Ads

Thursday, October 19, 2017

Banjir Darah di Borobudur Jilid 06

“Aku adalah seorang kelana yang hendak menikmati keindahan alam mayapada dimana saja kedua kakiku membawa aku tiba. Namaku dan tujuanku tidak ada artinya dan tidak ada hubungannya dengan kalian semua, “ jawab Indrayana.

“Ha, ha, ha ! Tinggi hati dan angkuh, tanda darah bangsawan ! Bocah bagus, nama dan tujuanmu memang tidak perlu bagi kami, akan tetapi memang tidak demikian dengan patung yang engkau pondong itu ! Patung itu indah sekali dan cantik jelita, kami amat perlu dengan patung-patung macam itu. Engkau harus meninggalkan patung itu kepada kami, baru engkau boleh melanjutkan perjalananmu melalui hutan ini ! “

Indrayana merasa marah sekali mendengar patungnya diminta. Orang boleh minat apa saja dari padanya, segala harta benda yang ia miliki dapat ia berikan kepada orang dengan rela dan senang hati, akan tetapi patung itu? Seakan-akan orang minta kekasihnya !

“Aku pernah mendengar bahwa Srigala Hitam hanya memuja seorang Dewi, yaitu Betari Durga. Patung ini bukan patung Sang Betari Durga, untuk apa kalian minta ? “

Reksasura tertawa terbahak-bahak dan berkata,
“memang, Betari Durga adalah sembahan kami, pemberi kesaktian dan kekuatan, pembasmi musuh-musuh kami. Akan tetapi, Sang Betari sebagai Ratu tertinggi dan terbesar, mempunyai banyak pelayan dan pengiring yang terdiri dari dara-dara jelita. Patung ini cukup cantik jelita dan menarik hati, pantas menjadi pelayan baru dari Sang Betari. Sayangnya tubuhnya tertutup pakaian, akan tetapi mudah saja, kami akan dapat menghilangkan pakaian yang menutupi tubuhnya yang indah itu ! “ Kembali Reksasura tertawa bergelak.

“Engkau menghina agama para Syailendra ! “ Indrayana membentak, “ berani benar engkau mengucapkan kata-kata kotor di hadapan arca Sang Dewi Tara, syakti dari Sang Lokesywara ! “

Kembali Reksasura tertawa bergelak, kini kawan-kawanya juga ikut menertawakan Indrayana.

“Anak muda, jangan kau mencoba untuk menipu atau menakut-nakuti kami. Di tempat kami banyak terdapat arca Dewi Tara yang indah-indah, dan kami sudah kenal baik kepadanya. Seperti juga lain dewi-dewi dan bidadari-bidadari serta dara-dara jelita, kesemuanya tidak ada kecualinya, menjadi abdi pelayan dari Sang Maha Batari Durga ! Dan patung yang kau pondong itu sungguhpun bentuk tubuhnya semontok bentuk tubuh Dewi Tara, akan tetapi wajahnya bukan wajah Dewi itu. Haha jangan kau hendak mencoba menipu kami, bocah bagus ! “

Indrayana teringat akan cerita orang bahwa kaum Serigala Hitam ini memang sudah terkenal sebagai pengumpul patung-patung wanita yang indah-indah dan cantik. Sudah sering kali merampoki candi-candi hanya untuk membawa lari patung-patung bidadari dan wanita cantik. Maka bukan hal yang mengherankan apabila reksasura itu faham betul akan bentuk dan wajah patung Dewi Tara.

“Memang patung ini telah dirubah. “ Indrayana mengaku terus terang, “akan tetapi perubahan ini bahkan menjadi pantangan besar bagi kalian untuk menjamah dan menghina patung ini. Ketahuilah, hai orang-orang sesat, bahwa patung itu adalah arca Kusumaning Ayu Pramodawardani. Sang puteri mahkota dari kerajaan Syailendra! Oleh karena itu, janganlah menggangguku dan biarkan aku lewat. Kalau kalian menghina patung ini berarti kalian berhianat kepada Sang Prabu dan puterinya ! “

Reksasura dan kawan-kawan saling pandang dan timbul sinar gembira pada mata mereka.






“Bagus ! Kebetulan sekali, anak muda, telah lama kmi mendengar kecantikan Puteri Pramodawardani. Sayang sekali tidak pernah ada patungnya yang dapat kami bawa untuk menghias candi kami. Sekarang kau membawa patung yang kami inginkan itu dan benar saja. Pramodawardani ternyata cantik jelita, tak kalah oleh dewi-dewi Khayangan lainnya. Serahkanlah patung itu kepada kami ! “

“Kau berani menghina junjunganmu ? “ bentak Indrayana.

“Tidak ada lain junjungan bagi kami kecuali Sang Maha Betari Durga !” jawab Reksasura,

“Keparat ! “ Indrayana tak dapat menahan marahnya lagi. “ Kalian berani menghadang perjalanan Raden Indrayana sama dengan sekawanan tikus berani menggangu seekor harimau ! “

“Babo-babo ! Sumbarmu seperti seorang jagoan, anak muda ! Benar-benar tidak kau serahkan patung itu kepadaku ? “

“Kalau belum pecah dada Indrayana tak mungkin kau akan menjamah patung yang suci ini “ ! jawab pemuda itu dengan gagah.

“Bocah sombong ! Kalu begitu, akulah yang akan membikin pecah dadamu !“

Orang ini bermuka hitam, berkepala gundul dan sepasang matanya bundar bagaikan jengkol. Setelah berseru keras, ia lalu menubruk maju dan menggunakan tangan kanannya menembak ( memukul dengan telapak tangan) dada Indrayana yang telanjang.

Tangan ini lebarnya hampir menyamai lebar dada Indrayana, kulit telapak tangan tebal dan keras, jari-jarinya sebesar pisang emas dan ketika tangan itu memukul, sambaran anginnya terasa meniup tanda bahwa tenaga pukulan itu hebat sekali.

Dengan pukulannya ini, si gundul bermuka hitam ini dapat merobohkan sebatang pohon yang sepelukan orang besarnya. Kalau yang ditembaknya itu dada orang lain, agaknya si muka tebal ini akan dapat membuktikan ancamannya tadi, akan tetapi kini ia menghadapi Raden Indrayana pemuda gemblengan yang semenjak kecil mempelajari ilmu kepandaian tinggi dan aji kesaktian dari ayahnya, seorang pertapa yang sakti.

Selain mempelajari ilmu kedigdayaan, juga Indrayana adalah seorang ahli tapa yang kuat dan tekun sehingga ia memperoleh kekuatan batin dan tenaga dalam yang tak kelihatan, akan tetapi yang jauh lebih besar kekuatannya daripada tenaga luar atau besar yang timbul dari otot-otot yang terlatih.

Ketika telapak tangan yang tebal dan lebar itu menghantam dada Indrayana terdegar suara, “Blek!!“ dan menurut pantasnya, dada Indrayana tentu akan remuk dan setidaknya tubuhnya akan terpental jauh karena tenaga dorongan yang luar biasa itu.

Akan tetapi, sungguh aneh, karena bukan saja tubuh Indrayana tidak bergeming seakan-akan tadi yang menyambar dadanya hanyalah seekor lalat belaka, bahkan lawannya segera menjerit kesakitan dan memegangi tangan kanan dengan tangan kirinya, Indrayana tentu saja tidak mau membiarkan dirinya dipukul tanpa membalas. Cepat bagai kilat menyambar, kakinya bergerak maju dan membuat gerakan dua kali, sekali dengan tangan kanan dan sekali dengan kaki kiri. Tangan kanannya itu dengan jari-jari terbuka menyodok lambung si muka hitam, sedang kakinya menyepak ke arah tulang kering lawan.

“Aduh…… aduh…… tobat, tobat…… ! “

Si gundul bermuka hitam itu mengeluh, sebentar memegang tangan kanan, sebentar menekan perut yang tiba-tiba menjadi mulas dan kedua kakinya berjingkrak karena tulang kering kakinya yang dimakan oleh tendangan Indrayana terasa sakit sekali menusuk jantung.

Dua orang anggota gerombolan itu menjadi marah dan cepat menerjang dari kanan kiri sambil memukul kepala dan tubuh Indrayana. Pemuda yang hanya melawan dengan satu tangan itu, karena tangan kirinya memondong patungnya, cepat mengelak dan mendoyongkan tubuh ke belakang, akan tetapi cepat pula menyusul ke kanan dan mengulur tangan kanan menjambak rambut penyerang dari kanan, kemudian pada saat penyerang dari kiri menyerbunya, ia menyentak keras dan menarik rambut lawan sebelah kiri yang mau menyerang.

“Bruk…… ! Aduh….. aduh….. ! “

Dua tubuh yang tinggi besar itu bertubrukan dan dengan cepat sekali kepala mereka saling membentur seperti dua buah kelapa besar dibenturkan. Seketika itu juga, benjol besar membengkak keluar dari bagian kepala yang diadu tadi membuat mata mereka gelap melihat bintang-bintang menari, kepala menjadi pening dan untuk kiri seperti orang mabuk berputaran bertubrukan sekali lagi tanpa disengaja dan keduanya roboh terlentang tak dapat bangun lagi.

Bukan main marahnya hati Reksasura melihat kekalahan tiga anak buah pasukan Serigala Hitam yang rata-rata memiliki tenaga dan kepandian bertempur yang lumayan, karena semuanya mendapat latihan. Bagaimana mungkin tiga orang kawannya itu roboh dalam segebrakan saja menghadapi anak muda yang masih pantas disebut anak-anak ini?

Reksasura tentu saja memiliki kepandaian yang jauh lebih tinggi daripada anak-anak buahnya, maka dengan hati penuh geram dan marah, ia lalu mencabut senjatanya yang mengerikan. Senjatanya ini adalah sebatang klewang yang amat lebar dan tajam, akan tetapi pada punggung klewang itu bukan rata seperti klewang biasa, melainkan bergigi tajam seperti gigi gerqji !

“Indrayana, cabutlah senjatamu kalau kau memang benar laki-laki ! “

Ucapan yang sebetulnya keluar karena kesombongan Reksasura ini, telah menolong nyawanya dari bahaya maut, karena kalau saja ia tidak berkata demikian, tentu Indrayana akan marah sekali dan akan membinasakannya. Pemuda ini menganggap betapapun juga Reksasura masih berwatak gagah dan tidak mau menyerang orang yang bertangan kosong dengan senjata tajam. Ia tersenyum dan sambil memeluk erat-erat patung yang dianggapnya Pramodawardani sendiri yang sedang dilindunginya, ia berkata,

“Reksasura, jangankan baru kau sendiri dengan senjatamu itu yang maju menyerangku. Birpun kau maju berbareng dengan semua anak buahmu dan mengeroyokku dengan seribu senjata, aku Raden Indrayana takkan mundur setapakpun dan tak usah mempergunakan senjataku ! Kau majulah ! “

Reksasura tak dapat menahan marahnya lagi.
“Kau orang Syailendra memang sombong ! Rasakan ketajaman senjataku ! “

Klewangnya menyambar ke arah leher Indrayana dalam serangan yang amat cepat dan hebat. Melihat kehebatan serangan ini, Indrayana maklum bahwa lawannya bukan orang lemah, maka ia berlaku hati-hati sekali. Dengan lincah ia melompat dan mengelak dari sambaran klewang itu, lalu membalas dengan pukulan tangan kanannya ke arah siku lawan yang sebelah kanan dan mengirim serangan selanjutnya bertubi-tubi dan cepat sekali sehingga klewangnya berkelebatan dan berkilauan.

Melihat gerakan lawannya, diam-diam Indrayana memuji juga sesungguhnya permainan klewang itu bukanlah ilmu sembarangan akan tetapi mempunyai gaya dan gerakan yang amat baik dan tangguh. Patung yang dipondongnya menghalangi pergerakannya untuk melepaskannya ia merasa enggan maka ia lalu mengambil keputusan untuk mempercepat jalannya pertempuran.

Tiba-tiba Indrayana berseru dan tubuhnya berkelebat cepat sekali, melebihi cepatnya gerakan klewang lawannya. Tentu saja Reksasura menjadi terkejut dan heran ketika tiba-tiba tubuh lawannya yang masih muda itu lenyap dan hanya nampak bayangannya saja berlompatan di sekelilingnya, sukar sekali untuk diserang bagaikan seekor burung srikatan yang gesit sekali.

Tiba-tiba Reksasura merasa siku lengan kanannya sakit sekali dan tangan itu seakan-akan menjadi lumpuh, maka terpaksa ia melepaskan klewangnya yang telah berpindah ke tangan Indrayana ! Reksasura hendak menyerang dengan kepalan tangannya, akan tetapi tiba-tiba tangannya terasa bukan main sakitnya sehingga terpaksa ia membatalkan niatnya dan hanya memegangi siku kanannya dengan muka meringis.

Anak buahnya yang melihat betapa senjata pemimpin mereka dengan cepat dan aneh telah terampas oleh pemuda itu, serentak maju mengeroyok dengan senjata mereka. Akan tetapi, sekali saja Indrayana memutar klewang rampasannya, terdengar suara nyaring dan empat batang golok lawan dan berterbangan dan patah menjadi dua !

Para pengeroyok lain melihat kehebatan ini menjadi gentar dan mereka mundur tanpa dikomando lagi. Indrayana tersenyum dan melemparkan klewang itu ke atas, lalu menggerakkan tangannya dan ketika klewang itu melayang turun, ia mengetok tiba-tiba pada tengah-tengah klewang itu dan “ krek ! “ patahlah klewang mengerikan itu tepat pada tengahnya !

“Senjata buruk ! hanya pantas untuk menakut-nakuti anak kecil saja!“ kata Indrayana.

“Reksasura, biarlah pengalamn ini kau jadikan pelajaran dan peringatan agar lain kali jangan engkau sekali-kali berani menyebut nama Kusumaning Ayu Puteri Mahkota Pramodawardani“

Setelah berkata demikian, Indrayana membawa patungnya dan melanjutkan perjalanannya.

“He, Indrayana ! Engkau telah menghina kami pasukan Srigala Hitam, kau ingat-ingatlah bahwa akan tiba saatnya kami membalas dendam !“

Akan tetapi Indrayana tidak mau mendengar ancaman ini dan melanjutkan perjalanannya. Ia mengusap pipi patung itu dan berkata perlahan,

“Manisku Pramodawardani, jangankan baru orang-orang kasar itu saja hendak merampasmu, biar Dewa sekalipun takkan dapat mengambil engkau dariku semudah itu !“

Banjir Darah di Borobudur







No comments: