita belum menetapkan siapa yang berhak disebut pemenang! Lagi pula, masih ada syarat yang terpenting, yaitu membangun sebuah candi sebesar gunung anakan yang selain besar, juga harus indah ukiran-ukirannya dan menjadi lambang dari Agama Buddha!“

“Ha, ha, ha. Sang Prabu, jangan khawatir tentang candi itu ! Di seluruh Syailendra dan Mataram tidak ada ahli-ahli seni ukir dan pahat sepandai orang-orangku! Anak buahku adalah ahli-ahli patung belaka yang dapat mengukir! Serahkanlah saja kepada Maha Raja Siddha Kalagana dan diatas dataran tinggi desa Tepusan tak lama lagi tentu akan berdiri sebuah candi indah sebesar gunung anakan. Akan kubuat yang seindah-indahnya sebagai hadian kepada calon isteriku, Pramodawardani yang denok ayu! Ha, ha, ha!“

Bukan main sebalnya hati Sang Maha raja Samaratungga mendengar ini. Maka ia lalu memberi isarat dengan tangannya agar supaya pendeta tua yang tidak dikehendaki ini segera pergi meninggalkan ruang pertemuan.

Sambil tertawa-tawa Siddha Kalagana keluar dari keraton dan ia segera menyuruh pengikutnya untuk memanggil ahli patung di Kerajaan Durgaloka yang jumlahnya ribuan orang itu.

Maka dimulailah pembangunan candi besar di desa Tepusan itu oleh anak buah Siddha Kalagana. Desa itu menjadi ramai sekali karena penuh dengan para pembangun candi yang di kepalai sendiri oleh Siddha Kalagana. Berkat pengaruhnya yang besar sekali dan jumlah pengikutnya yang puluhan ribu orang itu, Siddha Kalagana dapat mengumpulkan batu-batu besar yang hitam dan kuat. Setiap hari, ribuan orang mengangkat batu-batu besar ke desa Tepusan. Ahli-ahli pakar yang pandai dan cekatan lalu membentuk batu-batu itu menjadi halus dengan segi-segi yang lurus untuk kemudian diatur dan di pasang sebagai dasar candi yang hendak di bangun.






Siddha Kalagana telah mulai dengan pembagunan candi besar, dimulai dengan batu-batu besar dan kuat sebagai alas atau dasar, kemudian membuat kaki candi yang terbuat daripada batu-batu kasar dan kuat ditumpuk-tumpuk.

Takjublah semua orang ketika menyaksikan ukuran kaki candi ini. Benar-benar besar sekali dan luar biasa. Sebesar kaki bukit anakan betul sesuai dengan tuntutan sayembara. Alas candi itu bentuknya segi empat, ukurannya tidak kurang dari tujuh puluh lima depa ( satu depa ukuran kedua tangan dibentangkan ke kanan kiri )!

Pekerjaan ini benar-benar merupakan pekerjaan raksasa yang hebat dan berat sekali. Baru pengangkatan batu ke desa Tepusan saja sudah merupakan pekerjaan yang luar biasa.

Akan tetapi Siddha Kalagana benar-benar amat berpengaruh dan berkuasa besar. Ia mempunyai banyak tenaga ahli yang bersetia kepadanya, baik dibawah pengaruh sihir atau yang memang bersetia karena percaya dan tunduk kepadanya. Siddha Kalagana juga cerdik sekali, karena untuk pekerjaan besar ini, ia tidak segan-segan menghibur diri para pekerja.

Maka terjadilah hal yang amat mengherankan rakyat di sekeliling tempat itu. Biasanya, dalam pembuatan candi, orang-orang yang mengerjakannya selalu berada dalam keadaan tekun dan penuh khidmat, karena candi adalah tempat pemujaan yang suci. Akan tetapi, kali ini orang-orang yang bekerja tidak berada dalam keadaan khidmat, bahkan sebaliknya. Mereka bernyanyi-nyanyi dan tertawa-tawa, apalagi kalau malam tiba.

Siddha Kalagana sengaja mendatangkan pelayan-pelayan wanita yang cantik jelita, yang juga menjadi penghiburnya dan juga penari yang pandai. Setiap malam di atas kaki candi yang rata dan lebar itu tentu diadakan malam gembira dengan tari-tarian yang seperti biasa bersifat kecabulan yang luar biasa.

Kalau malam tiba, pekerja-pekerja laki-laki dan wanita seperti kemasukan iblis dan menari-nari di sekitar bangunan itu bagaikan gila. Bahkan Kalagana secara terang-terangan mengangkut patung Batari Durga yang telanjang itu ke tempat pembangunan dan setiap malam diadakan upacara pemujaan patung Batari Durga seperti biasa dilakukan mereka.

Tentu saja hal ini merupakan penghinaan besar bagi Kerajaan Syailendra. Sang Maha Raja Samaratungga ketika mendengar ini menjadi amat marah, disuruhnya seorang utusan untuk menegur Siddha Kalagana, menuntut agar supaya tarian-tarian serupa itu dihapuskan dan patung Batari Durga disingkirkan.

Akan tetapi apakah jawab Siddha Kalagana? Sambil tertawa-tawa ia berkata,
“Sampaikan kepada Sang Prabu bahwa akulah yang sanggup membangun candi besar sebukit anakan, dan bagaimana bentuk candi ini adalah menjadi hak tanggung-jawabku. Pendeknya, Sang Prabu hanya tahu bahwa tak lama lagi disini akan berdiri sebuah candi yang tiada keduanya di Tanah Jawa.”

Memang demikian kehendak Siddha Kalagana. Ia hendak mendesak Agama Buddha dan hendak memasukkan agamanya sendiri ke dalam Kerajaan Syailendra. Ia hendak membuat sebuah candi besar untuk Batari Durga.

Makin marah dan gelisahlah hati Sang Prabu Samaratungga mendengar hal ini. Apalagi ketika ia diberitahu bahwa kini kaki candi itu mulai diukir dengan ukiran-ukiran yang amat tidak tahu malu. Ukiran-ukiran itu menggambarkan keadaan hidup manusia yang penuh kekotoran dan kecabulan, gambaran manusia dalam daerah Kamadhatu atau Kemawa cara.

Ukiran-ukiran orang yang sedang menari-nari, saling membunuh, perkelahian, penangkapan dan pembunuhan terhadap binatang-binatang yang dimakan, bahkan digambarkan kecabulan dan perjinaan yang amat tidak patut.

Sang Maha Raja Samaratungga lalu mengadakan persidangan dengan para senapati, perwira dan juga para penasihat, di antaranya para wiku dan pendeta Buddha. Hadir pula dalam persidangan itu Maha Wiku Darmamulya dan pendeta Buddha dari Hindu yang bernama Wisnanda.

“Gusti,” Wiku Dharmamulya berkata mengajukan usulnya, “perbuatan Siddha Kalagana benar-benar menghina kita dan juga amat berbahaya. Kalau sampai pengaruh ilmu hitamnya itu menjalar dan mempengaruhi jiwa para rakyat jelata, maka akan banyaklah kawula yang terpikat dan tersesat. Oleh karena itu, menurut pendapat hamba, lebih baik Siddha Kalagana disirnakan sebelum ia mendatangkan malapetaka yang lebih hebat lagi.”

“Akan tetapi, ia adalah seorang peserta sayembara yang berhak melakukan tugasnya untuk menempuh syarat sayembara. Bukankah akan merendahkan nama Kerajaan Syailendra apabila kita menyerang dan membinasakannya dalam tugasnya menempuh sayembara? Lagi pula, Siddha Kalagana terkenal amat digdaya dan sakti mandraguna, siapakah kiranya yang akan dapat menandinginya?”

“Tidak demikian kiranya, Gusti Sinuhun. Memang seorang peserta tidak boleh diganggu, akan tetapi kita mempunyai alasan kuat untuk menyerangnya, yaitu oleh karena Siddha Kalagana sebagai seorang peserta sayembara ternyata tidak memenuhi syarat dan tidak menurut perintah. Bukankah sayembara itu menuntut agar supaya ia membuat sebuah candi besar lambang Agama Buddha? Akan tetapi bukan saja ia tidak membuat candi seperti yang telah ditetapkan, sebaliknya ia malah menghina agama kita dan melakukan hal-hal yang melanggar kesusilaan yang kita junjung tinggi. Hal itu saja sudah cukup menjadi alasan kuat untuk membinasakan pendeta siluman itu.”

“Sembah Maha Wiku Dharmamulya Memang benar apa yang dikatakan oleh saudara Maha Wiku Dharmamulya, Sang Maha Raja," tiba-tiba Wisananda berkata. "Adapun untuk menandingi Siddha Kalagana, hamba sanggup untuk mencoba kepandaian hamba."

Wajah Sang Prabu Samaratungga menjadi terang, bahwa hatinya girang mendengar ini.

“Wisananda, engkau adalah seorang tamu yang terhormat di Kerajaan Syailendra dan menjadi pembantu Maha Wiku Dharmamulya. Kalau kau sanggup menolong kami menghadapi Siddha Kalagana, maka kami akan berterima kasih sekali kepadamu.”

“Sudah menjadi kewajiban hamba untuk mencoba menyirnakan segala perbuatan yang tidak benar, Sang Maha Raja!”

Maka diaturlah rencana untuk menghadapi Siddha Kalagana. Maha Wiku Dharmamulya sendiri bersama pendeta Wisananda dengan membawa pasukan dan para pendeta Buddha akan mendatangi Siddha Kalagana dan memberi peringatan keras.

Malam itu bulan purnama menerangi permukaan alam jagad raya. Keadaan di kaki candi yang sedang dibangun serta di pesanggrahan-pesanggrahan yang dibangun di sekitar candi itu, amat ramainya.

Dari jauh sudah terdengar suara gamelan dan teriakan-teriakan orang yang sedang mengadakan tari-tarian. Empat puluh orang gadis-gadis berpakaian tipis tengah menari-nari di depan patung Batari Durga di atas kaki candi, diiringi gamelan yang aneh iramanya. Patung Batari Durga yang besar dan telanjang itu nampak seakan-akan hidup terkena cahaya Sang Candra.

Siddha Kalagana seperti biasa duduk di kursi dekat patung itu, menerima penghormatan para penyembahnya dan menikmati keindahan gerak tubuh para penari yang cantik dan denok itu. Ketika pesta itu sedang memuncak dan ramai-ramainya, tiba-tiba datanglah rombongan Maha Wiku Dharmamulya ke tempat itu. Sang Maha Wiku Dharmamulya mengangkat tongkatnya ke atas, berdiri dibawah candi sambil berseru.

“Siddha Kalagana! Kami datang membawa perintah sang maha raja!”

Siddha Kalagana menengok ke bawah dan ketika ia melihat Wiku Dharmamulya beserta pasukannya, ia tertawa bergelak, memandang rendah sekali. Akan tetapi ia merasa jengkel juga karena pestanya diganggu orang. Dengan tangan kiri ia memberi isyarat kepada semua orang, dan semura orang yang sedang menari-nari itu lalu meninggalkan lapangan di atas kaki candi itu, menuruni anak tangga dan berlari ke tempat masing-masing.

Dengan muka merah Maha Wiku Dharmamulya meramkan kedua matanya ketika ia melihat empat puluh orang gadis itu setengah telanjang di tempat itu. Pakaian mereka yang tipis itu sebagian besar telah terbuka, muka mereka kemerah-merahan penuh nafsu dan gairah, sedangkan mata mereka memancarkan cahaya berahi dan mulut mereka tersenyum-senyum!

Siddha Kalagana memberi aba-aba kepada mereka itu yang segera kembali ke pesanggrahan yang telah disediakan oleh Siddha Kalagana sebagai tempat tinggalnya bersama empat puluh orang “bidadari” itu.

Kini di atas kaki candi itu tinggallah Siddha Kalagana sendiri dan patung Batari Durga itu. Sungguhpun patung itu jauh lebih besar daripada tubuh pendeta itu, namun setelah Siddha Kalagana berdiri dan bersedekap pendeta ini nampak bagaikan seorang iblis yang dahsyat berdiri di atas alas dan kaki candi yang maha besar itu.

“Dharmamulya!” suaranya menggema di sekeliling kaki candi. “Apakah maksudmu malam-malam datang mengganggu pesta yang sedang kulangsungkan?”

“Siddha Kalagana!" kata Dharmamulya marah. "Kami datang atas nama Sang Maha Raja Samaratungga. Berkali-kali kau telah diberi peringatan akan perbuatanmu yang melanggar tata susila di tempat ini, akan tetapi kau tetap tidak mau menghentikan kegilaanmu. Oleh karena itu, kami datang untuk memberi peringatan yang penghabisan, yaitu bahwa kau harus menghentikan pesta-pesta dan penyembahan Batari Durga, mengusir semua penari telanjang dan merobohkan patung-patung yang tidak sesuai dengan Agama Buddha. Ingat bahwa candi yang dibangun harus merupakan lambang kebesaran Agama Buddha, maka ukiran-ukiran di kaki candi itupun harus dirubah pula, sesuai dengan kehidupan Sang Buddha yang maha agung!”

Banjir Darah di Borobudur







No comments: