Ads

Sunday, October 22, 2017

Banjir Darah di Borobudur Jilid 32

“Ponggawa, mundurlah kau. Seorang raja tidak memberi hormat kepada raja lain kalau tidak bertemu muka. Lagipula, paman Prabu Samaratungga duduk di atas panggung sedangkan aku berada di bawah. Kedatanganku untuk mengikuti sayembara, bukan untuk menghadap Sang Prabu ! “

Ponggawa itu tertegun. Ucapan seperti itu hanya dapat dikeluarkan oleh seorang raja ! Siapakah raja muda ini? Akan tetapi ia tidak berani banyak bertanya dan lalu mundur, berdiri di tempat penjagaannya kembali, yaitu di bawah. Sementara itu, pemuda itu lalu mengerling ke atas panggung.

Siapakah pemuda ini? Tentu mudah diterka, karena ia bukan lain ialah Sang Prabu Pikatan atau pemuda Raden Pancapana yang tampan dan gagah! Sebagaimana diketahui di bagian depan, Sang Prabu atau Sang Raja Pikatan ini mengutus Indrayana untuk meminang Candra Dewi puteri Penembahan Bayumurti, akan tetapi beberapa hari kemudian ia menerima berita balasan dari Panembahan bahwa Candra Dewi tidak mau menerima pinangannya, bahkan gadis itu telah melarikan diri tanpa memberi tahu kepada ayahnya! Mendengar ini, Sang Prabu Pikatan menghela napas dan ia tidak menjadi marah, bahkan berkata perlahan

“Candra Dewi, engkau sungguh setia. Aku tahu, penolakanmu ini tentu karena cinta kasihmu terhadap Indrayana!“

Raja muda ini mengira bahwa Candra Dewi melarikan diri bersama Indrayana, maka ia tidak memikirkan lagi tentang gadis itu, bahkan di dalam hatinya ia mendoakan kebahagiaan bagi Indrayana dan Candra Dewi yang disayanginya itu.

Kemudian, Sang Rakai Pikatan itu mendengar tentang sayembara yang diadakan oleh Kerajaan Syailendra. Tergeraklah hatinya dan ia teringat akan cerita Indrayana yang memuji-muji kecantikan Puteri Pramodawardani dari Syailendra. Kalau Candra Dewi tidak suka menjadi sesembahan di Mataram, agaknya yang patut menempati kursi kedudukan permaisuri, selain Puteri Mahkota Pramodawardani dari Syailendra, tidak ada orang lain lagi!

Kerajaan Syailendra terkenal sebagai kerajaan besar dan juga nama Sang Prabu Samaratungga cukup terkenal. Tidak akan memalukan apabila ia dapat berhasil memboyong Puteri Pramodawardani ke keraton Mataram untuk dijadikan permaisurnya! Akan tetapi, ketika ia berunding dengan senapati sepuh di Mataram, para senapati itu menyatakan kesangsian mereka oleh karena Kerajaan Syailendra beragama Buddha.

“Kalau paduka mengajukan pinangan sebagai Raja Mataram, kemudian sampai ditolak hanya karena alasan agama, bukankah itu merupakan tamparan besar bagi Kerajaan Mataram? Sebagaimana paduka telah mengetahui, banyak terjadi kesalah-fahaman antara kawula Mataram dan kawula Syailendra karena agama maka janganlah sampai kesalah-fahaman ini menjalar kepada keraton kedua kerajaan. “

“Tidak demikian, paman senapati,“ jawab Sang Raja Pikatan,“ oleh karena Kerajaan Syailendra telah mengadakan sayembara pilih menantu maka siapapun juga, baik beragama Buddha atau lain, berhak untuk ikut memasuki sayembara, tidak sebagai seorang raja besar yang datang meminang dengan membawa bala tentara, melainkan sebagai seorang peserta dan aku harap akan pergi dengan beberapa orang pengiring saja.“ Akhirnya berangkatlah Sang rakai Pikatan diiringi oleh beberapa belas orang prajurit saja.

Ketika Sang Prabu Pikatan mengerling ke atas panggung dan bertemu pandang dengan Puteri Pramodawardani, ia menjadi benggong dan tak dapat mengalihkan pandangan matanya dari atas panggung!

Kecantikan puteri itu jauh melampaui dugaannya, jauh melampaui pujian-pujian Indrayana. Hatinya berdebar keras dan pada saat itu juga ia merasa yakin bahwa inilah wanita idamananya dan ini pulalah wanita satu-satunya yang benar-benar ia inginkan menjadi permaisurinya, bukan hanya untuk pemantas atau demi keharuman nama kerajaannya akan tetapi oleh karena hatinya membisikkan sesuatu yang aneh, yang membayangkan bahwa hanya dengan puteri inilah hidupnya akan bahagia!






Sementara itu, Pramodawardani yang juga kebetulan sedang memandang kepada pemuda gagah dan tampan itu, tak dapat lama-lama bertahan dan cepat-cepat menundukkan mukanya yang berobah merah.

Sementara itu, sayembara telah dimulai. Seorang demi seorang maju dan mencoba kekuatan mereka untuk menarik gendewa ampuh itu. Orang pertama adalah seorang pangeran dari timur yang bertubuh tinggi besar dan bermuka hitam. Pangeran itu mengangkat dada, sengaja menanggalkan baju yang memperlihatkan dadanya yang bidang dan membusung. Urat-uratnya melingkar-lingkar bagaikan ular di seluruh tubuhnya.

Puteri Pramodawardani meramkan matanya. Ia tidak tahan untuk membayangkan bagaimana kalau sampai pemuda raksasa ini berhasil memenangkan sayembara! Diam-diam ia menggigil penuh kegelian hati.

Ketika terdengar tepuk tangan para penonton yang menyatakan kagum atas kehebatan bentuk tubuh raksasa muda ini, Pramodawardani membuka matanya, Ia melihat betapa pemuda bermuka hitam itu membungkuk, mengambil gendewa dari atas meja, memegang batang gendewa dengan tangan kiri, kemudian sambil tersenyum mengejek tangan kanannya memegang tali gendewa, lalu dipentangnya.

Mula-mula ia menarik perlahan-lahan, dan tali itu dapat tertarik kedua ujungnya oleh tali, ternyata tarikan pemuda itu menjadi mogok karena tali gendewa itu kali ini sama sekali tak dapat digerakkan. Ia mengerahkan tenaga dan mulai hilanglah senyum ejekan yang tadi terbayang pada wajahnya yang hitam.

Akan tetapi percuma, gendewa itu benar-benar kuat dan masih lempeng, sama sekali tak dapat dipentang sedikitpun juga. Ia mengerahkan tenaga sambil menahan napas, mukanya makin menghitam, urat-urat kedua tangannya tersembul makin besar, peluh sebesar kacang hijau memenuhi jidatnya, namun percuma belaka. Beberapa kali ia memandang gendewa itu dengan penasaran dan heran, mengganti pegangan batang dengan tangan kanan dan menarik tali dengan tangan kiri, namun usahanya tetap sia-sia.

Kini sorak-sorai penonton makin ramai, akan tetapi bukan merupakan pujian lagi, melainkan sorak menertawakan. Akhirnya pangeran timur ini saking malunya, melemparkan gedewa itu di atas meja dan tanpa banyak cakap lagi lalu lari meninggalkan lapangan itu!

Suara terkekeh-kekeh mengikutinya dari belakang. Sang Puteri Pramodawardani menarik napas panjang dengan hati lega, akan tetapi juga merasa kasian kepada pemuda raksasa itu.

Berturut-turut para calon itu mencoba tenaga mereka, akan tetapi gendewa pusaka Dewandana itu benar-benar luar biasa sekali. Ada diantara para calon yang kuat menarik busur itu sampai setengah lengkungan, akan tetapi tidak dapat sampai busur itu membulat. Baru setengah tarikan telah dilepaskan lagi karena tidak kuat dan kehabisan tenaga !

Orang terakhir yang mengikuti sayembara itu adalah Kalinggajaya, Kalinggapati dan Sang Rakai Pikatan. Para calon lain yang tidak dapat menarik busur itu telah meningalkan lapangan sehingga kini hanya tinggal tiga orang itu saja yang masih belum mengukur tenaga.

Sang Prabu Samaratungga telah menjadi gelisah dan kecewa sekali, harapannya untuk memilih mantu menipis. Baru syarat pertama saja sudah sedemikian mengecewakan, belasan orang ksatria pilihan tak mampu menarik busur itu.

“Ah, anak muda sekarang tiada gunanya ! “ katanya perlahan akan tetapi cukup keras sehingga terdengar oleh Pramodawarani yang duduk di sebelahnya. “aku biarpun sudah tua, masih sanggup menarik Dewandanu itu sampai bulat. Apakah benar-benar tidak ada orang gagah lagi di dunia ini? “

Akan tetapi, pada saat itu Kalinggapati adik Kalinggajaya, utusan dari Sriwijaya itu tampil ke muka. Sebelum melakukan percobaan tenaganya, ia menyembah lebih dulu ke arah panggung, kemudian ia menghampiri gendewa itu dengan wajah tenang. Sang Prabu menahan napas dan berbisik kepada permaisurinya,

“Kudoakan semoga utusan-utusan dari Sriwijaya itu akan berhasil ! “

Permaisurinya setuju dengan pendirian suaminya ini dan diam-diam ikut pula mendoa, akan tetapi Puteri Pramodawardani berpikir lain. Diam-diam puteri juita ini berdoa semoga ksatria bagus itulah yang akan berhasil dan keluar sebagai pemenang sayembara!

Betapapun tinggi pujian ramandanya akan kegagahan dan kebijaksanaan pangeran pati di Sriwijaya, akan tetapi ia belum menyaksikan dengan kedua mata sendiri, sedangkan ksatria yang tidak diketahui siapa orangnya itu sudah dilihatnya sendiri dan hatinya berdebar apabila ia melirik ke arah ksatria itu.

Kalinggapati berdiri menghadapi busur Dewandanu dan mulutnya berkemik membaca mentera kemudian ia menggerakkan tenaga dan kesaktiannya, mengambil busur itu dan menarik tali gendewa. Nampak betapa mukanya menjadi merah dan dahinya berpeluh, akan tetapi ia berhasil menarik tali gendewa sampai melengkung!

Sorak-sorai menyambut hasil ini dan kalinggapati lalu menaruh kembali gendewa itu di atas meja, menyembah ke arah meja dan “mundur kembali“, duduk di dekat kakaknya sambil memeramkan mata mengatur napas yang terengah-engah. Gendewa itu terlampau berat sehingga ia harus mengerahkan seluruh tenaganya.

Kini kalinggajaya maju. Seperti adiknya tadi, ia menyembah kepada Sang Prabu Samaratungga, kemudian iapun mengerahkan aji kesaktiannya, menarik tali gendewa yang segera melengkung. Tidak ada peluh memenuhi dahinya, hanya wajahnya saja menjadi merah dan urat lehernya mengembung, tanda bahwa ia mengerahkan tenaga dan mudah dilihat bahwa Kalinggajaya lebih sakti dan lebih kuat daripada adiknya. Kembali sorak-sorai riuh rendah menyambut kegagahan ini.

Bukan main girangnya Sang Prabu Samaratungga dan permaisurinya menyaksikan hasil yang diperoleh utusan-utusan Sriwijaya. Sorak-sorai sebagai sambutan atas kegagahan kedua orang utusan Sriwijaya tadi masih riuh ketika Sang Sakai Pikatan berdiri dari tempat duduk, menghampiri meja itu dengan langkah seorang bambang yang lemah lembut dan tenang.

Berbeda dengan kedua orang utusan tadi ia tidak menyembah ke arah panggung, hanya membungkuk sedikit sebagai tanda penghormatan, kemudian ia menghampiri gendewa itu.

Para penonton diam kembali, kini memperhatikan ksatria yang tampan dan halus itu. Orang yang begitu lemah lembut, mana dapat menarik gendewa pusaka Dewandanu? terdengar orang berkata.

Puteri Pramodawardani juga mendengar ucapan itu dan ia menjadi gelisah. Ketegangannya dapat dilihat jelas karena ia duduk sambil membungkukkan tubuh depan, memandang dengan kedua mata tak berkedip.

Sang Prabu Samaratungga dan permaisurinya sebagai orang tua dara jelita itu, tentu saja melihat keadaan puterinya ini, maka mereka saling pandang dengan penuh pengertian, kemudian mereka menundukkan pandangan mata ke bawah panggung pula.

Sang Rakai Pikatan menunduk dan mencium gendewa itu, bibirnya bergerak dan tersenyum. Kemudian dengan gerakan tenang dan lemah lembut ia mengambil gendewa itu dengan tangan kiri, mengangkatnya ke atas kepalanya, memegang tali gendewa dengan tangan kanan di belakang terpentang lebar, tubuhnya agak condong ke belakang dengan pundak kanan merendah, muka menengadah memandang angkasa, mukanya yang tampan tersenyum manis, kemudian tangan kanannya menarik tali gendewa dengan amat mudahnya, seakan-akan busur itu hanya terbuat dari pada lidi aren dan tali gendewanya dari kulit pohon pisang.

Busur itu melengkung sampai menjadi bulat dan ketika tali gendewa dilepaskan, terdengar bunyi “sing!!“ karena tali gendewa itu menggetar keras. Biarpun gendewa itu tidak dipasangi anak panah, akan tetapi getaran tali gendawa mendatangkan sinar seakan-akan ada anak panah yang melesat ke cakrawala! Bukan main hebatnya sambutan penonton atas hasil gemilang ini. Gegap gempita bunyi tepuk tangan dan sorak-sorai, jauh mengalahkan sambutan-sambutan yang tadi.

Sang Prabu Samaratungga dan permaisurinya menahan napas karena merekapun tertegun melihat kesaktian anak muda itu, dan ketika melihat betapa puterinya itu telah berdiri dari tempat duduknya dengan kedua tangan saling peluk, meremas-remas jari!

“Pramodawardani……!“ terdengar permaisuri menegur dengan bisikan.

Pramodawardani baru sadar ketika mendengar teguran ini, ia menengok kearah kedua orang tuanya, kemudian duduk kembali dan menundukkan mukanya yang kemerahan.

Akan tetapi, pada saat itu, terjadi kegemparan baru di kalangan penonton. Dua orang telah melompat masuk dalam kalangan, seorang dari utara dan seorang dari selatan. Orang yang masuk dari utara adalah seorang pemuda tampan dan gagah, sama tampan, sama halus dan sama gagah jika dibandingkan dengan Sang Rakai Pikatan. Pemuda ini langsung menuju ke tempat ketiga calon yang berhasil itu duduk lalu menjatuhkan diri bersila dan menyembah ke atas panggung dengan penuh khidmat.

Ketika Pramodawardani memandang, kedua matanya terbelalak. Ia mengenal pemuda itu yang bukan lain adalah Raden Indrayana, pemuda “kurang ajar “ yang dulu berani membuka tirainya ketika ia bersama ayahnya menjunjung pembukaan Candi Lokesywara!

Juga Sang Prabu Samaratungga mengerutkan alisnya. Sungguhpun pemuda itu cukup gagah dan tampan, akan tetapi ia hanya keturunan seorang wiku dan pernah melakukan pelanggaran. Namun, apakah hendak dikata, setiap orang boleh saja mengikuti sayembara. Yang lebih mengejutkan hati Sang Prabu adalah kedua yang masuk ke dalam kalangan selatan.

Banjir Darah di Borobudur







No comments: