Ads

Thursday, October 19, 2017

Banjir Darah di Borobudur Jilid 05

“Sang Prabu, lihatlah baik-baik. Apakah patung ini masih tetap harus ditaruh di belakang ?“

Sang Prabu Samaratungga memandang dan berdebar jantungnya. Juga semua orang yang memandang kepada patung itu mengeluarkan seruan tertahan. Patung itu kini telah berubah raut mukanya, dan persis sekali menyerupai wajah Sang Kusumaning Ayu Pramodawardani! Memandang arca itu seakan-akan melihat Sang Puteri Mahkota sendiri ! Akan tetapi maha Raja Samaratungga tetap berlaku tenang dan sekali lagi menegaskan,

“Diapun harus berada di belakang, itulah kewajiban seorang wanita sejati ! “

Setelah berkata demikian, Sang Prabu memeramkan matanya sejenak ia telah mengeluarkan putusan bagi patung itu, bagi puterinya sendiri, dan ia tetap pada pendiriannya. Memang puterinya adalah puteri mahkota yang akan menggantikan kedudukannya, akan tetapi tetap saja puterinya harus menikah dan setelah menjadi seorang isteri, adalah kewajiban yang terutama untuk melayani suami, untuk membereskan keadaan di dalam dan di belakang rumah. !

Panembahan Bayumurti tertawa bergelak,
“Bagus, Sang Prabu, bagus ! Cipta pendeta Sabda ratu, dua hal yang tak dapat diingkari lagi kenyataannya ! Nah, selamat tinggal ! “

Maha Wiku Dharmamulya semenjak tadi telah menahan amarahnya, kini melihat Panembahan Bayumurti hendak pergi, ia cepat menghadang dan membentak,

“Dukun lepus tukang tenung ! Setelah kau melakukan kegaiban sulap dan menipu kami, jangan harap dapat pergi begitu saja ! “

Sambil berkata demikian, Maha Wiku Dharmamulya lalu mengulur tongkatnya dipukulkan kearah kepala panembahan itu. Bayumurti maklum akan kehebatan dan keampuhan tongkat ini. Biarpun ia memiliki kesaktian yang tinggi, namun berbahayalah apabila tongkat itu sampai mengenai tubuhnya. Ia cepat melompat jauh ke belakang dan sambil tersenyum-senyum ia melarikan diri.

“Kejar….! Tangkap….!! “ seru Maha Wiku Dharmamulya dengan geramnya.

Para pengawal dan para wiku segera bangun dan mengejar panembahan Bayumurti. Akan tetapi gerakan panembahan Bayumurti luar biasa cepatnya bagaikan tiupan Sang Bayu, maka sebentar saja para pengejarnya telah tertinggal jauh sekali.

Kalau semua orang memperhatikan dan menunjukkan pandangan matanya kepada panembahan yang aneh itu, adalah Indrayana seorang hanya mengerling sebentar saja, karena ia tidak pernah melepaskan pandang matanya dari tirai sutera hijau pupus yang menyembunyikan para puteri, terutama Puteri Mahkota.

Pada saat keributan terjadi, tiba-tiba tirai itu tersikap sedikit dan tersembullah sebuah lengan tangan. Terbelalak mata Indrayana melihat lengan itu. Alangkah indahnya lengan itu, sempurna lekuk-lekuknya, kulitnya halus putih kekuningan bagaikan gading gajah yang tiada cacat. Dari lengan yang indah itu seakan-akan keluar cahaya yang indah dan keharuman semerbak.

Tak salah lagi, pikirnya, inilah tangan lengannya ! Lengan Kusuma Jelita Pramodawardani! Siapa lagi orangnya yang mempunyai lengan seindah itu ? Puteri biasa saja, bahkan bidadari sekalipun, tak mungkin mempunyai lengan seindah itu. Ia memandang ke kanan kiri dan melihat semua orang tengah memperhatikan kepada pertapa itu.






Cepat Indrayana melompat bagaikan seekor burung srikatan memasuki pintu besar panggung itu dan sebelum para puteri yang berada di dalam sempat menghalanginya, ia memegang tirai sutera hijau pupus itu dan membukanya!

Wajah cantik jelita, elok ayu, dan agung yang menyambutnya dari balik tirai, wajah orang pemilik lengan itu, benar-benar membuat Indrayana bagaikan terkena hikmah. Ia berdiri setengah berlutut, tangan kanan memegang ujung tirai, tangan kiri menekan dada karena dadanya serasa akan pecah tak kuat menahan degup jantungnya yang menggelora.

Mata itu bagaikan bintang pagi, indah cemerlang bersinar lembut penuh kemesraan. Dan bibir itu ! Belahan kulit tipis halus membayangkan daging dan darah yang merah segar membasah dengan bentuk yang indah sempurna. Indrayana terpesona dan hanya memandang dengan mata terbelalak dan mulut menganga.

Pramodawardani juga terkejut dan tercengang melihat tirai itu dibukakan orang sedemikian tiba-tiba dan ia memandang kepada pemuda yang sedang berlutut di depannya itu tanpa berkata-kata. Hatinya kagum melihat ketampanan dan keberanian pemuda ini, akan tetapi pikirannya marah menyaksikan kekurangajarannya ini.

“Dia adalah Raden Bagus Indrayana, putera dari Sang Wiku Dutaprayoga.“ kata seorang dara pelayan sambil memandang kagum.

Memang Indrayana amat terkenal diantara dara pelayan dan hampir semua perawan di kotaraja, kecuali puteri-puteri kedaton dan bangsawan tinggi, telah tahu pula siapa adanya Sang Bagus Indrayana yang namanya saja apabila disebut orang dapat mempercepat jalannya darah dalam tubuh mereka.

Pramodawardani pernah mendengar nama pemuda ini desebut-sebut oleh para pelayannya yang memuji-muji pemuda itu. Kini mendengar nama ini ia sekali lagi memandang kepada Indrayana dan berkata sambil mencibirnya yang merah, membuat wajahnya tampak lebih manis lagi.

“Hm, begini sajakah macamnya Indrayana? Pemuda kurang ajar, untuk kelancangan ini kau akan dihukum penggal kepala ! “

Dalam keadaan masih terpesona, Indrayana tersenyum dan menjawab,
“Jangankan hanya kuhum penggal kepala, biarpun akan hancur lebur seluruh tubuh, hamba rela dan puas. Nikmat dan bahagia yang tercurah kepada hamba dalam pertemuan ini, jauh lebih besar daripada segala macam hukuman ! “

Pada saat itu, karena tirai dibuka, barulah Pramodawarnadi dapat memandang patung Dewi Tara yang berada di atas pintu depan candi itu, sedemikian pula para pelayannya dan juga puteri lain. Terdengar jerit tertahan ketika puteri itu memandang wajah patung itu dan juga para pelayan berseru kaget dan heran.

“Itu adalah patung Kusumaning Ayu Pramodawardani sendri ! “ bisik seorang pelayan dengan mata terbelalak.

Memang, persamaan muka patung itu dengan Pramodawardani amat mengherankan. Baru sekarang pula Indrayana memalingkan muka dan memandang ke arah patung itu dan diapun tertegun. Pada saat itu, para perwira dan juga Maha Wiku Dharmamulya melihat bahwa Indrayana berada di depan tirai penutup ruang tempat para puteri, maka bukan main marah para wiku. Juga Sang Prabu Samaratungga sendiri melihat hal ini menjadi marah.

“Pemuda dari manakah berani berlaku kurang patut dan melanggar kesusilaan ?“ serunya marah dan beberapa orang prajurit telah melompat ke atas untuk menangkap pemuda itu.

Pramodawardani sendiri cepat menarik tirai yang masih terpegang oleh Indrayana sehingga tirai itu tertutup kembali. Indrayana maklum akan pelanggaran yang dilakukannya, maka sambil tersenyum-senyum bahagia dan kedua matanya bersinar-sinar penuh seri gembira, ia melompat keluar panggung.

Dengan hormat dan khidmat ia menyembah di hadapan Sang Prabu Samaratungga, kemudian ia melompat lagi keluar candi. Para wiku dan tamtama mengejar hendak menangkapnya, sungguhpun Sang Prabu sendiri belum memberi perintah untuk menangkap pemuda itu. Indrayana mengulurkan tangan, mengambil patung Dewi Tara yang diletakkan oleh Panembahan Bayumurti tadi di atas pintu, lalu memondongnya dan melompat pergi dari tempat itu.

“Indrayana ! “ terdengar suara ayahnya berseru menegur.

Indrayana berpaling dan tersenyum kepada ayahnya.
“Ayah, aku hendak menyusul Eyang Begawan !“ dan pemuda itu terus melanjutkan larinya yang amat cepat sehingga percuma saja para perwira dan tamtama mengejarnya.

Maka Wiku Dharmamulya dan para wiku lainnya lalu menyerbu dan menangkap Wiku Dutaprayoga, lalu diseretnya ayah Indrayana itu di depan Maha Raja Samaratungga.

“Gusti Prabu, Wiku Dutaprayoga harus diberi hukuman yang layak ! “ Seru Wiku dengan amat marahnya, “Sudah terang dia mempunyai hubungan dengan pertapa yang datang mengacau tadi, dan mungkin dia yang merencanakan bersama untuk menghina Candi Sang Lokesywara yang suci. Kedua kalinya, dia sengaja menghalangi hamba ketika hamba hendak memberi hukuman kepada pertapa keparat tadi, tanda bahwa memang dia benar-benar mempunyai hubungan, karena dahulu ia adalah kawan sekepercayaan dan seilmu. Ketiga, putera tunggalnya telah menjalankan pula melanggar adat berani menghina dan membuka tirai tempat peristirahatan para puteri, dan bahkan berani pula mencuri dan membawa lari patung ! “

Kali ini, Maha Raja Samaratungga tak dapat menahan sabar lebih lama lagi. Kekurangajaran Indrayana yang berani mengganggu puterinya sudah amat keterlaluan, akan tetapi keberaniannya mengambil patung itu, melewati batas.

“Masukkan dia dalam kurungan dan carilah pemuda itu ! “ katanya singkat, kemudian dengan wajah muram raja ini lalu memberi tanda untuk kembali ke dalam istana.

Indrayana yang membawa patung berlari cepat bagaikan seekor rusa muda, meninggalkan Ibu Kota Syailendra. Pemuda ini sama sekali tak pernah menyangka bahwa perbuatannya yang amat berani itu menyebabkan ayahnya ditangkap dan dikurung.

Indrayana berlari menuju ke utara, sepanjang Kali Praga, lalu menyusur pantai Kali Elo. Hati pemuda ini girang dan bahagia sekali. Di depan matanya terbayang wajah dan bentuk tubuh Sang Dyah Ayu Pramodawardani, puteri mahkota yang cantik jelita melebihi segala Bidadari Khayangan itu. Entah berapa kali sudah Indrayana memandangi wajah patung yang dipondongnya berhenti berlari, membelai-belai patung itu, dipeluk dan diciuminya dengan penuh kasih sayang sampai membisikkan dengan nama mesra.

“Pramodawardani…… adinda sayang…… ! Alangkah cantik manis wajahmu, alangkah halus kulitmu……. Sinar matamu menembus jantungku, senyum bibirmu meruntuhkan imanku ! Aduh, adinda…… Wardani……. Kekasihku……. !“

Ia lalu memeluk leher dan pinggang patung itu dan mendekap dada patung yang montok itu erat-erat pada dadanya sendiri, lupa sama sekali akan keadaan di sekelilingnya dan merasa seakan-akan patung itu adalah Sang Puteri sendiri.

Akan tetapi, kalau kemudian ia merasa betapa dada patung itu tidak membalas getaran gelora dadanya, betapa tangan patung itu tidak membalas belaian dan bibir serta hidung patung itu tidak membalas ciumannya, sadarlah ia bahwa yang sedang dibelai, dicumbu dan digandrungi itu tak lain hanyalah sebuah arca batu yang mati.

Setelah demikian, baru pemuda itu duduk di dekat patungnya sambil melamun dengan pandangan sayu dan wajah muram. Bagaimana ia dapat tergila-gila kepada seorang Puteri Mahkota, calon pengganti Sang Prabu Samaratungga, calon ratu. Sedangkan ia hanya putera seorang pembuat keris, putera seorang wiku sederhana. Tak terasa lagi Indrayana menutup mukanya dengan kedua tangan dan betapapun ia telah menguatkan hatinya, tetap saja dari celah-celah jari tangannya nampak air mata menitik keluar.

Betapapun juga, arca batu itu merupakan hiburan baginya, merupakan penawar rindu. Kepada patung ini ia bicara, membuka segala rahasia hatinya, berlaku seakan-akan patung itu adalah Pramodawardani sendiri. Seakan-akan ia sedang melakukan perjalanan yang amat menyenangkan dengan puteri kekasihnya itu.

Pada suatu hari, di dalam perjalanannya menuju ke Gunung Muria menyusul eyangnya itu, Indrayana tiba di lereng Bukit Ungaran. Ia tidak mau menunda perjalanannya, masuk keluar hutan dan melompati jurang-jurang yang menghadang di depannya. Ketika ia masuk pula ke dalam sebuah hutan yang amat liar dan penuh dengan pohon-pohon jambe berlompatan ke luar belasan orang tinggi besar.

Melihat pakaian mereka yang serba hitam itu, teringatlah Indrayana akan cerita orang bahwa di dalam hutan-hutan yang liar terdapat segerombolan perampok yang amat besar pengaruhnya dan amat banyak pengikutnya, yaitu yang menamakan dirinya Gerombolan Serigala Hitam ( Jambuka Ireng ). Menurut khabar yang didengarnya, gerombolan ini dikepalai oleh seorang Pendeta hindu yang meyembah Betari Durga dan yang berkawan dengan sekalian iblis dan setan yang menjadi hamba sahayanya betari Durga, Ratu sekalian iblis itu.

Banyak sekali berita yang aneh-aneh dan menakutkan diceritakan orang tentang pendeta Hindu itu, sehingga Indrayana yang menghadapi serombongan orang-orang tinggi besar berpakaian hitam itu berlaku amat hati-hati.

“Saudara-saudara ini siapa dan ada keperluan apakah maka menghadang perjalananku? “ tanya pemuda itu dengan suara tenang.

Seorang diantara tiga belas orang berpakaian hitam itu, orang yang tertua dan berkumis tebal dan melintang bagaikan kumis Sang Gatutkaca, melangkah maju dan tertawa bergelak,

“Bocah bagus dan halus seperti arjuna ! Engkau hendak mengetahui siapa kami? Dengarlah baik-baik, engkau sedang behadapan dengan sepasukan perajurit jambuka Ireng (Serigala Hitam)! Namaku Reksasura dan aku adalah pemimpin dari pasukan kecil ini. Eh, jejaka yang bagus dan elok, engkau siapakah dan hendak pergi ke manakah?“

Banjir Darah di Borobudur







No comments: