Ads

Friday, October 20, 2017

Banjir Darah di Borobudur Jilid 19

Setahun lebih Indrayana, Pancapana, dan Candra dewi berdiam di puncak Gunung Muria yang terletak di atas sebuah pulau kecil di seberang tepi Pulau Jawa. Mereka bertiga mendapat gemblengan dari Sang Panembahan Ekalaya, mendapat ilmu kebatinan yang tinggi.

Kalau Candra Dewi hanya mendapat ilmu-ilmu kebatinan dan pengetahuan tentang filsafat, adalah Indrayana dan Pancapana mendapat latihan ilmu kesaktian pula. Oleh karena itu, kedua orang pemuda itu kini makin kuat dan digdaya. Keduanya diberi wejangan dan aji kesaktian melawan ilmu-ilmu hitam.

Pada waktu-waktu terluang, Indrayana mempelajari ilmu seni pahat dan seni ukir dari Pancapana dan Candra Dewi. Kedua orang muda ini sebagai puteri dan murid Panembahan Bayumurti memang pandai sekali membuat patung dan gambaran terukir, terutama sekali Candra dewi. Kalau jari-jari tangan yang kecil, runcing dan halus itu memegang alat pengukir patung, jari-jari itu dapat bergerak dengan amat cekatan dan cepat.

Senang benar Indrayana melihat dara ini bekerja memahat patung untuk memberi contoh kepadanya. Kalau sedang bekerja dengan asyiknya itu, sepasang mata dara itu menyipit dan memancarkan cahaya kalau ia memandang dan mengamat-amati patung yang sedang dibentuknya. Cahaya mata seorang seniman. Kadang-kadang, saking asyiknya Candra Dewi mengeluarkan ujung lidahnya yang kecil merah itu diantara sepasang bibirnya dan seikal rambutnya yang hitam dan halus itu beruntai ke depan keningnya.

Hubungan antara Indrayana dan Candra Dewi bertambah erat dan kini gadis itu tidak canggung dan malu-malu lagi kepada Indrayana yang selalu sopan santun dan ramah tamah. Sungguhpun mulut mereka tak pernah menyatakan apa yang terkandung di dalam hati masing-masing, namun pandangan mata mereka telah membocorkan rahasia hati.

Pertemuan pandang mata mereka selain mendatangkan kesan mendalam yang mendebarkan hati, juga saling bicara dalam seribu bahasa yang hanya dapat terdengar oleh telinga hati masing-masing.

Indrayana adalah seorang pemuda yang belum pernah tergoda oleh rayuan asmara. Perasaan cinta yang pertama-tama dirasainya, berikut rindu dendam di dalam hati mudanya, adalah ketika ia bertemu dan melihat Sang Puteri Mahkota Pramodawardani, puteri dari Kerajaan Syailendra itu memang selama ini ia mengaku di dalam hatinya, bahwa ia mencintai puteri itu dan mengganggap bahwa puteri itulah wanita tercantik di seluruh permukaan bumi ini. Ia pernah tergila-gila kepada patung puteri itu, pernah gandrung di dalam hutan bagaikan seorang gila, mencumbu rayu patung itu.

Akan tetapi, semenjak patung itu lenyap, berubah menjadi patung Dewi Tara kembali, dan semenjak ia bertemu dan berkenalan dengan Candra Dewi, bayangan wajah Pramodawardani makin menipis dan suram. Betapapun juga, sebagai seorang ksatria yang memiliki kesetiaan, di dalam hatinya sendiri Indrayana menyalahkan hatinya yang tertarik pada wajah Candra Dewi, dan memperkuat keyakinannya bahwa sesungguhnya yang ia cintai adalah Pramodawardani dan sudah seharusnay demikian, karena sebelum bertemu dengan Candra Dewi, ia telah menjatuhkan hatinya kepada Sang Puteri Mahkota Pramodawardani itu. Sebagai seorang ksatria tidak seharusnya demikian mudah perasaan hatinya, demikian pikir Indrayana .

Pada hari itu, menyelesaikan sebuah patung yang hanya bagian mukanya saja belum sempurna. Patung itu dibuatnya semenjak tiba di puncak Muria, di bawah petunjuk Pancapana dan Candra Dewi. Dibuatnya dengan amat hati-hati dan cermat. Melihat hasil pahatannya dan ukirannya yang telah menciptakan bentuk tubuh yang cukup baik, ia merasa amat girang.

Banyak rahasia dalam cara pengukiran patung, ia pelajari dari kedua orang sahabatnya itu, dan diam-diam ia mengaku memang cara mengukir dan memahat patung dari Mataram sebagaimana yang dipelajarinya dari murid-murid Panembahan Bayumurti itu jauh lebih sempurna daripada pelajaran yang pernah ia tuntut di Kerajaan Syilendra.






Akan tetapi, telah beberapa pekan lamanya Indrayana merasa jengkel dan penasaran. Patung yang dibuatnya itu adalah patung wanita. Dari kaki sampai leher sudah baik sekali, akan tetapi ia melihat kesulitan dalam hal membentuk muka patung itu.

“Kakangmas Indrayana,“ berkata Candra Dewi dengan suaranya yang merdu dan halus. “Dalam mengukir dan membentuk bagian muka, memang lebih sukar daripada bagian-bagian lain, bahkan boleh di bilang yang paling sukar. Selain harus cermat, juga perlu bekerja dengan hati-hati sekali, karena sekali saja pahatmu meleset dan mendatangkan cacat pada muka patung, itu berarti bahwa seluruh pekerjaanmu terbuang sia-sia!“

“Inilah kelemahanku semenjak dahulu dalam membuat patung, diajeng Dewi,“ jawab Indrayana sambil menarik napas panjang. “Aah, memang aku yang bodoh! Betul seperti kata ayahku dahulu, membuat patung yang indah memerlukan bakat, dan aku…… aku agaknya tidak berbakat !“ Dengan muka sedih Indrayana menunda pekerjaannya, duduk di atas sebatang akar pohon waringin, kemudian memandang kepada telapak kedua tangannya yang ditelentangkan di atas pangkuannya. “Tanganku terlampau kasar, tak patut bagi pekerjaan yang halus-halus !“

Candra Dewi memandang kepada Indrayana dengan sinar mata seperti seorang ibu memandang kepada seorang anaknya, lalu ia tertawa geli sehingga pemuda itu memandangnya dengan merengut karena merasa penasaran mengapa orang sedang kesal malah ditertawakan? Melihat mulut Indrayana yang cemberut itu, makin gelilah hati candra Dewi sehingga ia menggunakan tangan untuk menutup dan menahan ketawanya.

“Engkau seperti anak kecil yang sedang rewel !“ kata gadis itu. “Seperti anak kecil minta sesuatu dan tidak diperbolehkan oleh ibunya ! “

“Alangkah baiknya kalau aku masih menjadi anak kecil dan masih mempunyai seorang ibu yang mencintaiku dan menghibur hatiku,“ kata Indrayana mengerutkan keningnya.

“Eh-eh, jangan merajuk, kakangmas Indrayana. Aku khawatir jangan-jangan engkau akan menangis ! Apakah sekarang engkau merasa demikian sengsara ? “

Indrayana menghela napas,
“sekarang? Tak seorangpun peduli pada nasibku. Bahkan dalam kekesalan dan kekecewaan seperti sekarang ini, tidak ada yang menghiburku bahkan ada orang yang mengejek dan mentertawakan aku ! “

Tiba-tiba berobahlan wajah Candra Dewi, pandang matanya sayu ketika ia menatap wajah Indrayana. Ia mendekati pemuda itu dan menyentuh lengannya dengan ujung jari tangan.

“Kakangmas…… tak dapatkah engkau menerima kelakarku? Benar-benarkah engkau demikian berduka dan menderita…… ?”

Melihat pandang mata gadis itu dan mendengar suaranya yang agak gemetar itu, Indrayana sadar kembali bahwa ia memang bersikap keterlaluan. Dipegangnya pergelangan tangan gadis itu dan berkata sambil tersenyum lebar.

“Jeng Dewi, maafkan aku ! Aku tadipun hanya bergurau dan menggodamu saja.“

Candra Dewi tiba-tiba membentot tangannya yang terpegang itu dengan wajah kemerah-merahan.

“Kakangmas Indrayana, jangan engkau cemberut lagi seperti tadi. Sungguh tak sedap hati rasanya memandang mukamu yang cemberut. Sekarang dengarlah baik-baik, orang muda pemarah. Tadi engkau menyatakan bahwa menurut ramandamu, pembuatan patung yang indah membutuhkan bakat. Ini memang benar, akan tetapi hanya sebagian saja dan pernyataan itu masih belum lengkap. Kalau kau berkata bahwa tidak berbakat, itu sama kelirunya dengan pernyataan bahwa kau tidak berkepala. “

Indrayana memandang kepada gadis itu dengan heran dan tertegun. Memang, gadis ini amat pandai mengingat filsafat yang pernah ia dengar dari ayahnya, dan memiliki pandangan yang amat luas dalam hal perikehidupan sehingga kadang-kadang Indrayana sendiri menjadi terheran-heran.

Melihat betapa mata Indrayana memandangnya dengan penuh keheranan, gadis itu tersenyum dan berkata,

“Aku hanya mengulang kata-kata ayahku belaka. Menurut ayah, segala macam kepandaian di dunia ini, telah ada pada diri setiap orang manusia. Kepandaian ini masuk ke dalam tubuh bersama-sama dengan jiwa dan kepandaian asli yang berasal dari Hyang Agung inilah yang dinamakan bakat. Bakat ini pula yang membuat setiap orang bayi dapat mempergunakan seluruh anggota tubuhnya yang sudah kuat tanpa diberitahu lagi. Hanya terserah kepada manusia sendiri untuk menggali dan mencari bakat sendiri di dalam dirinya. Berhasil atau tidaknya seseorang mendapatkan bakat sendiri di dalam dirinya, tergantung sepenuhnya kepada orang itu sendiri. Ia harus rajin, tekun, tahan uji, ulet, sabar, dan segala sifat-sifat baik harus dikerahkan sebagai obor penerangan untuk mencari bakatnya sendiri yang tersembunyi itu.“

Indrayana memandang kepada Candara Dewi dengan mata dipentang lebar dan bibirnya tersenyum.

“Eh, eh, mengapa kau tersenyum-senyum? Apakah kau tadi mendengarkan kata-kataku ? Jangan membikin aku capai berkata-kata dengan sia-sia ! “

Indrayana cepat mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Tentu saja aku mendengarkan dengan penuh perhatian . Memang amat janggal dan aneh. “

“Apanya yang janggal dan aneh ? “ tanya gadis itu curiga.

“Janggal dan aneh kedengarannya ucapan yang mengandung arti dalam sekali itu keluar dari bibir seorang dara semuda dan secantik engkau ! “

“Hus, jangan kau menggoda, kakangmas Indrayana. Akan kulanjutkan petunjuk untuk membuat patung ini, atau tidak ? “ ia mengancam.

“Eh, tentu saja, tentu saja ! Baik, aku takkan main-main lagi dan akan mendengarkan sebagai seorang murid yang baik. “

“Oleh karena bakat telah ada di dalam diri setiap orang, maka aku katakan tidak benar kalau kau menganggap bahwa kau tidak berbakat. Setiap orang tentu dapat mengerjakan apa saja, asalkan ia usahakan dengan hati mantap, penuh kepercayaan kepada diri sendiri, penuh rasa sayang dan cinta kepada apa yang dikerjakan, dan tanpa ada penyelewengan kehendak. Buktinya, kau telah dapat membuat patung ini dengan cukup baik, hanya bagian mukanya saja belum juga dapat kau selesaikan sempurna. Menurut petunjuk rama panembahan dulu, membentuk muka patung harus menurut contoh yang dilukis dalam angan-angan sendiri. Pelukisan wajah seseorang dalam angan-angan ini akan lebih jelas dan mudah muncul apabila kita memilih orang yang lebih dekat di hati, orang yang paling kau kasihi. Dulu, ketika akan membuat patung untuk pertama kalinya, baru aku berhasil setelah gambar dalam angan-anganku itu timbul dari cinta kasihku kepada ayah dan ibu. Aku dapat membuat patung ayah ibu dan dengan baik sekali. “

Indrayana mengangguk-angguk. Ia mendengarkan dengan penuh perhatian.
“Hm, jadi begitukah caranya ?“

“Ya, dan sekarang kau bentuklah muka patung itu menurut wajah orang yang terdekat dengan hatimu. “

Tiba-tiba muka Indrayana berseri.
“Ibuku ! Benar…… sejak dulu aku ingin sekali membuat patung ibuku ! Tahukah kau, jeng Dewi, dulu aku pernah mencoba membuat patung dari batu-batu di tengah Kali Serang, untuk membuat patung mendiang ibuku, akan tetapi selalu tidak berhasil ? Sekarang aku telah tahu bagaimana cara mengukir bagian yang halus-halus dan agaknya wajah ibuku yang paling mudah timbul dalam angan-anganku. “

Akan tetapi Candra Dewi menggelengkan kepalanya.
“Kau lihatlah tubuh patung itu, pantaskah kiranya kalau menjadi tubuh mendiang ibumu? “

Indrayana tertegun. Memang tubuh patung itu merupakan tubuh seorang wanita muda remaja, sedangkan wajah ibunya merupakan wajah seorang wanita yang sudah setengah tua.

“Kau benar diajeng, takkan sesuai. “

“Pilihlah wajah seorang yang lebih muda. Dapatkah kau mengingat wajah ibumu ketika masih muda ? “

Indrayana menggelengkan kepala, kemudian ia berkata,
“Oya aku akan membayangkan wajah Sang Puteri Mahkota Kerajaan Syailendra “

Candra dewi memandang dengan mata bersinar.
“Ah, Sang Puteri Pramodawardani yang tersohor cantik jelita seperti bidadari itu ? “

Indrayana mengangguk dan wajahnya berseri-seri. Pembicaraan ini mengingatkannya lagi kepada Sang Puteri yang jelita itu dan ketika ia menyipitkan kedua matanya, terbayanglah wajah puteri jelita itu dengan jelasnya di depan matanya. Benar ! mengapa ia begitu bodoh ? Bayangan wajah Pramodawardani yang pernah dirindukan itu demikian jelas, seakan-akan ia dapat merabanya. Tentu mudah sekali membentuk wajah patungnya menurut contoh ini !

Banjir Darah di Borobudur







No comments: