Ads

Thursday, October 19, 2017

Banjir Darah di Borobudur Jilid 04

Pagi-pagi hari sekali sang Wiku Dutaprayoga beserta Indrayana telah tiba di Candi Lokesywara yang baru selesai dibangun. Para Wiku, pendeta-pendeta Buddha dan ponggawa kerajaan telah berkumpul disitu, mengatur persiapan untuk menerima kedatangan dan kunjungan Sang maha Raja Samaratungga bersama seluruh keluarga kerajaan dan para bayangkari keraton.

Semua pekerjaan dan persiapan ini diatur dan dipimpin oleh Sang maha Dharmamulya, yaitu kepala sekalian pendeta Agama Buddha, seorang pendeta tua yang berkepala gundul dan yang menjadi orang paling berkuasa di daerah Kerajaan Syailendra.

Sesungguhnya, pada pendapat para pendeta, Maha Wiku Dharmamulya kurang cakap dan tidak tepat untuk menjadi Maha Wiku, karena pendeta itu terlalu kukuh dan keras dalam peraturan agama, bahkan terlampau keras sehingga kadang-kadang kekerasan hatinya itu tidak tepat terdapat dalam watak seorang pendeta linuwih. Ia di angkat menjadi Maha Wiku berkat jasa-jasa ayahnya, yakni mendiang Maha Wiku Dharmamurti yang benar-benar telah berjasa dalam menegakkan dan memperluas Agama Buddha.

Karena mengingat jasa-jasa Maha Wiku Dharmamurni, maka Sang Prabu Samaratungga mengangkat putera tunggal pendeta itu, yakni Maha Wiku Dharmamulya, untuk menggantikan kedudukan ayahnya yang telah meninggal dan diberi gelar Maha Wiku.

Selain keras hati, juga pendeta kepala ini amat membenci penganut-penganut Agama Hindu terutama sekali membenci pemuja Batara Syiwa. Oleh karena itu di dalam hatinya ia merasa tak senang ketika Wiku Dutaprayoga diangkat menjadi Wiku oleh Sang Prabu karena pada pendapatnya, seorang bekas pendeta pemuja Trimurti tidak patut menjadi pendeta Buddha !

Akan tetapi, pendeta kepala ini tentu saja tidak berani membantah keputusan yang keluar dari mulut raja yang berkuasa. Pada jaman itu orang masih memegang teguh apa yang disebut “sabda ratu“, yaitu ucapan seorang raja sekali keluar dari mulut merupakan hukum yang tak dapat dirubah lagi.

Selain dari pada itu, Wiku Dutaprayoga berwatak halus dan selalu mengalah dan sama sekali tidak terlihat tanda-tanda bahwa pendeta baru ini akan membahayakan kedudukannya, serta melihat pula kenyataan bahwa pendeta ini adalah seorang yang sakti mandraguna dan amat berjasa kepada raja dalam pembuatan keris-keris pusaka ageman ( yang dipergunakan oleh ) Sang Prabu dan para senopati di Kerajaan Sailendra. Maka selama ini, karena tidak ada alasan. Maha Wiku itu tak pernah mengganggu Sang Wiku Dutaprayoga, sungguhpun pendeta ini cukup maklum akan dendam dan iri hati yang mengotori batin pendeta kepala itu.

Setelah matahari melakukan tugasnya dengan baik, mengusir sisa-sisa kegelapan sang malam, terdengarlah suara gamelan yang merdu dan tampaklah rombongan Sang Prabu yang diiringkan oleh para pengawal barisan tamtama dan yang paling belakang mengiringi gamelan yang ditabuh di sepanjang jalan. Para rakyat yang berbaris dikanan kiri jalan segera berlutut menyembah untuk memberi penghormatan kepada junjungan mereka itu.

Sang Prabu Samaratungga duduk di atas kuda putihnya dengan sikap yang agung dan gagah. Wajahnya berseri gembira dan bibirnya selalu tersenyum. Permaisuri dan sekar kedaton duduk didalam tandu yang tertutup oleh tirai sutera halus sehingga dari dalam mereka dapat melihat ke luar akan tetapi pandangan mata dari luar hanya dapat melihat bayangan mereka saja. Para ponggawa, pengawal dan barisan tamtama yang menjaga keselamatan keluarga raja ini semua tampak gagah-gagah dan mewah belaka, mengagumkan semua mata yang memandangnya.

Degup jantung Indrayana makin mengencang dan semenjak tadi sepasang matanya ditujukan kepada tandu dipikul oleh enam orang wanita cantik. Tandu inilah yang diduduki oleh Sang Dyah Ayu Pramodawardani. Memang puteri ini mempunyai tata susila yang amat tinggi dan terkenal sekali. Ia tidak memperkenankan tandunya dipanggul oleh lelaki. Oleh karena itu maka pemikul tandunya semua perawan-perawan belaka yang cantik-cantik pula.






Ada belasan orang dara jelita yang bertugas memikul tandunya ganti-berganti. Tandu dari permaisuri dan puteri-puteri lainnya dipikul oleh pemikul-pemikul laki-laki yang bertubuh kuat dan berwajah sopan dan keren.

Kalau semua tandu diturunkan di depan bangunan tarup yang sengaja didirikan untuk tempat berteduh keluarga raja dan para penumpangnya turun dari tandu dan berjalan kaki memasuki bangunan itu sehingga para penumpang dapat menyaksikan keindahan rupa dan pakaian Sang Permaisuri dan puteri-puteri lain, adalah Sang Puteri Pramodawardani sendiri yang memerintahkan kepada para pemikulnya untuk memikul tandu itu terus memasuki bangunan.

Setelah tiba di sebelah dalam, barulah ia turun dari tandunya dan duduk ditempat yang telah disedikan oleh para pendeta. Tempat untuk para puteri inipun tertutup oleh tirai sutera hijau pupus yang menghalangi pandangan mata para rakyat yang berlutut di luar bangunan panggung itu.

Bukan main kecewa dan mendongkolnya hati Indrayana. Saat yang telah lama dinanti-nantikan itu setelah tiba, ternyata hanya mendatangkan rasa kecewa di dalam hatinya. Ia telah membayangkan betapa akan senangnya dapat mencuri pandang kepada wajah puteri jelita itu, dan entah telah berapa kali ia telah bermimpi melihat wajah puteri yang cantik jelita itu.

Akan tetapi, ternyata setelah puteri itu berada ditempat yang sedemikian dekatnya, ia sama sekali tidak mendapat kesempatan untuk melihatnya. Jangankan memandang wajahnya, melihat jari kakinyapun tak dapat.

“Alangkah angkuh dan sombongnya ! “ Indrayana berpikir dengan hati yang mendongkol. “Sampai bagaimana hebatkah kecantikannya maka ia sedemikian sombong ? Apakah ia menganggap bahwa pandangan mata orang lain terlalu kotor untuk dapat melihat kecantikannya ? Sang Candra yang sedemikian elok dan cantiknyapun masih tidak sesombong dia dan sedikitnya sebulan sekali pasti akan memperlihatkan wajah sepenuhnya kepada semua orang yang ingin mengaguminya ! Apakah wajahnya lebih elok daripada bulan purnama ? “

Demikianlah, setelah para pendeta mulai menjalankan upacara dan telah terdengar mereka membaca doa dan mantera, Indrayana sama sekali tidak memperhatikan upacara itu dan pikirannya penuh dengan lamunan tentang puteri yang membuatnya menjadi gemas itu.

Tiba-tiba terdengar suara ribu-ribut di depan candi dan Sang Prabu sendiri sampai turun dari tempat duduknya dan turun pula dari anak tangga panggung itu untuk menyaksikan peristiwa yang terjadi dari dekat.

Indrayana juga tersadar dari lamunannya dan ia melihat seorang pertapa yang berjenggot panjang, berpakaian putih dan bermata tajam sedang melangkah lebar ke arah candi. Sungguhpun tubuhnya hanya kurus kering, namun pada pundak kirinya ia memanggul sebuah patung batu yang amat indah ukirannya. Di kanan kiri pintu masuk di kaki candi itu terdapat patung Dewi kembar yang menjadi pelayan dan pengikut Dewi Tara, yaitu syakti atau isteri dari Sang Lokesywara . Dewi kembar ini duduk di atas bunga teratai yang terdukung oleh Naga dan Nagi, sepasang ular sakti itu.

Pertapa yang memanggul patung itu lalu menggunakan tangan kanan untuk menggeser patung Dewi kembar kekanan kiri sehingga di atas pintu itu terdapat tempat yang kosong, lalu ia meletakkan patung yang dipanggulnya tadi di atas pintu itu. !

Terdengar seruan-seruan kagum ketika semua mata memandang kearah patung itu. Inilah patung Dewi Tara yang indah bukan main, tiada bandinganya ! Di dalam Candi Lokesywara itu memang ada juga sebuah arca dari Dewi Tara, akan tetapi apabila dibanding dengan arca ini, maka arca yang berada di sebelah dalam itu tampak buruk, bagaikan tembaga bersanding batu pualam ! Ukiran-ukirannya sedemikian halus, indah dan hidup sehingga seakan-akan semua orang melihat Dewi Tara sendiri melayang turun dari Sorgaloka dan berdiri di atas pintu candi itu !

Tak mungkin ada seorangpun ahli ukir di seluruh Syailendra yang dapat membuat patung sehebat itu, pembuatnya tentu adalah seorang Mataram, seorang pemuja Trimurti, pemuja Betara Brahma, Wisnu, dan Syiwa !

Pada saat semua orang menahan nafas karena selain kagum akan keindahan patung itu, juga kagum dan heran melihat keberanian pertapa asing itu sehingga keadaan menjadi sunyi, terdengar bentakan keras dan Maha Wiku Dharmamulya melompat kearah pertapa yang masih berdiri tersenyum-senyum memandangi patungnya dengan puas.

“Keparat jahanam ! Engkau berani menghina kami ? “

Sambil berkata demikian, Maha Wiku Dharmamulya mencabut keris pusakanya dan menyerang lambung pertapa itu. Akan tetapi, tiba-tiba ada tangan yang menyekap pergelangan tangan kanannya dan tangan ini ternyata kuat sekali. Ketika Dharmamulya menengok, dengan marah ia melihat bahwa penahannya itu bukan lain adalah Sang Wiku Dutaprayoga.

“Wiku Dutaprayoga, mengapa engkau menahan niatku ? “ Maha Wiku Dharmamulya membentak marah.

“Maha Wiku yang mulia, ingatlah bahwa keris ini adalah buatanku. Perasaan hatiku tidak dapat membiarkan orang lain mempergunakannya untuk membunuh orang tak berdosa. “

“Seorang bedebah yang sengaja datang mangacau dan menghina candi suci kita, tidak berdosa ?“

“Setidaknya dengarlah dulu keterangannya, dan sang Prabu sendirilah yang berhak memutuskan apakah dia berdosa atau tidak ! “ jawab Wiku Dutaprayoga.

Sementara itu, pertapa yang membawa patung Dewi Tara itu tersenyum sambil memandang kepada Dutaprayoga,

“Ba, sungguhpun engkau berganti jubah, ternyata kebijaksanaanmu masih tak berubah. Dutaprayoga. ! “ Kemudian pertapa itu lalu melangkah maju dan memberi hormat kepada Sang Prabu samaratungga kemudian berkata, “Maafkan aku, Sang Prabu, apabila tindakanku ini dianggap lancang dan mengacau keadaan. Sesungguhnya tiada maksud buruk dalam niatku, tak lain hanya hendak mempersembahkan sebuah patung Dewi Tara ini kepadamu. Candi Lokesyawara ini dibangun di tempat yang baik dan mempunyai tugas yang baik pula, maka sayang kalau tidak ada arcanya yang baik. Biarlah Sang Betari Tara akan memberi berkah kepada candi ini ! “

Orang-orang yang berada disitu, terutama sekali Maha Wiku Dharmamulya, menjadi marah sekali mendengar ucapan dan melihat sikap yang sama sekali tidak menghormati Maha Raja Samaratungga itu. Pertapa itu seakan-akan sedang bicara kepada seorang kawannya sendiri !

Akan tetapi, Sang Prabu Samaratungga adalah seorang yang berpemandangan luas dan memiliki kebijaksanaan yang tinggi. Sungguhpun ia beragama Buddha, namun ia tak pernah membenci pemeluk agama lain. Permusuhannya dengan Kerajaan mataram sesungguhnya bukan timbul dari hatinya yang memendam atau membenci, akan tetapi hanya ditimbulkan oleh keagungan seorang raja yang harus membela agama dan kepentingan rakyat. Kini menghadapi pertapa itu, Sang Prabu tersenyum dan berkata dengan senang dan halus.

“Paman begawan, terima kasih atas sumbanganmu yang amat indah untuk candi ini. Akan tetapi, harap engkau suka menaruhkan patung itu di atas pintu belakang candi, jangan di pintu depan.“

Ucapan sang Prabu Samaratungga ini sebenarnya mengandung dua maksud. Pertama-tama ia menerima pemberian patung itu agar jangan mendatangkan sakit hati kepada si pemberi, dan kedua ia minta agar patung itu ditaruh di pintu belakang sehingga dengan demikian ia takkan menyinggung perasaan para wikunya sendiri.

Sang Prabu mengharapkan bahwa penerimaan yang bersarat ini akan memuaskan hati kedua fihak yang sedang panas itu. Akan tetapi, pertapa itu menjadi merah wajahnya mendengar ucapan ini dan ia berkata sambil menahan kemarahannya,

“Sang Prabu, keaslian tembaga takkan lenyap biar oleh sepuhan emas sekalipun ! Pada luarnya kau menerima persembahanku dan bersikap manis, akan tetapi itu hanya sepuhan belaka. Di sebelah dalam kau menghinaku ! Bagaimana patung Dewi Tara yang mulia ditaruh di pintu belakang ? itu penghinaan namanya. “

“Adi Panembahan Bayumurti ! “ tiba-tiba Wiku Dutaprayoga berseru, “mengapa engkau tak melihat kebijaksanaan Sang Prabu ? Mengapa engkau tak mengerti kebijaksanaan besar ini ? Dimanakah kewasapadaanmu ? “

“Ha. Dutaprayoga, sekarang nampaklah juga bahwa kaupun membela agama barumu, bagus ! “

Akan tetapi Sang Prabu Samaratungga memberi isyarat kepada Wiku Dutaprayoga yang hendak membantah lagi. Sang Prabu mengangkat tangan kanannya dan berkata pertapa yang bernama Panembahan Banyumurti ini dengan suara masih halus dan tenang,

“Paman begawan, jangan salah terima ! Menaruhkan seorang wanita di pintu belakang sekali-kali bukanlah penghinaan. Bukankah memang menjadi bagian para wanita berada di pintu belakang ? Adakah dapur yang berada di depan rumah ? “

Panembahan Banyumurti tersenyum,
“Sang Prabu, kau cerdik ! Memang benar tempat wanita di bagian belakang rumah, akan tetapi Dewi tara bukanlah wanita sembarangan wanita ! “

“Betapapun juga, dia adalah seorang syakti atau isteri dan tetap saja tempatnya adalah di sebelah dalam dan belakang “

Tiba-tiba Panembahan Bayumurti tertawa bergelak, ia melompat ke arah kaki candi dan berdiri di depan patungnya yang indah tadi. Ia lalu mengeluarkan kesaktiannya dan kedua tangannya setelah menyembah lalu meraba muka patungnya yang cantik dan indahnya itu.

Banjir Darah di Borobudur







No comments: