Ads

Sunday, October 22, 2017

Banjir Darah di Borobudur Jilid 34

Ketika Kerajaan Syailendra makin luas daerahnya sehingga Gunung Papak inipun termasuk wilayah Syailendra, Sang Raja Samaratungga telah beberapa kali berusaha mengusir atau membasmi kedua saudara kembar yang bernama Sarpajati dan Sarpawuyung.

Akan tetapi ternyata kedua orang ini amat sakti dan pandai sekali menyembunyikan diri sehingga selama itu usaha Sang Prabu Samaratungga tak berhasil. Oleh karena kedua orang manusia iblis ini sering kali mengganggu keamanan, merampok bahan makanan dan menculik orang, maka Sang Prabu memasukkan kedua orang penjahat ini kedalam sayembara pemilihan mantu itu.

Demikianlah sedikit keterangan tentang Sarpanjati dan Sarpawuyung yang berhasil menewaskan kedua senapati Sriwijaya yang bertugas mengalahkan mereka itu. Dengan cara yang amat curang kedua orang manusia iblis ini menyerang Kalinggapati dan Kalinggajaya dengan lembing berbisa dari belakang pada saat kedua orang senapati itu tengah membidikkan panah putih kearah ular besar itu.

“Ha, ha, ha! Hi, hi, hi!”

Sarpawuyung tertawa-tawa sambil menari-nari memutari dua tubuh yang menggeletak di atas tanah, kemudian mencabut lembingnya yang menancap pada punggung Kalinggajaya.

“Hanya sebegini saja macamnya orang-orang yang menjadi utusan Samaratungga untuk menumpas kita! Ha, ha, ha!”

Sarpajati juga mencabut lembingnya yang menancap di punggung Kalinggapati, lalu berkata dengan suara bersungguh-sungguh.

“Adi Wuyung, jangan engkau gegabah! Aku telah mendengar bahwa yang memenangkan sayembara di Syailendra adalah seorang ksatria Syailendra dan Raja Mataram sendiri, akan tetapi aku tidak takut menghadapi kedua orang yang masih muda-muda itu. Yang membikin hatiku gentar adalah orang kelima, yaitu Sang Begawan Siddha Kalagana! Ah, aku merasa bulu kudukku meremang kalau mengingat kepada penyembah Batari Durga itu!”

“Ah, kakang Jati,” menyela Sarpawuyung, “apa sih yang harus ditakutkan? Sampai dimana kedigdayaan penyembah Batari Durga? Biarlah dia datang, akan kuhancurkan tubuhnya dengan lembingku ini. Ha, ha, ha!” Sarpawuyung mengangkat lembingnya yang berlepotan darah itu sambil tertawa lagi.

“Jangan sembrono adi Wuyung. Siddha Kalagana benar-beanr sakti dan ia telah menghabiskan jantung segar banyak anak-anak kecil. Ilmunya tinggi dan ia kebal terhadap segala macam racun. Daripada kita mendapat bencana, lebih baik bersembunyi dan mengerahkan barisan ular untuk menjaga keselamatan kita. Siapa saja yang memasuki hutan ini akan berhadapan dengan barisan ular kita lebih dahulu sebelum bertemu dengan kita!”

Kembali Sarpawuyung tertawa bergelak.
“Sesukamulah, kakang Jati, akan tetapi aku tidak takut sama sekali!”

Tiba-tiba Sarpajati menundukkan kepalanya yang gundul seakan-akan mendengar sesuatu.

“Sst, ada orang datang! Adi Wuyung, lekas kita bersembunyi dan kita kerahkan barisan ular!” Kemudian ia menengok kearah ular besar yang masih bergantungan di cabang pohon randu alas itu dan berkata, “Hai Nagaluwuk, waspadalah kau berjaga disini!”






Bagaikan dua bayangan setan, sekali melompat ke dalam semak belukar lenyaplah kedua orang itu. Pendengaran Sarpajati memang tajam. Benar saja, tak lama setelah mereka menghilang, nampaklah bayangan orang berjalan dalam kesuraman senja. Bayangan ini bukan lain adalah Raden Pancapana atau Sang Rakai Pikatan sendiri, yang menjalankan tugasnya mencari pengganggu keamanan yang berada di puncak Gunung Papak dan menewaskan mereka.

Sang Rakai Pikatan berjalan perlahan dan sungguhpun ia sedang berjalan mencari iblis pengganggu di gunung itu, akan tetapi pikirannya melayang jauh dari situ, dan di depan matanya terbayang wajah Raden Indrayana yang dijumpainya di alun-alun tempat diadakannya sayembara menarik gendewa tadi pagi. Ia masih merasa amat penasaran. Bagaimana Indrayana dapat melakukan hal itu! Apakah benar-benar Indrayana yang dikenalnya sebagai pemuda gagah dan berbudi ini telah meninggalkan Candra Dewi untuk mencoba memenangkan sayembara agar menjadi suami sang puteri mahkota?

Tadi ketika hendak meninggalkan alun-alun, ia sengaja mendekat dan memanggil Indrayana untuk ditanya, akan tetapi Indrayana tidak menjawab sama sekali, bahkan setelah melontarkan pandang mata yang marah lalu meninggalkannya! Ia tidak tahu bahwa pada saat itu ia menaiki Gunung Papak dari selatan, Indrayana juga naik ke atas Gunung itu dari sebelah timur!

Senjakala telah membuat keadaan di dalam hutan itu agak gelap, namun sepasang mata Pancapana yang tajam penglihatannya itu masih dapat melihat bahwa yang menggeletak di bawah pohon randu hutan itu adalah tubuh dua orang yang telah tewas. Ia cepat berlari menghampiri dan alangkah kagetnya ketika ia melihat bahwa yang menggeletak dan tewas disitu adalah sepasang senapati Sriwijaya yang mengikuti sayembara!

Sang Rakai Pikatan cepat menghampiri dan berjongkok untuk memeriksa keadaan kedua orang itu, akan tetapi tiba-tiba terdengar angin serangan dari atas mengarah kepalanya. Pemuda perkasa ini cepat melompat ke samping dan meluncurlah kepala ular Nagaluwuk di dekat tubuhnya!

Nagaluwuk ini adalah seekor ular besar yang tadinya menjagoi dan merupakan raja hutan di atas puncak Gunung Papak. Bahkan macan dan badak sendiri mengakui keunggulanya dan tidak berani jalan di dekatnya, akan tetapi ia telah ditaklukkan oleh saudara kembar Sarpajati dan Sarpawuyung sehingga menjadi pembantunya.

Melihat bahwa yang menyerangnya adalah seekor ular yang besar sekali, Sang Rakai Pikatan menjadi marah dan cepat ia mencabut pedangnya. Nagaluwuk melihat serangannya tidak berhasil cepat mengubah ayunan kepalanya dan kini ia menyambar lagi ke arah pemuda itu.

Sang Rakai Pikatan cepat miringkan tubuhnya mengelak, dan ketika kepala ular itu menyambar lewat, ia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan itu. Secepat kilat pedangnya bergerak membacok dan “tak!!” pedangnya seakan-akan membentur batu dan membal kembali.

“Keparat!” seru Rakai Pikatan yang tidak menjadi gentar, sebaliknya malah merasa marah dan penasaran sekali.

Ia memandang penuh perhatian dan maklum bahwa kekebalan ular itu terletak pada sisik ular itu. Sisik itu tebal, kuat dan licin. Lagi pula bertumpuk-tumpuk sehingga amat kuatnya. Kembali kepala ular itu menyambar dengan mulut terbuka lebar. Terdengar desis keras dan dari mulutnya tersemburlah uap hitam yang berbau amat amis.

Rakai Pikatan mengumpulkan hawa di dalam dada, menahan napas lalu meniup ke arah uap hitam yang menyerangnya itu sambil mengelak dari terkaman kepala ular. Uap hitam itu menjadi buyar dan kembali terdorong oleh tiupan Rakai Pikatan yang kuat. Kemudian, sebelum kepala ular itu berbalik kembali, sesigap rusa melompat, Rakai Pikatan menubruk maju dan pedangnya masuk di bawah sisik, terus mengarah kulit dan melukai bagian leher ular itu.

Ketika pedang dicabut, tersemburlah darah ular itu. Kepala ular mendesis-desis makin hebat sehingga tempat itu penuh dengan uap hitam. Terpaksa Rakai Pikatan menahan napasnya dan tidak berani menyedot napas karena hawa di sekitar tempat itu telah mengandung racun.

Saking sakitnya karena luka di lehernya, Nagaluwuk melepaskan libatan ekornya pada cabang pohon sebelah atas dan dilibatkannya kembali ekor itu pada cabang yang rendah. Kini kepalanya sampai menyentuh tanah dan ia menggeliat-geliatkan lehernya yang kesakitan. Gerakannya demikian buas dan cepat sehingga sukarlah Rakai Pikatan untuk menyerang lagi. Dalam penderitaanya karena luka itu, Nagaluwuk masih saja dapat menyerang bertubi-tubi yang dielakkan oleh Rakai Pikatan yang mengandalkan kegesitan tubuhnya.

Pemuda perkasa itu maklum bahwa kalau dilanjutkan pertempuran ini, ia akan menderita rugi, karena selain tidak mendapat kesempatan membalas serangan lawannya juga tak mungkin ia menahan terus pernapasannya.

Tiba-tiba ia mendapat akal. Ketika ular itu menyerangnya lagi, ia bukan mengelak ke samping, melainkan menggenjot tubuhnya ke atas dan sekali saja pedangnya terayun, cabang pohon dimana ekor ular itu melilit, terbabat putus dan runtuhlah cabang itu berikut tubuh Nagaluwuk.

Kini ular itu telah berada di atas tanah dan tentu saja daya serangannya tak sehebat kalau ia menggantungkan diri dari pohon. Rakai Pikatan tidak mau menyia-nyiakan waktu lagi dan beberapa kali ia melompat-lompat ke kanan kiri dan belakang ular sambil mengirim tusukan-tusukan maut.

Beberapa tusukan lagi kearah perut hingga binatang itu dan ular yang besar itu berhenti menyerang, menggelepar di atas tanah, menggeliat-geliat menanti datangnya ajal.

Rakai Pikatan meninggalkan tempat itu dan duduk mengaso di bawah pohon, agak jauh dari situ agar jangan sampai kena mengisap hawa beracun. Ia menyeka peluhnya dan membersihkan pedangnya dengan rumput alang-alang, kemudian memasukkan pedang pusaka itu di dalam sarung pedangnya kembali.

Baru saja pedangnya disarungkan, tiba-tiba berkelebat bayangan hitam di depan mukanya dan kalau saja ia tidak cepat mengelak, tentu pukulan yang dilakukan oleh bayangan itu akan mengenai dadanya! Rakai Pikatan bangun dan memandang.

“Dimas Indrayana!!” serunya terkejut, heran, dan marah.

Memang penyerang itu adalah Indrayana sendiri. Pada saat Rakai Pikatan mendaki Bukit Papak dari selatan, pemuda inipun mendaki bukit dari sebelah timur. Ia hendak mencari pula pengganggu yang tinggal di Gunung Papak dan melenyapkannya sebagai yang diisyaratkan oleh sayembara itu.

Sesungguhnya, Indrayana mengikuti sayembara hanya dengan satu maksud dan tujuan yaitu menghalang-halangi Rakai Pikatan! Ia tidak ingin memperisteri Sang Puteri Pramodawardani, ia tidak mungkin dapat mencintai seorang wanita lain lagi setelah hatinya terpatah oleh Candra Dewi yang dijadikan permaisuri oleh Rakai Pikatan karena Raja Mataram ini merampas Candra Dewi dari tangannya, akan tetapi karena mengira bahwa Rakai Pikatan telah meninggalkan atau menyia-nyiakan Candra Dewi, kemarahannya memuncak. Celakalah orang yang mendatangkan sengsara kepada gadis yang dicintainya itu!

Ketika Indrayana mendaki bukit itu, sebelum tiba di puncak, tiba-tiba ia mendengar suara berkerosokan seperti daun-daun kering diinjak banyak kaki. Ia cepat bersiap dan alangkah kagetnya ketika ternyata bahwa suara itu ditimbulkan oleh banyak sekali ular-ular kecil yang meluncur berlenggak-lenggok di atas tanah menuju ke arahnya seakan-akan barisan yang bersiap menyerang musuh!

Indrayana yang gagah dan tidak mengenal takut itu menjadi ngeri juga melihat betapa banyaknya ular-ular welang, dumung, sawah dan ular air berlenggak-lenggok menjijikkan. Ia tidak mau melayani ular-ular ini dan hendak mengambil jalan memutar.

Akan tetapi, baru saja ia membalikkan tubuh ternyata dari belakang, kanan dan kiri telah penuh dengan ular. Bahkan ketika ia mendengar suara dari atas pohon-pohon juga datang ular-ular yang merayap turun. Ia telah terkurung oleh ratusan ekor ular!

“Hm, ini tentu perbuatan siluman gunung ini!” bisik Indrayana. “Baiklah, kalau kau menghendaki balamu menjadi bangkai, aku takkan mundur setapak!”

Pemuda yang gagah berani ini lalu mencabut keris dengan tangan kanan, sedangkan tangan kirinya melepaskan ikat kepala yang dipegang ujungnya. Setelah ular-ular itu merayap dekat dan mulai menyerangnya dengan mendesis-desis dan membuka mulut mereka yang lebar, Indrayana mulai bergerak.

Ikat kepala di tangannya diputar sedemikian rupa dan ternyata kain pengikat kepala yang lembek ini setelah berada di tangannya, merupakan sebuah senjata yang amat dahsyat. Ujung kain itu ketika dipukul-pukulkan mengeluarkan bunyi bagaikan pecut dan setiap kali kepala ekor terkena ujung kain itu, pecahlah kepala ekor ular itu dengan otak berserakan!

Namun ujung kain itu sendiri tetap bersih dan tidak terkena darah ular. Ular-ular yang agak besar dirobohkannya dengan keris pusakanya yang ampuh. Tak usah sampai tembus, baru tergurat sedikit saja oleh ujung keris di tangan Indrayana, ular-ular itu bergelimpangan dan tidak berkelojotan lagi!

Betapapun hebatnya amukan Indrayana sehingga sebentar saja puluhan bangkai ular bertumpang tindih, namun ular itu merupakan lawan yang tidak mengenal arti mundur atau takut. Mati satu datang dua, roboh dua datang empat sehingga lama-kelamaan Indrayana merasa ngeri dan jijik.

Tempat itu telah berbau amis karena darah ular-ular yang dibunuhnya. Untuk pergi dari situ juga tak mungkin, karena kemana saja ia melompat, ia selalu terkurung dan sama sekali tak ada jalan keluar.

Dengan gemas Indrayana lalu mencari akal. Ketika melihat batu hitam yang besar di dekat tempat itu, ia lalu melompat ke atas batu itu sambil membawa daun-daun kering. Ular-ular yang masih mengurung lalu berlenggak-lenggok mengurung batu besar itu dan sudah ada beberapa belas ekor ular yang merambat menaiki batu untuk menyerangnya.

Banjir Darah di Borobudur







No comments: