Ads

Friday, October 20, 2017

Banjir Darah di Borobudur Jilid 11

Berkat pertolongan Panembahan Bayumurti Indrayana dapat meloloskan diri dari cengkraman Maha Wiku Dharmamulya dan rombongannya. Raden Pancapana yang ternyata gagah perkasa itu bersama dara jelita Candra Dewi mentaati pesan Sang Panembahan, ikut pergi dengan Indrayana untuk bersama-sama menghadap Sang Pertapa Begawan Ekalaya di Muria.

Kalau saja di antara mereka tidak terdapat seorang dara seperti Candra dewi, tentu Indrayana dan Raden Pancapana telah mengerahkan kepandaian mereka. Akan tetapi sungguhpun Candra Dewi adalah keturunan seorang ahli tapa yang sakti, tetap saja ia merupakan seorang wanita yang halus dan lemah lembut. Kulit telapak kakinya demikian tipis dan halus sehingga dara ini berjalan dengan muka tunduk, memilih tempat yang rata dan halus untuk kakinya berpijak, berjalan dengan langkah tenang dan halus tidak tergesa-gesa.

Kedua taruna itu terpaksa berlaku sabar, mengiringkannya dengan perlahan dan perjalanan itu seakan-akan merupakan perjalanan tamasya belaka, sekali-kali bukan perjalanan orang-orang yang diburu musuh.

Oleh karena itu, perjalnan yang amat sukar itu makan waktu lama sekali. Namun, betapapun sukar dan jauhnya perjalanan, candra Dewi memperlihatkan bahwa darah pertapa yang tahan menderita mengalir di dalam tubuhnya. Tak pernah terdengar keluhan dari bibirnya yang berbentuk indah, tak pernah keningnya yang halus itu berkerut, bahkan jarang sekali ia mengeluarkan kata-kata kalau tidak untuk menjawab sesuatu pertanyaan.

Juga Raden Pancapana orangnya pendiam, betul-betul bersifat seorang ksatria utama, matanya bersinar-sinar tajam, bibirnya tersenyum ramah, akan tetapi jarang sekali bicara. Melihat keadaan kedua orang kawan seperjalanannya ini, Indrayana merasa kurang enak. Telah setengah hari mereka berjalan tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Ia menjadi petunjuk jalan dan kedua orang itu hanya mengikutinya saja kemana ia pergi !

Akhirnya dia tidak dapat menahan sabar lagi, dan mengambil keputusan harus memperkenalkan diri, harus mengetahui keadaan mereka dan menceritakan keadaannya sendiri lebih dulu agar hubungan mereka tidak sedemikian tawar. Tiba-tiba ia menunda perjalanannya dan berpaling kepada kedua orang kawan seperjalanan itu sambil tersenyum dan berkata

“Maafkan aku, Raden Pancapana dan engkau juga, diajeng Candra Dewi. Kalau tidak berkeberatan, marilah kita beristirahat sebentar, karena diajeng Candra Dewi tentu lelah dan lapar. “

Dengan sepasang matanya yang bening memancar dari balik bulu matanya yang lentik, Candra Dewi memandang kepada Indrayana dan berkata menahan senyum,

“Aku tidak lelah dan juga tidak lapar. “

Indrayana tertegun dan merasa serba canggung. Benar-benar gadis yang kuat dan tahan uji, pikirnya. Namun ia tak mau kalah dan bahkan duduk di atas rumput di pinggir jalan, di bawah pohon yang teduh.

“Sesungguhnya, akulah yang lelah dan lapar. Dan…… menurut pendapatku yang bodoh, agaknya sudah sepatutnya kalau kita bertiga berkenalan lebih erat, karena bukankah kita telah menjadi kawan-kawan senasib sependeritaan, sahabat-sahabat seperjalanan dan kelak akan menjadi saudara seperguruan pula ? “ Ia membalas pandang mata Raden Pacapana yang tajam menatapnya, lalu berkata lagi, “Harap maafkan aku yang kasar dan bodoh. Sesungguhnya, berdiam-diam seperti ini tak enak bagiku, aku sudah biasa bergembira. Biarlah kuceritakan keadaan diriku agar kalian dapat mengenalku lebih baik. “






“Kami sudah tahu siapa adanya dirimu, kawan, “ kata Raden Pancapana. “Engkau adalah Raden Indrayana, putera dari Wiku Dutaprayoga yang menjadi ahli keris dari Kerajaan Syailendra !”

Indrayana tertawa girang, lalu berkata jenaka,
“Ah ! Ini namanya tidak adil ! Kalian sudah mengetahui keadaanku sedangkan aku sama sekali belum tahu siapakah sebenarnya kalian ini ! “

Raden Pancapana lalu duduk pula di atas sebuah batu tak jauh dari Indrayana dan dengan matanya memberi isyarat kepada Candra Dewi untuk duduk pula di atas rumput, lalu berkata,

“Indrayana, engkau adalah putera seorang wiku Agama Buddha dan menjadi hamba dari Kerajaan Syailendra yang besar dan berpengaruh ! Untuk apakah engkau hendak mengenal orang-orang Mataram yang kecil seperti kami ? Bukankah engkau sudah tahu bahwa aku adalah murid dari panembahan Bayumurti dan diajeng Candra Dewi ini adalah puterinya ? “

Dengan amat heran Indrayana menatap wajah Pancapana dan ia menjadi terheran sekali melihat betapa pemuda itu bersungguh-sungguh dengan ucapannya tadi. Tak terasa lagi Indrayana melompat bangun dan berkata dengan penasaran,

“Eh, eh, bagaimanakah ini ? Mengapa orang macam aku disebut besar karena hanya menjadi hamba dari Kerajaan Syailendra dan orang-orang seperti kalian menganggap diri kecil karena menjadi hamba Kerajaan Mataram ? Janganlah bersikap demikian, kawan, kita sama-sama manusia yang hanya berbeda agama, akan tetapi sampai di manakah perbedaan itu ? Anggapan kita sendiri juga yang membedakan, kawan. Hanya faham yang berbeda, akan tetapi tujuannya hanya satu ! Adakah agama yang mengajarkan keburukan ? Adalah agama atau filsafat yang mendorong penganutnya melakukan kejahatan ? Tidak ada ! Semua memberi pelajaran baik, dorongan ke arah perbuatan baik, menjunjung tinggi kegagahan, kebajikan kejujuran, dan kemanusiaan. Semua tergantung kepada manusia sendiri, kawan, tergantung kepada perbuatan si penganut agama. Betapapun tinggi dan pelajaran suci sesuatu agama, kalau yang mempelajarinya itu seorang yang beriman bejat, takkan ada gunanya sama sekali !! “

Indrayana bicara dengan penuh nafsu menggelora. Ia berdiri dengan kedua kaki terpentang lebar, dengan dada terangkat, kepala dikedikkan dan sepasang matanya memandang tajam, bukan kepada kedua orang itu, akan tetapi ke atas, seakan-akan kepada langit !

Memang, dalam mengucapkan kata-katanya tadi, Indrayana merasa menyesal. Semenjak peristiwa yang dialami di Candi Lokesywara, ia merasa kecewa sekali. Kecewa melihat betapa pendeta kepala, yakni Maha Wiku Dharmamulya, yang dianggap paling tinggi, paling suci dan ahli dalam Agama Buddha, melakukan perbuatan yang mengecewakan hatinya.

Sebaliknya ia merasa kagum melihat sepak terjang Panembahan Bayumurti ia menjadi binggung mengapa pendeta kepala dari agamanya demikian jahat sedangkan Pendeta Mataram demikian bijaksana. Maka terbukalah matanya dan teringatlah ia akan petuah ayahnya yang tiba-tiba meluncur keluar dari mulutnya ketika ia merasa penasaran melihat sikap Pancapana dan Candra Dewi.

Pancapana dan Candra Dewi melihat sikap Indrayana seperti itu, memandang kagum dan seketika itu berubahlah sikap mereka. Pandangan mata Candra Dewi mengandung kekaguman yang amat mesra, sedangkan Pancapana lalu melangkah maju dan merangkul pundak Indrayana.

“Indrayana, betul seperti kata paman Panembahan Bayumurti. Kau adalah seorang ksatria yang gagah perwira, keturunan seorang pertapa yang bijaksana. Aku girang sekali dapat berkenalan dengan kau yang gagah ini. Indrayana. Mendengar ucapanmu tadi, lenyaplah segala keraguanku, Indrayana dan biarlah aku mengaku bahwa sesungguhnya aku adalah…… “

“Raden Pancapana…… ! “ Tiba-tiba Candra Dewi menegur pemuda itu sambil memandang heran.

Pancapana tersenyum dan setelah pemuda ini tersenyum, lenyaplah yang tadinya nampak pendiam dan bersungguh-sungguh itu. Wajahnya berubah terang dan berseri, cakap sekali.

“Tidak apa, Candra, Indrayana, bagaimana kalau kau dan aku mengangkat saudara ? Aku lebih tua dari padamu, maka kalau kau setuju, mulai sekarang, kau adalah adikku, dimas Indrayana ! “

Bukan main besar dan girang hati Indrayana. Ia memegang tangan Pancapana erat-erat, lalu berkata sambil tersenyum,

“Baiklah kakangmas Pancapana, aku bersumpah akan tetap setia dan membelamu seperti seorang adik kandungmu sendiri ! “

Kini wajah Candra Dewi memerah dan matanya berseri-seri girang.
“Kalau begitu, tentu menjadi lain persoalannya dan tentu saja tak perlu ada rahasia lagi yang harus disembunyikan, “ katanya dengan senyumnya yang manis bagaikan madu.

“Dengarlah baik-baik. Dimas Indrayana, “ kata Pancapana sambil menarik tangan Indrayana sehingga mereka duduk kembali di atas rumput, “Sesungguhnya aku adalah putera dari Rama Prabu Sanjaya di Mataram yang telah almarhum. “

Terbelalak mata Indrayana memandang kepada pemuda itu.
“Kau…… pangeran Pati dari Mataram ? “ ia lalu menjatuhkan diri berlutut dan hendak menyembah kepada Pangeran Pancapana, akan tetapi Pangeran Pancapana memegang kedua pundaknya dan mencegah Indrayana melakukan penghormatan ini.

“Dengar Indrayana. Tak perlu engkau melakukan banyak upacara seperti ini. Bukankah engkau sudah menjadi adikku sendiri ? bersikaplah biasa, karena sesungguhnya, selain Paman Panembahan Bayumurti, diajeng Candra Dewi, dan engkau sendiri, tidak ada orang lain di seluruh Mataram yang mengetahui hal ini ! “

Pangeran Pancapana lalu menceritakan pengalamannya dengan suara mengharukan. Sesungguhnya, ketika Kerajaan Mataram masih berada di bawah asuhan Sang Prabu Sanjaya, kerajaan itu menjadi kuat, makmur, dan mempunyai wilayah yang amat luas. Bahkan Kerajaan Syailendra tadinya mengakui kedaulatan Sang Prabu Sanjaya sehingga Kerajaan Syailendra boleh dibilang berada dibawah kekuasaan Mataram. Akan tetapi, kebesaran Mataram itu agaknya hanya tergantung kepada kepribadian Sang Prabu Sanjaya, karena setelah Sang Prabu Sanjaya meninggal dunia, kejayaan Mataram mengalami kemunduran hebat.

Tahta Kerajaan dipegang oleh Sang Prabu Panamkaran seorang pangeran yang menjadi adik misan mendiang Sang Prabu Sanjaya. Hal ini terjadi oleh karena putera Sang Prabu Sanjaya, yaitu Pangeran Pancapana, ketika ramandanya meninggal dunia, masih muda sekali. Bahkan ada usaha gelap dari para pengikut Sang Prabu Panamkaran untuk melenyapkan dan membunuh Pangeran Pati Pancapana ini. Baiknya masih banyak hamba yang setia kepada mendiang Prabu Sanjaya, di antaranya adalah Panembahan bayumurti yang segera membawa pergi Pangeran Pancapana dan mendidiknya sebagai putera sendiri, bersama seorang puterinya, yaitu Candra Dewi.

Semenjak baginda Panamkaran duduk di tahta Kerajaan Mataram, makin lemahlah kedudukan kerajaan ini. Banyak raja-raja kecil melepaskan diri dari kekuasaan mataram, sehingga Kerajaan Mataram yang tadinya besar dan luas sekali wilayahnya itu, makin lama makin kecil dan tak berarti.

Raja-raja lain berani menentangnya, di antaranya adalah Kerajaan Syailendra berdekatan, maka kerajaan inilah yang akhirnya mempengaruhi Mataram dan banyak daerah yang tadinya menjadi daerah Mataram, perlahan-lahan menjadi daerah Syailendra terutama sekali karena berkembangnya Agama Buddha yang berpusat di Kerajaan Syailendra.

Pancapana yang semenjak kecil dibawa oleh Panembahan Bayumurti, mempelajari banyak ilmu kepandaian, aji kesaktian, bahkan mempelajari seni pahat dan setelah dewasa, pangeran ini pandai sekali membuat patung-patung yang indah. Terhadap Panembahan Bayumurti ia menganggap seperti seorang ayah sendiri, dan terhadap Candra Dewi, ia menganggap sebagai adik kandung sendiri.

Baik Panembahan Bayumurti, maupun Candra Dewi dan Pancapana sendiri, menutup rapat-rapat rahasia ini sehingga pemuda yang tampan itu dianggap oleh orang lain sebagai seorang pemuda murid Panembahan Bayumurti belaka, dan nama Pangeran Pati Pancapana telah dilupakan orang dan disangkanya telah terbunuh pengikut-pengikut Baginda Panamkaran.

Setelah bertemu dengan Indrayana, barulah Pancapana membuka rahasia, karena ia merasa suka dan percaya penuh kepada Indrayana. Tentu saja Indrayana merasa terharu sekali mendengar riwayat pangeran itu, dan untuk beberapa lama ia hanya memandang dengan terharu. Kemudian ia berkata,

“Kakangmas Pancapana, sudah terang bahwa kaulah putera mahkota dan menjadi Pangeran Pati dari Kerajaan Mataram. Mengapa kau tidak menuntut hakmu ? Kaulah yang seharusnya menjadi raja mataram, bukan raja yang sekarang ini. “

Pangeran Pancana tersenyum.
“Memang sudah menjadi cita-cita setiap orang gagah untuk mendapatkan haknya, terutama sekali kalau kulihat betapa Kerajaan Mataram makin lama makin lemah dan mengecil, menjadi kerajaan boneka yang mudah dipermainkan oleh kerajaan-kerajaan lain. Aku maklum bahwa Kerajaan Mataram yang dulu menjadi sebuah kerajaan yang terbesar, terpandang tinggi, kaya raya dan mempunyai rakyat yang hidup makmur, setelah Rama Prabu meninggal, sekarang menjadi sebuah kerajaan yang amat lemah, dipandang rendah, miskin dan rakyatnya papa sengsara. Hatiku perih kalau melihat keadaan ini dan di dalam lubuk hatiku, aku tentu akan bertindak untuk memulihkan kembali kejayaan Mataram. Namun, menurut petunjuk dari Paman Panembahan Bayumurti, aku harus bersabar dan sekarang belum tiba waktunya. Aku amat patuh atas nasihat ini, karena Paman Panembahan, selain menjadi guruku yang amat mulia, juga kuanggap sebagai pengganti orang tuaku yang harus kutaati. “

Banjir Darah di Borobudur







No comments: