Ads

Sunday, October 22, 2017

Banjir Darah di Borobudur Jilid 31

Kalau Kerajaan Mataram di bawah perintah Sang Prabu Pikatan makin lama makin jaya dan makmur, sebaliknya Kerajaan Syailendra makin lemah dan surut, sungguhpun Agama Buddha yang dikembangkan oleh kerajaan ini makin luas dan makin banyak pengikutnya.

Diam-diam Sang Maha Samaratungga merasa kagum akan kepandaian Sang Prabu Pikatan, karena di dalam waktu singkat saja Mataram telah bangun kembali, bahkan kini menjadi makin jaya, sehingga sebagian besar wilayah yang dahulu dirampas oleh para raja kecil, kini telah kembali. Banyak raja-raja kecil kini takluk tanpa diserang lagi dan kejayaan Mataram makin bersinar sampai di daerah Syailendra !

Syailendra pada waktu itu mengalami dua hal yang amat menggelisahkan pikiran Sang Maha Raja Samaratungga. Pertama-tama karena adanya gangguan dari gerombolan Srigala Hitam di bawah pimpinan Siddha Kalagana, pendeta yang sakti mandraguna, penyembah Sang Batari Durga itu.

Pendeta itu kini makin besar kekuasannya, makin berani melakukan pelanggaran di wilayah kerajaan lain. Bahkan kini Siddha Kalagana telah mengangkat diri sendiri menjadi seorang raja dengan gelar masih tetap Sang Maha Raja Siddha Kalagana dan kerajaannya disebut Kerajaan Durgaloka!

Hal kedua yang memusingkan Sang Prabu Samaratungga adalah puteri Pramodawardani. Telah banyak pengeran dan raja yang datang mengajukan pinangan, akan tetapi selalu Sang Puteri menolak. Hal ini amat menggelisahkan hati Sang Prabu Samaratungga, oleh karena pinangan datangnya dari banyak fihak dan kalau selalu ditolaknya, maka hal ini akan membuat sakit hati para pangeran itu dan menimbulkan permusuhan.

Pada suatu hari, rombongan perahu layar yang besar-besar dan mewah berlabuh dan merapat di pantai Laut Jawa. Rombongan ini ternyata adalah perahu-perahu dari Kerajaan Sriwijaya di seberang, dan setelah para penumpangnya mendarat, ternyata bahwa mereka adalah utusan dari Kerajaan Sriwijaya yang datang melamar Puteri Pramodawardani.

Menerima pinangan ini, Sang Maha Raja Samaratungga menjadi girang sekali, oleh karena pinangan ini dianggap yang paling berharga dan mulia bagi puterinya. Pangeran manakah yang datang melebihi pangeran dari kerajaan yang juga beragama Buddha ini? Setelah menerima para utusan itu diberi tempat yang layak segera Sang Prabu memanggil puterinya menghadap Raja, permaisuri dan puteri mereka itu lalu mengadakan pertemuan di dalam istana.

“Pramodawardani, puteriku yang tercinta, “ kata Sang Prabu Samaratungga dengan suara halus, “Ketahuilah bahwa hari ini datang warta yang amat menggirangkan dan membanggakan hatiku. Sudah sepatutnya pula kau merasa bangga pula karena warta ini sesungguhnya merupakan penghormatan besar bagimu. “

“Hamba ikut merasa gembira mendengar bahwa ramanda prabu menerima warta girang. Berita apakah gerangan yang mendatangkan kebanggaan itu, rama ? “ tanya Pramodawardani sambil memandang kepada ayahnya dengan sepasang matanya yang indah dan bening.

“Baru saja aku menerima utusan dari Kerajaan Sriwijaya yang besar di seberang, dan utusan itu membawa tugas dari Kerajaan Sriwijaya untuk meminangmu, anakku. Kau akan menjadi permaisuri dari kerajaan yang besar dan jaya! Nama Syailendra akan menjadi lebih besar dan terhormat karenanya. Maka, bergiranglah kau, anakku ! “

Akan tetapi, sang puteri yang cantik jelita itu tidak menjadi girang sebagaimana yang diharapkan oleh ayahnya, sebaliknya bermenunglah ia dengan sepasang alis yang hitam kecil dan panjang itu dikerutkan. Setelah agak lama, Sang Prabu Samaratungga menegur puterinya,






“Pramodawardani, mengapa kau nampak tidak bergirang hati? Apakah kau tidak merasa puas menjadi calon permaisuri kerajaan besar itu ? “

“Ramanda prabu, mohon ampun apabila hamba mengecewakan hati ramanda. Akan tetapi, terus terang saja hamba belum ada niat untuk meninggalkan ramanda dan bunda ratu. Hamba tidak ingin pergi dari istana ini, dimana hamba dilahirkan dan dibesarkan. Kasihilah hamba, ramanda, jangan mengirim hamba ke tanah yang asing bagi hamba itu ! “

Merahlah wajah Sang Maha Raja Samaratungga mendengar ucapan puterinya ini.
“Pramodawardani! Alasan-alasan usang yang kau ucapkan itu sudah membosankan hatiku. Penolakan-penolakan atas pinangan banyak pangeran dan bangsawan masih dapat kuterima oleh karena mengingat bahwa para peminang itu derajatnya masih belum melebihi kita. Akan tetapi kau harus tahu bahwa peminang yang terakhir ini adalah pangeran pati Sriwijaya! Kau tak boleh selalu berkepala batu dan membantah orang tuamu. Apakah selamanya kau takkan menikah ? “

“Ampun beribu ampun, ramanda! Sesungguhnya, semenjak remaja puteri hamba telah mempunyai serta telah menanam sebuah prasetia di dalam hati tentang pernikahan hamba yaitu calon suami hamba haruslah seorang pemuda yang selain berbudi mulia, berwatak ksatria, juga harus memiliki kepandaian dan sakti mandraguna."

Tiba-tiba Sang Prabu Samaratungga tertawa bergelak, kemudian berkata,
“Ha, ha, ha, tentu saja anakku! Tentu saja! Akupun tidak suka mempunyai seorang anak mantu yang berbudi rendah, yang lemah dan tidak memiliki kepandaian. Jangan kau khawatir, anakku. Pangeran pati Sriwijaya memenuhi semua syarat. Ia masih muda, gagah perkasa, dan bijaksana pula.“

“Akan tetapi hamba menghendaki bukti, ramanda. Hamba hanya mau menjalani tugas pernikahan kalau calon suami hamba dapat membuktikan semua sifat-sifat yang menjadi syarat itu.“

“Hm, jadi kau menghendaki agar supaya diadakan sayembara untuk memilih calon suami ? “

“Demikianlah yang menjadi prasetia hamba, ramanda prabu. “

Sang Maha Raja Samaratungga mengangguk-angguk lalu menarik napas sambil meraba-raba kumisnya.

“Akan tetapi, didalam sayembara, semua orang boleh memasukinya, Pramodawardani. Bagaimana nanti kalau pemenang sayembara itu seorang keturunan biasa saja. ? “

“Bagi hamba, lebih baik menjadi isteri seorang pemuda keturunan biasa yang memenuhi idaman hati daripada menjadi isteri seorang raja besar yang tidak memenuhi syarat ! “

Setelah tertegun beberapa lama, Sang Prabu menggeleng-gelengkan kepala
“Sungguh berbahaya, anakku. Akan tetapi kalau sudah menjadi prasetiamu, tidak baik kalau dilanggar. Biarlah Yang Maha Agung menetapkan pilihan untukmu. Aku hendak mengadakan tiga macam sayembara. Pertama, peminangmu harus dapat menarik gendewa pusaka Dewandanu. Kedua, ia harus dapat membersihkan hawa siluman yang mengotori puncak Gunung Papak. Dan ketiga, ia harus dapat bertanggung jawab dan menyambut semua serangan dari mereka yang menyerbu karena pinangannya ditolak dan harus membela Syailendra dari serangan musuh! Sudah puaskah hatimu, Pramodawardani ? “

Berserilah wajah puteri jelita itu. Kalau seorang ksatria muda dapat melakukan tiga buah hal yang disebutkan oleh ayahnya itu, maka terlaksanalah cita-citanya yaitu menjadi isteri seorang yang gagah perkasa dan sakti! Ia hanya mengangguk lalu menundukkan kepalanya, akan tetapi kemudian terdengar kata-katanya perlahan.

“Sudah cukup, ramanda, hanya saja, siapapun juga yang memenangkan sayembara, harus pula melakukan sebuah syarat yang hamba tentukan sendiri kelak ! “

Ayahnya tersenyum. Ia maklum bahwa puterinya mempunyaai watak yang keras dan tinggi hati, dan tentu saja sebagai seorang puteri mahkota, Pramodawardani ingin “menghargai “ diri sendiri setinggi mungkin. Akan tetapi, bagi seorang yang telah dapat menyelesaikan tiga macam tugas berat diatas, syarat apalagi yang tak dapat dilakukan?

“Baiklah, anakku. Sekarang juga akan kuumumkan sayembara ini, sekalian dijadikan jawaban untuk pinangan Pangeran Kerajaan Sriwijaya ! “

Setelah itu, Sang Maha Raja Samaratungga lalu bersiniwaka mengumpulkan semua pembesar dan hulubalang dan memerintahkan agar mengumumkan sayembara segera disebar luas. Juga para utusan dari Sriwijaya mendapat jawaban yang sama, yaitu pinangan dari pangeran pati Sriwijaya hanya dapat diterima apabila ketiga syarat sayembara itu terpenuhi.

Utusan dari Sriwijaya itu dikepalai oleh dua orang senopati Sriwijaya yang bernama Kalinggajaya dan Kalinggapati, dua orang kakak beradik yang gagah perkasa. Sebagai utusan yan berbakti, mereka berdua sanggup untuk mengerjakan dan memenuhi syarat sayembara itu atas nama pangeran pati.

Selain utusan dari Sriwijaya ini, banyak pula pangeran dan ksatria yang memasuki sayembara. Hari yang baik untuk pembukaan sayembara itu dipilih dan kemudian diumumkan. Di alun-alun telah dibangun sebuah panggung untuk Sang Prabu, Permaisuri dan Puteri Mahkota.

Pada pagi hari dibukanya sayembara itu, rakyat berduyun-duyun datang ke alun-alun, mengelilingi pagar prajurit yang menjaga alun-alun itu. Di tengah alun-alun duduk bersila belasan laki-laki gagah perkasa belaka. Kepada mereka itulah semua mata penonton ditujukan dan mereka menjadi pusat perhatian dan kekaguman. Di depan para calon itu terdapat sebuah meja tinggi dimana gendewa pusaka keraton, pusaka Dewandanu, diletakkan, terbungkus sutera kuning.

Gamelan keraton sengaja dikeluarkan dan ditabuh meramaikan suasana. Baru saja Sang Maha Raja Samaratungga beserta permaisuri dan Sang Dyah Ayu Pramodawardani telah keluar dari kedaton dan naik ke atas panggung itu, diiringi oleh para nayaka dan hulubalang.

Kini perhatian orang ditujukan kepada Sang Puteri yang cantik jelita itu, yang berjalan menaiki tangga panggung dengan gerakan tubuh yang lemah gemulai, kemudian duduk disebelah kanan ayahandanya dengan sikap agung, bagaikan seorang bidadari surgaloka.

Para pengawal dengan tombak atau pedang di tangan berdiri berbaris di depan dan bawah panggung, menjaga keselamatan keluarga besar itu, sedangkan para pelayan yang juga cantik-cantik itu segera menggerakkan kipas bulu merak dan menyediakan segala keperluan keluarga agung itu, seperti minuman, buah-buahan dan lain-lain.

Gendewa pusaka Dewandanu bukanlah sebuah gendewa biasa, karena gendewa itu adalah milik seorang pemberontak pada zaman pemerintahan raja wanita di Kerajaan Keling, yaitu Ratu Sima.

Pemberontak itu tinggi besar seperti raksasa bernama Kala Dibya, sakti dan memiliki tenaga yang mengerikan. Akan tetapi pemberontak ini akhirnya binasa di tangan seorang senapati Ratu Sima dan gendewa dari Kala Dibya yang telah menewaskan banyak sekali senapati dan prajurit dari Kerajaan Keling itu, masih tesimpan sebagai senjata yang dahsyat dan ampuh, yang bernama pusaka Dewandanu. Akhirnya senjata ini terjatuh ke dalam tangan Sang Maha Raja Samaratungga dan dianggap sebagai pusaka keraton.

Sang Prabu Samaratungga memberi tanda dengan mengangkat tangan kanannya, maka dimulailah sayembara itu. Seorang perwira kerajaan dengan penuh khidmat maju memberi hormat kepada pusaka itu, lalu membuka bungkusannya. Nampaklah sebuah gendewa yang sebesar lengan dan panjangnya hampir dua depa, terbuat dari pada kayu yang kehitam-hitaman dan mengkilap. Tali gendewanya berwarna putih dan kuat sekali karena tali ini terbuat daripada otot badak.

Pada saat seorang calon hendak maju menempuh ujian pertama ini, tiba-tiba para penonton di sebelah selatan terdengar ribut-ribut dan bergerak perlahan, memberi jalan kepada kedua pemuda yang tampan dan gagah.

Tadinya orang-orang ini hendak marah melihat pemuda yang mendesak ke depan akan tetapi setelah melihat betapa pemuda itu amat tampan dan berpakaian mewah seperti seorang raja, juga wajah pemuda itu bercahaya dan penuh keagungan, maka mereka lalu mengundurkan diri dengan sikap menghormat sekali.

Seruan terdengar dari banyak mulut sebagai tanda kagum akan kegagahan dan ketampanan pemuda ini, terutama sekali ketika mereka melihat bahwa pemuda bangsawan ini mempunyai belasan orang pengiring yang terdiri dari orang-orang bangsawan belaka.

Dengan tindakan kaki yang tenang dan tegap, pemuda ini menuju ke tengah alun-alun, kemudian duduk di deretan belakang, bersila dengan gagahnya, sama sekali tidak menyembah kepada Sang Prabu Samaratungga, permaisuri dan puterinya yang berada di atas panggung.

Pramodawardani memandang dan sepasang matanya bercahaya penuh kekaguman. Di dalam hatinya ia bertanya siapakah adanya pemuda yang tampan dan gagah itu, yang tejanya bersinar gemilang. Juga Sang Prabu Samaratungga memandang dengan penuh perhatian, karena raja ini dapat menduga bahwa pemuda itu tentu bukan orang sembarangan. Akan tetapi ia merasa penasaran melihat betapa pemuda itu sama sekali tidak mau memberi hormat dan menyembah ke arah penggung sebagaimaan mestinya.

Seorang penjaga yang melihat sikap pemuda itu, segera melangkah maju hendak menegur, akan tetapi ketika telah berdiri di depan pemuda itu dan bertemu pandang ia terkejut dan melangkah mundur. Bukan main hebatnya pengaruh pandang mata pemuda itu, mengandung perbawa yang luar biasa.

“Kau siapakah, Raden? Agaknya kau tidak tahu bahwa yang berada di atas panggung itu adalah Sang Prabu sendiri bersama permaisuri. Kau harus memberi hormat terlebih dahulu.“

Banjir Darah di Borobudur







No comments: