Ads

Saturday, October 21, 2017

Banjir Darah di Borobudur Jilid 21

Akan tetapi pikiran ini lebih mudah direnungkan daripada dilakukan. Setelah kepalanya mulai terbentuk dan ia hendak mulai dengan bagian kening dan telinga, kembali ia terbentur pada hal yang sama.

Tadinya memang kelihatan jelas kening yang halus dan telinga yang terhias mutumanikam dari Puteri Pramodawardani akan tetapi aneh sekali, kening itu yang tadinya berwarna putih berobah menjadi bentuk kening Candra Dewi yang segar kemerah-merahan dan agak nonong sedikit sedangkan daun telinga yang indah terhias mutumanikam itupun berobah pula menjadi daun telinga Candra Dewi yang terhias oleh sinom yang melingkar ke belakang dengan amat indahnya !

Karena telah capai mengerahkan tenaga batin dan pikiran untuk mengusir bayangan Candra Dewi tanpa hasil yang memuaskan, maka kembali ia menghibur hatinya dengan keputusan seperti tadi. Tidak apa kening dan daun telinganya menyerupai kening dan daun telinga Candra Dewi, karena yang terpenting pada perasaan muka adalah mata dan hidung serta mulut, maka ia melanjutkan ukirannya dan membuat patung seperti contoh bayangan Candra Dewi, yaitu pada bagian kening dan daun telinganya.

Dan ketika ia hendak memulai mengukir bagian matanya dan diam-diam mengenakan sepasang mata bintang dari Puteri Pramodawardani yang indah itu, sehingga sepasang mata itu nampak jelas sekali seperti ketika sang puteri memandangnya dengan marah pada waktu secara lancang ia membukakan sutera penutup tempat keputren dahulu, tiba-tiba berubah menjadi sepasang mata yang jenaka, yang indah bening, yang manik-maniknya dapat hidup dan memancarkan cahaya yang mengandung seribu macam bahasa indah, mata dari Candra Dewi, pemuda itu melemparkan alat-alat ke atas tanah dan menjatuhkan dirinya duduk di atas tanah !

“Celaka……“ keluhnya, “Mengapa Candra Dewi telah menguasai seluruh hati dan pikiranku?”

Untuk beberapa lama pemuda itu duduk bersandar di batang pohon dan termenung. Tak salah lagi, ia bukan mencinta Pramodawardani, hanya kagum akan kecantikan puteri itu. Bukan Pramodawardani yang menguasai hatinya, melainkan Candra dewi! Hal ini tidak aneh, karena pemuda inipun maklum akan kebenaran kata orang zaman dahulu bahwa cinta kasih murni akan berakar dan mendalam setelah kedua fihak sering kali bertemu dan ada penyesuaian watak dan sifat mereka.

Dengan Pramodawardani ia hanya bertemu muka satu kali, itupun amat sebentar sehingga rasa cinta kasihnya dahulu itu pada hakekatnya hanyalah rasa silau dan kagum karena kecantikan puteri yang sukar dicari bandingannya itu. Hubungannya dengan Candra Dewi lain lagi. Mereka telah bergaul sebagai murid-murid Panembahan Ekalaya bahkan sebelum itu mereka telah menghadapi bahaya bersama, senasib sependeritaan dan mereka telah mengenal baik sifatnya dan tabiat masing-masing.

“Aku cinta kepada diajeng Dewi……“ Indrayana menarik napas panjang dan mengaku kepada diri sendiri. “Dia lebih cocok bagiku, juga sama-sama keturunan pertapa. Mengapa aku harus malu menyatakan kasihku ? “

Setelah mengambil ketetapan dalam hatinya, pemuda ini lalu bangkit lagi, mengambil alat-alatnya dan melanjutkan ukirannya pada muka patung itu. Kali ini ia membayangkan wajah Candra Dewi yang muncul bagaikan bulan purnama, bersih tidak terhalang oleh bayangan apapun juga. Senyum dan kerling mata Candra Dewi paling menarik hati Indrayana, maka bayang-bayang wajah gadis itu tersenyum-senyum dan melirik-lirik, sehingga ukiran pada patungnya menurut pula bayang-bayang itu !

Dengan amat asiknya Indrayana mengukir muka patungnya, makin lama makin tertarik dan gembira sekali karena melihat betapa ukirannya benar-benar baik dan serupa benar dengan wajah gadis yang dikasihinya itu. Benar sekali petunjuk Candra Dewi, dengan mencontoh bayangan yang terlukis jelas di dalam kenangannya, dengan mudah ia dapat menyelesaikan patung itu.






Saking asyiknya Indrayana sampai tidak tahu bahwa semenjak tadi ada sepasang mata yang mengintai dari balik daun pohon. Pengintai ini bukan lain adalah Pancapana yang ingin sekali melihat bagaimana wajah Puteri Syailendra yang tersohor itu.

Akan tetapi, ketika melihat wajah patung itu, hampir saja ia tak dapat menahan ketawanya. Ia mendekap mulutnya sendiri untuk menahan ketawanya, lalu pergi diam-diam dari tempat itu. Pancapana berlari-lari ke ladang kembali dimana ia mendapatkan Candra Dewi yang masih saja duduk termenung dengan hati bingung. Melihat Pancapana datang dengan muka gembira dan tertawa-tawa, Candra dewi bertanya heran.

“Kau kelihatan gembira sekali, pangeran. “

“Hush, jangan menyebut Pangeran kepadaku, Candra. Sejak dulu aku minta kau menyebutku kakangmas seperti menyebut seorang kakak sendiri, akan tetapi kau selalu tidak mau menurut. Apakah kau tidak suka menjadi adikku ? “

Bukan demikian, Raden Pancapana. Sungguhpun di dalam hati aku telah merasa seperti adikmu sendiri, namun betapapun juga kau adalah seorang pangeran pati yang harus dihormati. Itulah sebabnya, maka aku tidak dapat menyebutmu lebih sederhana dari sebutan Raden. Eh, ya, kenapakah kau tertawa-tawa gembira? Agaknya cantik jelita sekali patung yang dibuat oleh kakangmas Indrayana itu sehingga hatimu terpikat oleh kecantikan Puteri Pramodawardani ? “

Makin keraslah kini Pancapana tertawa.
“Itulah yang menggelikan hatiku, Candra! Memang benar. Indrayana mencontoh wajah Pramodawardani untuk patungnya. Akan tetapi, ha-ha-ha ! “

“Eh, kenapa Raden ? “

“Muka itu…… seperti muka wewe ( setan perempuan ) buruk dan menyeramkan! Kalau demikian buruk menakutkan wajah Pramodawardani mengapa Indrayana begitu bodoh untuk menjadikannya sebagai contoh patungnya ? “

“Buruk? Tak mungkin, Raden Pancapana. Sepanjang pendengaranku, Puteri Pramodawardani amat cantik jelita, tiada taranya di permukaan bumi ini. Kabarnya, segala sifat baik wanita ada padanya. Ia agung dan ayu seperti Sumbadra, gandes luwes seperti Larasati, kewat merak hati seperti Srikandi ! “

“Entah berita itu yang salah, atau Indrayana yang tidak dapat membayangkan wajah puteri itu, akan tetapi nyatanya, muka patung itu tidak karuan macamnya! “

Pancapana pandai sekali membuat gadis itu merasa penasaran dan ingin tahu.
“Tidak percaya? Lihatlah sendiri, Candra. Akan tetapi jangan engkau mengejek Indrayana, itu akan menyinggung perasaannya, karena yang dipahat adalah puteri sesembahannya ! “

Candra Dewi lalu pergi dari situ, menuju ke tempat dimana Indrayana bekerja. Hatinya riang, karena kalau memang benar bahwa Pramodawardani berwajah buruk, tidak mungkin Indrayana mencintai puteri itu. Akan tetapi, ia masih merasa penasaran dan marah kepada Indrayana. Betapapun hormatnya terhadap Puteri Mahkota Kerajaan Syailendra, mengapa pemuda itu lebih menghargai dan lebih mengasihi puteri itu dari padanya? Salahkah pandangan matanya, mungkinkah sinar mata pemuda itu di waktu memandangnya merupakan kepalsuan belaka ?

“Kali ini harus kucari kepastian. Tak mau aku dipermainkan, tak mau aku bimbang ragu, menderita seorang diri ! “

Dipercepatnya langkah kakinya, karena hari telah mulai menjadi gelap, tanda senjakala telah mendatang.

Ketika ia tiba di tempat itu, ia memperlambat jalannya karena melihat bahwa Indrayana berdiri menghadapi patung dengan kedua tangan masih asyik mengerjakan muka patung itu yang berdiri membelakanginya. Candra Dewi tidak mau dilihat tergesa-gesa dan tidak mau memperlihatkan bahwa ia ingin sekali melihat hasil kerja pemuda itu.

Akan tetapi Indrayana tidak melihat dia datang. Pemuda ini sedang asyik menyelesaikan bagian terakhir daripada pekerjaanya. Kedua matanya bersinar-sinar menatap muka patung itu. Senyum di bibir patung itu benar-benar hidup dan ia seakan-akan melihat Candra dewi yang hidup berdiri dan tersenyum manis kepadanya.

Tiba-tiba ia tak dapat menahan gairah hatinya lagi. Dirangkulnya leher patung itu dan dibelai-belainya muka yang ayu itu. Pada saat itu, tiba-tiba pandang matanya bertemu dengan pandang mata Candra Dewi yang berdiri tak jauh di belakang patung itu. Alangkah kaget, jengah dan malunya hati Indrayana tak dapat dibayangkan.

“Ah…… eh…… jeng Dewi…… kaukah itu? Kau datang seperti angin saja…… ! Aku tidak mendengarnya sama sekali ! “

Sementara itu, ketika tadi melihat betapa Indrayana memeluk dan membelai patung itu, seakan-akan hendak meledak rasa dada Candra Dewi karena cemburu! Akan tetapi ia menekan perasaannya dan memperlihatkan muka biasa. Untung bahwa udara mulai menyuram, sehingga Indrayana tidak melihat betapa mukanya sebentar merah sebentar pucat. Ia melangkah makin dekat, akan tetapi sebelum ia dapat melihat muka patung itu. Indrayana tiba-tiba mencegahnya dan menghadang di depannya.

“Diajeng, jangan kau melihat muka patung itu ! “ Suara pemuda itu bersungguh-sungguh sehingga Candra Dewi merasa heran sekali.

“Mengapa …… ? “

“Jangan, diajeng, aku…… malu ! “

“Aku…… aku malu, karena……. Patung itu…… ah, aku tidak berhasil patung itu buruk sekali ! “

Candra Dewi tersenyum mengejek, bukan karena percaya bahwa patung itu buruk, akan tetapi karena keterangan ini sama sekali tidak cocok dengan kelakuan pemuda tadi yang memeluk dan membelai-belai patung itu.

“Hm, kalau buruk tidak nanti kau dapat membelai dan memeluknya dengan pandang mata demikian mesra, kakangmas Indrayana ! “

Indrayana memandang dengan mata terbelalak lebar.
“Kau…… kau tadi melihatnya…… ? “

“Tentu saja aku melihatnya, aku melihat betapa engkau gandrung kepada patung itu Hm, karena itulah maka aku harus menyaksikan dengan mata sendiri sampai dimana hebatnya dan jelitanya Puteri Pramodawardani yang tersohor itu ! “ Kembali ia hendak melangkah maju, akan tetapi Indrayana minta dengan suara gugup,

“Jeng Dewi…… jangan …… ! “

Candra Dewi mundur dua langkah, lalu memperhatikan kepala dan leher patung itu dari belakang. Tiba-tiba ia melihat sesuatu yang aneh baginya dan tak terasa lagi tangan kirinya meraba-raba rambutnya sendiri. Mengapa rambut kepala patung itu sama benar letaknya dengan rambutnya sendiri ?

“Kakangmas Indrayana……“ katanya perlahan,“ rambut Sang Puteri Mahkota Syailendra…… seperti itu benarkah…… ? “ Tak terasa lagi Candra Dewi meraba-raba seluruh rambut di kepalanya.

“Be…… be…… benar!“ jawab Indrayana sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Seperti rambutku ! “

“Memang sama ! “

“Apa …… ? ! ? “

“Eh, ah…… maksudku, memang hampir serupa, yaitu…… letak dan modelnya…… lebih bagus …… “

“Bagaimana pula ini ? Tentu saja rambutnya lebih bagus ! “

“Tidak, tidak ! Rambutnya memang lebih bagus, akan tetapi…… rambutmu lebih indah…… ya, lebih indah…… “

Indrayana bingung sekali, karena ia merasa gelisah kalau-kalau gadis itu melihat muka patung yang sesungguhnya bukan lain adalah wajah gadis itu sendiri. Ini masih belum hebat, yang mengerikan adalah karena gadis tadi tahu dan melihat betapa ia memeluk, membelai, dan menciumi patung itu ! !

Sementara itu, Candra Dewi merasa makin curiga dan tidak mengerti melihat sikap Indrayana ini. Mengapa ia begitu gugup dan gelisah ? Mengapa patung itu tidak boleh ia lihat ?

“Kakangmas Indrayana, engkau kenapakah? Apa salahnya kalau aku ikut mengagumi keindahan patung ini?“

Ia melangkah lagi hendak mendekati patung itu, akan tetapi Indrayana buru-buru memutar tubuh patungnya sehingga tetap saja membelakangi Candra Dewi.

“Jangan…… diajeng……. Kalau kau kasihan kepadaku…… jangan sekarang. Besok saja engkau boleh melihatnya, kalau sudah kuperbaiki. Aku malu sekali kalau engkau melihatnya dalam keadaannya seperti sekarang. Amat buruk ! “

Tiba-tiba Candra Dewi menjadi marah !
“Kakangmas Indrayana, kau benar-benar keterlaluan! Sudah demikian hinakah aku sehingga untuk memandang wajah puterimu yang ayu itupun masih kurang berharga? Setidaknya, mengingat bahwa aku ikut pula memberi petunjuk dalam pembuatan patung ini, sudah sepatutnya kalau aku melihat kalau-kalau ada sesuatu yang kurang sempurna sehingga aku dapat memberi petunjuk lebih jauh. Atau, kalau tidak mengingat akan perhubungan kita yang sudah lama sehingga seakan-akan aku menjadi adikmu sendiri, sudah sepatutnya kalau aku…… sebagai adikmu…… mengagumi kecantikan…… calon isterimu ! “

Makin bingunglah Indrayana ketika melihat bahwa gadis itu benar-benar marah. Ia menghela napas berkali-kali, kemudian sambil menundukkan muka dan melepaskan kedua tangannya di kanan dan kiri tubuhnya, ia berkata lemah,

“Kau yang memaksa, diajeng…… apa boleh buat, nah…… kau lihatlah, kemudian terserah kepadamu apa yang akan kau perbuat atas diriku yang bodoh ini…… “

Banjir Darah di Borobudur







No comments: