Ads

Saturday, October 21, 2017

Banjir Darah di Borobudur Jilid 29

“Candra Dewi, anakku yang ayu, anakku yang manis. Mengapa dalam beberapa hari ini kulihat engkau selalu bermuram durja ? " demikian pertanyaan yang keluar dari mulut Sang Panembahan Bayumurti kepada puteri tunggalnya yang duduk menundukkan mukanya.

Dara itu hanya memandang sekejap kepada ayahnya tannpa berani menentang pandang mata ayahnya yang tajam menembus itu, lalu menunduk kembali.

“Tidak apa-apa, rama. Aku hanya merasa agak kesal dan sunyi. Rama, mengapa engkau tidak mau pindah ke kota? Alangkah akan senangnya kalau kita tinggal di ibu kota Mataram.“

Ayahnya tersenyum.
“Baru sekarang aku mendengar bahwa engkau merasa kesunyian di puncak bukit yang indah dan yang selamanya engkau suka ini. Mengapa, nak? Adakah sesuatu yang membimbangkan hatimu? Katakanlah terus terang kepada ayahmu!“

Akan tetapi, gadis itu hanya menunduk dan menggelengkan kepala, dan tiba-tiba mukanya menjadi kemerahan seakan-akan jawaban yang terkandung dalam hatinya membuatnya merasa malu dan jawaban itu hanya terdengar yang manis itu tidak kuasa mengucapkannya.

“Candra Dewi, tak perlu kiranya kau menyembunyikan perasaan hatimu terhadap ayahmu sendiri. Aku tahu bahwa engkau telah cukup dewasa, sudah tiba saatnya untuk meladeni pria, menjadi isteri dan ibu yang bijaksana.“ Panembahan Bayumurti mengelus-elus jengotnya, lalu tersenyum-senyum dan mengangguk-anggukkan kepalanya. “Candra, anakku, kurasa aku tidak mendahuli kehendak Dewata dan juga tidak menduga keliru kalau kukatakan bahwa hatimu telah tertambat kepada jaka bagus Indrayana, bukan?“

“Ah, rama Panembahan……“ sambil menahan-nahan senyum gadis itu menunduk makin rendah dan jari-jari tangannya meremas-remas ujung kembennya.

“Candra, tak usah engkau ragu-ragu dan khawatir anakku yang manis. Aku sebagai ayahmu dan juga kakang Wiku Dutaprayoga sebagai ayah Indrayana, sudah cukup awas dan maklum akan keadaan hatimu dan hati pemuda itu. Oleh karena itu, diam-diam ketika kami berdua mengunjungi Sang Panembahan Ekalaya dahulu itu, kami telah berjanji untuk mengikat tali perjodohan antara engkau dan Indrayana ! “

“Ah, rama……“

“Ha-ha-ha, tidak senangkah hatimu, Candra?“ panembahan itu tertawa dengan hati penuh kebahagiaan. “Betapapun juga, perjanjian kami belum resmi, anakku. Belum diadakan upacara untuk itu, hanya sebagai pembicaraan sambil lalu saja. Sebelum mengambil keputusan, aku dan kakang Wiku akan bertanya kepada orang-orang yang bersangkutan lebih dulu. Maka sekarang, jawablah, anakku. Maukah engkau menjadi sisihan Raden Indrayana ?“

“Rama…… !“ Candra Dewi tak dapat menahan rasa girangnya dan juga tak dapat menyembunyikan senyum bahagianya, akan tetapi ia merasa amat malu. Ia bangkit berdiri dan sambil berkata, “Masabodoh rama panembahan sajalah !“

Ia lalu berlari-lari ke belakang, keluar dari pintu belakang dan terus berlari ke dalam hutan di belakang rumahnya !

Candra Dewi berlari ke sebuah tempat dimana banyak tumbuh pohon waringin yang besar-besar. Pohon itu tumbuh sedemikian rapatnya sehingga daun-daunnya merupakan atap dan tempat di bawah pohon-pohon itu tidak sampai basah kuyup apabila hujan turun dan juga tidak terlalu panas apabila Sang Surya memanggang jagat.






Di sebelah kiri tempat teduh ini terdapat sebuah pondok kecil yang dipergunakan oleh Panembahan Bayumurti sebagai sanggar pemujaan, tempat bermuja samadhi dan sebelah kanan dijadikan sebuah taman bunga oleh Candra Dewi. Tempat ini selain indah, harum, juga bersih sekali karena setiap hari disapu dan dibikin bersih oleh gadis itu, dijadikan tempat bermain, tempat membuat patung dan juga melepas lelah setelah bekerja dan melayani keperluan ayahnya sehari-hari.

Candra Dewi masuk ketempat itu dan mengambil sebuah patung tanah yang dibuatnya dan disembunyikan di balik semak-semak. Ia mengangkat patung itu ketengah taman, kemudian duduk bersimpuh di depan patung yang tak berapa besar itu. Dipandangnya patung itu sampai beberapa lamanya dengan mata mesra dan mulut tersenyum kemudian diraihnya patung itu dan diusapinya pipi patung beberapa kali.

“Mengapa malah setahun lebih kau tidak datang mengunjungiku? Mengapa kau tidak mengirim berita, tidak memberi kabar sedikitpun juga? Apakah kau sudah lupa kepadaku, lupa kepada Dewimu? Apakah hatimu terpikat oleh sinar mata seorang puteri di Mataram ? “

Candra Dewi sama sekali tidak tahu bahwa semua perbuatannya itu diawasi oleh sepasang mata yang semenjak tadi mengintainya, tidak menyangka bahwa semua ucapannya setengah berbisik itu didengarkan orang. Dan orang ini bukan lain adalah Indrayana sendiri!

Sebagaimana telah dituturkan dibagian depan pemuda ini dengan hati hancur meninggalkan Kerajaan mataram, menjadi utusan Sang Prabu Pikatan dan membawa surat lamaran raja itu untuk Candra Dewi kekasihnya.

Telah semenjak tadi ia tiba di lerang bukit tempat tinggal kekasihnya, akan tetapi berat rasa hatinya untuk naik ke puncak dan menyerahkan surat lamaran yang merupakan surat pembawa sengsara baginya itu. Ia bahkan lalu naik dari belakang pondok Panembahan Bayumurti dan tiba di belakang rumah dimana terdapat taman bunga Candra Dewi.

Berkali-kali ia hendak melanjutkan perjalanannya menjumpai Sang Panembahan, akan tetapi kedua kakinya mengigil dan terpaksa berkali-kali ia menunda pula niatnya dan duduk di bawah sebatang pohon waringin yang besar. Kemudian ia melihat Candra Dewi berlari-lari memasuki taman di bawah pohon waringin itu !

Berdebar-debar jantung Indrayana ketika melihat gadis itu dan ia cepat menyembunyikan diri di belakang pohon. Naik sedu-sedan dari dadanya yang membuat kerongkongannya tertutup dan sesak bernapas ketika ia menyaksikan betapa kekasihnya itu nampak makin ayu dan denok. Dengan mata berlinang ia memandang Candra Dewi mengagumi kecantikan dara itu, bekas kekasihnya yang tak lama lagi akan menjadi permaisuri raja di Mataram !

“Dewi……, kekasihku……“ ratapnya di dalam hati, akan tetapi ia tidak keluar dari tempat sembunyinya dan hanya mengintai dengan dada berdebar.

Ia melihat betapa dara itu lari ke rumput alang-alang dan mengeluarkan duduk menghadapi patung sambil bicara seorang diri.

Alangkah terkejut dan panas hati Indrayana ketika mendengar kata-kata yang diucapkan oleh gadis itu kepada patung tadi. Ia memandang dengan penuh perhatian dan telinga terasa panas. Telinganya terngiang-ngiang dan pelupuk matanya menggigil.

Tiba-tiba saja ia merasa amat cemburu terhadap patung itu. Memang sungguh mengherankan keadaan pemuda ini. Kalau tadinya ia hanya dapat bersedih mengingat betapa kekasihnya akan diperistri oleh Sang Prabu Pikatan atau Raden Pancapana bekas sahabatnya, kini tiba-tiba ia merasa cemburu dan marah melihat kekasihnya bercumbu rayu terhadap sebuah patung!

Sesungguhnya, kalau saja hendak merampas gadis itu dari tangannya bukan Sang Raja Pikatan, tentu ia akan malabrak perampas itu dan mengajaknya bertanding mati-matian! Ia memandang lagi dengan hati panas dan melihat betapa Candra Dewi mendekap patung itu sambil berkata,

“Ah, kusuma hatiku, tidak tahukah kau betapa kau telah membuat hatiku sunyi dan tak berarti semenjak kau meninggalkanku? Tidak tahukah kau betapa besar rindu dendamku kepadamu? Sudah musnahkah rasa cinta kasihmu terhadap Candra Dewi?“

Indrayana tak dapat menahan sabar lagi. Ingin ia merampas patung itu dan membantingnya sampai hancur berkeping-keping! Ia melompat dari tempat persembunyiannya dan berdiri di depan Candra Dewi dengan kedua kaki terpentang lebar dan kedua tangan bertolak pingang !

Candra Dewi terkejut dan mengangkat muka memandang. Sepasang matanya yang seperti bintang pati itu membelalak lebar, mulutnya yang berbibir indah segar itu ternganga, seakan-akan tidak percaya akan apa yang dilihatnya. Tak terasa lagi, patung yang dipegangnya terlepas dan patung itu rebah terletang sedangkan gadis itu sendiri perlahan-lahan berdiri sambil berbisik berkali-kali.

“kau……? Kau……? Kangmas……??“

Akan tetapi Indrayana tidak memandang kepadanya. Pemuda itu sedang tunduk, memandang kepada patung tadi dengan mata terbelalak. Seperti belum mau percaya kepada matanya sendiri, ia menggerakkan kedua tangannya mengambil patung itu memandang wajah patung itu dengan penuh perhatian. Ternyata patung itu adalah patung Indrayana sendiri!

Pemuda itu tiba-tiba membanting patung itu sampai hancur lalu mendekapkan kedua tangannya di depan mukanya. Sepuluh jari tangannya menggigil, kedua kakinya yang berdiri juga ikut mengigil sedangkan dari celah-celah jari tangannya keluarlah butir-butir air mata!

“Dewi…… Dewi……“ terdengar keluhnya tercampur isak tertahan.

Ia merasa seakan-akan dadanya ditusuk oleh ribuan ujung keris berbisa. Melihat kekasihnya demikian setia, tetap mencintainya sepenuh jiwa, kemudian mengingat betapa ia tadi telah menyangka yang bukan-bukan! Menyangka gadis sesuci ini berlaku serong mencinta orang lain! Mengingat betapa kekasihnya yang demikian setia dan memang mencintainya, akan dipersunting oleh Sang Prabu Pikatan! Ah, hancurlah hati Indrayana.

Sebaliknya, ketika Candra Dewi menyaksikan keadaan pemuda itu ia amat terheran-heran dan juga gelisah. Terutama sekali ketika ia melihat air mata pemuda itu mengalir keluar dari celah-celah jari tangannya. Serentak gadis itu melompat maju dan memegang kedua lengan indrayana, membetotnya dengan keras sehingga Indrayana melepaskan tangannya dari depan mata.

Pemuda itu memeramkan kedua matanya, hidungnya berkembang kempis menahan dorongan isak yang menaik dari dalam dada, mulutnya terengah menahan hawa perasaan yang bergolak.

“Kakangmas Indrayana…… kau kenapa??“ Candra Dewi bertanya sambil mempererat pegangan tangan pada lengan pemuda itu.

Mendengar suara ini sadarlah Indrayana daripada keadaannya. Ia membuka kedua matanya melalui jari-jarinya ia memandang kepada wajah gadis itu. Melihat betapa sinar mata gadis itu dengan sayu dan mesra menatap wajahnya, Indrayana menggeleng-geleng kepala dengan keras untuk menahan hasrat hatinya yang ingin memeluk dan mendekap kepala kekasihnya itu ke dadanya, Ia bahkan segera menarik kembali kedua tangannya sehingga terlepas dari pegangan Candra Dewi,

“Kakangmas Indrayana…… mengapakah? Apa yang terjadi?“ gadis itu mendesak dan kini iapun menjadi pucat karena menduga bahwa pasti terjadi sesuatu yang amat hebat sehingga pemuda pujaan hatinya itu bersikap sedemikian rupa.

“Tidak….. tidak…… jeng Dewi…… jangan kau menyentuh aku…… jangan.“

Akan tetapi Candra Dewi bahkan menubruk maju dan memeluk pinggang pemuda itu, menjatuhkan mukanya pada dada Indrayana sambil menangis.

“Kangmas Indrayana…… agaknya kau telah membenci aku…… agaknya kau telah lupa kepadaku…… Gusti Yang Maha Agung…… benar-benarkah kau telah terpikat oleh seorang gadis lain di Mataram…… ?“

Dara ini lalu menangis sehingga Indrayana merasa betapa kulit dadanya menjadi basah dan hangat oleh air mata gadis itu.

Lupakan segala hal dan kedua lengannya yang kuat itu segera merangkul dan memeluk kepala kekasihnya, didekapnya kuat-kuat ke dadanya.

“Dewi…… Dewi…… Dewata menjadi saksi bahwa kaulah satu-satunya wanita di mayapada ini yang menjadi pujaan kalbu dan kesuma hatiku…… “

“Kangmas Indrayana…… “ bisik Candra Dewi dan terisaklah gadis ini karena terharu dan girang.

Untuk beberapa lamanya, sepasang teruna remaja ini diam tak bergerak, tenggelam dalam ayunan perasaan masing-masing.

Akan tetapi Indrayana sadar kembali dan segera melepaskan rangkulannya, lalu melangkah mundur sambil menggeleng-geleng kepalanya.

“Kangmas Indrayana…… !“ Candra Dewi mengembangkan kedua lengannya dan memandang heran.

“Jeng Dewi, jangan…... jangan kau mendekati aku! Ketahuilah bahwa aku…… aku tak berhak menyentuhmu, aku tak berhak memandangmu…… bahkan…… bahkan aku seharusnya berlutut menyembahmu sebagai junjungan…… sebagai…… sebagai Maha Puteri Mataram……"

"Eh-eh, kau kenapakah, kakangmas Indrayana? Sungguh berobah sekali sikapmu. Apakah yang telah terjadi? Katakanlah, aku bersedia menerima pukulan yang bagaimana beratpun, katakanlah."

Banjir Darah di Borobudur







No comments: