Ads

Sunday, October 22, 2017

Banjir Darah di Borobudur Jilid 35

Indrayana terpaksa mempergunakan kain ikat kepalanya disabetkan ke kanan kiri dan ular-ular itu terbanting ke bawah kembali. Indrayana menggunakan kerisnya digurat-guratkan kepada batu hitam. Berpijarlah bunga api ketika keris yang ampuh itu ujungnya diguratkan pada batu hitam yang keras.

Sebentar saja terbakarlah daun-daun kering yang dibawanya tadi. Dengan daun-daun terbakar ini, Indrayana lalu menyebarkan api pada daun-daun kering yang banyak terdapat di bawah batu, maka sebentar saja menjalarlah api membakar daun-daun kering dibawah pohon. Akal Indrayana ini baik sekali, karena begitu menghadapi api, ular-ular itu menjadi ketakutan dan larilah binatang-binatang itu berserabutan!

Indrayana mentertawakan binatang-binatang itu dan melanjutkan perjalanannya, karena ia ingin “mendahului” Rakai Pikatan membasmi pengganggu di gunung itu agar sang puteri mahkota jangan sampai terjatuh ke dalam tangan Rakai Pikatan sehingga merusak kebahagiaan Candra Dewi.

Tiba-tiba ia mendengar suara keras dan ketika ia berlari menghampiri, ia melihat Raja Mataram itu tengah berjuang mati-matian melawan seekor ular yang luar biasa besarnya! Sungguh baik sekali bahwa kedua orang muda itu mendaki bukit dari dua jurusan, karena kalau saja tidak demikian halnya, maka mereka yang naik ke bukit itu tentu akan menghadapi ular besar itu dan dikeroyok pula oleh ratusan ular kecil!

Kalau terjadi demikian, maka hal itu akan berbahaya sekali. Agaknya tak mungkin menghadapi Nagaluwuk jika masih dikeroyok pula oleh ratusan ular itu. Tanpa disengaja, Indrayana dan Pancapana telah bekerja sama, menghilangkan perintang yang berupa anak buah Sarpajati dan Sarpawuyung, sepasang manusia iblis di Gunung Papak itu!

Akan tetapi, ketika Indrayana menyaksikan betapa Rakai Pikatan telah berhasil menewaskan ular besar dan kini duduk mengaso di bawah pohon, ia tak dapat menahan kesabarannya lagi dan kebencian meluap. Terbayanglah wajah Candra Dewi yang menangis sedih karena ditinggalkan oleh suami yang mengikuti sayembara hendak memperebutkan puteri Syailendra.

Tanpa banyak cakap pula, ia lalu melompat dan menerjang Rakai Pikatan yang sedang duduk. Sungguhpun ia tidak memberi tahu lebih dulu namun sebagai seorang ksatria ia menyerang dari depan dengan terang-terangan, memukul dada Raja Mataram yang masih muda itu.

Demikianlah setelah melihat bahwa yang menyerangnya itu adalah Indrayana, Rakai Pikatan lalu menegur pemuda itu dan kini mereka berdiri berhadapan, saling menatap muka masing-masing dengan pandangan bernyala.

“Indrayana, apakah artinya ini? Mengapa kau menyerangku dengan tiba-tiba tanpa alasan?”

Indayana tersenyum sindir.
“Sang Prabu Pikatan, sungguhpun aku menyerangmu, akan tetapi aku menyerang dari depan! Majulah kau dan mari kita sama lihat, siapa lebih unggul dan lebih digdaya!”

“Indrayana, apakah kau sudah gila!” bentak Sang Rakai Pikatan marah.

Merahlah muka Indrayana mendengar makian ini. Ia membusungkan dadanya dan menjawab.






“Sang Prabu Pikatan! Baru sekarang terbukti kebenaran kata-kata orang bijaksana bahwa kedudukan tinggi itu bercahaya gemilang sehingga dapat membutakan mata hati orang! Kau yang dahulu kuanggap orang semulia-mulianya dan sebaik-baiknya, setelah mendapat kedudukan tinggi dan mulia, ternyata juga menjadi buta dan bukan aku yang gila, melainkan kau sendiri, gila perempuan!”

Bukan main marahnya Sang Rakai Pikatan mendengar ini.
“Indrayana! Tak patut kau mengeluarkan kata-kata sekeji ini! Agaknya kau marah kepadaku karena Candra Dewi.”

“Jangan sebut-sebut namanya dalam persoalan ini! Sudahlah, kalau benar-benar kau laki-laki dan gagah, mari kita tentukan di tempat ini. Kita berdiri sebagai saingan dalam memperebutkan Sang Puteri Mahkota Syailendra. Kalau kau sanggup menyempal bahu Indrayana, barulah kau akan dapat memboyong puteri itu. Kalau tidak, kau harus mati dan puteri mahkota adalah hak Indrayana!”

“Keparat!” seru Sang Rakai Pikatan dengan mata bernyala. “Sebelum pecah dadaku, jangan harap kau akan dapat menjadi suami Pramodawardani dan merusak kebahagiaan isterimu sendiri!”

Kata-kata terakhir ini tidak terdengar lagi oleh Indrayana yang sudah merasa marah sekali. Ia melompat maju memukul dengan tangan kanannya, akan tetapi Rakai Pikatan dengan sigapnya menangkis dan balas menyerang.

Bukan main hebatnya pertandingan ini. Keduanya sama tampan, sama gagah, sama sakti mandraguna dan pernah mendapat gemblengan yang sama pula dari guru mereka, yakni Sang Begawan Ekalaya di Gunung Muria. Pukul-memukul, tendang-menendang, hempas-menghempas, membuat bumi yang terpijak oleh mereka seakan-akan tergetar karena hebatnya perjuangan kedua orang ksatria itu. Tangan mereka sama ampuh, gerakan mereka sama gesit dan tubuh mereka sama kebal pula.

Pada suatu saat ketika Indrayana lengah, sebuah pukulan hebat dari Sang Rakai Pikatan dengan jitu mengenai dadanya, membuat ia terlempar sampai dua tombak lebih dan duduk dengan kepala pening beberapa saat lamanya.

Akan tetapi, ia segera bangkit kembali, membuat serangan balasan dengan hebatnya sehingga berhasil mengirimkan pukulan yang mengenai leher Sang Rakai Pikatan sehingga Raja Mataram ini terhuyung-huyung ke belakang dengan pandangan mata nanar untuk seketika.

“Hm, tanganmu keras sekali Indrayana!" Sang Rakai Pikatan memuji bekas sahabatnya ini dengan kagum.

“Babo, babo!” sumbar Indrayana. “Kerahkan seluruh kekuatanmu Sang Prabu! Kalau kau masih penasaran, cabutlah pedangmu dan mari kau hadapi ksatria Syailendra ini!”

“Aduh, sumbarmu seakan-akan kau telah menggulingkan Gunung Mahameru! Jangan kau kira aku gentar menghadapimu. Akan tetapi, bukan watak ksatria untuk bertempur dalam gelap gulita, mempergunakan keadaan yang gelap untuk mencari kemenangan. Orang yang bertempur secara liar di dalam gelap hanya orang buas yang tidak mengenal tata kesusilaan. Kalau kau tidak mau kuanggap orang liar, kita tunda dahulu pertempuran ini dan kita lanjutkan besok pagi.”

Memang pada saat itu malam telah tiba dan keadaan mulai menjadi gelap. Sebentar lagi tentu di dalam hutan itu gelap pekat tak kelihatan sesuatu. Indrayana menghela napas menjawab.

“Sesukamulah! Diteruskan sekarang atau besok pagi bagiku sama saja. Pendeknya, kali ini kita harus mengadu tenaga sampai salah seorang diantara kita roboh tak bernyawa pula. Nah sampai besok pagi Sang Prabu!”

“Indrayana…”

Rakai Pikatan memanggil dengan suara halus, akan tetapi pemuda ini telah melompat dan menghilang di balik semak-semak. Sang Prabu Pikatan menarik napas panjang karena ia memang amat lelah, ia lalu duduk menyandarkan tubuh di bawah pohon. Tak lama kemudian iapun tertidur nyenyak.

Sementara itu, Indrayana yang tidak pergi jauh dari situ juga telah tertidur di atas pohon waringin. Pemuda inipun merasa lelah sekali. Belum pernah ia menemui tandingan sekuat Sang Rakai Pikatan dan dalam perkelahian tadi ia telah mengerahkan tenaganya sehingga merasa penat dan sakit-sakit tulang dan urat tubuhnya.

Menjelang tengah malam, dua pasang mata yang seperti mata harimau, yang dapat menembus kegelapan, mengintai Rakai Pikatan yang sedang tidur pulas di bawah pohon. Mereka adalah sepasang manusia iblis di Gunung Papak, yaitu Sarpajati dan Sarpawuyung.

Ketika mereka sampai di tempat itu, mereka terkejut sekali melihat Nagaluwuk telah tewas. Mereka tidak mengetahui tentang pertempuran antara ular besar itu dan Rakai Pikatan, karena mereka menyembuyikan diri di dalam gua dan tidak berani keluar sebelum tengah malam tiba. Kini mereka mengintai Sang Rakai Pikatan yang sedang tidur.

“Kakang Jati, agaknya raja sinatria inilah yang telah membunuh Nagaluwuk. Keparat benar! Mari kita bunuh dia, membalas sakit hati Nagaluwuk!”

“Sst, nanti dulu, Wuyung. Jangan kita bertindak sembrono. Ketahuilah bahwa ksatria yang sedang tidur itu bukan sembarang orang yang mudah dilawan begitu saja. Aku sekarang ingat bahwa dia adalah Sang Prabu Pikatan, raja muda dari Mataram yang terkenal. Tadinya kukira ia seorang biasa saja, akan tetapi setelah ia berhasil menewaskan Nagaluwuk, dan melihat teja yang bercahaya dari kepalanya, ternyata ia tidak boleh dibuat gegabah. Lebih baik kita menguasainya dengan aji panyirepan lebih dulu agar ia tak berdaya.”

Kedua kakak beradik ini lalu duduk bersila di atas tanah, menyilangkan kedua lengan di depan dada dan mengheningkan cipta lalu mengerahkan aji japa mantera mereka melakukan panyirepan.

Bukan main hebatnya aji ini karena semua binatang di hutan itu yang tidur di atas tanah, semua lalu jatuh pulas! Tetapi, alangkah heran dan terkejut hati mereka ketika mendapat kenyataan bahwa Sang Rakai Pikatan belum juga terpengaruh oleh aji mereka.

Seorang manusia yang terkena aji panyirepan ini, dapat ditentukan dari suara mendengkur dalam tidurnya. Biarpun tadinya orang itu tidak mendengkur dan tidak biasa mendengkur dalam tidurnya, akan tetapi apabila telah terkena pengaruh aji panyirepan ini, pasti akan terdengar dengkurnya, tanda bahwa tidurnya nyenyak sekali dan juga tidak sewajarnya!

Akan tetapi, ditunggu-tunggu sampai lama, ternyata Sang Rakai Pikatan masih saja tidur dengan napas perlahan dan halus, sama sekali tidak terdengar dengkurnya. Hal ini tak usah diherankan apabila diingat bahwa Rakai Pikatan adalah seorang pemuda yang telah bertahun-tahun mendapat gemblengan dari Sang Panembahan Bayumurti yang sakti, bahkan kemudian ia mendapat bimbingan dari Sang Begawan Ekalaya yang suci dan berilmu tinggi. Tidak sembarang ilmu hitam akan dapat mempengaruhi pemuda yang telah menjadi raja di Mataram ini.

Sepasang manusia iblis kembar itu menjadi penasaran dan dengan sekuat tenaga mereka mengerahkan aji kesaktiannya dan pengaruh aji tenung mereka itu menyebarkan hikmat yang membuat daun-daun pohon seakan-akan ikut tertidur juga!

Biarpun demikian mereka masih harus menggunakan waktu hampir setengah malam sebelum mereka mendengar suara dengkur perlahan dan halus keluar dari dada Sang Rakai Pikatan. Menjelang fajar, barulah Raja Mataram itu tunduk dan terkena hikmat aji kesaktian Sarpajati dan Sarpawuyung.

“Kurang ajar, hampir habis tenagaku!” kata Sarpawuyung sambil mengatur napasnya yang terengah-engah.

Pengerahan tenaga batin yang dipaksakan itu benar-benar melelahkan kedua orang itu sehingga mereka tidak berdiri dari tempat duduk mereka dan mengaso sampai fajar menyingsing.

Setelah tenaga mereka terkumpul dan hari mulai terang, barulah mereka berdiri dan memandang ke arah Sang Rakai Pikatan yang duduk bersandar di batang pohon dan masih tidur mendengkur perlahan.

Keadaan di dalam hutan ini aneh sekali, karena biarpun matahari telah mulai mengusir halimun pagi, namun tidak terdengar suara ayam hutan atau binatang lain. Semua penghuni hutan masih tertidur lelap karena pengaruh sirep dan sihir kedua orang itu.

“Kakang Jati, biarkan aku yang membunuh Raja Mataram ini!” kata Sarpawuyung sambil melangkah maju dan mencabut lembingnya.

Juga Sarpajati mencabut lembing dan kedua orang itu telah siap untuk menancapkan lembing mereka di dada Sang Rakai Pikatan. Akan tetapi, tiba-tiba pada saat Sarpawuyung telah mengangkat lembingnya, dari atas pohon melayang turun sebatang anak panah tahu-tahu menancap di depan kedua orang yang hendak membunuh Raja Mataram itu!

Sarpajati dan Sarpawuyung terkejut sekali. Mereka mendongak dan pada saat itu juga melayanglah turun sesosok tubuh yang gerakannya gesit sekali dan tahu-tahu Indrayana telah berdiri di depan Sang Rakai Pikatan, menghadapi raja itu dan sekali ia mengebutkan ikat kepalanya kearah muka raja muda itu, terbangunlah Sang Raja Pikatan dari tidurnya!

“Jahanam!” seru Sarpawuyung dengan amat marah. “Kami berurusan dengan Raja Mataram, kau siapakah berani mengganggu kami?”

“Iblis jahat dengarlah baik-baik! Aku adalah Raden Indrayana, ksatria Syailendra yang tidak membiarkan iblis-iblis seperti kalian berlaku curang!”

“Hm, dia inilah yang menjadi pengikut sayembara pula!” seru Sarpajati.

“Adi Wuyung, hayo kita sirnakan manusia sombong ini!”

Banjir Darah di Borobudur







No comments: