Ads

Saturday, October 21, 2017

Banjir Darah di Borobudur Jilid 25

"Bodoh!” bentak Indrayana, "Surarudira, dan kalian semua! Bukalah matamu lebar-lebar dan lihat baik-baik. Siapa yang berdiri di hadapanmu ini?" Ia menunjuk dengan ibu jarinya ke arah Pancapana. "Perhatikanlah baik-baik, tidak adakah persamaan antara wajahnya dan wajah mendiang Sang prabu Sanjaya?"

Semua mata memandang kepada Pancapana dan terdengarlah seruan-seruan heran kaget.

"Serupa benar dengan mendiang Sang Prabu Sanjaya!"

"Dia Sang Prabu sendiri ketika masih muda!"

Demikian terdengar seruan-seruan, sedangkan Surarudira sendiripun memandang dengan wajah pucat.

"Ya jagat Dewa Batara...!" serunya. "Raden katakan terus terang, siapakah sebenarnya kau ini?"

Pancapana tersenyum,
"Adindaku Indrayana telah mengatakan tadi. Mendiang Sang Prabu Sanjaya adalah ramandaku."

Untuk sekejap suasana menjadi hening dan semua orang menahan nafas ketika Surarudira bertanya gagap,

"Jadi... jadi paduka... ini....Gusti Pangeran...."

"Aduh, Gusti Pangeran....!"

Surarudira lalu menjatuhkan diri berlutut dan menyembah, diturut oleh semua anak buahnya. Dari kedua mata kepala perampok yang kasar dan gagah itu keluarlah dua titik air mata karena sangat terharunya.

Terharu pula hati Pancapana melihat hal ini. Ternyata ucapan gurunya, Panembahan Bayumurti benar. Masih banyak orang-orang yang tetap setia kepada Mataram, terutama kepada mendiang ayahnya yang berarti juga kepadanya. Bahkan perampok-perampok kasar inipun masih setia. Hal ini menggugah semangatnya dan Pancapana lalu berkata keras.

"Sudahlah, tak perlu segala kelemahan hati ini! Sekarang bukan waktunya untuk bertangis-tangisan! Mataram berada di ambang pintu neraka, di pinggir jurang kehancuran! Siapa lagi kalau bukan kita anak-anak Mataram yang membangunya kembali? Mataram sedang berada dalam bahaya, siapa lagi kalau bukan kita yang harus menolongnya? Siapa diantara kalian yang mau ikut dengan aku, Pangeran Pancapana, Putera Mahkota Mataram?"

Serentak semua mulut orang-orang disitu berseru hampir berbareng.
"Hamba ikut....!"

Pancapana girang sekali melihat hal ini dan ia lalu turun tangan bersama Indrayana memberi pertolongan kepada mereka yang menderita luka memulihkan kembali otot-otot yang keseleo, menyambung kembali tulang-tulang patah dan membebaskan pengaruh keampuhan bekas pukulan mereka.

Setelah menolong mereka semua dan juga memulihkan kesehatan Surarudira, si brengos ini lalu menceritakan keadaan Mataram yang masih terkurung oleh musuh yang kuat, yakni Bupati Yudasena.






"Memang Bupati Yudasena amat tangguh dan sakti Gusti Pangeran Pancapana. akan tetapi hamba belum pernah mencoba tenaganya. Jangan khawatir Gusti, kalau Gusti kehendaki hamba akan sanggup menghadapi Yudasena!” Kata Surarudira yang tabah itu.

"Berapa banyakkah pasukan Yudasena yang mengepung Mataram?"

"Menurut berita yang hamba dengar, sedikitnya ada selaksa orang!"

“Kalau begitu, marilah kita cepat-cepat pergi ke Mataram mengumpulkan tenaga-tenaga bantuan dari Rama Prabu dahulu, kemudian baru kita membantu Paman Prabu Panamkaran!” kata Pancapana.

Semua bekas perampok itu menyatakan setuju.

"Akan tetapi, paman Surarudira, apakah benar-benar engkau dan kawan-kawanmu sudah tetap hendak mengikut dan membantu? Dengan hati setia?"

"Hamba bersumpah, Gusti..."

"Ssst, tak perlu bersumpah. Hanya, harus kau ketahui bahwa aku dan dimas Indrayana adalah orang-orang miskin. Bahkan sekarangpun kami merasa lapar karena semenjak pagi belum makan. Apakah kalian sanggup menderita sengsara dalam mengikuti perjalanan kami ke Mataram?"

Tiba-tiba Surarudira tertawa gelak-gelak.
"Ha, ha, ha, ampun Gusti Pangeran. Mengapa paduka berkata demikian? Jangankan baru haus dan lapar, biarpun harus berkorban nyawa, hamba Surarudira dan kawan hamba yang empat puluh orang jumlahnya ini akan bersedia mengikuti dan membela paduka, sesembahan semua kawula Mataram!'

"Bagus, paman Sura, kau benar-benar seorang panglima sejati. Hayo, kita berangkat!"

"Siap, Gusti!"

Maka berangkatlah Pancapana dan Indrayana diiringi oleh Surarudira dan pasukannya ketika mereka melewati dusun-dusun, Surarudira memperkenalkan Pangeran Pancapana kepada penduduk dusun sehingga ramai orang menyambut Pangeran Pati ini, menyambut dengan penuh penghormatan, penuh harapan bahwa pengeran akan mendatangkan bahagia pada Mataram dan rakyatnya. Hidangan-hidangan dikeluarkan orang tanpa diminta lagi.

Makin dekat dengan Mataram, makin banyaklah pengikut Pancapana. Bahkan para panglima tua yang dahulu mengabdi kepada Sang Prabu Sanjaya lalu datang membawa pasukan-pasukan mereka menggabungkan diri sehingga kini Pangeran Pancapana mempunyai sebuah pasukan besar yang amat kuat, terdiri tidak kurang dari setengah laksa orang. Barisan besar ini masih berkembang lagi ketika dengan cepat bergerak ke ibu kota Mataram yang masih terkepung oleh pasukan-pasukan Yudasena.

Sudah sembilan bulan lebih barisan-barisan Yudasena mengepung Dieng dimana terletak pusat Kerajaan mataram. Mataram telah kehabisan senapati-senapatinya karena semua orang yang maju menghadapi Yudasena terpukul kalah oleh Bupati yang digdaya ini.

Akan tetapi Yudasena masih ragu-ragu untuk menyerang naik ke atas, karena kedudukan benteng Mataram masih amat kuat terjaga oleh sisa-sisa barisan Mataram. Pernah Yudasena mencoba untuk menyerang naik, akan tetapi ia dan berisannya disambut dengan anak-anak panah dan batu-batu yang datang melayang dari atas bagaikan hujan lebat sehingga terpaksa mereka turun kembali, mendirikan pesanggrahan di kaki bukit dan mengepung benteng Mataram.

“Biarkan mereka mati kelaparan, akhirnya tentu menyerah kalah tanpa kita bersusah payah. Ha ha ha!” kata Yudasena kepada para senapatinya.

Seluruh penduduk dan kawula Mataram yang terkepung merasa gelisah. Akan tetapi Sang Prabu Panamkaran sendiri masih saja enak-enak menghibur diri dengan para selirnya, seakan-akan pengurungan itu tidak mengganggunya sedikitpun juga. Padahal, sebetulnya di dalam hatinya, ia merasa amat gelisah dan khawatir. akan tetapi, ia merasa yakin bahwa betapapun juga Yudasena takkan membunuhnya, hanya akan merampas kedudukannya yang sudah tak diperdulikannya lagi itu. Oleh karena itu, dalam saat terakhir dari kejayaaanya, mengapa bersusah hati? Lebih baik bersenang-senang selagi masih bisa.

Sang Prabu Panamkaran belum tua benar, akan tetapi tubuhnya sangat ringkih dan lemah. dalam kekuatan penjagaan kerajaan, ia hanya mengandalkan dua senapati tua yakni Senapati Bandudarma dan Bandupati, dua orang kakak beradik yang semenjak pemerintah Prabu Sanjaya dahulu telah menjadi senapati di Mataram.

Dua orang senapati inilah yang dulu membantu Panamkaran untuk menduduki tahta kerajaan dan mengejar-ngejar Pangeran Pati Pancapana. Bahkan mereka berdua telah menyerahkan puteri-puteri mereka untuk menjadi selir dari raja itu agar mereka bisa mendapatkan kedudukan yang tinggi. Memang benar, keduanya kini telah menjadi panglima tertinggi, juga merangkap patih dalam.

Berkat pengalaman dan kepandaian kedua orang senapati tua inilah, maka sampai sedemikian jauh Mataram masih dapat dipertahankan, oleh Senapati Bandudarma serta adiknya, Bandupati yang juga mempertahankan benteng daripada serbuan Yudasena.

Sungguhpun Prabu Panamkaran sama sekali tidak memusingkan pengepungan yang diadakan oleh Yudasena itu, namun kedua senapatinya ini merasa amat gelisah. Mereka mengandalkan kedudukan dan kemuliaan mereka kepada Sang Prabu Panamkaran saja. Kalau Mataram dikuasai oleh lain raja, tak mungkin mereka berdua akan dapat mempertahankan kedudukan dan kemuliaannya. Maka mereka berlaku nekad dan hendak membela Mataram dengan mati-matian.

Bukan Mataram, bukan rakyatnya ataupun kedudukan rajanya yang penting, akan tetapi kedudukan dan pangkat serta kemuliaan mereka sendirilah yang mereka pertahankan mati-matian! Banyak diantara para prajurit Mataram yang telah melarikan diri, dan hanya berkat penghamburan uang dan hadiah belaka yang membuat sebagian besar masih bertahan dan menjaga benteng itu.

Hampir setiap hari terdengar suara seruan-seruan dan tantangan=tantangan dari Yudasena, tantangan-tantangan yang disertai makian-makian pedas. Akan tetapi pihak Mataram yang mengakui kelemahan sendiri dan hanya mengandalkan kedudukan benteng yang amat kuat, tidak mau dan tidak berani melayani tantangan-tantangan itu. Setelah Senapati Bandudarma roboh dan digotong dalam keadaan luka-luka, kalah oleh Yudasena yang digdaya, siapa lagikah yang berani menghadapi bupati itu?

Pada suatu malam gelap gulita, seorang muda yang bertubuh tegap dan berwajah tampan bergerak bagaikan seekor ular, menyelinap diantara pohon-pohon dan tetumbuhan, berhasil melampaui penjagaan para barisan pengepung dan kemudian bagaikan seekor kijang ia berlari cepat sekali mendaki bukit.

Beberapa orang penjaga di benteng Mataram ketika melihat berkelabatnya bayangan hitam, lalu menyerang dengan anak panah, akan tetapi dengan mudah saja pemuda itu menerkam anak panah tadi dengan tangannya sambil berseru

"Perajurit-perajurit Mataram, jangan salah sangka! Aku bukanlah musuh dan kedatanganku membawa berita baik! Bawalah aku menghadap Sang Prabu!"

Pemuda ini bukan lain adalah Indrayana sendiri. Sebagaimana diketahui, Pancapana berhasil mengumpulkan perajurit-perajurit yang dibantu oleh panglima-panglima tua dan akhirnya pangeran ini sampai di perbatasan Mataram. Ia sengaja berhenti di tempat yang agak jauh dari pesanggrahan Yudasena dan bala tentaranya, karena sebelum menyerang dan membebaskan Mataram dari kepungan mereka, para panglima tua hendak menyampaikan syarat dan tuntutan kepada Sang Prabu Panamkaran lebih dahulu.

Maka ditulislah surat oleh para panglima itu, ditandatangani oleh sebelas orang panglima-panglima tua dari Mataram. Kemudian, mereka menemui kesukaran dalam memilih siapa orangnya yang dapat mengantarkan surat itu kepada Sang Prabu Panamkaran.

Bukit dimana kerajaan itu terletak telah dikurung oleh barisan musuh, maka bukanlah sebuah pekerjaan yang mudah untuk menerobos penjagaan rumah itu dan naik ke bukit. tak seorangpun diantara mereka, sungguhpun banyak yang mengajukan diri, dapat dipercaya akan berhasil melakukan tugas berat ini.

Bahkan Surarudira sendiri yang memaksa untuk membawa surat itu, tidak di perkenankan oleh Pacapana. Akhirnya Indrayana maju dan tentu saja Pancapana setuju sekali, karena ia yakin bahwa adik seperguruannya ini pasti akan sanggup melakukan pekerjaan itu.

Demikian, dengan gerakan-gerakannya yang amat gesit, Indrayana bergerak di malam gelap itu akhirnya dapat juga mencapai puncak bukit dan berada di luar benteng.

Para penjaga setelah melihat dengan jelas bahwa pendatang itu hanya seorang pemuda yang tiada berkawan, lalu membuka pintu benteng dan memperkenankan Indrayana masuk ke dalam benteng. Begitu ia melangkah masuk, setengah losin prajurit penjaga meyergapnya! Empat menangkap kaki tangannya, seorang memeluk pinggangnya dan seorang lagi memiting lehernya!

“Menyerahlah sebagai tawanan sebelum putus lehermu ! “ seorang diantara mereka mengancam.

Bukan main mendongkolnya hati Indrayana menghadapi penyambutan yang tak disangka-sangkanya ini. Ia mengerahkan tenaganya dan sekali ia menggoyang tubuh dengan gerakan melempar, enam orang penyergapnya itu terpelanting ke kanan kiri lalu jatuh bergulingan.

“Kurang ajar!“ bentak Indrayana. “Aku datang membawa berita pertolongan, akan tetapi kalian menyambut dengan serangan! Butakah mata kalian menyambut dengan serangan! Butakah mata kalian memaksakan dan menganggap aku sebagai musuh, hayo majulah! Jangan maju seorang dua orang, kerahkan seluruh barisanmu. Aku, Raden Indrayana takkan mundur selangkahpun !“

Pada penjaga terkejut menyaksikan kehebatan sepak terjang pemuda tampan ini, apalagi ketika mendengar ucapannya yang gagah, mereka menjadi gentar. Seorang kepala pasukan yang telah agak tua usianya lalu bertanya.

“Anak muda, kau datang pada malam gelap, tentu saja mencurigakan hati kami. Sesungguhnya, engkau diutus oleh siapakah dan ada keperluan apa?“

“Nah, sedikitnya kalian harus bertanya dahulu sebelum turun tangan secara sembrono dan serampangan !“ Indrayana menegur dengan gemas.

“Maafkan kami, anak muda,“ kata penjaga kepala itu. “Musuh telah terlalu mendesak, sehingga anak buahku merasa kurang sabar dan gelisah. Sekali lagi, siapakah yang mengutusmu naik kesini ?“

“Buka telinga kalian baik-baik ! Aku adalah Raden Indrayana, utusan dari Pangeran Pancapana!“

Semua prajurit yang mendengar nama ini menjadi pucat dan memandang dengan mata terbelalak.

“tak mungkin…… Gusti Pangeran sudah meninggal dunia ketika masih kecil……“

“Memang demikian sangkaan orang!“ kata Indrayana. “Akan tetapi pada saat ini Gusti Pangeran Pancapana telah datang bersama para panglima Mataram tua yang gagah berani, diikuti oleh barisan kawula Mataram yang setia dan yang hampir selaksa orang jumlahnya !“

Tiba-tiba bersoraklah semua orang mendengar ucapan ini dan dengan meriah mereka menyambut Indrayana. Ribuan macam pertanyaan dihujankan kepada Indrayana, akan tetapi pemuda ini berkata.

“Tidak ada gunanya semua pertanyaan itu dijawab. Kelak kalian akan tahu sendiri. Sekarang lebih baik bawalah aku ke hadapan Sang Prabu Panamkaran. “

Penjaga kepala yang tua itu menggeleng kepala.
“Tidak bisa, Raden Indrayana. Tak mungkin menghadap Sang Prabu pada saat seperti ini. Tak seorangpun berani mengganggu Gusti Prabu dari pada tidurnya.“

“Menghadapi keadaan seperti ini, siapakah orangnya yang masih mementingkan urusan tidur?“

Indrayana berseru marah, akan tetapi penjaga itu dengan isarat tangannya minta agar supaya pemuda ini bersabar.

“Orang lain boleh bingung dan gelisah sehingga lupa makan lupa tidur, akan tetapi Sang Prabu tak boleh diganggu kalau sedang berada di kamar beserta semua selir-selirnya!“

Sambil berkata demikian sebelah mata penjaga itu dikejapkan kepada Indrayana. Pemuda ini mengigit bibirnya dengan gemas sekali.

“Pantas saja Mataram menjadi lemah dan menghadapi keruntuhannya!“ Ia menggumam, Kemudian ia berkata kepada penjaga kepala itu. “Kalau demikian, biarlah besok pagi-pagi aku menghadap dan sekarang akupun hendak mengaso dan jangan menggangu tidurku ! “

Penjaga itu lalu membawanya ke sebuah bilik di tempat penjagaan. Setelah merebahkan dirinya di atas bale-bale, sebentar saja pulaslah Indrayana.

**** 25 ****
Banjir Darah di Borobudur







No comments: