Ads

Friday, October 20, 2017

Banjir Darah di Borobudur Jilid 18

“Hayo kita keluar dari neraka ini ! “ kata Indrayana sambil menarik tangan Candra Dewi.

Ketika melihat betapa dara itu pucat sekali mukanya karena banyak menderita kegelisahan dan ketakutan sehingga kedua kakinya gemetar dan tak dapat lari cepat, tanpa ragu-ragu lagi Indrayana lalu memondong tubuhnya.

Untuk sesaat tubuh Candra Dewi menegang dalam pelukan kedua tangannya, akan tetapi melihat tarikan muka Indrayana yang sungguh-sungguh dan sama sekali tidak mengandung nafsu tidak senonoh, tubuh dara itu menjadi lemas dan ia bahkan meletakkan kepalanya di atas pundak pemuda itu.

Pancapana tidak berkata sesuatu melihat hal ini, karena saat yang amat berbahaya itu tidak memberi kesempatan bagi mereka untuk meributkan hal-hal kecil dan tidak memberi saat untuk berjenaka pula.

Karena telah mengetahui rahasia pintu yang di sebelah dalamnya juga ada patung-patung serigala hitam seperti di bagaian luar, mereka dapat keluar dengan mudah. Akan tetpi sebelum mereka tiba di luar bangunan, sepasukan penjaga telah menghadang di depan dengan senjata tajam di tangan !

Pancapana yang bertahan di depan, membuka jalan dengan pedangnya. Kemana saja pedangnya berkelebat, menjeritlah seorang pengeroyok dan robohlah tubuh seorang penjaga sehingga mereka menjadi gentar sekali dan membiarkan Pancapana dan Indrayana yang memondong tubuh Candra Dewi lewat dan keluar dari bangunan itu !

Kini kedua orang muda itu telah tiba pekarangan belakang yang juga cukup luas. Mereka berlari menuju sebelah pintu gerbang kecil yang akan membawa mereka ketepi Sungai Serang. Akan tetapi tiba-tiba terdengar seruan yang keras sekali dan dengan luar biasa sekali cahaya bulan yang tadinya terang-benderang menjadi gelap sama sekali !

“Kakangmas Pancapana ! “ bisik Indrayana yang terpaksa berhenti berlari.

“Apakah yang terjadi ? “

“Sst, dimas, tenang dan waspadalah ! Agaknya bagawan siluman itu sendiri telah keluar dan ini tentu perbuatan sihirnya ! “

Mereka berdua berdiri berdekatan, saling berpegangan tangan, urat-urat di tubuh menegang, siap menghadapi kemungkinan. Candra Dewi yang berada di dalam pelukan Indrayana segera berbisik,

“Raden, turunkan aku, agar dapat siap menghadapi lawan. “

Suara dara itu gemetar karena merasa ketakutan melihat kehebatan musuh yang mempunyai kesaktian demikian mengerikan.

Indrayana menurunkan tubuh Candra Dewi, akan tetapi tangan kanannya memegang tangan dara itu, sedang tangan kirinya memegang tangan Pancapana. Keadaan makin gelap dan awan yang tadinya bergulung di atas agaknya kini turun ke bawah dan menyelimuti mereka sehingga mereka tidak dapat melihat kawan-kawan sendiri ! Tiba-tiba terdengar suara yang menyeramkan, bagaikan iblis dari neraka.

“Ha-ha-ha ! Indrayana, dan Candra Dewi ! Kalian hendak melarikan diri ? Ha-ha-ha ! “

Selenyapnya suara ini terdengar suara anjing atau serigala melolong-lolong dengan hiruk-pikuk, seakan-akan ada puluhan ekor serigala buas yang mengurung dan hendak menyerang tiga orang anak muda itu ! Tiba-tiba Indrayana merasa betapa tangan Candra Dewi meremas jari tangannya dengan etar-erat dan gadis itu berbisik.






“Aku…… aku takut…… ! “

Indarayana merasa betapa tubuh gadis yang merapat padanya itu menggigil. Siapa orangnya yang takkan merasa ngeri dan takut dalam keadaan yang menyeramkan itu ?

“Diajeng,“ bisiknya menghibur, “Jangan takut selama aku masih berada di dekatmu !“

“Siddha Kalagana !“ teriak Indrayana kemudian dengan suara keras. “Kau pendeta siluman yang tak tau malu ! Seorang yang mengaku sakti titisan Sang Hyang Syiwa, mengapa baru menghadapi kami dua orang muda saja sudah merasa takut ? Sungguh memalukan sekali !“ hening sejenak.

Lenyap suara anjing melolong. Kemudian dari dalam gelap terdengar suara Bagawan Siddha Kalagana menjawab.

“Bocah sombong, siapa takut pada kalian? Jangankan baru dua orang muda seperti kalian, ditambah dua puluh orang lagi, aku Bagawan Siddha Kalagana, titisan Sang Hyang Syiwa, tidak akan takut atau mundur ! “

Diam-diam Indrayana yang cerdik itu tersenyum girang. Akalnya telah berhasil baik dan kata-katanya tadi telah menyinggung perasaan dan kehormatan si begawan itu. Pemuda ini lalu tertawa bergelak dan berkata lagi.

“Siddha Kalagana, hatimu tak sama dengan lidahmu dan lidahmu tidak cocok dengan perbuatanmu! Kalau kau tidak takut terhadap kami, mengapa kau mempergunakan ilmu iblis dan bersembunyi di dalam gelap? Ha-ha-ha ! Aku tau akan akal siasat burukmu ini. Tentu saja kau tidak berani melawan kami berdepan secara orang-orang gagah, karena kau bukan orang gagah, melainkan orang berhati curang dan pengecut ! “

“Keparat jahanam mau mampus !!“

Tiba-tiba terdengar Bagawan Siddha Kalagana memaki marah dan kegelapan yang menyelimuti tempat itu seketika itu juga menjadi terang. Bulan nampak bersinar lagi dengan indahnya. Kini kelihatanlah bagawan itu yang berdiri di depan ketiga orang muda itu dengan sikap mengancam dan mengerikan sekali.

Bagawan itu telah mengenakan pakaiannya yang terdiri dari celana panjang warna hitam, dan jubah hitam berkembang merah dan kuning dan sorbannya yang berwarna kuning pucat. Di tangan kanannya nampak senjatanya yang amat dahsyatnya, yakni seekor ular kobra yang kering.

Di belakang pendeta siluman ini berdiri anak buah pasukan Srigala Hitam. Adapun suara gamelan yang masih di tabuh ramai itu menyatakan bahwa pesta tari-tarian yang makin menggila itu masih berlangsung dan bahwa para penduduk yang kini telah mabuk tak sanggup menguasai batin dan pikiran sendiri itu, tidak mengetahui sama sekali peristiwa ini dan mereka itu masih menari-nari dengan empat puluh orang bidadari yang menggiurkan itu !

Indrayana dan Pancapana maklum bahwa keadaan mereka berbahaya sekali. Menghadapai bagawan itu saja sudah merupakan hal yang amat berat dan berbahaya, apalagi berada di sarang mereka dan kini bagawan itu masih dibantu oleh sebagian anak buahnya !

Akan tetapi, semangat ksatria pantang mundur dalam perjuangan menghadapi musuh angkara murka. Kedua orang muda itu tidak menjadi gentar dan mereka mengambil keputusan untuk melawan dengan nekad, membela dan melindungi Candra dewi dengan nyawa mereka dan kalau perlu tewas bersama di tempat itu !

“Indrayana !“ seru Bagawan Siddha Kalagana sambil tersenyum mengejek. “Lebih baik engkau meyerah, menjadi muridku mempelajari ilmu kepandaian yang tinggi dan aji kesaktian yang luar biasa. Percayalah, engkau akan mejadi murid terkasih dariku, dan akan merupakan anak angkatku. Engkau akan dapat mempelajari seni ukir dan seni tari. Si Candra juga akan menjadi seorang yang paling dihormati, menjadi pelayan yang paling tinggi kedudukannya, paling dekat dengan Sang Hyang batari dan aku! Untuk apa engkau menyia-nyiakan nyawa dalam usia muda?“

Bagawan Siddha Kalagana kini memandang kepada pancapana dan ucapannya terhadap Pancapana benar-benar mengagetkan ketiga orang muda itu.

“He, Pancapana, pangeran yang terlantar! Apakah engkau tidak ingin menjadi Raja Mataram, menggantikan kedudukan ayahmu dulu? haha-ha! Engkau menjadi pucat mendengar ini! Ya, tidak ada perkara di dunia ini yang tidak diketahui oleh Bagawan Sddha Kalagana yang sidik paningal dan sakti mendraguna! Kalau engkau suka menjadi muridku, jangan khawatir. Merebut kembali Mataram dari tangan Panamkaran akan sama mudahnya seperti membalikkan telapak tangan saja. Engkau menyerahlah dan aku yang akan merampaskan Mataram untukmu ! “

Tadinya Pancapana memang menjadi pucat mendengar ucapan yang mengagetkan itu, karena sama sekali tidak pernah disangkanya bahwa pendeta iblis itu mengetahui rahasianya. Akan tetapi ketika mendengar bujukan-bujukan pendeta itu, ia mejadi marah sekali. Dengan muka kembali merah, Pancapana mengangkat pedangnya dan berseru,

“Pendeta keparat! Kalau engkau sudah tahu bahwa aku adalah seorang pangeran Mataram, masihkah engkau mengharapkan seorang ksatria berlutut menyembah seekor anjing ? “

Bukan main marahnya Bagawan Siddha Kalagana mendengar kata-kata ini,
“Bocah-bocah sombong, engkau mengandalkan apakah, berani kurang ajar terhadap Bagawan Siddha Kalagana ? “

Akan tetapi Pancapana dan Indrayana tidak mau melayani pendeta itu mengobrol lebih jauh dan keduanya lalu menerjang dengan senjata di tangan. Bagawan Siddha Kalagana telah merasai sepak terjang kedua orang muda ini dan harus ia akui bahwa dalam hal kepandaian memainkan senjata, kedua orang muda ini lebih tangkas dan pandai.

Akan tetapi pendeta ini tidak takut, karena sekarang ia berada di tempat sendiri, dan untuk keperluan pesta itu ia telah memasang mantera dan tenung sehingga tubuhnya diliputi oleh hawa gaib dan selaksa iblis menjadi sahabat dan hambanya.

Keris di tangan Indrayana bukanlah sebilah keris biasa, melainkan sebatang keris pusaka yang amat ampuh. Keris Bajradenta ( Kilat Putih ) ini mempuanyai daya dan pengaruh untuk menolak pengaruh-pengauh hitam, dan kini setelah dimainkan oleh tangan Indrayana yang terlatih dan kuat, maka keris itu berkelebatan dan menyambar-nyambar bagaikan halilintar.

Hawa yang timbul dari cahaya berkelebatannya keris itu saja sudah mendatangkan rasa panas bagi yang di serangnya. Indrayana memiliki ketangkasan dan kegesitan seperti burung walet, maka tentu saja permainan kerisnya juga hebat dan sukar sekali di hadapi.

Demikian juga Pacapana tidak kurang hebat dan kuatnya. Pemuda ini telah mendapat gemblengan dari seorang pertapa yang sakti. Di bawah pimpinan Panembahan Bayumurti, pemuda ini telah melakukan tapa brata dan telah mempelajari berbagai ilmu keperwiraan dengan amat tekunnya, maka ia merupakan seorang pemuda yang selain gagah perkasa, juga sakti mandraguna.

Pedangnya bernama Candrasa Wilis ( Pedang Hijau ) karena terbuat daripada baja yang bersinar kehijauan. Tajamnya bukan alang kepalang dan baja atau besi biasa saja yang terbacok oleh Candrasa Wilis ini pasti akan putus bagaikan mentimun! Juga ilmu pedang pemuda ini amat cepat dan ganas gerakannya, pedang di putar-putar merupakan segulung awan hijau yang bergerak-gerak menyambar bagian lemah tubuh Bagawan Siddha Kalagana.

Sesungguhnya, dua orang pemuda itu merupakan lawan yang amat tangguh. Biarpun Bagawan Siddha Kalagana juga memiliki kepandaian pencak silat yang cukup tinggi, kepandaian yang di pelajarinya di tanah airnya ketika ia masih muda, namun menghadapi sepak-terjang Pancapana dan Indrayana diam-diam ia harus mengakui keunggulan kedua pemuda itu!

Jangankan di keroyok dua, andaikata ia menghadapi seorang saja diantara mereka, belum tentu ia mendapat kemenangan ! Maka perlahan-lahan Pancapana dan Indrayana mendesak dan mengurung pendeta itu yang sibuk sekali memutar-mutar senjata ularnya dan mengelak kesana kemari melepaskan diri dari bahaya maut.

Biarpun pedeta itu amat terdesak, namun para anak buahnya tidak berani sembarangan bergerak membantu. Tanpa perintah dari pendeta yang berkuasa itu, mereka tidak berani berlaku lancang. Mereka menaruh kepercayaan penuh kepada Bagawan Siddha kalagana, karena mereka percaya bahwa sesembahan mereka itu bukan lain adalah Sang Batara Syiwa sendiri yang menjelma menjadi manusia!

Tidak ada seorag manusia, biar yang gagah-gagah seperti dua orang pemuda itu berada di tempat tinggal Sang Maha Batari Durga yang suci dan maha kuasa, yang tentu akan membantu suaminya dalam pertempuran melawan siapapun juga !

Bagawan Siddha Kalagana maklum bahwa kalau ia terus melawan mengandalkan kepandaian dan kekuatan jasmani, ia akan kalah ! Tidak boleh ia menderita kekalahan dihadapan semua pengikutnya, karena hal ini akan menhancurkan kedudukannya, akan menghilangkan kepercayaan para pengikutnya. Maka diam-diam ia mulai berkemak-kemik membaca mantera dan sepasang matanya mulai mengeluarkan cahaya yang ganjil dan menyeramkan !

Candra Dewi yang berdiri memandang pertempuran itu dengan gelisah, tiba-tiba melihat betapa sepasang mata bagawan itu mencorong bagaikan mata harimau di malam hari. Saking ngeri dan takutnya. Candra Dewi mengeluarkan jerit tertahan dan mengeluarkan kedua tangan untuk menutupi matanya!

Indrayana dan Pancapana juga melihat perobahan pada mata lawannya itu, maka merekapun menjadi terkejut sekali. Akan tetapi kedua orang pemuda gagah ini masih dapat menenteramkan hati mereka. Tiba-tiba pendeta itu berseru keras,

“Lihat !“

Dan tangan kirinya memegang sesuatu yang diambilnya dari dalam jubahnya. Benda yang dipegangnya itu mencorong dan memantulkan sinar bulan kepada muka Indrayana dan Pancapana.

Kedua orang muda itu hendak miringkan kepala, akan tetapi terlambat. Sinar yang keluar dari benda yang dipegang oleh Siddha Kalagana telah menyambar pandang mata mereka sehingga bagaikan kena pesona mereka berdua tak dapat melepaskan pandangan mata dari benda yang bersinar-sinar di tangan lawannya itu.

Dengan mata memandang ke arah benda itu, kedua orang muda ini telah masuk ke dalam perangkap pendeta itu! Kini pendeta itu telah menguasai kemauan mereka dengan ilmu hitamnya. Betapapun kedua orang muda itu mengerahkan tenaga batin untuk membebaskan diri dari pengaruh yang membuat hati dan pikiran mereka serasa beku, namun tetap mereka tak berdaya. Pengaruh yang melumpuhkan mereka itu luar biasa kuatnya.

“Berlututlah kalian berdua, hai kawula (hamba) baru dari Sang Maha Batari ! “ terdengar suara Bagawan Siddha Kalagana memerintah.

Bagaikan ada tenaga gaib yang melemahkan seluruh semangat mereka, Indrayana dan pancapana lalu menjatuhkan diri berlutut di hadapan pendeta itu! Bagawan Sidda Kalagana tertawa terbahak-bahak dan ia lalu melangkah maju menghampiri Candra Dewi yang berdiri menggigil ketakutan.

“Ha-ha-ha ! Candra Dewi, anak manis, denok dan ayu! kau sudah ditakdirkan menjadi pelayan Sang Maha Batari, sudah ditakdirkan menjadi pelayan selir Sang Batara Syiwa! Ha-ha-ha, marilah manis, mari ikut junjunganmu merayakan pesta dan menari gembira!“

Candra Dewi tak dapat mengeluarkan suara saking takutnya. Ia melangkah mundur perlahan-lahan, matanya menatap pendeta itu tanpa berkedip.

“Ha-ha, kekasihku sayang, mengapa takut-takut ? Mengapa malu-malu ? “

Sang pendeta melangkah maju mendekat, hatinya makin gairah dan nafsunya memuncak. Sementara itu, para pengikutnya ketika melihat betapa pendeta itu mengalahkan dua orang pemuda yang gagah perkasa makin tunduk dan percaya penuh. Siapakah yang akan dapat mengalahkan kesaktian Sang Hyang Syiwa ?

Akan tetapi, tiba-tiba pendeta itu dan juga semua anak buahnya terkejut sekali ketika melihat sinar terang dibarengi suara keras menyambar dari udara. Saat itu udara tidak mendung, dari manakah datangnya kilat yang menyambar hebat itu? Suara kilat yang keras itu memecahkan pengaruh ilmu hitam yang dilepas oleh Bagawan Siddha Kalagana kepada Indrayana dan Pancapana sehingga merekapun terkejut karena suara keras itu dan melompat bangun !

Bagawan Siddha Kalagana berdiri dengan kedua mata terbelalak heran. Candra Dewi segera berlari kepada kedua pemuda itu dan dalam ketakutan hebat, ia lalu menubruk…… Indrayana yang segera memeluk dan mengusap kepalanya.

“Tenanglah, diajeng…… “ bisik pemuda itu.

Bagawan Siddha Kalagana masih terbelalak memandang ke atas dengan pikiran heran karena ia tak dapat mengerti dari mana datangnya halilintar yang menyambar dan yang menghancurkan hikmat sihirnya tadi. Kemudian, entah dari mana datangnya, terdengarlah suara halus akan tetapi amat berpengaruh.

“Indrayana, kau tidak lekas mengajak kedua kawanmu melanjutkan perjalanan, mau tunggu kapan lagi ? “

Indrayana terkejut mendengar suara ini.
“Eyang Panembahan,“ bisiknya perlahan dengan girang dan juga heran, lalu dengan cepat ia memegang tangan Candra Dewi dan berkata kepada Pancapana.

“Kakangmas Pancapana, hayo kita lari ! “

Indrayana menarik tangan Canra Dewi dan berlari diikuti oleh Pancapana. Mereka keluar dari pintu belakang dan ketika sampai di tepi Kali Serang, mereka lalu berlari menyusur sepanjang tepi sungai.

Bagawan Siddha Kalagana amat marah melihat korban-korbannya melarikan diri. Ia lebih marah lagi kepada suara yang telah menolong para korbannya itu. Ia berkemak kemik membaca mantera lalu berseru keras.

“Tidak ada titah Dewata yang tak dapat terlihat olehku ! “

Bagawan Siddha Kalagana memiliki kesaktian yang tinggi dan apabila ia telah mengucapkan mantera disusul bentakannya yang amat berpengaruh ini, biasanya segala aji yang dipergunakan orang untuk menghilang akan buyar dayanya. Akan tetapi tetap saja ia tidak melihat orang yang berkata-kata kepada Indrayana tadi! Ia terkejut dan mklum bahwa ia menghadapi seorang berilmu tinggi yang memiliki kesaktian luar biasa, maka dengan suara halus ia berkata.

“Saudara dari manakah yang datang menggangu kami ? harap sudi memperlihatkan diri agar kami dapat melihat siapa yang telah memberi kehormatan besar mengunjungi tempat kami yang buruk ini !“

Tiba-tiba terdengar suara ketawa halus dan kedua mata Bagawan Siddha Kalagana serta mata semua pengikutnya kini dapat melihat seorang kakek yang berusia tinggi berdiri di bawah pohon sambil bersedakap.

“Bagawan Siddha Kalagana,“ kakek itu berkata dengan suaranya yang halus dan tenang,“ tiada yang kekal di dunia ini kecuali kebenaran! Cepat atau lambat, segala keadaan akan sirna kembali lenyap kembali ke tempat asal. Kesesatan dan kejahatan akan lebih cepat lagi runtuhnya, kembali ke alam gelap dan siksa dari mana ia berasal. Makin besar nikmat duniawi yang didatangkan oleh kesesatan, makin besar pula siksa yang akan menjadi buahnya. Masihkah kau tidak insaf dan hendak melanjutkan langkahmu yang menyeleweng daripada jalan kebenaran ? “

Melihat kakek itu, lenyaplah kesombongan Bagawan Siddha Kalagana. Ia merangkapkan kedua tangan di depan dada dengan hormatnya lalu berkata.

“Ah, tidak tahunya Sang Bagawan Ekalaya yang telah membersihkan batin daripada segala urusan dunia itu, kali ini sengaja turun gunung untuk bertanding ilmu dengan aku? Apakah kau berani mempergunakan tanganmu yang telah tercuci bersih untuk menghancurkan aku ? “

Sang Bagawan Ekalaya tersenyum.
“Tidak, Siddha Kalagana, aku tidak akan mencampuri urusanmu. Bukan menjadi tugasku untuk mengakhiri pengumbaran hawa nafsu. Aku hanya datang menghalangimu dari bencana yang hendak kau timpahkan kepada calon-calon muridku. Nah, selamat tinggal, Siddha Kalagana!“

Sehabis berkata demikian, lenyaplah tubuh pertapa sakti itu dari hadapan Siddha Kalagana dan para pengikutnya.

Merahlah pendeta itu, akan tetapi ia maklum bahwa sesungguhnya pertapa itu tidak mau mengganggunya, namun ia sendiri tidak berdaya terhadap kakek yang suci dan tinggi ilmunya itu.

“Hayo ! Kita melanjutkan pesta kita ! Jangan perdulikan segala pertapa pemakan rumput!“

Ia lalu memimpin anak buahnya kembali ke ruang pesta dimana masih berlangsung pesta yang makin menggila itu. Kini semua orang sudah mabok betul-betul sehingga mereka melakukan perbuatan-perbuatan yang hanya patut dilakukan oleh segala setan dan iblis di neraka.

**** 18 ****
Banjir Darah di Borobudur







No comments: