Ads

Saturday, October 21, 2017

Banjir Darah di Borobudur Jilid 30

“Diajeng…… aku …… aku datang sebagai utusan Sang Prabu Pikatan dari Mataram ! “

Wajah Candra Dewi berseri.
“Apakah buruknya hal itu? Tentu yang kau maksudkan dengan Sang Prabu Pikatan itu adalah Raden Pancapana, bukan? Ah, kau tentu akan menjadi patihnya! Bagaimanakah keadaan Sang Prabu?“

Melihat kegembiraan Candra Dewi mengenangkan Raden Pancapana yang hampir seperti kakak kandungnya sendiri itu, Indrayana menarik napas panjang.

“Ah, kau tidak tahu, Dewi……“ keluhnya di dalam hati, “ kau tidak tahu…… Jeng Dewi, memang kakangmas Pancapana yang mengutusku kesini, untuk menyerahkan sepucuk surat kepada paman panembahan.“

“Rama panembahan berada di dalam pondoknya, akan tetapi, kau masih belum menceritakan apa yang menjadikan kau bersikap seperti itu. Kau nampak berduka sekali, ada apakah? Apakah ada hubungannya penyerahan surat ini dengan kedukaanmu?“

“Dengarlah baik-baik, jeng Dewi, surat ini…… maksudnya tidak lain bahwa Sang Prabu Pikatan dari Mataram meminang engkau untuk menjadi permaisuri Kerajaan Mataram!“

Lenyaplah semua warna muka merah dari Candra Dewi, sepasang matanya terbentang lebar-lebar memandang kepada Indrayana.

“Tak mungkin Raden Pancapana mempunyai niat seperti itu! Dia seperti kakakku sendiri…… ! Ah, tak mungkin!“

Indrayana menunduk.
“Bagaimanapun juga, memang demikianlah halnya. Sang Prabu harus menikah dan mencari seorang permaisuri, dan…… menurut pandangannya…… hanya engkaulah orangnya yang patut menjadi permaisurinya, menjadi wanita termulia di Mataram!”

“Tidak…… tidak…… aku tidak mau! Ah, kakangmas Indrayana……, bagaimanakah engkau ini……? dan kau…… justeru engkau yang melakukan tugas meminang ini……? Apakah kita sudah gila?“

Melihat betapa kekasihnya berdiri dengan bingung dan wajah pucat, hampir saja Indrayana tidak kuat menahan gelora hatinya, hendak menghiburnya ingin sekali ia memeluk gadis itu, membisikkan kata-kata hiburan, menyenangkan hatinya, mengatakan bahwa semua itu hanya kelakar belaka, bahwa tidak ada seorangpun di dunia ini, dewatapun tidak, yang sanggup untuk memisahkan mereka, memutuskan kasih sayang mereka. Akan tetapi, ia harus menarik napas berkali-kali dan menunduk saja.

“Kakangmas Indrayana! Jawablah! Mengapa engkau membiarkan saja hal ini terjadi? Mengapa engkau tidak menentangnya, tidak mengajaknya bertanding, tidak mengubur ujung karismu di dadanya? Mengapa?“

Indrayana mengangkat muka dan memandang tajam.
“Tidak, jeng dewi, Sang Prabu Pikatan adalah seorang raja besar di Mataram. Di dalam tangannyalah terletak keselamatan, kejayaan dan kemuliaan Mataram. Sesunggunya daripada…… daripada …… mengikuti aku yang bodoh dan hina. Dan dalam pandanganku, tidak ada wanita yang lebih patut menjadi sesembahan rakyat Mataram selain engkau!“






Ucapan ini merupakan keris yang menusuk jantung Candra Dewi. Ia memeramkan kedua matanya, keningnya berkerut dan giginya menggigit bibir. Tak sebutirpun air mata mengalir turun dari matanya, akan tetapi tubuhnya seakan-akan telah ditinggalkan sukmanya sehingga tiada daya sama sekali. Akhirnya ia terhuyung-huyung dan tentu ia sudah roboh kalau tidak Indrayana cepat melompat dan memeluknya.

“Aduh, jeng Dewi….. jeng Dewi, kuatkanlah hatimu……" kata Indrayana dengan terharu sekali.

Untuk beberapa lama Candra Dewi tak bergerak dalam pelukan Indrayana, kemudian ia menangis tersedu-sedu.

“Kangmas Indrayana…… mengapa terjadi hal begini……? Mengapa……? aku lebih baik mati daripada harus mengalami derita sebesar ini…… sampai hati Raden Pancapana berbuat seperti ini dan bagaimana pula engkau orangnya yang menjadi utusannya untuk melamarku……“

“Tenanglah, jeng Dewi dan pikirkan baik-baik. Raden Pancapana yang dulu tidak ada lagi, yang ada adalah Sang Prabu Pikatan yang mulia dan berkuasa atas kawula Mataram. Kita tak dapat membantah kehendaknya dan anggaplah saja bahwa kita tidak berjodoh, diajeng. Akan tetapi percayalah bahwa selama hidupku aku takkan manikah dengan wanita lain dan bahwa cinta kasihku terhadapmu akan sama kekalnya dengan sukmaku!“

Tiba-tiba Candra Dewi merenggutkan tubuhnya dari pelukan Indrayana dan kedua matanya bersinar-sinar bagaikan mengeluarkan api.

“Kangmas Indrayana! Kau sungguh mengecewakan hatiku! Kau, seorang yang tadinya kukira segagah-gagahnya orang, kusangka seorang ksatriya yang semulia-mulianya, ternyata hanya seorang pemuda yang lemah! Kau bukan seorang kawula Mataram, kau seorang kawula Syailendra, mengapa kau harus tunduk kepada Raja Maratam? Sudah terang bahwa Raden Pancapana telah berlaku khianat terhadap kawan dan adik angkatnya sendiri, mengapa kau diam dan mengalah saja? Aku akan seribu kali lebih senang melihat kau tewas dalam usahamu menentang kehendak Sang Prabu Pikatan yang kurang patut ini untuk membelaku, dari pada melihat kau berlemah hati dan mengalah serta mengorbankan aku! Kalau kau tidak berani, biarlah aku sendiri yang akan menentangnya ! Awas kau, Pancapana, jangan kau kira bahwa aku Candra Dewi selemah Indrayana! Awas dan tunggulah datangnya pembalasanku!“

Setelah berkata demikian Candra Dewi melompat dan lari pergi dari situ. Indrayana hendak mengejar, akan tetapi ia menghela napas dan merasa bahwa untuk saat ini lebih baik menjauhkan diri dari gadis itu. Ia lalu pergi menuju ke pondok tempat tinggal Panembahan Bayumurti.

“Selamat datang, Raden Indrayana!“ tegur sang panembahan dengan gembira. “Duduklah!“

Indrayana berusaha untuk menekan penderitaan hatinya, duduk memberi hormat, bersila dengan spontannya lalu berkata.

“Maafkan saya, paman panembahan, kalau kedatangan saya ini mengganggu.“

“Ah, tidak sama sekali Raden. Apakah selama ini kau sehat-sehat saja?“

“Terima kasih paman panembahan, saya sehat dan selamat, karena doa restu paman. Tak lain saya menghaturkan sembah bakti kepada paman panembahan, juga saya membawa sembah bakti dari Sang Prabu Pikatan untuk disampaikan kepada paman panembahan. “

Panembahan Bayumurti tertawa girang.
“Ya, ya, aku sudah mendengar tentang kemajuan Mataram dalam bimbingan Raden Pancapana. Sukurlah, saat ini telah lama kunanti-nanti. Adakah kau datang berkunjung untuk menengok saja ataukah ada keperluan khusus yang lain, Raden?“

“Pertama-tama saya datang untuk menengok keadaan paman panembahan yang telah lama berpisah dan kedua kalinya, sebenarnya saya datang membawa perintah dari Sang Prabu Pikatan untuk menghaturkan sebuah suratnya kepada paman panembahan. Inilah surat itu, paman.“

Sambil berkata demikian, Indrayana lalu mengeluarkan surat dari Sang Prabu Pikatan itu dan menyerahkan kepada Sang Panembahan Bayumurti.

Pertapa, itu mengeluarkan tangan menerima surat itu lalu membuka kemudian membacanya. Indrayana hanya duduk bersila sambil menundukkan mukanya, maka ia tidak melihat betapa panembahan itu memandangnya dengan tajam sehabis membaca surat, kemudian ia mendengar pendeta itu menarik napas panjang berkali-kali.

“Jagad Dewa Batara…… kehendak Dewata pasti terjadi! Apakah yang dapat dilakukan seorang manusia yang menjalankan dharma hidup di mayapada tanpa dikehendakinya? Raden Indrayana, anakku, kau tentu sudah maklum akan isi surat ini, bukan?"

Indrayana mengangguk diam.
“Kau sudah maklum bahwa Sang Prabu Pikatan meminang adikmu Candra untuk diangkat menjadi permaisuri di Kerajaan Mataram?“

Kembali Indrayana mengangguk diam. Terdengar lagi pertapa itu menghela napas,

“Aku tak akan menyalahkan Sang Prabu Pikatan. Ia hanya hendak menjaga nama dan sekalian juga memuliakan nama Candra Dewi dan aku sebagai ayahnya. Akan tetapi ia lupa akan kata-kataku dahulu, lupa akan tugasnya mempersatukan Kerajaan Mataram Dan Syailendra, lupa akan tugasnya mempererat ikatan batin antara Agama Hindu dan Buddha.“ Kembali ia menarik napas, “Memang, segala kemuliaan dan kebaikan selalu harus ditebus oleh pengorbanan dari manusia-manusia mulia! Raden Indrayana, aku orang tua yang dapat mengibur kepadamu yang kutahu sedang menderita tekanan batin!“

Indrayana terkejut dan mengangkat muka memandang dengan heran akan tetapi segera menundukkan kepalanya lagi ketika melihat betapa sinar mata pendeta itu betul-betul menyatakan bahwa pertalian cinta kasih antara dia dan Candra Dewi bukan merupakan rahasia lagi bagi orang tua itu.

“Hanya sedikit peringatanku kepadamu Raden, yang patut kau jadikan obor untuk menerangi kegelapan pikiranmu. Manusia hanya menjadi pelaku yang dapat berlaku menurut kehendak sendiri. Tak seorangpun manusia terlahir dan mati atas kehendak sendiri, namun sekali kelahiran dan kematian menyeretnya, iapun takkan dapat menolak atau membantah! Liku-liku hidup telah terbentang di depan kita, dan kita harus berjalan diatas lorong yang lebar, apakah kita suka atau tidak! Oleh karena itu, senjata yang paling ampuh hanyalah kesabaran dan ketenangan. Tenang dan sabarlah dalam menghadapi apapun juga yang terjadi dan menimpa padamu, karena tanpa dua senjata ini, kau akan mudah tergelincir dan tersesat. Sekian, Raden, sedikit nasehat untuk bekal kau pulang ke Syailendra!“

Kembali Indrayana terkejut karena tak disangkanya bahwa pendeta ini demikian waspada sehingga tahu pula bahwa ia mengambil keputusan hendak pulang ke Syailendra. Ia menyembah dengan hormat lalu berkata.

“Terima kasih banyak, paman Panembahan. Mudah-mudahan saja saya yang bodoh ini dapat selalu mengingat akan nasehat dan petuah paman yang amat mulia. Karena tugas saya hanya menyampikan surat, maka setelah tugas ini selasai, perkenankanlah saya meneruskan perjalanan saya ke Syailendra. “

“Baiklah,“ pendeta itu menghela napas, “semoga para dewata melindungi perjalananmu.“

Dengan hati kosong dan semangat lemah, Indrayana meninggalkan bukit itu dan berjalan cepat sekali menuju ke syailendra. Di dalam hatinya, ia hanya dapat berdoa semoga Candra Dewi akan hidup bahagia dengan Sang Prabu Pikatan dan ia mengobati jantungnya yang terluka dan berdarah itu dengan pikiran bahwa ia akan bertapa dan menjadi pendeta seperti ayahnya.

Ayahnya merasa terharu melihat keadaan puteranya yang kurus dan pucat. Ketika mendengar bahwa Sang Prabu Pikatan meminang Candra Dewi, diam-diam Wiku Dutaprayoga maklum pula akan luka di hati puteranya, maka ia tidak banyak bertanya.

Kedua ayah dan anak ini lalu tinggal di atas bukit sebelah barat Sungai Praga dimana mereka hidup sebagai petani sambil bertapa dan kadang-kadang membuat senjata keris yang dipesan oleh para perwira Kerajaan Syailendra. Walaupun kini tidak menjadi ahli Dutaprayoga masih tetap setia dan selalu mengerjakan perintah Sang Prabu Samaratungga apabila Raja ini membutuhkan senjata yang baik.

**** 30 ****
Banjir Darah di Borobudur







No comments: