Ads

Friday, October 20, 2017

Banjir Darah di Borobudur Jilid 17

Dengan hati-hati dan sembunyi-sembunyi kedua orang muda itu mengintai dan mengikuti tiga orang penari tadi, berjalan melalui sebuah lorong sempit. Tiba-tiba ketiga orang penari tadi menghentikan tindakan kaki mereka karena jalan itu buntu dan mereka menghadapi sebuah dinding batu yang tebal.

Di sebelah kiri terdapat sebuah patung serigala batu itu, memutarnya ke kanan dan terdengarlah suara bergeret dengan terbukanya dinding batu itu ! Ketiga orang penari itu melangkah masuk dan tertutuplah kembali jalan tadi. Dilihat begitu saja agaknya tak mungkin disitu akan terdapat sebuah pintu tembusan !

Indrayana dan Pancapana menjadi girang sekali dan setelah menanti beberapa saat, mereka lalu memutar leher serigala batu itu dan terbukalah pintu. Mereka cepat melangkah masuk dan melanjutkan pengejaran mereka.

Kembali mereka sampai di jalan buntu dan terdapat pula sebuah patung serigala hitam yang lebih besar dan lebih dahsyat. Kedua orang pemuda itu mengira bahwa rahasianya terletak pula pada leher serigala batu itu yang harus diputar, akan tetapi ternyata tidak demikian. Seorang penari lalu memasukkan tangan ke dalam mulut serigala batu yang lebar itu dan menariknya maka terbukalah sebuah pintu pula pada dinding yang tadinya rapat itu !

Seperti juga tadi, Indrayana dan Pancapana berhasil masuk ke dalam pintu rahasia ini setelah merogoh mulut patung serigala dan menarik lidah patung anjing serigala itu. Dengan penuh perhatian mereka melanjutkan pengintaian. Kini mereka tiba di depan sebuah pintu, yakni pintu teakhir, akan tetapi syarat untuk membuka pintu ini bukan merupakan suatu rahasia, melainkan lebih hebat dan berbahaya lagi.

Kini yang menjaga di depan pintu bukanlah seekor patung serigala yang mengandung rahasia, melainkan seekor serigala hitam tulen ! Serigala ini besar sekali dan bulunya hitam bagaikan arang. Sepasang matanya liar dan mengkilat, sedangkan moncongnya yang merah itu terbuka, lidahnya terjulur keluar diantara dua baris gigi yang runcing dan tajam melebihi pisau belati !

Setelah mengelus-elus leher dan menepuk-nepuk kepala serigala hitam yang besarnya seperti anak sapi itu. Ketiga wanita tadi lalu membuka daun pintu dan berjalan masuk dengan lenggang mereka yang amat menggiurkan.

Pancapana dan Indrayana saling pandang. Tak ada lain jalan bagi mereka selain mencoba untuk menerobos jalan yang terjaga ini. Akan tetapi baru saja mereka muncul, serigala hitam itu tiba-tiba menggeram dan menyalak dengan hebatnya, lalu menerkam ke arah dua orang pemuda yang berani mendekatinya.

“Kakangmas, awas !“ seru Indrayana yang berjalan di belakang Pancapana.

Akan tetapi Pangeran itu adalah seorang pemuda yang cukup gagah. Di terkam sedemikian rupa oleh serigala yang mengerikan itu, ia berlaku tenang, miringkan tubuh ke kiri dan kepalan tangan kanannya menyambar lambung serigala itu.

“blek ! “ tubuh serigala itu bagaikan dilemparkan oleh tenaga yang dahsyat dan kuat sekali sehingga terbanting ke dinding batu.

Akan tetapi, alangkah herannya hati Pancapana ketika melihat bahwa tubuh binatang itu tidak remuk sebagai mana yang ia kira, bahkan batu-batu dinding itu yang berhamburan karena benturan itu, sedangkan serigala itu sendiri hanya menguik keras satu kali, kemudian bangun kembali dan menyeranglah lebih hebat lagi !






Bukan main kagetnya hati Pancapana. Pukulannya tadi amat keras, jangankan baru lambung anjing serigala, biarpun lambung seekor banteng akan terluka hebat di bagian dalam apabila terkena pukulan tadi. Ia tak sempat memikirkan hal itu karena kini serigala itu telah menyerang lagi dengan mulut terbuka lebar-lebar, menerkam dan hendak menggigit lehernya !

Pancapana berlaku gesit sekali. Ia mengulur tangan kiri menangkap kaki depan serigala itu, menyentakkan ke bawah sehingga kepala serigala itu menunduk sambil mengerahkan tenaga dan kesaktiannya, ia mengirim pukulan tangan kanan ke arah kepala binatang itu dengan ajinya Hasta Dibya ( Tangan Sakti ).

“Dak !!“ terdengar suara keras ketika tangannya itu beradu dengan kepala serigala, akan tetapi kembali pancapana dibikin bengong ketika melihat betapa serigala itu hanya terguling-guling tiga kali saja, akan tetapi sama sekali tidak menderita luka !

Dengan pukulan Hasta Dibya ini, Pancapana pernah memukul pecah kepala seekor babi hutan yang mengamuk, akan tetapi kali ini, dipukul kepalanya dengan demikian tepat dan jitu oleh ajinya Hasta dibya, serigala hitam itu seakan-akan hanya menertawakan belaka !

“Serigala siluman !“ serunya marah dan cepat mencabut pedangnya dan dengan gerakan yang luar biasa cepatnya, pangeran ini mendahului serigala itu menusuk perutnya !

Akan tetapi, kali ini ia sampai menjadi pucat ketika merasa betapa ujung pedangnya mental kembali setelah beradu dengan kulit perut serigala itu !

“Ah, dia kebal !!“ serunya dengan heran.

Sementara itu, Indrayana yang juga merasa penasaran sekali, mencabut kerisnya. Ketika serigala hitam itu menubruk lagi kearah Pancapana, Indrayana menyambar ekornya dan dibantingnya dengan kuat tubuh serigala itu sehingga kepala serigala menghantam lantai batu.

Seperti juga tadi, kepala serigala yang amat kebal dan keras itu malah menghancurkan batu yang bertumbuk dengan kepalanya. Indrayana menambahkan beberapa kali tikaman keris pusakanya, akan tetapi, benar saja seperti dugaan Pancapana, serigala itu memang kebal dan sakti !

Kalau seorang manusia, biarpun ia sakti dan kebal, tak mungkin kuat menerima pusaka di tangan Indrayana. Akan tetapi oleh karena yang dihadapinya adalah seekor binatang yang telah mendapat “isi“ oleh ilmu hitam Bagawan Siddha Kalagana, maka kerisnya ini tidak berdaya.

“Ada jalan untuk membuatnya tak berdaya !“ tiba-tiba Pangeran Pancapana berseru keras dan ia menubruk maju, merangkul leher serigala hitam itu dari punggung dan memitingnya.

Serigala itu meronta-ronta hendak melepaskan diri, akan tetapi pitingan Pancapana ini luar biasa sekali. Lengan kanan pemuda ini memiting leher sehingga leher serigala itu terpuntir ke atas, sedangkan tangan kiri pemuda itu memegang ekornya dengan erat sekali. Maka tak berdayalah serigala itu, hanya matanya saja yang makin liar dan mulutnya berbuih, akan tetapi sama sekali tak dapat bergerak lagi. Mengeluarkan suarapun ia tak mampu !

“Biar aku yang menolong kangmas !“ kata Indrayana setelah melihat serigala hitam itu tak dapat dibikin tak berdaya oleh kawannya.

Ia lalu menolak daun pintu dan melompat ke dalam kamar, ia menjadi marah sekali ketika melihat betapa Candra Dewi berada di dalam kamar itu, berdiri menyandar sebuah tiang naga dan diikatkan disitu ! Dara ini menangis terisak-isak dan menggeleng-gelengkan kepala ketika seorang diantara tiga penari itu hendak memberinya minum madu merah dari sebuah cawan, sedangkan dua orang penari lain hendak melucuti pakaiannya.

“Keparat !“ seru Indrayana dan sekali tubuhnya berkelebat, ia telah mendorong tiga orang penari itu sehingga jatuh tunggang langgang dan saling tindih, saking gemasnya. Indrayana hendak menendang tubuh mereka. Akan tetapi tiba-tiba terdengar suara yang lemah dan halus dari Candra dewi,

“jangan dibunuh mereka itu…… “

Ucapan ini seakan-akan mempunyai tenaga raksasa yang menahan kaki Indrayana dan pemuda itu dengan hati penuh perasaan kasian dan terharu, lalu merenggut putus tali-tali yang mengikat kaki dan tangan Candra Dewi. Gadis ini menggosok-gosok kedua pergelangan tangannya terasa sakit sambil memeramkan matanya.

Ketika ia membuka kembali matanya, maka kedua mata itu menjadi basah dan air mata mengalir turun kembali dengan derasnya. Ia memandang kepada Indrayana bagaikan dalam mimpi, tidak merasa betapa pakaiannya telah hampir membuat ia telanjang sama sekali. Tiba-tiba ia berlari dan menjatuhkan diri berlutut di depan Indrayana.

“Kau…… kau telah menyelamatkan diriku dari bahaya yang lebih hebat dari maut…… Terima kasih, Raden, terima kasih…… semoga Dewata memberi berkah kepadamu…… ! “

Terharulah hari Indrayana melihat kelakuan gadis ini. Ia maklum akan perasaan gadis ini, yang telah berada di tepi jurang kehancuran dan kehinaan yang akan memusnakan kesucian dan kehidupannya. Ia menyentuh rambut yang halus itu dan berkata,

“Diajeng Dewi, sudahlah jangan menangis, betulkan letak pakaianmu dulu……“

Sambil berkata demikian, Indrayana menutup kedua matanya. Tak tahan ia melihat keindahan ini terbentang di depan matanya. Melihat para penari yang bertelanjang bulat tadi, ia merasa jijik dan muak, akan tetapi kini melihat Candra dewi berlutut di depannya dengan pakaian hampir telepas dari tubuh ia merasa betapa lututnya menjadi lemas dan dadanya berdebar keras.

Sementara itu, ketika mendengar ucapan Indrayana ini, barulah Candra Dewi sadar akan keadaannya. Mukanya menjadi merah sekali dan cepat-cepat ia mengerling kepada wajah pemuda itu, ia menarik napas dan makin merahlah mukanya ketika melihat betapa pemuda itu berdiri sambil memejamkan matanya. Ia cepat-cepat membetulkan dan memakai pakaiannya kembali, diikat erat-erat dengan kembennya kemudian ia berkata,

“Dimana Raden Pancapana ?“

Candra Dewi mengangguk, tak kuasa menjawab karena jengah dan malunya, sama sekali tidak ingat bahwa Indrayana sedang memejamkan matanya,.

“Eh, bagaimana, diajeng ? Sudah….. sudah selesaikah berpakaian ?“

Baru dara itu teringat bahwa anggukan kepalanya tadi tentu saja tidak terlihat oleh Indrayana !

“Su…… sudah,“ jawabnya sambil menundukkan muka.

Indrayana membuka matanya dan cepat memegang tangannya.
“hayo kita lekas keluar dari sini ! Selama belum keluar dari bangunan ini, bahaya masih tetap mengancam kita ! Kakangmas Pancapana menunggu diluar !“

Tiba-tiba terdengar suara ribut-ribut di luar kamar itu. Indrayana cepat menarik tangan Candra Dewi dan diajaknya keluar. Ternyata ketika Pancapana sedang meringkus serigala hitam yang tak dapat berkutik dalam pitingannya tadi, tiba-tiba datang lima orang pendeta yang duduk di dekat patung Batari Durga di ruang tarian itu.

Mereka ini datang karena selain terlalu lama menanti datangnya Candra Dewi yang di jemput oleh ketiga orang penari itu, juga mereka mendengar suara serigala hitam yang mencurigakan.

“Orang nekad dari mana berani mengotorkan tempat kami yang suci ?“ bentak seorang antara lima pendeta itu yang segera maju menyerang Pancapana.

Pemuda ini melihat datangnya serangan kelima orang pendeta itu cukup hebat dan berbahaya, segera mengangkat tubuh serigala hitam dan melontarkan binatang yang kebal itu ke arah para penyerangnya.

Kelima orang pendeta itu yang merasa dirinya telah bersih dan suci, tentu saja tidak mau bertubrukan dengan tubuh serigala hitam dan sebagai murid-murid Bagawan Siddha Kalagana yang telah di percaya dan memiliki kepandaian yang lumayan, mereka cepat mengelak, bahkan seorang diantara mereka memukul ke arah leher serigala hitam itu dengan tangan dimiringkan.

“ngek ! “ sekali pukul saja binatang itu terlempar dan rebah tak berkutik lagi karena pingsan !

Pancapana terkejut sekali melihat hal ini. Dua kali pukulannya yang amat ampuh, bahkan bacokan pedangnya dan tusukan keris Indrayana, tak berhasil merobohkan binatang itu, akan tetapi dengan sekali tampar saja pendeta ini dapat membuat binatang itu pingsan, sungguh dapat di bayangkan betapa saktinya pendeta ini.

Ia tidak tahu bahwa sesungguhnya bukan demikianlah halnya. Anjing hutan itu bukan roboh karena saktinya pukulan si pendeta, akan tetapi, sebagai murid Begawan Siddha Kalagana, pendeta ini telah tau letak rahasia kekebalan serigala hitam tadi, maka bagi dia dan kawan-kawannya, serigala hitam itu tidak memiliki kekebalan lagi.

Dengan teriakan-teriakan marah, kelima orang pendeta itu menyerbu Raden Pancapana dan pada saat itulah Indrayana dan Candra Dewi keluar dari kamar itu. Melihat betapa Pancapana dikeroyok oleh lima orang pendeta, Indrayana berseru marah dan menerjang ke depan.

Kelima orang pendeta itu sama sekali bukan lawan Indraana dan Pancapana yang memiliki pukulan keras dan telapak tangan panas. Dalam beberapa gebrakan saja, tubuh kelima orang pendeta itu bergulingan dan bertumpuk menjadi satu dengan kepala benjol, mata biru dan tulang rusuk patah!

Banjir Darah di Borobudur







No comments: